← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Nine

Kencan Pertama (Lagi)

POV: Ayana

Rabu itu, aku ganti baju empat kali.

Bukan karena aku peduli. Aku tidak peduli. Ini cuma kencan dengan suami yang sementara jadi pacar, dalam rangka kontrak yang ditandatangani dengan cap jempol kecap. Tidak ada yang perlu dipedulikan.

Tapi lemari itu penuh baju yang tidak kukenal, dan setiap baju yang kucoba membuatku merasa sedang memakai kostum. Gaun kuning bermotif bunga kecil: terlalu manis, seperti mau ke pesta ulang tahun anak TK. Celana kulot hijau botol dengan kemeja putih: terlalu serius, seperti mau wawancara kerja. Rok jeans dengan kaus belang: oke, tapi kausnya ada noda cat air di bagian perut, dan aku tidak bisa berhenti menatap noda itu.

Akhirnya aku memakai gaun katun biru muda selutut dan kardigan krem. Aman. Netral. Tidak terlalu berusaha.

Waktu aku turun, Putra sudah menunggu di ruang tengah. Dia memakai kemeja flanel lagi, kali ini kotak-kotak merah tua dan hitam, dengan celana jeans gelap dan sepatu kets yang sudah pudar. Rambutnya disisir. Benar-benar disisir, dengan sisir, dengan belahan samping yang rapi.

Dia berdiri waktu melihatku. Menatapku dari atas ke bawah. Lalu dia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi.

“Kamu…” katanya.

“Aku apa?”

Dia diam lama. Lalu dia bilang, dengan suara yang agak lebih rendah dari biasanya:

“Cantik.”

Wajahku langsung panas. Aku berpura-pura sibuk membetulkan tali tas.

“Ya udah, yuk,” kataku cepat. “Kita ke mana?”

“Ke toko.”

Aku berhenti membetulkan tali tas.

“Toko?”

“Toko jam.”

“Mas. Ini kencan.”

“Iya.”

“Dan kamu mau ngajak aku ke tempat kerjamu?”

Dia mengangguk, dengan ekspresi yang sangat serius, seolah itu ide paling romantis yang pernah dipikirkan manusia.

Aku menatapnya lama. Lalu aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya.

“Kamu tuh beneran nggak bisa kencan, ya?”

“Nggak,” katanya jujur. “Dulu yang ngatur semua kencan kamu.”

Aturan nomor enam: nggak boleh bahas “dulu” kecuali Ayana yang nanya. Dia baru saja melanggarnya. Tapi wajahnya kelihatan begitu tulus waktu bilang begitu, begitu polos, sampai aku tidak tega mencatatnya sebagai pelanggaran.

“Oke,” kataku. “Ke toko jam.”


Toko itu ada di Jalan Braga, di antara sebuah kafe bergaya kolonial dan galeri lukisan yang sepi. Bangunannya tua, dengan dinding putih yang catnya mulai mengelupas di beberapa tempat dan jendela kaca besar berbingkai kayu hijau. Di atas pintunya, papan nama dari kayu dengan huruf-huruf kuningan yang sudah agak kusam:

JAM TUA ADIWANGSA Reparasi & Restorasi — Sejak 1962

Di balik kaca etalase, puluhan jam berjajar. Jam tangan di bantalan beludru merah. Jam saku dengan rantai perak. Jam meja dari kayu. Jam weker kaleng warna-warni. Dan di dinding belakang, jam-jam dinding besar dengan bandul yang bergoyang pelan, semuanya menunjukkan waktu yang sedikit berbeda satu sama lain.

Aku berdiri di depan etalase itu lama sekali.

Aku pernah ke sini. Aku tahu itu. Bukan karena aku ingat, tapi karena rasanya seperti berdiri di depan rumah masa kecil yang sudah lama tidak dikunjungi. Ada sesuatu yang hangat di perut, sesuatu yang bilang oh, di sini.

Lalu sesuatu itu hilang, dan aku cuma perempuan yang berdiri di depan toko jam tua.

“Masuk,” kata Putra, membuka pintu. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi kling.

Di dalam, wangi minyak mesin, kayu tua, dan sesuatu yang manis, mungkin kue dari kafe sebelah. Lantai ubin kotak-kotak hitam putih. Meja kerja besar di belakang etalase, penuh alat-alat kecil yang berkilauan: pinset, obeng, kaca pembesar, kuas halus, botol-botol kecil berisi minyak.

Dan di balik meja kerja itu, Ujang, yang pura-pura sangat sibuk membersihkan jam yang sudah sangat bersih.

“Eh! Teteh! Akang!” Dia mendongak dengan wajah kaget yang jelas dibuat-buat. “Aya naon ka dieu? Abdi teu nyangka pisan!”

(Eh! Teteh! Akang! Ada apa ke sini? Saya nggak nyangka banget!)

“Ujang,” kata Putra. “Kamu yang tadi pagi nanya Akang jam sabaraha ka toko sareng Teteh?”

(Akang jam berapa ke toko sama Teteh?)

Ujang membeku. Lalu cengirannya muncul, cengiran yang membuat matanya hilang.

“Abdi bade ka tukang. Aya… aya nu kedah dikumbah.”

(Saya mau ke belakang. Ada… ada yang harus dicuci.)

Dia pergi. Tapi aku melihat kepalanya menyembul dari balik tirai pintu belakang lima detik kemudian, mengintip.


Kencan itu, kalau bisa disebut kencan, berlangsung tiga jam.

Tiga jam aku duduk di bangku tinggi di sebelah meja kerja Putra, minum teh manis yang dibuatkan Ujang (terlalu manis, tapi aku tidak protes), dan menonton Putra bekerja.

Aku tidak menyangka itu akan menyenangkan. Aku menyangka akan bosan setengah mati. Tapi ternyata…

Dia memasang loupe di mata kanan. Kaca pembesar kecil berbentuk tabung hitam yang dijepit di rongga mata. Lalu dia membuka bagian belakang jam saku perak yang dibawa seorang pensiunan tentara pagi tadi, dan dunia di sekitarnya hilang.

Aku melihatnya terjadi. Bahunya turun. Napasnya melambat. Tangannya, yang tadi di rumah kelihatan biasa saja, besar dan kasar, berubah. Jari-jari panjangnya bergerak dengan ketepatan yang membuatku menahan napas. Pinset mengangkat sekrup yang lebih kecil dari biji wijen. Kuas halus menyapu debu dari gerigi yang lebih tipis dari kuku. Semuanya pelan, sabar, lembut, seperti dia sedang menyentuh sesuatu yang hidup.

“Ini apa?” tanyaku, menunjuk roda kecil yang berputar maju mundur.

“Roda keseimbangan,” katanya, tanpa mengalihkan mata dari jam. “Jantungnya jam.”

“Kenapa dia maju mundur?”

“Biar waktunya rata. Dia nggak boleh terlalu cepet, nggak boleh terlalu lambat. Kalau terlalu cepet, jamnya lari. Kalau terlalu lambat, jamnya ketinggalan.”

“Kalau rusak?”

“Dibenerin.” Dia mengambil obeng yang lebih kecil. “Pelan-pelan.”

Aku memperhatikan tangannya lagi. Ada bekas luka kecil di jempol kirinya, garis putih tipis. Ada noda minyak samar di buku jari telunjuknya. Kuku-kukunya pendek dan bersih.

Aku tiba-tiba teringat sketsa-sketsa di loteng. Ratusan sketsa tangan laki-laki memegang obeng kecil. Digambar dengan sangat detail, sampai ke urat-uratnya.

Sekarang aku mengerti kenapa perempuan itu, aku yang dulu, menggambar tangan ini berkali-kali.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan dan meminum teh.

“Mas,” kataku. “Kenapa jadi tukang jam?”

Dia diam sebentar, masih bekerja.

“Aki,” katanya. “Waktu aku kecil, orang tuaku cerai. Aku tinggal sama Ema dan Aki, di belakang toko ini. Aku nggak bisa ngomong sama orang. Nggak tahu harus ngomong apa. Tapi Aki nggak maksa aku ngomong. Dia cuma dudukin aku di bangku itu,” dia menunjuk bangku yang sedang kududuki dengan dagunya, “terus dia kerja. Dan aku nonton.”

Aku menatap bangku di bawahku.

“Jam itu jujur,” lanjutnya. “Kalau rusak, rusaknya kelihatan. Kalau dibenerin dengan bener, dia jalan lagi. Nggak ada yang pura-pura. Nggak kayak orang.”

“Orang suka pura-pura?”

“Kadang.”

“Kamu juga?”

Tangannya berhenti. Sesaat. Sangat sebentar. Lalu bergerak lagi.

“Kadang,” katanya.


Lonceng di atas pintu berbunyi kling.

Seorang perempuan masuk. Umur lima puluhan, rambut disasak tinggi, memakai blus bermotif macan tutul, lipstik merah menyala, dan parfum yang wanginya langsung memenuhi toko seperti awan. Di tangannya ada jam weker kaleng warna merah muda.

“A Putraaa,” serunya dengan suara melengking. “Ieu jam weker abdi rusak deui!”

(A Putraaa, ini jam weker saya rusak lagi!)

Aku hampir tersedak teh.

Ada satu tante-tante dari Antapani yang dateng tiap bulan bawa jam weker yang sama. Suara Gendis bergema di kepalaku.

Putra melepas loupe-nya dan berdiri dengan sopan. “Sore, Bu Ratna.”

“Aduh, A Putra teh meni kasép pisan sore ieu. Nganggo kemeja beureum, siga…” Bu Ratna berhenti. Matanya menangkap aku, yang duduk di bangku tinggi di sebelah meja kerja, dengan cangkir teh di tangan. Senyumnya goyah sedikit. “Eh. Saha ieu?”

(Aduh, A Putra ganteng banget sore ini. Pakai kemeja merah, kayak… Eh. Siapa ini?)

“Istri saya,” kata Putra.

Tidak ada jeda. Tidak ada ragu. Dia bilang istri saya seperti orang bilang langit biru atau air basah. Fakta. Tidak bisa dibantah.

Aku membeku dengan cangkir di depan mulut.

“Oh! Teh Ayana!” Bu Ratna langsung memasang senyum yang lebih lebar, tapi lebih kaku. “Abdi nguping Teteh kacilakaan! Kumaha ayeuna? Tos damang?”

(Oh! Teh Ayana! Saya denger Teteh kecelakaan! Gimana sekarang? Udah sehat?)

“Udah, Bu. Makasih.”

“Alhamdulillah. Ieu, A Putra, jam weker abdi. Unggal isuk teu disada. Atanapi disada tapi telat. Atanapi disada tapi teu eureun-eureun.”

(Alhamdulillah. Ini, A Putra, jam weker saya. Tiap pagi nggak bunyi. Atau bunyi tapi telat. Atau bunyi tapi nggak berhenti-berhenti.)

Putra menerima jam weker itu, membukanya di meja kerja, memeriksanya selama kira-kira lima detik, lalu menutupnya lagi.

“Baterainya habis, Bu.”

“Oh, kitu? Hehe. Tiasa diganti?”

(Oh, gitu? Hehe. Bisa diganti?)

“Bisa.”

Dia mengganti baterainya. Sepuluh detik. Bu Ratna membayar, bertanya apakah A Putra mau mencicipi kue lapis buatannya minggu depan, dan pergi dengan lirikan terakhir padaku yang sulit diartikan.

Setelah pintu tertutup dan lonceng berhenti berbunyi, aku menatap Putra.

“Mas.”

“Hm.”

“Itu jam weker yang sama kayak bulan lalu?”

“Sama kayak tiap bulan.”

“Dan tiap bulan baterainya habis?”

Dia memasang loupe-nya lagi dan kembali ke jam saku pensiunan tentara.

“Tiap bulan,” katanya, “Bu Ratna lupa beli baterai sendiri.”

Dari balik tirai, aku mendengar Ujang tertawa terbahak-bahak.

Dan aku, entah kenapa, merasa sedikit kesal pada Bu Ratna dan blus macan tutulnya.

Aku tidak tahu kenapa aku merasa kesal. Aku tidak punya hak merasa kesal. Ini suamiku yang cuma pacar sementara, dan aku sedang dalam misi mengejar mantanku. Aku tidak boleh merasa kesal karena seorang tante dari Antapani datang setiap bulan dengan jam weker merah muda dan lipstik merah menyala.

Tapi aku kesal.

“Istri saya,” kataku pelan, menirukan cara dia mengucapkannya tadi. “Langsung banget, ya, kamu.”

Putra tidak mengangkat kepala dari jam saku.

“Emang istri saya,” katanya.


Sore sudah hampir habis waktu kami keluar dari toko. Langit Bandung berwarna jingga keunguan, dan angin mulai dingin. Bandung yang dingin. Bukan dingin Jakarta yang cuma ada di mal. Dingin betulan, yang menembus kardigan tipisku dan membuat bulu kudukku berdiri.

Aku memeluk diriku sendiri dan menggosok-gosok lengan.

Putra melirikku. Lalu, tanpa bilang apa-apa, dia melepas kemeja flanelnya. Di baliknya dia memakai kaus putih polos. Dia mengulurkan kemeja itu padaku.

“Mas, nanti kamu yang kedinginan.”

“Aku udah biasa.”

“Tapi—”

“Pake,” katanya. Bukan perintah. Lebih seperti permohonan.

Aku memakainya. Kemeja itu kebesaran sekali, lengannya jatuh sampai ujung jari, ujungnya sampai pertengahan paha. Hangat dari badannya. Dan wangi. Wangi sabun dan kayu dan sedikit minyak mesin. Wangi yang sama dengan ranjang di kamar itu. Wangi yang, aku sadar dengan kaget, sudah mulai terasa seperti wangi rumah.

Aku menggulung lengannya sampai ke siku dan tidak bilang apa-apa.

“Mau jalan dikit?” tanyanya. “Ke alun-alun. Ada cilok yang kamu… ada cilok yang enak.”

Dia hampir bilang yang kamu suka. Aku menangkapnya. Dia menangkap aku menangkapnya. Kami berdua pura-pura tidak menangkap apa-apa.

“Boleh,” kataku.


Kami berjalan menyusuri Braga ke arah selatan. Jalanan mulai ramai. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, kuning dan hangat. Turis-turis berfoto di depan bangunan tua. Pengamen memainkan lagu lawas di depan sebuah kafe.

Di ujung Braga, kami harus menyeberangi Jalan Asia Afrika.

Jalannya lebar. Mobil-mobil berjalan pelan karena macet sore, tapi motor-motor menyelip di antaranya dengan lincah, klaksonnya berbunyi bersahut-sahutan. Lampu penyeberangan menyala hijau. Orang-orang mulai menyeberang.

Putra melangkah turun dari trotoar. Aku mengikutinya.

Satu langkah. Dua langkah.

Lalu sebuah motor membunyikan klakson. Keras sekali. Dari kiri. Lampu depannya menyorot tepat ke mataku, putih dan menyilaukan.

Aku berhenti.

Aku tidak memutuskan untuk berhenti. Badanku yang berhenti. Kakiku membeku di aspal. Napasku tertahan di tenggorokan. Lampu itu, putih, terang, mendekat, dan bunyi klakson itu, panjang, melengking—

Aku tidak ingat malam kecelakaan itu. Dokter bilang aku tidak akan pernah ingat. Tapi badanku ingat. Badanku ingat lampu yang menyilaukan dan bunyi yang melengking dan sesuatu yang keras menghantam dari samping, dan badanku membeku di tengah Jalan Asia Afrika seperti kelinci di depan lampu mobil.

Motor itu sudah lewat. Sudah lama lewat. Tidak pernah dekat. Tapi aku tidak bisa bergerak.

Orang-orang menyeberang di sekitarku. Seseorang menyenggol bahuku. Lampu penyeberangan mulai berkedip-kedip. Napasku pendek-pendek, cepat, terlalu cepat, dan dadaku sesak, dan semuanya terlalu terang dan terlalu bising dan—

Aku mengulurkan tangan.

Aku tidak berpikir. Tanganku bergerak sendiri, mencari sesuatu, seperti tangan orang yang tenggelam mencari pegangan. Dan tanganku menemukan tangan Putra.

Besar. Hangat. Sedikit kasar di bagian telapak.

Aku menggenggamnya erat sekali. Mungkin terlalu erat. Mungkin kukuku menancap di punggung tangannya.

Dia tidak menarik tangannya. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma membalas genggamanku, pelan dan kuat, lalu melangkah. Satu langkah. Menunggu. Satu langkah lagi. Menunggu. Pelan sekali, menyesuaikan dengan langkahku yang gemetar, sambil badannya sedikit menyamping, di antara aku dan arus motor yang datang dari kiri.

Lampu penyeberangan sudah merah waktu kami sampai di trotoar seberang. Seorang sopir angkot membunyikan klakson tidak sabar. Putra mengangkat tangan kirinya ke arah angkot itu, sopan, minta maaf, tanpa melepaskan tangan kananku.

Lalu kami berdiri di trotoar, dan aku masih menggenggam tangannya, dan napasku pelan-pelan kembali normal.

Aku menatap tangan kami yang bertaut.

Lalu aku tersadar.

Aku melepaskannya cepat-cepat, seperti tangannya tiba-tiba panas.

“Maaf,” kataku. Suaraku masih bergetar. “Maaf. Aku… aturan nomor satu. Nggak boleh sentuh tanpa izin. Aku…”

“Kamu yang sentuh,” kata Putra pelan. “Bukan aku. Jadi nggak melanggar.”

Aku menatapnya. Dia menatap ke arah lain, ke arah alun-alun, ke arah gerobak cilok yang asapnya mengepul di bawah lampu jalan. Telinganya merah. Merah sekali, sampai ke leher.

Dan tangannya, tangan kanannya yang tadi kugenggam, dia masukkan ke saku celana. Seperti menyimpan sesuatu.

“Ciloknya di sana,” katanya. “Mau pedes atau nggak?”

“Nggak pedes,” kataku.

“Oke.”

Kami berjalan ke gerobak cilok. Berdampingan. Tidak bersentuhan. Tapi jaraknya lebih dekat dari waktu kami keluar dari toko tadi. Lebih dekat sejengkal. Mungkin dua.

Aku tidak tahu siapa di antara kami yang memperpendek jarak itu.

Aku tidak mau memikirkannya.

Yang kupikirkan, sambil makan cilok tidak pedas di bangku alun-alun dengan kemeja flanel kebesaran yang wanginya seperti rumah, adalah satu hal yang sangat aneh:

Waktu lampu motor itu menyorot mataku dan badanku membeku di tengah jalan, tanganku tidak mencari Reno.

Tanganku mencari dia.