Chapter Forty Five
Epilog
POV: Ayana
Setahun kemudian, hari Minggu pagi, aku bangun lebih dulu.
Itu jarang terjadi. Biasanya dia yang bangun jam lima, merebus air, dan aku baru membuka mata waktu bau teh sudah sampai ke kamar. Tapi pagi ini aku terbangun jam setengah enam karena hujan di genteng, dan dia masih tidur.
Aku tidak bergerak. Aku cuma menatapnya.
Dia tidur telentang, satu tangan di atas perutnya, satu lagi di bawah bantalku. Selalu di bawah bantalku. Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak empat tahun sebelum aku lupa. Mungkin sejak setahun yang lalu, waktu aku ingat ulang. Rambutnya berantakan. Ada bekas kerutan sarung bantal di pipi kirinya. Mulutnya sedikit terbuka. Kacamatanya terlipat di nakas, di sebelah dua jam tangan yang berdetak bersebelahan dan jam saku Aki dengan rantai peraknya.
Dia mendengkur sedikit. Sangat sedikit. Kalau aku bilang begitu, dia akan menyangkal.
Aku mengulurkan jari dan menyentuh garis di sudut matanya. Garis dari tertawa. Setahun ini garisnya bertambah dalam. Aku menghitungnya setiap minggu, diam-diam, seperti orang menghitung tabungan.
Lalu aku turun dari ranjang pelan-pelan, mengambil kemeja flanel biru tuanya dari sandaran kursi, memakainya, dan turun ke dapur.
Detik sudah menunggu di atas kulkas.
“Pagi,” kataku.
Dia turun, menggosokkan kepalanya di betisku, dan mengeong satu kali. Setahun lalu dia masih mendesis setiap kali aku lewat. Sekarang dia tidur di kakiku setiap malam dan menggigit jempol Putra kalau Putra berani menggeserku.
Aku merebus air. Mengambil dua gelas. Gelas bening dengan pegangan kecil, yang dulu dia pakai sendirian setiap pagi, sembilan minggu, sementara gelas yang satu lagi berdiri kosong di rak.
Teh tubruk. Dua sendok gula. Untuknya, dan untukku.
Aku sudah tidak minum kopi hitam. Toples KOPI AYANA masih di laci paling bawah meja kerja Aki di toko, isinya tinggal setengah, dipakai Reno setiap kali dia datang servis jam tangan setahun sekali. Dan, belakangan, setiap kali dia “kebetulan lewat Braga” bersama Gendis.
Di meja makan, di sebelah bakul nasi yang masih tertutup, ada sebuah buku.
Buku anak-anak. Sampul keras. Ilustrasi cat air biru dan emas. Seorang laki-laki tinggi berkacamata duduk di dalam mobil hijau tua di bawah pohon, menatap sebuah pintu. Di atas kepalanya, dalam huruf bulat-bulat yang miring ke kanan:
TUKANG JAM YANG MENUNGGU cerita dan gambar: Ayana Kirana
Terbit tiga hari lalu. Penerbit yang sama dengan buku-bukuku yang dulu, yang tidak kuingat pernah kubuat. Editor yang sama, yang menangis waktu membaca naskahnya dan bilang, Mbak Ayana, ini buku anak-anak, tapi kok saya yang nangis.
Aku membuka halaman persembahannya. Lagi. Untuk kesekian kali sejak buku itu datang.
Untuk laki-laki yang menunggu di mobil. Kamu nggak perlu nunggu lagi. Aku udah keluar.
Dia belum membacanya. Dia bilang dia mau membacanya hari Minggu pagi, di ranjang, dengan teh manis. Dia bilang itu dengan wajah sangat serius, seperti orang yang menjadwalkan operasi.
Aku menaruh buku itu di nampan. Di sebelah dua gelas teh. Lalu aku naik ke kamar.
Dia masih tidur.
Aku menaruh nampan di nakas. Lalu duduk di tepi ranjang, mengambil ponselku, dan membuka aplikasi perekam suara.
Di aplikasi itu ada puluhan rekaman sekarang. Puluhan dari Ayana yang dulu, untuk dirinya sendiri. Beberapa dari aku, untuknya. Dan satu folder baru, yang kubuat tadi malam, waktu dia sudah tidur. Namanya: Kalau Aku Lupa Lagi.
Folder itu masih kosong.
Aku menekan tombol merah.
“Halo,” bisikku. Pelan, supaya dia tidak bangun. “Ini aku. Kamu. Ayana. Umur dua puluh delapan. Tanggal tujuh November.”
Aku menarik napas.
“Kalau kamu dengerin ini, berarti kamu lupa lagi. Mungkin kepala kamu kebentur lagi. Mungkin kamu udah tua dan lupa sendiri. Nggak apa-apa. Dengerin aja dulu.”
Di sebelahku, dia bergerak sedikit dalam tidurnya. Tangannya mencari sesuatu di bawah bantalku. Lalu diam lagi.
“Kamu pasti bakal bingung. Kamu bakal liat laki-laki tinggi pake kacamata, yang telinganya merah kalau malu, dan kamu bakal mikir dia orang asing. Mungkin kamu bakal mikir dia aneh. Dia emang agak aneh. Dia ngomong sama jam.”
Aku tersenyum.
“Dan kamu pasti bakal ngejar orang yang salah dulu. Aku tahu. Aku kenal kamu. Kamu keras kepala. Kamu bakal ngira hati kamu ada di tempat lain.”
Suaraku goyah sedikit.
“Nggak apa-apa. Dia bakal nganterin kamu. Dia bakal nunggu di mobil. Dia bakal jahit payung buat kamu dan nggak bilang itu dari dia. Dia bakal benerin semua yang kamu rusakin, termasuk jam tangan orang lain.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang tidur di sebelahku, dengan bekas sarung bantal di pipi.
“Tapi pulangnya,” bisikku, “pulang ke dia.”
Jeda.
“Dan jangan bikin dia tidur di sofa kelamaan. Sofanya udah di rumah Ema. Kasian Ema.”
Aku tertawa kecil. Lalu diam. Lalu, karena aku tahu Ayana yang akan mendengar ini mungkin tidak punya waktu untuk mendengarkan semuanya, mungkin dia sedang menangis di kamar mandi dengan rambut pendek yang tidak dia kenal, aku menambahkan satu kalimat lagi. Kalimat yang paling penting. Yang kalau dia cuma ingat satu, dia harus ingat ini.
“Kalau kamu lupa lagi,” bisikku, “inget satu ini aja.”
Aku menelan ludah.
“Kamu cinta dia.”
Aku menekan tombol berhenti.
Lalu aku menoleh, dan dia sudah membuka mata.
POV: Putra
Aku bangun karena suaranya.
Bukan suara keras. Bisikan. Tapi setahun ini aku belajar sesuatu tentang diriku sendiri: aku bisa tidur di tengah gempa, di tengah hujan petir, di tengah Ujang yang menjatuhkan seluruh baki per di lantai toko. Tapi kalau Ayana berbisik, aku bangun.
Aku tidak langsung membuka mata. Aku mendengarkan.
…dia bakal jahit payung buat kamu dan nggak bilang itu dari dia…
…pulang ke dia…
…kamu cinta dia.
Aku membuka mata waktu dia berhenti merekam.
Ayana duduk di tepi ranjang dengan kemeja flanel biruku. Terlalu besar. Lengannya digulung tiga kali, dan tetap kebesaran. Kancing atasnya tidak dikancingkan. Rambutnya, yang sekarang sudah sebahu lagi, berantakan dari tidur. Kakinya telanjang. Satu lututnya ditekuk di atas kasur.
Di belakangnya, hujan di jendela. Abu-abu dan lembut.
Dia menoleh dan melihatku. Matanya basah. Dia tersenyum. Lesung pipi kiri.
“Kamu denger?” tanyanya.
“Sebagian.”
“Bagian mana?”
“Bagian aku ngomong sama jam.”
Dia tertawa, dan air matanya jatuh, dan dia mengusapnya dengan lengan kemejaku.
“Itu buat aku,” katanya. “Kalau aku lupa lagi.”
Aku bangun. Duduk. Bersandar di kepala ranjang. Dia mengambil gelas teh dari nampan dan memberikannya padaku. Hangat. Manis. Dua sendok gula.
Lalu dia mengambil gelasnya sendiri, dan naik ke ranjang, dan duduk di sebelahku. Bahu menempel di bahu. Kakinya yang dingin menyelip di bawah betisku. Dia selalu melakukan itu. Setahun ini, kakinya selalu dingin, dan selalu mencari betisku.
Aku menyesap teh. Menatap hujan. Lalu menatapnya.
“Kamu nggak perlu bikin itu,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu lupa lagi,” kataku, “aku pacarin lagi.”
Dia menatapku.
“Udah dua kali,” kataku. “Aku jago.”
Hening.
Lalu dia tertawa. Keras. Sampai tehnya hampir tumpah, sampai dia harus menaruh gelasnya di nakas, sampai dia bersandar di bahuku dan tertawa di leherku.
“Jago?” katanya di sela tawa. “Kamu nunggu empat puluh tujuh ajakan di kali pertama, Mas. Empat puluh tujuh. Terus di kali kedua kamu tidur di sofa sembilan minggu.”
“Tapi berhasil,” kataku. “Dua-duanya.”
Dia berhenti tertawa. Mengangkat kepala dari bahuku. Menatapku dengan mata yang masih basah.
“Iya,” katanya pelan. “Berhasil.”
Lalu dia mengambil buku dari nampan.
Dia memberikannya padaku dengan dua tangan, seperti memberikan sesuatu yang sangat berat. Aku menerimanya.
Tukang Jam yang Menunggu.
Aku sudah melihat sampulnya. Tiga hari ini buku itu duduk di meja makan, dan setiap pagi aku menatapnya, dan setiap pagi aku menahan diri. Aku ingin membacanya di sini. Di ranjang. Hari Minggu. Dengan dia.
Aku membuka sampulnya. Halaman judul. Lalu halaman persembahan.
Untuk laki-laki yang menunggu di mobil. Kamu nggak perlu nunggu lagi. Aku udah keluar.
Aku menatap dua kalimat itu lama sekali.
Lima Sabtu. Pohon ketapang di Kemang. Mesin mobil yang tidak dimatikan supaya AC-nya tetap menyala, karena aku tidak tahu jam berapa dia akan keluar. Termos teh di jok belakang. Cincin di saku kiri.
Aku tidak pernah bilang padanya bahwa setiap Sabtu, setiap kali pintu kafe itu terbuka, aku menegakkan punggung. Setiap kali. Siapa pun yang keluar. Karena mungkin dia. Mungkin kali ini dia keluar dan berjalan ke arah mobil hijau tua di bawah pohon dan mengetuk jendelaku dan bilang, Mas, pulang yuk.
Dia tidak pernah keluar ke arahku, di Sabtu-Sabtu itu.
Tapi dia keluar. Akhirnya. Dari tempat yang jauh lebih jauh dari kafe di Kemang.
Aku membuka halaman berikutnya. Gambar cat air. Seorang tukang jam di toko kecil, membungkuk di atas meja kerja. Seorang perempuan kecil dengan rambut panjang berdiri di luar jendela, di bawah hujan, dengan payung biru.
Di sebuah kota yang selalu hujan, ada tukang jam yang tidak pernah terburu-buru.
Aku membaca semuanya. Halaman demi halaman. Tentang tukang jam yang memperbaiki semua jam di kota kecuali satu, jam milik perempuan yang lupa jalan pulang. Tentang dia yang menunggu, setiap hari, di tempat yang sama. Tentang perempuan itu yang mencari-cari jalannya di kota, ke toko-toko lain, ke jam-jam lain, dan selalu tersesat. Tentang suatu hari hujan, ketika perempuan itu berjalan melewati toko kecil dan mendengar detak yang dia kenal. Bukan dengan kepalanya. Dengan tangannya.
Halaman terakhir: tukang jam dan perempuan itu, duduk berdua di bangku tinggi di depan meja kerja. Satu jam di antara mereka, terbuka, berdetak.
Jam itu tidak pernah rusak, tulisnya. Dia cuma menunggu ditemukan.
Aku menutup buku itu.
Ayana diam di sebelahku. Kepalanya di bahuku. Dia tidak bertanya aku suka atau tidak. Dia tahu.
Aku menaruh buku itu di nakas, di sebelah jam saku Aki.
Lalu aku menariknya ke dadaku.
“Ay,” kataku ke rambutnya.
“Hm?”
“Aku sayang kamu.”
Dia diam sebentar. Jarinya mulai bergerak di dadaku, menulis sesuatu. Aku tidak perlu menebak. Aku sudah hafal.
“Aku tahu,” bisiknya. “Dicatat.”
“Banget.”
“Dicatat juga.”
“Masih nggak tahu harus ngapain sama sebanyak ini.”
Dia mengangkat kepala dan menatapku. Hujan di jendela. Cahaya abu-abu yang lembut. Kemeja flanelku yang terlalu besar, melorot di satu bahunya.
“Kasih aja ke aku,” katanya. “Aku masih muat.”
POV: Ayana
Dia menatapku seperti malam pertama aku kembali ke kamar ini. Seperti trotoar Braga di bawah hujan. Seperti 21.47, di ruang tengah, dengan jam saku Aki yang baru saja berdetak lagi.
Seperti, mungkin, laki-laki muda di toko jam di Braga yang menolakku empat puluh enam kali, dan setiap kali menolak, telinganya semakin merah.
Aku tidak ingat laki-laki muda itu. Mungkin aku tidak akan pernah ingat.
Tapi aku ingat yang ini. Yang menunggu. Yang mengantar. Yang memperbaiki jam orang lain sampai sempurna tanpa satu goresan. Yang tidur di sofa sembilan minggu. Yang menyanyi fals di rumah Ema. Yang bilang pelan-pelan aja, aku nggak ke mana-mana, dan menepatinya.
Aku ingat dia dengan cara yang tidak bisa diambil benturan apa pun. Karena aku tidak mengingatnya dengan kepalaku.
Aku memilihnya. Dengan tanganku.
Di nakas, dua gelas teh manis mulai mendingin. Dua jam tangan berdetak bersebelahan. Jam saku Aki berdetak di atas buku tentang tukang jam yang menunggu. Di kakiku, Detik naik ke kasur, berputar tiga kali, dan bergelung di atas selimut.
Di luar, Bandung hujan. Seperti biasa.
Aku menarik selimut. Ke atas. Menutupi kami berdua. Sampai hanya gelap yang hangat, dan napasnya, dan detak jantungnya di bawah telingaku.
“Mas,” bisikku di bawah selimut.
“Hm?”
“Istrimu itu aku, kan?”
Dia tertawa. Pelan. Di gelap. Tangannya menemukan wajahku.
“Iya, Ay,” katanya. “Dari dulu. Sampai nanti.”
Dan kali ini, aku tidak perlu bertanya lagi.
— Tamat —
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog reading