Chapter Twenty
Ulang Tahun Putra
POV: Ayana
Rencananya sempurna.
Itu yang kupikirkan hari Jumat sore, berdiri di tengah ruang tengah dengan tangan di pinggang, menatap hasil kerja kami seharian.
Gendis datang jam sepuluh pagi dengan tiga kantong belanjaan dan sekotak balon yang belum ditiup. Ujang datang jam dua belas, setelah menitipkan toko pada Pak Engkos dengan alasan abdi sakit perut, Kang, padahal dia tidak sakit perut sama sekali, padahal Putra pasti tahu dia tidak sakit perut. Ema datang jam satu, diantar tetangganya naik mobil bak terbuka, membawa rantang susun lima dan sebuah tumpeng kecil yang, katanya, wajib, ulang taun mah kudu aya tumpeng, ti jaman Aki ogé kitu.
(Wajib, ulang tahun mah harus ada tumpeng, dari zaman Aki juga gitu.)
Bu Yayah datang jam tiga, tidak diundang, membawa sepiring pepes ikan mas dan rasa ingin tahu yang sangat besar.
Kami menghias ruang tengah. Balon-balon warna hijau tua dan cokelat, warna kemeja flanel, usul Gendis. Lampu-lampu kecil yang kami pinjam dari pohon jambu, digantung melingkar di atas jendela. Spanduk dari kertas karton yang kugambar sendiri, dengan cat air, di loteng, sejak kemarin malam. Tulisannya SELAMAT ULANG TAHUN, MAS TUKANG JAM, dengan gambar jam dinding kecil di setiap ujungnya. Jarum-jarumnya membentuk senyum.
Aku menggambarnya tanpa berpikir. Baru setelah selesai aku sadar gambar jam dinding itu persis sama dengan gambar di kartu kado Untuk Mas Putra, 2 tahun. Jam dinding kecil, biru dan emas, dengan jarum yang tersenyum.
Tanganku ingat.
Dan di tengah meja makan, di atas taplak putih, ada kuenya. Kue cokelat dua lapis yang kupanggang sendiri, gagal dua kali dan berhasil di percobaan ketiga, dengan krim keju dan taburan kacang kenari. Di atasnya, dua lilin berbentuk angka. 3 dan 1. Belum dinyalakan.
Dan di sebelah kue, sebuah bungkusan kecil. Bingkai kayu, dibungkus kertas cokelat dan tali rami. Di dalamnya, gambar pensil yang kubuat di loteng dengan mata tertutup. Tangan laki-laki memegang obeng kecil, dengan bekas luka di jempol kiri.
Hadiahku untuknya.
Aku tidak tahu apakah itu hadiah yang bagus. Aku tidak tahu apakah dia akan suka. Tapi itu satu-satunya hal yang kupunya yang benar-benar dari aku. Bukan dari perempuan di foto pernikahan. Bukan dari dia. Dari aku.
“Sempurna,” bisik Gendis di sebelahku, memeluk bahuku. “Lo hebat, Ay.”
“Dia bakal suka nggak?”
“Ay.” Gendis menatapku dengan kacamata kuningnya yang melorot. “Lo bisa ngasih dia kertas kosong, dan dia bakal nyimpen itu di brankas seumur hidup.”
Putra pulang jam tujuh lewat lima.
Ujang mengintip dari jendela dan berbisik Akang datang! Akang datang! dengan suara yang sama sekali tidak berbisik. Kami mematikan semua lampu kecuali lampu-lampu kecil di jendela. Kami bersembunyi. Gendis di balik sofa. Ujang di balik tirai dapur. Ema di kursi, karena Ema menolak bersembunyi, Ema geus kolot, Ema mah diuk wé. Bu Yayah di samping lemari, dengan ponsel di tangan, siap merekam.
(Ema udah tua, Ema mah duduk aja.)
Aku berdiri di dekat meja makan, di samping kue.
Pintu depan terbuka. Bunyi kunci di gantungan. Langkah kaki.
Lampu menyala.
“KEJUTAN!”
Putra membeku di ambang pintu ruang tengah.
Dia menatap balon-balon hijau tua dan cokelat. Dia menatap lampu-lampu kecil di jendela. Dia menatap spanduk cat air SELAMAT ULANG TAHUN, MAS TUKANG JAM. Dia menatap Gendis yang melompat dari balik sofa, Ujang yang terjerat tirai dapur, Bu Yayah yang merekam dengan ponsel, Ema yang duduk di kursi sambil makan pepes.
Lalu dia menatapku. Di samping kue cokelat dengan lilin 3 dan 1.
Wajahnya berubah. Pelan-pelan. Seperti dinding pasir yang terkena ombak, lagi. Tapi kali ini dia tidak membangunnya kembali. Dia membiarkannya runtuh.
“Kamu…” katanya. Suaranya serak. “Kamu yang bikin ini?”
“Sama Gendis. Sama Ujang. Ema yang kasih tahu tanggalnya.” Aku tersenyum. Gugup. “Kamu nggak suka dirayain, kata Ema. Tapi… tapi aku pengen. Maaf kalau…”
Dia menggeleng. Pelan. Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan.
Laki-laki itu, laki-laki yang setenang danau, yang wajahnya tidak pernah berubah, yang bilang oke waktu aku bilang aku cinta laki-laki lain, berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan tangan menutupi mulut, dan matanya berkaca-kaca.
“Akang nangis!” seru Ujang dari balik tirai, yang langsung dipukul Ema dengan sendok.
Satu jam berikutnya adalah satu jam paling ramai yang pernah kualami di rumah itu.
Ema memaksa Putra memotong tumpeng dan menyuapkan suapan pertama padanya, sesuai tradisi, katanya, dan Putra melakukannya dengan wajah merah sampai ke leher. Bu Yayah merekam semuanya dan berjanji akan mengirimkannya ke grup WhatsApp kompleks, yang membuat Putra memohon dengan sangat sopan supaya jangan. Gendis memaksa semua orang memakai topi kerucut dari kertas karton yang dia buat sendiri, dan Ujang memakai dua karena kepalanya kecil. Mama menelepon lewat video call dari Bekasi dan menyanyikan Panjang Umurnya dengan suara tinggi dan bergetar, lalu menangis, lalu menyuruh Putra jaga kesehatan, lalu menyuruhku jaga Putra, lalu menangis lagi.
Dan Putra, di tengah semua itu, terus mencuri pandang ke arahku.
Setiap kali aku menoleh, dia sedang menatapku. Dan setiap kali tertangkap basah, dia langsung menatap ke arah lain. Ke balon. Ke tumpeng. Ke Detik yang sedang mencuri pepes dari piring Bu Yayah.
Aku pura-pura tidak melihat. Tapi wajahku panas.
Jam delapan empat puluh, Gendis menepuk-nepuk tangannya.
“Oke, oke! Saatnya acara inti! Tiup lilin! Ayana, korek!”
Aku mengambil korek api dari laci dapur. Semua orang berkumpul di sekeliling meja makan. Putra berdiri di depan kue, dengan topi kerucut yang miring di kepala dan wajah yang masih merah. Aku berdiri di sebelahnya, sangat dekat, dan menyalakan korek.
Api kecil menyala di ujung batang korek.
Lalu ponselku berbunyi.
Aku hampir tidak mengangkatnya.
Ponsel itu ada di saku rokku. Bergetar. Berbunyi. Nada dering yang biasa. Aku melirik layarnya sekilas, berniat langsung menolak.
Reno.
Aku berhenti.
Api korek di tanganku mulai mendekati jari. Aku meniupnya. Ponsel itu terus berbunyi.
“Angkat aja, Teh,” kata Bu Yayah, ingin tahu. “Bisi penting.”
(Angkat aja, Teh. Siapa tahu penting.)
Aku menatap Putra. Dia menatap ponsel di tanganku. Dia bisa melihat namanya di layar. Aku tahu dia bisa melihatnya.
Wajahnya tidak berubah.
“Bentar,” kataku. “Bentar aja. Aku angkat dulu.”
Aku berjalan ke dapur. Ke sudut dekat kulkas. Aku mengangkat telepon itu.
“Halo?”
“Ay.” Suara Reno. Napasnya berat, seperti habis berlari. Di belakangnya ada bunyi klakson dan pengumuman dari pengeras suara, Travel tujuan Jakarta, keberangkatan pukul dua puluh tiga, harap bersiap. “Ay, aku di Bandung.”
“Hah?”
“Aku di pool travel Pasteur. Aku baru nyampe. Aku… aku nggak bisa nunggu sampe Sabtu. Aku harus ngomong sesuatu sama kamu. Malam ini.”
“Ren, sekarang? Aku lagi—”
“Aku tahu. Aku tahu, Ay. Aku tahu waktunya nggak pas.” Suaranya bergetar. “Tapi aku udah naik travel tiga jam. Aku harus balik naik travel terakhir jam sebelas, karena besok pagi aku ada rapat. Aku cuma punya dua jam. Dan kalau aku nggak ngomong malam ini, aku nggak tahu kapan aku punya keberanian lagi.”
Aku menatap pintu kulkas. Kalender dengan tanggal yang dilingkari spidol merah. Formulir audisi Gendis.
“Ngomong apa, Ren?”
“Nggak bisa di telepon. Harus langsung.”
Aku memejamkan mata.
Dari ruang tengah, aku mendengar Ema tertawa. Aku mendengar Gendis menyuruh Ujang berhenti memakan krim keju dari pinggir kue. Aku mendengar Bu Yayah bertanya saha éta nu nelepon, Teh? Aku tidak mendengar suara Putra.
“Ay?” kata Reno. “Ay, please.”
Kalau aku nggak ngomong malam ini, aku nggak tahu kapan aku punya keberanian lagi.
Selama enam minggu, aku menunggu Reno mengatakan sesuatu. Apa saja. Aku nyesel. Aku salah. Aku masih sayang kamu. Apa saja yang bisa menjelaskan kenapa dia meninggalkanku di meja dekat jendela di Kemang dengan es kopi susu yang mencair. Dan sekarang dia ada di Bandung, setengah jam dari sini, dengan napas berat dan suara bergetar, bilang dia harus mengatakan sesuatu.
Kalau aku tidak datang, aku tidak akan pernah tahu.
“Oke,” kataku. Suaraku keluar kecil. “Aku ke sana.”
Waktu aku kembali ke ruang tengah, semua orang menatapku.
Mereka tahu. Aku tidak tahu bagaimana, tapi mereka tahu. Mungkin dari wajahku. Mungkin dari caraku memegang ponsel. Gendis menatapku dengan mata menyipit di balik kacamata kuningnya. Ujang berhenti mengunyah krim keju. Ema meletakkan sendoknya. Bu Yayah memegang ponselnya lebih erat, seperti mencium gosip besar.
Putra masih berdiri di depan kue. Topi kerucutnya masih miring.
“Mas,” kataku.
Dia menatapku.
“Reno di Bandung,” kataku. Pelan. “Di pool travel Pasteur. Dia bilang dia harus ngomong sesuatu. Malam ini. Dia cuma punya waktu sampe jam sebelas.”
Hening.
Hening yang sangat berat, sampai bunyi dengkuran Detik di bawah meja terdengar seperti mesin.
“Ayana,” desis Gendis. “Lo gila?”
“Ndis—”
“Ini ulang taun dia, Ay. Ulang taun dia. Lo yang bikin pestanya. Lo yang manggang kuenya. Lilinnya belum ditiup—”
“Aku tahu.”
“Terus lo mau—”
“Pergi aja.”
Semua orang menoleh.
Putra. Dia masih berdiri di depan kue. Dia sudah melepas topi kerucutnya dan memegangnya di tangan. Wajahnya tenang. Danau tanpa angin. Seperti tidak ada yang terjadi.
“Pergi aja,” ulangnya. “Nanti kemalaman.”
“Mas,” kataku. Suaraku bergetar. “Aku… aku pulang sebelum potong kue. Janji. Aku cuma denger dia ngomong apa, terus aku pulang. Kalian tunggu aja. Lilinnya jangan ditiup dulu.”
“Iya,” kata Putra.
“Janji, Mas.”
“Iya.”
Dia meletakkan topi kerucut itu di meja, di sebelah kue. Lalu dia mengambil kunci mobil dari gantungan.
“Aku antar,” katanya.
“Mas, nggak usah, aku naik taksi online aja—”
“Udah malem,” katanya. “Banyak motor.”
“Akang,” kata Ujang. Dia sudah berdiri. Wajahnya pucat. “Abdi milu.”
(Akang. Saya ikut.)
Putra menatapnya. Lalu mengangguk.
Ema tidak berkata apa-apa. Dia cuma menatap cucunya dengan mata tua yang basah. Bu Yayah sudah berhenti merekam. Gendis menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bukan marah. Lebih buruk dari marah. Kecewa.
Aku tidak menatap kue cokelat dengan lilin 3 dan 1 yang belum dinyalakan.
Aku tidak menatap bungkusan kecil berisi bingkai kayu di sebelahnya.
Aku mengambil tasku, dan berjalan ke pintu.
Jam di dinding ruang tengah menunjukkan pukul 21.03.
POV: Putra
Pool travel Pasteur ramai.
Bus-bus kecil berjajar di lahan parkir yang luas dan berlubang, lampunya menyala, mesinnya berdengung. Calo-calo berteriak Jakarta! Jakarta! Masih ada kursi! Penumpang-penumpang menyeret koper. Penjual kopi keliling menawarkan dagangannya dengan sepeda.
Aku memarkir mobil di ujung lahan, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.
Ayana membuka pintu sebelum mesin mati.
“Makasih, Mas,” katanya. Dia tidak menatapku. “Aku… aku pulang sebelum potong kue. Janji.”
“Iya.”
Dia turun. Lalu dia berhenti, dengan satu tangan di pintu. Dia mengulurkan tangan kirinya ke dalam mobil, ke arahku, telapak tangan terbuka.
Cincin itu di sana.
Dia tidak bilang titip. Dia tidak perlu bilang apa-apa lagi. Sudah jadi kebiasaan.
Aku mengambilnya. Memasukkannya ke saku kiri kemeja.
Dia menutup pintu dan berjalan pergi. Melewati bus-bus kecil. Melewati calo-calo. Ke arah ruang tunggu pool travel yang terang benderang, tempat seorang laki-laki dengan jaket denim berdiri di dekat pintu kaca, menunggu.
Aku melihat laki-laki itu melihatnya. Aku melihat dia melangkah maju. Aku melihat Ayana berhenti di depannya.
Lalu mereka masuk ke dalam, dan aku tidak bisa melihat mereka lagi.
Aku memutar kunci mobil.
Mesinnya tidak menyala.
Aku memutarnya lagi. Mesinnya menyala kali ini, tapi tanganku tidak mau bergerak dari kunci. Tanganku tidak mau memasukkan gigi. Kakiku tidak mau menginjak kopling. Badanku duduk di kursi pengemudi mobil hijau tua di ujung lahan parkir pool travel Pasteur, dan tidak mau bergerak sama sekali.
Aku mematikan mesinnya lagi.
Di sebelahku, Ujang diam. Dia tidak bicara sejak kami meninggalkan rumah. Dia duduk di kursi penumpang dengan tangan di pangkuan, menatap kaca depan.
Aku menunduk.
Kepalaku menyentuh setir. Dingin. Kulit sintetis yang sudah retak-retak karena umur.
Lalu sesuatu di dalam dadaku yang sudah kutahan selama enam minggu, sejak pagi dia bertanya Mas siapa?, sejak malam dia bilang aku masih cinta Reno, sejak Sabtu pertama dia mengulurkan cincin itu, sejak jam tangan dengan ukiran —Ay, sejak meja dua belas, sesuatu itu pecah.
Aku tidak bersuara.
Aku tidak tahu cara bersuara. Aku menangis seperti dulu aku menangis waktu umur tujuh tahun, waktu Bapak pergi ke Kalimantan dan Ibu pergi ke Surabaya dan Aki mendudukkanku di bangku tinggi di sebelah meja kerja dan tidak menyuruhku berhenti menangis. Diam-diam. Tanpa suara. Hanya bahu yang bergetar dan napas yang tersendat dan air mata yang jatuh ke celana jeans.
Tangan kananku di setir. Tangan kiriku di dada. Di saku kiri. Di atas cincin itu.
Aku tidak tahu berapa lama.
Di luar, pengeras suara mengumumkan keberangkatan travel ke Jakarta. Lalu ke Bekasi. Lalu ke Bogor. Bus-bus kecil datang dan pergi. Lampu jalan di atas mobil terus berkedip-kedip.
Ujang tidak bicara. Ujang tidak menyentuhku. Ujang cuma duduk di sana, di sebelahku, diam, seperti dulu aku duduk di sebelah Aki waktu Aki bekerja. Ada. Tidak pergi.
Lalu, setelah lama sekali, aku mendengar suaranya. Pelan. Serak.
“Kang.”
Aku tidak mengangkat kepala.
“Kang, abdi waé nu nyetir.”
(Kang, saya aja yang nyetir.)
Ujang menyetir pulang dengan sangat pelan. Dia baru dapat SIM tiga bulan yang lalu. Dia mengerem terlalu dalam di setiap lampu merah, dan dia lupa menyalakan lampu sein dua kali. Aku tidak menegurnya.
Waktu kami sampai di rumah, pestanya sudah sepi.
Bu Yayah sudah pulang. Ema sudah dijemput tetangganya, meninggalkan pesan pada Gendis: Béjakeun ka si Putra, Ema bogoh ka manéhna. Bilang ke si Putra, Ema sayang sama dia. Gendis berdiri di ambang pintu dengan tas di bahu dan mata merah. Dia menatapku lama. Lalu dia memelukku, tiba-tiba, erat sekali, dan pergi tanpa bilang apa-apa.
Ujang mengantarnya sampai pagar. Lalu dia kembali ke dalam, ke dapur, dan aku mendengar dia menangis di dekat bak cuci piring. Keras kali ini. Dia tidak mencoba menyembunyikannya lagi.
Aku berdiri di ruang tengah.
Balon-balon hijau tua dan cokelat masih menggantung di langit-langit. Lampu-lampu kecil di jendela masih menyala. Spanduk cat air SELAMAT ULANG TAHUN, MAS TUKANG JAM masih terpasang, dengan jam dinding kecil yang tersenyum di setiap ujungnya.
Dan di meja makan, kue cokelat dua lapis. Utuh. Dengan krim keju yang sedikit tergerus di satu pinggir, bekas jari Ujang. Dua lilin, 3 dan 1. Belum dinyalakan.
Di sebelahnya, topi kerucut dari kertas karton. Dan bungkusan kecil berbentuk persegi, dibungkus kertas cokelat dan tali rami.
Aku tidak membukanya.
Aku memotong sepotong kecil kue, untuk Ujang, dan membawanya ke dapur. Ujang menerimanya dengan tangan gemetar, memakannya sambil menangis, dan bilang kuéna ngeunah, Kang. Kuenya enak, Kang. Lalu dia pulang ke kosannya.
Aku duduk di sofa.
Aku mengeluarkan Kartu Servis dari saku kemeja kiri. Cincin Ayana ikut keluar, jatuh ke pangkuanku. Aku memungutnya dan menggenggamnya di tangan kiri, dan menulis dengan tangan kanan.
Jumat. Umur 31.
Unit bikin pesta. Unit manggang kue sendiri, gagal dua kali. Unit gambar spanduk. Ada jam dinding yang senyum, kayak di kartu kado. Tangannya inget.
Unit pergi jam 21.03.
Kuenya enak kata Ujang. Aku belum nyobain.
Nunggu unit pulang.
Tulisanku di baris terakhir miring. Tintanya luntur di dua tempat, di huruf n dan huruf g, karena ada yang jatuh ke atasnya.
Aku tidak menulis dicatat.
Aku menyimpan Kartu Servis kembali ke saku kemeja. Cincinnya juga. Lalu aku berbaring di sofa, di bawah balon-balon dan lampu-lampu kecil, dengan wajah menghadap pintu depan. Supaya kalau pintu itu terbuka, aku yang pertama melihat.
Aku tidak berniat tidur. Aku cuma mau menunggu.
Sebelum mataku tertutup, aku ingat satu hal, dan aku mengeluarkan ponselku dan mengetik pesan untuk Ujang:
Jang. Jangan cerita ke Teteh.
Lalu aku menunggu.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra reading
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog