← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter One

Tanggal di Ponsel

POV: Ayana

Hal terakhir yang kuingat adalah es kopi susu yang tidak kuminum.

Kafe kecil di Kemang, meja dekat jendela, hujan yang tidak jadi turun. Reno duduk di depanku dengan kemeja biru dongker yang kubelikan waktu ulang tahunnya, memutar-mutar sedotan, tidak berani menatapku.

“Aku dapet LPDP, Ay. Melbourne. Berangkat bulan depan.”

Aku sempat tersenyum. Sempat mau bilang selamat, sempat mau memeluknya, sempat membayangkan video call jam dua pagi dan tiket promo ke Australia yang akan kucicil.

Lalu dia bilang, “Aku nggak mau LDR.”

Es kopi susuku mencair pelan-pelan, dan tiga tahun kami ikut mencair bersamanya.

Itu seminggu yang lalu. Seminggu yang kuhabiskan dengan mie instan, drama Korea yang tidak kutonton, dan presentasi klien hari Senin yang belum kusentuh sama sekali.

Jadi waktu aku membuka mata dan melihat langit-langit putih dengan bau antiseptik yang menusuk hidung, pikiran pertamaku bukan aku di mana.

Pikiran pertamaku adalah: ya ampun, presentasi Senin.


Kepalaku berat. Bukan berat seperti habis begadang, tapi berat seperti ada orang yang menaruh batu bata di dalam tengkorakku lalu lupa mengambilnya lagi. Aku mencoba menoleh, dan leherku protes keras.

Ada orang di kursi sebelah ranjangku.

Laki-laki. Tidur dengan posisi yang pasti akan membuat lehernya sakit besok, kepala miring ke dinding, tangan terlipat di dada. Kemeja flanel kotak-kotak hijau tua yang lengannya digulung sampai siku. Kacamata bertengger di atas kepala, bukan di hidung, seperti orang yang lupa sedang memakai kacamata. Rambutnya agak berantakan, rahangnya ditumbuhi bayangan janggut tipis yang jelas sudah beberapa hari tidak dicukur.

Aku tidak kenal dia.

Mungkin perawat laki-laki. Mungkin keluarga pasien sebelah yang salah kamar. Mungkin—

Dia bergerak. Matanya terbuka, langsung menatapku, dan dalam satu detik wajahnya berubah. Aku tidak tahu cara menggambarkannya. Seperti orang yang sudah lama sekali menahan napas, lalu akhirnya boleh bernapas.

Matanya merah. Bukan merah ngantuk. Merah yang lain.

“Ayana,” katanya. Suaranya serak.

Dia tahu namaku.

“Mas…” Suaraku sendiri keluar seperti kertas amplas. Tenggorokanku kering sekali. “Mas siapa?”

Dia diam.

Diamnya lama. Lama sekali, sampai aku mulai berpikir mungkin pertanyaanku kurang sopan. Tangannya, yang tadi sudah setengah terulur ke arahku, pelan-pelan turun lagi ke pangkuannya.

“Sebentar,” katanya akhirnya. “Aku panggil dokter.”

Dia berdiri. Tinggi sekali. Bahunya lebar, dan dia harus sedikit menunduk melewati tirai. Sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi, seperti memastikan aku masih ada di situ.

Aneh, pikirku. Orang aneh.


Dokternya perempuan, umur empat puluhan, dengan kacamata berbingkai merah dan suara yang terlalu sabar. Namanya dr. Hana, tertera di jas putihnya. Dia menyorotkan senter kecil ke mataku, menyuruhku mengikuti jarinya, menyuruhku meremas tangannya.

“Bagus,” katanya. “Bisa sebutkan nama lengkap?”

“Ayana Kirana.”

“Umur?”

“Dua puluh empat.”

Ada jeda kecil. Sangat kecil, tapi aku menangkapnya. Mata dr. Hana melirik sebentar ke arah laki-laki flanel yang berdiri di sudut ruangan dengan tangan masuk ke saku.

“Tahun berapa sekarang, Mbak Ayana?”

Aku menyebutkan tahunnya.

Jeda itu muncul lagi. Kali ini lebih panjang.

“Mbak kerja di mana?”

“Agensi iklan. Di Jakarta. Saya account executive.” Aku menelan ludah yang tidak ada. “Dok, saya kenapa? Kecelakaan? Saya harus ngabarin kantor, Senin saya ada presentasi—”

“Mbak Ayana.” Dr. Hana menarik kursi dan duduk, dan saat itu aku tahu kabarnya pasti jelek. Dokter yang sampai duduk biasanya membawa kabar jelek. “Lima hari yang lalu Mbak mengalami kecelakaan. Mbak ditabrak motor saat menyeberang jalan. Ada benturan di kepala. Mbak tidak sadarkan diri selama lima hari.”

Lima hari. Oke. Presentasinya pasti sudah lewat. Aku pasti dipecat.

“Dan sepertinya,” lanjut dr. Hana pelan-pelan, “benturan itu memengaruhi sebagian ingatan Mbak.”

“Ingatan saya baik-baik aja, Dok. Saya inget nama saya, umur saya, kantor saya—”

“Tahun yang Mbak sebutkan tadi,” kata dr. Hana, “itu tiga tahun yang lalu.”

Aku tertawa.

Tawaku keluar sendiri, pendek dan sumbang, karena itu lelucon paling tidak lucu yang pernah kudengar. Aku menunggu dr. Hana ikut tertawa. Dia tidak tertawa. Laki-laki flanel di sudut ruangan juga tidak tertawa. Dia menatap lantai.

“Dok,” kataku. “Itu nggak lucu.”

“Saya tidak sedang bercanda, Mbak.”

Aku melirik laki-laki itu. “Terus Mas ini siapa? Petugas rumah sakit?”

Laki-laki itu mengangkat kepala. Dia menatapku lurus-lurus, dan suaranya tenang sekali saat bicara, setenang orang yang sudah berlatih kalimat itu berkali-kali di kepalanya.

“Saya suaminya.”

Hening.

Lalu aku tertawa lagi, kali ini lebih keras, dan kepalaku langsung berdenyut seperti dipukul palu. Aku meringis, memegang pelipis, dan tetap tertawa.

“Mas,” kataku di sela ringisan, “saya jomblo.”

Laki-laki itu tidak menjawab.

“Eh, nggak, bentar.” Aku meralat, karena aku orang yang jujur. “Saya punya pacar. Namanya Reno. Yah, baru putus seminggu sih. Tapi masih dalam proses balikan. Jadi secara teknis, saya bukan jomblo, tapi juga bukan istri siapa-siapa.”

Dr. Hana menatapku dengan ekspresi yang sangat profesional. Laki-laki flanel menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Ada sesuatu yang lewat di wajahnya, cepat sekali, seperti mobil yang lewat di jalan tol, lalu hilang.

“Ini prank, ya?” Aku melihat ke sekeliling ruangan, mencari kamera. “Kalian dari acara TV? Tiara yang nyuruh? Tiara pasti yang nyuruh. Dia tuh suka banget—”

Pintu kamar terbuka dengan keras.

“YANA!”


Mamaku masuk seperti angin puting beliung yang membawa rantang.

Dia menjatuhkan rantang di meja, nyaris menumpahkan sayur sop entah ke mana, lalu menerjang ranjangku dan memelukku sekuat tenaga. Kepalaku kembali dihantam palu imajiner. Aku memekik.

“Ma! Ma, kepala, Ma!”

“Ya Allah, Yana, ya Allah, alhamdulillah, alhamdulillah.” Mama menangis. Mama menangis sambil mencium pipiku, keningku, rambutku, dan bahkan hidungku. “Mama kira kamu nggak bangun-bangun, Mama kira—”

“Ma.” Aku menahan bahunya, mendorongnya sedikit supaya bisa melihat wajahnya. “Ma, dengerin. Mas itu siapa?”

Mama menoleh ke arah laki-laki flanel. Lalu menoleh lagi padaku. Lalu menoleh ke dr. Hana. Wajahnya berubah dari lega menjadi bingung, lalu dari bingung menjadi ngeri.

“Yana,” bisiknya, “itu Putra.”

“Putra siapa?”

“Putra, Yana. Suami kamu. Mantu Mama.”

Aku menatap Mama. Mama menatapku. Di sudut ruangan, laki-laki yang katanya bernama Putra itu menggaruk tengkuknya, lalu menatap ke luar jendela seperti sedang memperhatikan sesuatu yang sangat penting di tempat parkir.

“Ma,” kataku pelan, “Mama ikutan prank-nya?”

Mama langsung menangis lagi, kali ini lebih keras.


Butuh setengah jam, dua gelas air putih, dan satu suntikan entah apa dari perawat untuk membuatku cukup tenang mendengarkan.

Penjelasannya begini, menurut dr. Hana: amnesia retrograd. Kerusakan pada bagian otak yang menyimpan ingatan tertentu akibat benturan. Ingatan lama biasanya aman. Kemampuan membuat ingatan baru juga aman. Yang hilang adalah potongan waktu tertentu sebelum cedera. Pada kasusku, potongan itu kira-kira tiga tahun.

“Bisa balik, Dok?”

“Bisa. Sebagian. Kadang sepotong-sepotong. Kadang lambat. Kadang…” Dr. Hana berhenti sebentar. “Kadang tidak kembali sepenuhnya, Mbak. Saya tidak mau memberi janji yang tidak bisa saya tepati.”

“Kadang tidak kembali,” ulangku.

“Kita lihat perkembangannya. Yang penting sekarang Mbak istirahat.”

Tiga tahun. Aku mencoba menghitung apa saja yang mungkin terjadi dalam tiga tahun. Tiga kali ulang tahun. Tiga kali lebaran. Kenaikan gaji? Pindah kerja? Pindah kota? Menikah?

Menikah.

“Ponselku,” kataku tiba-tiba. “Ma, ponselku mana?”

Mama membuka tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Bukan ponselku. Ponselku casing-nya pink pudar dengan stiker kucing yang sudah mengelupas di ujungnya. Ponsel ini lebih baru, lebih tipis, dengan casing bening yang di baliknya terselip sebuah gambar kecil, coretan tangan, gambar jam dinding dengan dua jarum yang membentuk senyum.

“Ini punyaku?”

“Punya kamu, Yana.”

Aku menyalakannya. Layar kunci muncul, dengan foto seekor kucing oranye gendut sedang tidur telentang di atas tumpukan kertas. Aku tidak punya kucing. Aku alergi kucing. Setidaknya, dulu aku alergi kucing.

Lalu mataku jatuh ke angka di bagian atas layar.

Tanggalnya.

Tahunnya.

Tiga tahun setelah es kopi susu yang mencair di Kemang.

Aku menatap angka itu lama sekali, seperti angka itu bisa berubah kalau aku menatapnya cukup keras. Angka itu tidak berubah. Jariku gemetar saat aku memasukkan kode yang selama ini kupakai, tanggal lahirku. Kode salah. Kucoba lagi, tanggal jadian dengan Reno. Kode salah.

“Kodenya…” Aku mendongak, entah menatap siapa. “Aku nggak tahu kode ponselku sendiri.”

Tidak ada yang menjawab. Laki-laki bernama Putra itu menatap ponsel di tanganku dengan cara yang aneh, seperti orang yang tahu jawabannya tapi memutuskan untuk diam.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Di jari manis kiriku. Sebuah cincin.

Emas putih, polos, tanpa permata, ramping. Pas sekali di jariku, seperti sudah lama tinggal di sana. Ada bekas garis samar di kulitku di sekelilingnya, garis yang hanya muncul kalau sebuah cincin dipakai setiap hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun.

Aku memutar cincin itu dengan jempol. Dingin.

“Ma,” kataku, dan suaraku pecah di tengah. “Aku beneran udah nikah?”

Mama memegang tanganku, yang ada cincinnya, dan menangis tanpa suara sambil mengangguk.


Ada satu hal lagi yang membuatku menjerit hari itu, dan itu terjadi waktu perawat membantuku ke kamar mandi.

Cermin.

Aku berdiri di depan wastafel dengan selang infus di tangan dan menatap perempuan di cermin. Wajahnya wajahku, tentu saja. Mata besar yang kata Mama mirip almarhum Papa. Lesung pipi kiri yang dulu suka dicubit Reno. Kulit kuning langsat yang sekarang agak pucat, dengan memar kekuningan di pelipis kanan dan perban kecil di dekat telinga.

Tapi rambutnya.

Rambutku, yang panjangnya sampai pinggang, yang kurawat seperti anak sendiri dengan masker rambut setiap Minggu, yang selalu dipuji Reno, yang selama dua puluh empat tahun hidupku tidak pernah lebih pendek dari bahu…

Sekarang rambutku sebahu.

Pas di bahu. Dipotong rapi, dengan poni tipis menyamping yang tidak pernah berani kucoba.

“SIAPA YANG POTONG RAMBUT AKU?!”

Perawatnya kaget sampai hampir menjatuhkan tiang infus. Dari luar kamar mandi, aku mendengar suara Mama: “Itu kamu sendiri, Yana! Udah dua tahun!”

Dua tahun. Aku memotong rambutku sendiri dua tahun yang lalu, dan aku tidak ingat. Aku menyentuh ujung rambut yang menggantung di dekat leherku. Ringan. Aneh. Leherku terasa telanjang.

Dan, aku benci mengakuinya, cocok.

Aku kelihatan lebih dewasa. Lebih cantik, bahkan, dengan cara yang tidak kumengerti. Seperti versi diriku yang sudah tahu sesuatu yang belum aku tahu.

Aku menatap perempuan di cermin itu dan bertanya dalam hati: kamu siapa?

Dia tidak menjawab.


Sore itu Mama pamit sebentar ke kantin, membawa rantang sop yang belum disentuh siapa-siapa. Dr. Hana sudah pergi. Perawat sudah pergi. Tinggal aku dan laki-laki itu.

Dia duduk lagi di kursi yang sama, di sebelah ranjang, tapi sedikit lebih jauh dari tadi pagi, seperti sengaja memberi jarak. Tangannya memegang sesuatu, dan dia memutar-mutarnya pelan dengan jari-jari panjang yang terlihat sangat terampil.

Aku memperhatikannya diam-diam. Wajahnya tidak jelek. Malah, kalau mau jujur, wajahnya enak dilihat, dengan cara yang tenang dan tidak berusaha. Hidung lurus, alis tebal, mata yang agak sayu. Tapi dia orang asing. Orang asing yang mengaku suamiku.

“Mas,” kataku akhirnya.

Dia mengangkat kepala.

“Kita…” Aku mencari kata yang tepat. “Kita nikah karena dijodohin, ya?”

Sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum, tapi hampir.

“Bukan.”

“Terus?”

Dia diam sebentar, lalu menggeleng pelan. “Nanti aja. Kamu istirahat dulu.”

Aku tidak suka jawaban itu. Aku tidak suka nanti aja. Tapi kepalaku terlalu berat untuk berdebat, jadi aku hanya mendengus dan memandangi langit-langit lagi.

“Ini,” katanya.

Dia mengulurkan benda yang sejak tadi dia putar-putar. Sebuah jam tangan perempuan, tali kulit cokelat muda, permukaan putih kecil dengan angka romawi. Kacanya retak, retakannya menjalar dari pinggir seperti jaring laba-laba. Tali kulitnya tergores di beberapa tempat.

“Punyamu,” katanya. “Kamu pakai waktu kecelakaan.”

Aku menerimanya. Jam itu terasa asing di telapak tanganku. “Ini bukan jam aku. Jam aku tali besi, warna silver, hadiah dari Reno.”

Dia tidak bereaksi pada nama itu. Wajahnya datar. “Yang ini kamu beli di Bandung.”

“Aku ngapain di Bandung?”

“Tinggal.”

Aku menatapnya. Dia menatapku. Dia serius.

Aku memutuskan untuk tidak memikirkan itu sekarang, karena kalau aku memikirkannya sekarang, aku pasti akan menangis, dan aku tidak mau menangis di depan orang asing. Jadi aku menunduk dan memperhatikan jam di tanganku.

Jarum-jarumnya diam. Tidak bergerak.

Jarum pendek di antara angka sembilan dan sepuluh. Jarum panjang di angka sembilan lewat sedikit. Jarum detik membeku di tengah perjalanannya.

Pukul 21.47.

“Jamnya mati,” kataku.

“Iya,” katanya pelan. “Berhentinya pas kamu ditabrak.”

Aku memandangi angka itu. 21.47. Satu menit yang membelah hidupku jadi dua, dan aku tidak ingat satu pun dari keduanya. Tidak ingat kecelakaannya. Tidak ingat tiga tahun sebelumnya. Hanya ingat es kopi susu yang mencair, dan laki-laki dengan kemeja biru dongker yang bilang aku nggak mau LDR.

“Bisa dibenerin?” tanyaku. Entah kenapa, aku bertanya.

Laki-laki itu mengulurkan tangan, dan aku meletakkan jam itu kembali di telapak tangannya. Jari-jarinya menutup di sekeliling jam itu dengan sangat hati-hati, seperti sedang memegang sesuatu yang bisa pecah hanya karena dilihat.

“Bisa,” katanya. “Semua jam bisa dibenerin.”

Ada sesuatu di cara dia mengucapkannya. Seperti dia tidak sedang bicara soal jam.

Tapi aku terlalu capek untuk bertanya, dan mataku sudah berat lagi. Hal terakhir yang kulihat sebelum tertidur adalah laki-laki itu, masih duduk di kursi yang sama, menatap jam rusak di tangannya, seperti jam itu satu-satunya hal di dunia yang masih ia mengerti.