Chapter Twenty One
Teh Manis
POV: Ayana
Reno berdiri di dekat pintu kaca ruang tunggu pool travel, dengan jaket denim di lengan dan ransel kecil di punggung, persis seperti waktu dia turun dari travel Sabtu lalu.
Tapi wajahnya tidak sama.
Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan, seperti dia menyisirnya dengan jari berkali-kali sepanjang perjalanan. Matanya merah di pinggir. Dan waktu dia melihatku berjalan melewati deretan bus kecil ke arahnya, dia melangkah maju, lalu berhenti, seperti tidak yakin boleh mendekat.
“Ay,” katanya. “Kamu dateng.”
“Kamu bilang penting.”
“Iya.” Dia menelan ludah. “Penting.”
Dia melirik ke balik bahuku. Ke ujung lahan parkir, ke bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, tempat mobil hijau tua itu diparkir. Lalu dia menatapku lagi.
“Dia nganterin kamu,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Iya.”
Reno memejamkan mata sebentar. Lalu membukanya.
“Ada warung kopi di sebelah,” katanya. “Buka dua puluh empat jam. Kita ngobrol di sana.”
Aku mengikutinya. Tapi sebelum masuk ke warung, entah kenapa, aku menoleh.
Lahan parkir itu luas dan gelap di ujungnya. Bus-bus kecil datang dan pergi, lampu depannya menyapu aspal yang berlubang. Dan di ujung paling jauh, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, mobil hijau tua itu masih di sana.
Lampunya mati. Mesinnya mati. Mobil itu tidak bergerak.
Aku mengerutkan alis. Sudah lima menit. Kenapa dia belum pulang? Tadi dia bilang nanti kemalaman. Tadi Ujang ikut. Mereka seharusnya sudah di jalan, sudah kembali ke rumah, ke balon-balon dan kue dan Ema yang menunggu.
Dari jarak sejauh itu, di bawah lampu yang berkedip, aku tidak bisa melihat ke dalam mobil. Aku cuma bisa melihat siluet. Dua kepala. Satu di kursi penumpang, tegak. Satu di kursi pengemudi.
Yang di kursi pengemudi menunduk. Rendah sekali. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang jatuh di bawah setir.
Mungkin kuncinya jatuh, pikirku. Mungkin dia sedang membalas pesan. Mungkin mesinnya susah dinyalakan. Mobil itu sudah tua.
“Ay?” Reno memanggil dari pintu warung.
Aku memalingkan wajah dari mobil itu.
“Iya,” kataku. “Iya, bentar.”
Aku masuk ke warung. Dan aku tidak menoleh lagi.
Itu, nanti, akan jadi hal kedua yang paling kusesali malam itu. Aku tidak menoleh lagi.
Warung kopi itu kecil dan terang dan penuh asap rokok dari meja-meja di teras. Dindingnya dicat hijau muda, dengan kalender bergambar artis dangdut dan jam dinding plastik yang jarum detiknya tersendat-sendat. Ada televisi kecil di pojok yang menayangkan sinetron dengan suara terlalu keras. Penjaganya seorang ibu-ibu berjilbab merah yang sedang menggoreng tempe mendoan.
Kami duduk di meja paling dalam, jauh dari teras. Reno memesan es kopi susu. Tentu saja.
“Teteh?” tanya ibu penjaga warung.
“Teh manis,” kataku. “Panas.”
Reno menatapku. Sudut bibirnya bergerak, sedikit. Senyum yang sedih.
“Kamu sekarang beneran suka teh manis, ya,” katanya.
“Kayaknya.”
“Dulu kamu bilang teh manis itu minuman orang tua.”
“Dulu aku bilang banyak hal.”
Ibu penjaga warung meletakkan pesanan kami. Es kopi susu dalam gelas plastik. Teh manis dalam gelas kaca bergagang, yang uapnya naik pelan-pelan di antara kami.
Aku menyesap tehku. Terlalu manis. Bukan dua sendok. Mungkin empat.
Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikan itu.
“Ay,” kata Reno. Dia tidak menyentuh es kopi susunya. Kedua tangannya mengepal di atas meja. “Aku mau jujur sama kamu.”
Jantungku berdebar keras. Debar yang kukenal. Debar umur dua puluh empat.
“Tiga tahun lalu,” katanya, “waktu aku bilang aku nggak mau LDR, aku bohong.”
Aku menatapnya.
“Bukan bohong soal LDR-nya. Aku emang takut LDR. Tapi itu bukan alasan aku putusin kamu.” Dia menunduk. “Alasan sebenernya, aku takut. Aku dapet beasiswa, aku mau ke luar negeri, aku mau jadi sesuatu. Dan aku takut kalau aku tetep sama kamu, aku bakal… nggak tahu. Kebawa. Nggak jadi pergi. Nggak jadi apa-apa. Jadi aku milih pergi. Aku milih aku sendiri.”
“Ren—”
“Aku pengecut, Ay.” Suaranya pecah. “Aku ninggalin kamu di meja itu, di Kemang, dengan es kopi susu yang mencair, karena aku pengecut. Dan aku nyesel. Aku nyesel setiap hari. Di Melbourne, setiap musim dingin, setiap aku masak nasi goreng dan gagal, setiap aku lewat toko buku dan liat buku cerita anak di etalase, aku mikirin kamu.”
Aku tidak bisa bicara. Tanganku memegang gelas teh, terlalu erat, sampai panasnya menyengat telapak tanganku.
Ini yang selama ini kutunggu. Enam minggu. Bukan, tiga tahun, kalau dihitung dari kalender. Tapi buat aku, cuma enam minggu sejak meja dekat jendela di Kemang. Enam minggu aku menunggu dia bilang aku salah. Aku nyesel. Aku masih mikirin kamu.
Dan sekarang dia bilang.
Aku menunggu dadaku meledak. Menunggu rasa lega yang besar. Menunggu sesuatu yang hangat dan manis dan sempurna, seperti adegan di akhir film.
Yang kurasakan cuma debar. Debar yang keras. Dan, di bawah debar itu, sesuatu yang lain. Sesuatu yang kecil dan dingin, seperti batu di dalam sepatu.
“A! A, Jakarta? Jakarta, A? Masih aya korsi!”
(A! A, Jakarta? Jakarta, A? Masih ada kursi!)
Seorang calo travel muncul di pintu warung, menunjuk Reno dengan semangat. Laki-laki kurus dengan topi terbalik dan rompi oranye.
“Nanti, Kang,” kata Reno, tanpa menoleh. “Saya udah punya tiket.”
“Oh, siap, A! Mangga, mangga!” Calo itu pergi.
Reno menarik napas. Mengulang dari tempat dia berhenti.
“Ay, aku—”
“A! Bekasi? Bekasi, A?” Calo yang lain. Lebih tua. Rompi hijau.
“Nggak, Pak.”
“Bogor?”
“Nggak, Pak, makasih.”
Calo itu pergi. Ibu penjaga warung tertawa kecil di balik penggorengan.
Aku menutup mulut dengan tangan. Aku tidak mau tertawa. Ini bukan waktunya tertawa. Tapi bahuku bergetar.
Reno menatapku. Lalu dia juga tersenyum, kecil, lelah.
“Aku udah latihan omongan ini tiga jam di travel,” katanya. “Nggak pernah kebayang bakal diganggu calo.”
“Ini Bandung, Ren. Selamat datang.”
Kami berdua tertawa. Pendek. Lalu tawanya berhenti, dan hening lagi.
“Ay,” kata Reno. Kali ini lebih pelan. Dia mencondongkan badan ke depan, siku di meja. “Aku tahu kamu udah nikah. Aku tahu. Aku nggak bodoh. Aku liat dia. Aku liat dia nganterin kamu tiap Sabtu. Aku liat dia benerin jam aku yang tiga tukang jam bilang nggak bisa dibenerin.”
Dia mengangkat tangan kirinya. Jam tangan perak itu di pergelangannya. Berdetak.
“Tapi kamu nggak inget dia,” katanya. “Kamu sendiri yang bilang. Buat kamu, dia orang asing. Buat kamu, yang kamu inget cuma aku. Cuma kita.”
“Ren…”
“Jadi aku mau nanya.” Dia menatapku lurus. Matanya basah. “Satu kali aja. Habis ini aku nggak akan nanya lagi.”
Jam dinding plastik di atas televisi berdetak, tersendat-sendat. Sinetron di televisi sedang memutar adegan seorang perempuan menangis di bawah hujan buatan.
“Kita mulai lagi, Ay?”
Waktu berhenti.
Atau mungkin bukan waktu. Mungkin cuma aku.
Ini dia. Kalimat yang kutunggu. Kalimat yang kubayangkan setiap malam sebelum tidur selama enam minggu, sambil menatap langit-langit kamar di rumah hijau pucat. Kita mulai lagi. Kalimat yang akan membuat semuanya kembali seperti semula. Seperti waktu aku umur dua puluh empat dan tinggal di kos Bu Darsih dan semua hal masih masuk akal.
Reno meraih tanganku di atas meja.
Tangannya hangat. Familier. Aku tahu bentuk jari-jarinya, tahu di mana kulitnya agak kasar karena dulu dia main gitar, tahu caranya menggenggam, ibu jari mengusap punggung tanganku. Tangan yang dulu menggandengku di Ancol.
Aku tidak menarik tanganku.
Dia berdiri sedikit dari kursinya. Mencondongkan badan melewati meja. Melewati es kopi susu yang tidak tersentuh dan teh manis yang terlalu manis. Wajahnya mendekat. Pelan. Matanya setengah terpejam.
Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku pernah merasakannya ratusan kali. Bibirnya, dan wangi parfumnya yang sedikit seperti kayu manis, dan rasanya seperti pulang ke rumah lama.
Wajahnya mendekat.
Sepuluh senti.
Lima.
Dan di detik itu, di detik terakhir, sesuatu muncul di kepalaku.
Bukan Reno.
Teh manis.
Teh manis dua sendok. Bukan empat. Dua. Dalam cangkir bergambar kucing oranye. Di meja makan, setiap pagi, masih hangat, dengan uap yang naik pelan-pelan. Diletakkan di depanku tanpa kata-kata, oleh tangan yang besar dan sedikit kasar dengan bekas luka di jempol kiri.
Kemeja flanel hijau tua, kebesaran, lengannya jatuh sampai ujung jariku, wangi sabun dan kayu dan minyak mesin, di trotoar Braga waktu angin dingin.
Payung hitam yang dimiringkan sampai bahu kirinya basah kuyup.
Napas bareng aku. Satu, dua, tiga, empat.
Tangan yang memperbaiki jam tangan Reno. Jam tangan Reno. Semalaman. Sampai matanya merah dan ada luka baru di jari telunjuknya. Tanpa satu goresan pun di jam itu. Tanpa satu kata keluhan.
Dan kue cokelat dua lapis di meja makan, dengan lilin 3 dan 1 yang belum dinyalakan.
Aku pulang sebelum potong kue. Janji.
Iya.
Aku mundur.
Aku tidak memutuskan untuk mundur. Badanku yang mundur. Seperti di Jalan Asia Afrika, waktu tanganku mencari tangan seseorang tanpa bertanya pada kepalaku. Kursiku bergeser ke belakang dengan bunyi derit keras di lantai keramik. Tanganku tertarik dari genggaman Reno.
Reno membeku. Setengah berdiri. Badan masih condong ke depan. Matanya terbuka, menatapku.
Aku menatapnya balik. Napasku pendek-pendek.
Hening. Sinetron di televisi terus berjalan. Perempuan di bawah hujan buatan berteriak Kamu jahat, Mas! Ibu penjaga warung berhenti menggoreng mendoan dan menatap kami dengan spatula di tangan.
Pelan-pelan, Reno duduk kembali.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menatapku. Dan aku melihat wajahnya berubah, pelan-pelan, dari bingung ke mengerti. Seperti orang yang membaca surat yang sudah lama dia tahu isinya, tapi baru sekarang berani membukanya.
“Ay,” katanya pelan.
Aku tidak bisa menjawab. Tanganku gemetar. Aku menatap gelas teh di depanku. Teh manis yang terlalu manis.
Bukan dua sendok.
Bukan teh yang benar.
Ponselku bergetar di saku rok. Berkali-kali. Aku mengeluarkannya dengan tangan gemetar.
Gendis. Dua puluh tiga pesan.
Sebagian besar emoji. Emoji marah. Emoji api. Emoji tengkorak. Lalu beberapa pesan dengan huruf kapital semua:
AY LO DIMANA
AY BALIK
AY KUENYA BELUM DIPOTONG
AY ITU ULANG TAUN DIA
AY GUE MAU NONJOK LO TAPI GUE JUGA SAYANG SAMA LO JADI BALIK SEKARANG SEBELUM GUE BERUBAH PIKIRAN
Lalu pesan terakhir, sepuluh menit yang lalu. Tanpa emoji. Tanpa huruf kapital.
Ay. Ujang sama Mas Putra barusan pulang. Ujang yang nyetir. Ujang nangis di dapur. Dia nggak mau bilang kenapa. Tapi dia nangis kayak anak kecil. Gue nggak pernah liat Ujang nangis kayak gitu. Balik, Ay. Please.
Aku menatap pesan itu.
Ujang nangis.
Ujang yang selalu nyengir sampai matanya hilang. Ujang dengan gorengan di saku celana. Ujang yang bilang Akang mah teu bisa bohong.
Ujang yang ikut di mobil. Yang bilang abdi milu, Kang dengan wajah pucat.
Ujang yang nyetir. Selama enam minggu, aku tidak pernah sekali pun melihat mobil hijau tua itu disetir siapa pun selain Putra.
Kenapa Ujang yang menyetir? Kenapa Ujang menangis?
Aku menatap ponsel itu lama sekali. Lalu aku menatap Reno.
Reno sudah tidak menatapku. Dia menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Jam perak yang berdetak. Rata. Sempurna.
“Ay,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Aku harus ngomong satu hal lagi. Satu hal yang harusnya aku omongin dari awal. Dari pertama kamu DM aku.”
Aku menunggu.
Dia mengangkat kepala. Matanya merah. Basah. Tapi ada sesuatu yang lain di sana sekarang. Bukan harapan lagi. Sesuatu yang lebih berat.
“Tapi kamu jawab dulu,” katanya. “Jujur. Tadi kenapa kamu mundur?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada yang keluar.
Karena aku tahu jawabannya. Aku tahu jawabannya bahkan sebelum kursiku bergeser ke belakang. Mungkin aku sudah tahu sejak tangga darurat Pasar Baru. Sejak Jalan Asia Afrika. Sejak tanganku menggambar tangan seseorang dengan mata tertutup dan Detik menggosokkan kepalanya ke daguku.
Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Tidak di sini. Tidak di warung kopi di sebelah pool travel Pasteur, di depan laki-laki yang dulu kucintai, yang baru saja datang tiga jam naik travel untuk bilang dia menyesal.
Di televisi, sinetron itu berganti iklan. Iklan teh. Seorang ibu tersenyum lebar sambil menuang teh ke cangkir untuk suaminya.
Aku tertawa. Tawa yang keluar seperti isak.
Lalu aku menangis.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis reading
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog