← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Twenty Nine

Gudang

POV: Ayana

Seminggu setelah malam di tepi ranjang itu adalah minggu paling manis yang pernah kuingat.

Aku tahu itu bukan ukuran yang besar. Ingatanku cuma delapan minggu, ditambah dua puluh empat tahun yang terasa seperti milik orang lain. Tapi tetap saja. Minggu itu manis.

Dia memanggilku Ay.

Setiap pagi. Pagi, Ay. Tehnya udah, Ay. Jam kamu udah kuputer, Ay. Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang baru belajar bahasa asing dan masih takut salah ucap. Dan setiap kali dia mengucapkannya, jantungku melonjak sedikit, seperti jarum detik yang tersentak.

Dia mencium dahiku setiap kali berangkat ke toko. Dia menggenggam tanganku waktu kami menyeberang jalan, bahkan di jalan kompleks yang sepi dan tidak ada motor sama sekali. Dia membawakan bakwan dari warung dekat toko setiap sore, karena aku pernah bilang suka bakwan Ema dan dia bilang bakwan warung itu hampir sama.

Tidak sama. Bakwan warung itu terlalu banyak tepung. Tapi aku memakannya setiap sore dan bilang enak.

Dan setiap malam, dia menciumku di tangga, di anak tangga terakhir, sebelum aku naik ke kamar dan dia kembali ke sofa. Pelan dan lama, dengan tangannya di pinggangku dan tanganku di dadanya, di atas saku kiri tempat cincinku tinggal.

Lalu dia bilang selamat tidur, Ay, dan aku naik sendirian.

Aturan nomor dua. Sampai Ayana bilang boleh pindah.

Kamu belum bilang dengan bener.

Aku belum tahu cara bilang dengan bener. Aku sudah mencoba tiga kali. Setiap kali, kata-kata itu tersangkut di tenggorokanku di tempat yang sama dengan tiga kata lain yang juga belum bisa kuucapkan. Seperti dua jam yang macet di gerigi yang sama.

Tapi minggu itu tetap manis. Manis sekali.

Sampai hari Kamis.


Kamis pagi, aku mencuci baju.

Itu bukan hal yang aneh. Sejak pulang dari rumah sakit, aku belajar mencuci dengan mesin cuci di gudang belakang, ruangan kecil di samping dapur yang sekaligus jadi tempat menyimpan barang-barang. Putra biasanya mencuci di hari Minggu, tapi minggu ini dia sibuk di toko, ada servis jam antik dari kolektor di Jakarta, dan keranjang cucian sudah penuh.

Gudang itu sempit dan agak gelap. Satu jendela kecil di dekat langit-langit. Mesin cuci di satu sisi. Rak besi tinggi di sisi lain, penuh kardus-kardus, kaleng cat, gulungan kabel, kotak perkakas. Bau sabun cuci dan debu.

Aku memasukkan baju-baju ke mesin cuci satu per satu. Kausku. Piyama awanku. Kaus abu-abu Putra. Celana trainingnya. Kemeja flanel biru tua.

Kemeja yang dia pakai di malam ulang tahunnya. Yang dia pakai waktu menangis, kata Ujang… tidak, Ujang tidak pernah bilang itu. Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan itu. Kemeja yang dia pakai tidur di toko di malam pertengkaran kami. Yang dia pakai waktu aku menemukannya di toko, menatap cincinku di bawah loupe.

Aku memeriksa saku-sakunya sebelum memasukkannya ke mesin. Kebiasaan. Mama selalu mengomel kalau ada tisu yang ikut tercuci.

Saku kanan, kosong.

Saku kiri…

Ada sesuatu. Kecil. Tebal. Persegi.

Aku mengeluarkannya.

Sebuah buku kecil bersampul kulit cokelat, lusuh di sudut-sudutnya. Seukuran telapak tangan. Ada tali karet tipis yang melingkarinya supaya tidak terbuka.

Aku pernah melihat buku ini. Di saku kemejanya, setiap hari. Kadang dia mengeluarkannya waktu malam, di sofa, dan menulis sesuatu dengan pulpen kecil, lalu buru-buru menyimpannya kalau aku turun dari tangga.

Dia bilang itu catatan servis jam.

Cincinku tidak ada di saku itu. Dia pasti sudah memindahkannya ke kemeja yang dia pakai hari ini. Tentu saja. Cincin dulu. Selalu cincin dulu.

Tapi buku ini, dia lupa.


Aku tidak seharusnya membukanya.

Aku tahu itu. Aku tahu itu seperti aku tahu tidak seharusnya membuka diari orang lain, atau membaca pesan di ponsel orang lain. Aku berdiri di gudang sempit itu dengan buku kecil di tangan dan mesin cuci yang setengah terisi, dan aku tahu, aku tahu sekali, aku harus menaruhnya di rak dan pura-pura tidak menemukannya.

Tapi tanganku melepas tali karetnya.

Halaman pertama. Tulisan tangan yang bukan tulisan Putra. Lebih miring. Lebih tua. Tinta yang sudah pudar kecokelatan.

KARTU SERVIS Jam Tua Adiwangsa — Braga

Lalu daftar-daftar. Seiko, kaca retak, pemilik Pak Haji Somad, selesai 3 hari. Jam saku Omega, per putus, pemilik Tuan van Dijk. Tulisan Aki. Puluhan halaman tulisan Aki.

Lalu tulisan berubah. Lebih kecil. Lebih tegak. Tulisan yang kukenal dari kertas-kertas kecil di bawah cangkir teh.

Daftar-daftar jam juga, awalnya. Lalu, di tengah buku, satu halaman yang berbeda.

Unit: jam tangan perempuan, tali kulit, kaca retak. Pemilik: nangis. Katanya bukan karena jamnya.

Aku menatap tulisan itu.

Jam tangan perempuan. Tali kulit. Kaca retak.

Aku menatap pergelangan tangan kiriku. Jam kecil dengan tali kulit cokelat muda. Yang dia betulkan di malam pertama di rumah sakit. Yang dia putar setiap pagi.

Pemilik: nangis.

Aku membalik halaman.

Ajakan ke-1. Nonton. Ditolak.

Ajakan ke-2. Makan seblak di Cikawao. Ditolak.

Ajakan ke-3. Ke Tahura, katanya mau liat kunang-kunang. Bulannya salah, nggak ada kunang-kunang. Ditolak juga.

Tanganku mulai gemetar.

Ema benar. Empat puluh enam. Aku yang mengajak. Dan dia menolak. Satu per satu. Dicatat di sini, dengan tulisan tangan yang kecil dan tegak, seperti mencatat jam yang masuk ke toko.

Aku membaca halaman demi halaman. Ajakan ke-12, nasi timbel. Ajakan ke-19, bilang suka di depan Ujang, Ujang jatuh dari kursi. Ajakan ke-27, nangis karena mantannya posting foto di Melbourne. Ajakan ke-33, rambutnya dipotong, cantik banget. Ajakan ke-46, hujan, teriak “YANG KEEMPAT PULUH ENAM!”.

Lalu ajakan ke-47.

Makan malam. Dago. Meja dekat jendela. Dia pakai gaun hijau. Tangannya gemetar waktu ngomong.

Aku bilang iya.

Aku menutup mulutku dengan tangan.


Aku terus membaca.

Halaman-halaman setelah ajakan ke-47 berubah. Bukan lagi daftar penolakan. Tulisannya sama kecil dan tegak, tapi isinya lain.

Unit suka kopi hitam. Gayo. Dua sendok. Air didiemin 30 detik. Kalau terlalu panas, katanya pahit. Aku nggak bisa bedain. Tapi kulakuin.

Unit ketawanya paling keras se-Braga. Pak Engkos sampe ngintip dari pos.

Unit potong rambut sendiri di kamar mandi jam 2 pagi. Miring. Kubenerin pake gunting jam. Lebih miring. Dia ketawa. Akhirnya ke salon.

Unit tidur sambil nyari tangan. Kalau nggak ketemu, ngigo.

Setiap halaman. Setiap hari. Hal-hal kecil. Hal-hal bodoh. Hal-hal yang membuat dadaku sesak, karena ini bukan catatan servis jam. Ini catatan tentang seorang perempuan. Tentang setiap kebiasaannya, setiap tawanya, setiap hal kecil yang dia lakukan. Ditulis oleh laki-laki yang memperhatikan semuanya.

Tentang dia.

Lalu satu halaman. Tanggalnya dua tahun lalu. Tulisannya sedikit berbeda, sedikit lebih besar, sedikit gemetar.

Akad. Jam 9.47.

Istriku.

Dicatat.

Aku harus berpegangan di pinggir mesin cuci supaya tidak jatuh.

Aku membalik lagi. Halaman-halaman pernikahan. Unit bikin label di toples kopi, “Jangan disentuh, Mas!!!”. Aku sentuh tiap pagi. Dia tahu. Itu leluconnya. Unit adopsi kucing oranye dari penampungan. Namanya Detik. Katanya biar rumah ini ada detaknya. Unit lukis jam dinding senyum di kartu ulang tahunku. Kata dia jam ini jam yang nggak pernah telat pulang.

Lalu satu halaman, yang membuatku berhenti.

Tanggalnya setahun lalu. Ada noda kecil di pojok kertas, noda kopi mungkin, atau teh. Tulisannya agak tidak rapi, seperti ditulis di tengah malam.

Unit demam 3 hari. 39 derajat. Nggak mau ke dokter. Akhirnya kugendong ke klinik jam 3 pagi.

Dokter bilang cuma tifus. Cuma.

Malam ini aku sadar sesuatu.

Kalau unit ini rusak, aku nggak mau unit pengganti. Nggak ada unit lain. Aku benerin yang ini. Selamanya yang ini.

Aku membaca kalimat itu berulang-ulang.

Aku nggak mau unit pengganti.

Selamanya yang ini.

Dan perutku dingin. Dingin seperti es.

Karena aku adalah unit pengganti.

Aku perempuan yang bangun di rumah sakit dengan wajah yang sama, nama yang sama, tahi lalat yang sama. Tapi bukan yang ini. Bukan perempuan yang dia gendong ke klinik jam tiga pagi. Bukan perempuan yang potong rambut sendiri di kamar mandi. Bukan perempuan yang membuat label toples kopi dan mengadopsi Detik dan melukis jam dinding yang tersenyum.

Aku cuma yang datang setelahnya.

Aku nggak mau unit pengganti.

Dia menulisnya sendiri. Setahun lalu. Dengan tulisan yang tidak rapi, di tengah malam.


Aku membalik halaman berikutnya dengan tangan yang gemetar hebat.

Halaman terakhir sebelum kecelakaan. Tanggalnya, kalau kuhitung, sehari sebelum aku tertabrak motor.

Hari jadi ke-2 besok. Unit bilang jangan nanya. Unit bilang rahasia. Unit senyum-senyum dari tadi pagi.

Aku nggak nanya. Aku seneng.

Lalu di bawahnya, halaman berikutnya. Masih ada tulisan. Aku melihat ujung tulisannya di pojok atas. Hari ke-1 (la—

Lalu aku mendengar mobil.

Bunyi mesin di depan pagar. Bunyi pintu mobil. Bunyi langkah di halaman.

Dia pulang. Jam sebelas siang. Dia tidak pernah pulang jam sebelas siang.

Aku menutup buku itu dengan panik. Melingkarkan tali karetnya dengan jari yang tidak mau diam. Menjejalkannya kembali ke saku kiri kemeja flanel biru tua. Melempar kemeja itu ke keranjang cucian, ke bawah tumpukan baju lain.

Aku tidak membaca halaman berikutnya.

Aku tidak tahu apa yang tertulis setelah Hari ke-1 (la—.


“Ay?” Suaranya dari dapur. “Kamu di mana?”

Aku berdiri di gudang dengan napas terengah-engah. Mesin cuci setengah terisi. Pintu mesin cuci terbuka. Aku menekan tombol mulai. Air mulai mengalir masuk dengan bunyi gemuruh.

“Gudang!” seruku. Suaraku terlalu tinggi. “Nyuci!”

Langkahnya mendekat. Dia muncul di ambang pintu gudang.

“Aku ketinggalan sesuatu,” katanya. Dia kelihatan sedikit tergesa. “Di kemeja yang kemarin. Kamu liat kemeja biru…”

Dia berhenti.

Matanya melihat keranjang cucian. Kosong. Lalu melihat mesin cuci. Air yang mengalir masuk. Baju-baju yang berputar pelan di balik kaca pintu mesin. Dan di antara baju-baju itu, kain flanel kotak-kotak biru tua.

Wajahnya memucat.

“Ay,” katanya. Suaranya aneh. “Kemeja biru. Sakunya.”

“Kenapa sakunya?”

“Ada… ada buku. Di saku kiri.”

Aku menatapnya. Dia menatap mesin cuci. Aku melihat tangannya bergerak, setengah terulur, seperti mau membuka pintu mesin cuci itu dan merobek kemejanya keluar.

Aku seharusnya bilang aku udah keluarin. Aku seharusnya bilang ada di sini. Aku seharusnya jujur.

Tapi aku baru saja membaca aku nggak mau unit pengganti, dan sesuatu di dadaku membeku, dan aku tidak bisa bicara.

Dia melangkah ke mesin cuci. Menekan tombol berhenti. Air berhenti mengalir. Mesin itu berdengung pelan, lalu diam. Dia menunggu lampu kuncinya mati, sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh menit, lalu membuka pintunya.

Dia merogoh ke dalam. Menarik kemeja flanel biru tua yang setengah basah. Merogoh saku kirinya.

Dan mengeluarkan buku kecil bersampul kulit cokelat. Basah di sudut. Tapi utuh. Tali karetnya masih melingkar.

Dia memegangnya dengan dua tangan. Lama. Seperti memegang burung yang hampir tenggelam.

Lalu dia mengusap sampulnya dengan kaus yang dia pakai, hati-hati sekali, sampai tidak ada air lagi. Dan memasukkannya ke saku celana jeans. Dan menghembuskan napas yang sepertinya sudah dia tahan sejak pagi.

“Catatan servis,” katanya, tanpa menatapku. “Penting. Maaf, Ay. Harusnya aku nggak lupa.”

“Iya,” kataku.

“Ada servis jam kolektor yang aku catet di situ. Nomor-nomor part-nya. Kalau ilang…”

“Iya, Mas.”

Dia mengangguk. Lalu dia melihatku. Wajahku. Dan sesuatu di wajahnya berubah. Khawatir.

“Ay? Kamu kenapa? Muka kamu pucet.”

“Nggak apa-apa.” Aku tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana caraku tersenyum. “Bau sabun. Bikin pusing.”

Dia menatapku lama. Lalu dia mengulurkan tangan dan menyentuh dahiku dengan punggung tangan, seperti memeriksa demam.

Unit demam 3 hari. Kugendong ke klinik jam 3 pagi.

Aku menahan napas supaya tidak menangis.

“Nggak panas,” katanya. “Istirahat, ya. Biar aku yang jemur nanti.”

“Iya.”

Dia mencium dahiku. Pelan. Lalu pergi, kembali ke toko, dengan buku kecil bersampul kulit cokelat di saku celananya.

Aku berdiri di gudang sendirian, di antara mesin cuci yang diam dan rak besi penuh kardus, dan aku tidak bisa bergerak.


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

Yang membuatku bergerak akhirnya adalah sesuatu yang kulihat di rak besi, di rak paling bawah, di belakang kaleng-kaleng cat. Tiga kardus besar. Kardus air mineral yang sudah lusuh, dilakban rapi.

Di salah satu kardus, dengan spidol hitam, tulisan tangan kecil dan tegak:

Foto-foto. Jangan dibuang.

Aku menariknya keluar. Berat. Lakbannya sudah dibuka sekali, lalu ditutup lagi. Bekas lakbannya kelihatan, dua lapis.

Aku membukanya.

Bingkai-bingkai foto. Puluhan. Disusun rapi, berdiri tegak, dibatasi kertas koran supaya kacanya tidak saling menggores.

Aku mengangkatnya satu per satu.

Foto perempuan berambut sebahu tertawa di depan toko jam, dengan payung di tangan. Foto perempuan itu tidur di sofa dengan kucing oranye di perutnya. Foto perempuan itu di depan meja gambar di loteng, dengan cat air di pipinya. Foto perempuan itu dan laki-laki itu di pantai, di gunung, di pasar malam, di dapur ini, di teras ini, di depan pohon jambu ini yang masih kecil.

Foto-foto yang dulu tergantung di dinding rumah ini.

Aku tidak pernah sadar. Sekarang aku sadar. Di dinding koridor lantai atas, di dinding ruang tengah, di dinding dapur, ada bekas-bekas persegi yang warnanya sedikit lebih terang dari sekelilingnya. Bekas paku kecil di tengahnya. Aku melihatnya setiap hari selama delapan minggu dan tidak pernah bertanya.

Dia menurunkan semua foto ini. Sebelum aku pulang dari rumah sakit.

Dia menyimpannya di sini. Di gudang. Di kardus air mineral. Dengan tulisan jangan dibuang.

Kecuali satu. Foto pernikahan di dinding samping tangga. Satu-satunya yang dia biarkan.

Dan kardus ini sudah dibuka. Lalu ditutup lagi. Dua lapis lakban.

Di bagian paling atas tumpukan, satu bingkai tidak berdiri tegak seperti yang lain. Bingkai itu tergeletak, menghadap ke atas, seperti diletakkan terakhir. Kacanya ada bekas sidik jari. Bekas jempol, di pojok, persis di tempat orang akan memegang bingkai kalau sedang menatapnya lama.

Foto perempuan itu di meja dua belas. Gaun hijau. Tangan menutupi separuh wajah. Mata basah. Senyum lebar.

Malam ajakan ke-47.

Aku menatap sidik jari di pojok kaca itu.

Kapan dia membuka kardus ini? Kapan dia duduk di gudang sempit ini, di antara mesin cuci dan kaleng cat, memegang foto ini, menatapnya sampai jempolnya meninggalkan bekas?

Waktu aku di Jakarta dengan Reno, Sabtu-Sabtu itu?

Waktu aku tidur di kamar atas dan dia di sofa?

Kemarin?

Aku nggak mau unit pengganti.

Aku duduk di lantai gudang. Di samping kardus yang terbuka. Dengan foto perempuan bergaun hijau di pangkuanku.

Dan aku menangis.

Bukan menangis seperti di lantai ruang tengah di malam ulang tahunnya. Bukan menangis karena menyesal. Menangis yang lain. Menangis yang dingin dan sepi. Menangis orang yang baru saja menemukan museum, dan sadar bahwa dia bukan yang dipajang di dalamnya.

Dia menyimpan dia di sini. Rapi. Hati-hati. Dengan kertas koran di antara setiap bingkai supaya tidak tergores. Seperti menyimpan jam antik yang paling berharga.

Dan aku, aku yang sekarang, tinggal di rumah yang dindingnya sudah dikosongkan dari wajahku sendiri.

Supaya aku tidak merasa tertekan, pikirku. Mungkin itu alasannya. Mungkin dia menurunkannya supaya aku tidak merasa harus jadi dia.

Atau supaya dia tidak perlu melihat perbedaannya setiap hari.

Aku tidak tahu yang mana.

Aku menyimpan foto bergaun hijau itu kembali ke tempatnya, di paling atas, menghadap ke atas, persis di posisi yang sama, dengan sidik jari di pojoknya tidak kuusap. Aku menutup kardus itu. Aku melakban ulang dengan lakban dari kotak perkakas. Tiga lapis sekarang.

Lalu aku menyelesaikan cucian. Menjemurnya di halaman belakang. Memasak makan malam. Dan waktu dia pulang jam enam lewat lima, mencium dahiku dan bilang pagi tadi kamu kenapa, Ay?, aku tersenyum dan bilang nggak apa-apa, cuma pusing dikit.

Malam itu dia menciumku di anak tangga terakhir, seperti biasa. Pelan. Lama.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak bisa membalasnya dengan benar.