← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Sixteen

Kotak Kado

POV: Ayana

Ruang tunggu poli saraf rumah sakit itu tidak pernah dirancang untuk menampung Mama dan Ema sekaligus.

Aku tahu itu dalam lima menit pertama.

Mama datang dari Bekasi naik kereta pagi, membawa tas jinjing berisi termos, kue lapis, dan tiga jenis vitamin yang menurut grup WhatsApp alumni SMA-nya bagus buat otak. Ema datang dari Braga diantar Ujang naik motor, membawa rantang, dua bungkus nasi timbel, dan botol air zamzam yang menurut tetangga sebelahnya bagus buat segala-galanya.

Mereka berdua duduk di kiri dan kananku. Putra duduk di ujung bangku, di sebelah Ema, dengan wajah orang yang sudah menyerah pada takdir sejak di parkiran.

“Bu Ratih, ieu cobian, zamzam. Asli. Ti Mekah,” kata Ema, menyodorkan botol.

(Bu Ratih, ini coba, zamzam. Asli. Dari Mekah.)

“Makasih, Ema, tapi Yana udah minum vitamin. Ini, Ginkgo biloba. Buat memori. Kata dokternya Bu Endang, ini paling bagus.”

“Ginkgo naon? Teu ngarti Ema. Zamzam mah geus kabukti ti jaman Nabi.”

(Ginkgo apa? Nggak ngerti Ema. Zamzam mah udah terbukti dari zaman Nabi.)

“Ginkgo itu juga udah terbukti, Ema. Ada penelitiannya.”

“Penelitian saha?”

(Penelitian siapa?)

Aku duduk di tengah, memegang botol zamzam di tangan kiri dan tablet Ginkgo biloba di tangan kanan, dan menatap Putra dengan pandangan memohon.

Putra menatap langit-langit.

“Mas,” bisikku.

“Hm.”

“Tolong.”

“Aku nggak berani,” bisiknya balik. “Mereka berdua lebih galak dari Bu Yayah.”

Seorang ibu-ibu di bangku seberang, yang sedang menunggu bersama suaminya yang memakai penyangga leher, mulai tertawa. Lalu suaminya ikut tertawa. Lalu dia meringis karena lehernya sakit, dan istrinya memukul lengannya, dan dia tertawa lagi.

Akhirnya, aku meminum keduanya. Seteguk zamzam, lalu menelan tablet Ginkgo biloba. Mama dan Ema sama-sama mengangguk puas, seperti dua jenderal yang baru saja menandatangani perjanjian damai.


Dr. Hana memeriksaku selama setengah jam. Menyorot mata. Menyuruh mengikuti jari. Menyuruh menyebutkan nama-nama hewan yang dimulai dengan huruf K dalam satu menit. Kucing, kambing, kuda, kancil, kelinci, kura-kura, kecoa, kukang, katak, kanguru. Dr. Hana bilang itu bagus.

Lalu dia bertanya, apakah ada ingatan yang kembali.

Aku berpikir lama. Lalu aku menceritakan tentang gambar tangan di loteng. Tentang bekas luka di jempol kiri yang tidak pernah kuperhatikan dengan sengaja, tapi tanganku menggambarnya dengan mata tertutup.

Dr. Hana mengangguk pelan, mencatat sesuatu. “Itu namanya ingatan prosedural, Mbak. Ingatan tubuh. Ingatan tentang cara melakukan sesuatu. Biasanya ingatan jenis itu lebih tahan terhadap cedera, dibanding ingatan tentang peristiwa.”

“Jadi ingatanku bakal balik?”

Dr. Hana meletakkan pulpennya.

Aku tahu bahasa tubuh itu sekarang. Dokter yang meletakkan pulpen sama dengan dokter yang duduk. Kabarnya pasti tidak bagus.

“Mbak Ayana,” katanya. “Sudah hampir enam minggu. Pada banyak kasus amnesia retrograd, sebagian besar ingatan yang akan kembali biasanya sudah mulai kembali dalam periode ini. Mungkin dalam bentuk potongan-potongan. Mungkin sekilas. Tapi pada kasus Mbak…” Dia berhenti. “Saya tidak mau memberi harapan palsu. Ada kemungkinan, kemungkinan yang cukup besar, sebagian besar ingatan tiga tahun itu tidak akan kembali sepenuhnya.”

Ruangan itu jadi sunyi.

Mama memegang tanganku. Ema, di sisi lain, memegang lututku. Mereka berdua tidak bilang apa-apa. Untuk pertama kalinya hari itu, mereka berdua diam bersamaan.

Aku menoleh ke Putra.

Dia berdiri di dekat pintu, punggung bersandar ke dinding, tangan di saku. Dia mendengarkan semua yang dikatakan dr. Hana. Wajahnya tenang. Danau tanpa angin.

Lalu dia bilang, langsung, tanpa jeda sedikit pun:

“Nggak apa-apa.”

Dua kata. Tenang. Datar. Seperti dia bilang nggak apa-apa waktu aku menumpahkan teh. Seperti dia bilang nggak apa-apa waktu Detik muntah di karpet.

Aku menatapnya.

Nggak apa-apa?

Tiga tahun hidupku mungkin hilang selamanya. Tiga tahun yang, katanya, dia ada di dalamnya. Pernikahan kami. Rumah kami. Kucing kami. Semua yang dia tahu dan aku tidak tahu. Dan jawabannya nggak apa-apa?

Dadaku tiba-tiba terasa aneh. Panas dan dingin sekaligus.

Mungkin memang nggak apa-apa buat dia, pikirku. Mungkin dia sudah tidak peduli aku ingat atau tidak. Mungkin dia lega. Mungkin lebih mudah begini. Istri yang tidak ingat apa-apa tidak bisa menuntut apa-apa.

Aku tidak tahu kenapa pikiran itu terasa seperti dicubit.

Aku memalingkan wajah dari dia, dan kembali menatap dr. Hana.

“Oke,” kataku. “Makasih, Dok.”


Di parkiran, Mama memelukku lama. Ema menepuk-nepuk punggungku. Lalu Mama naik taksi ke stasiun, dan Ema naik motor Ujang kembali ke Braga, dan tinggal aku dan Putra di mobil hijau tua.

Kami menyetir pulang dalam diam.

Aku menatap ke luar jendela. Dia menatap jalan. Di lampu merah Dago, dia melirikku sekali. Aku pura-pura tidak melihat.

“Ayana,” katanya akhirnya.

“Hm.”

“Kamu marah?”

“Nggak.”

“Kamu marah.”

“Aku nggak marah, Mas.” Aku menatap pohon-pohon di pinggir jalan. “Aku cuma… nggak apa-apa. Iya kan? Nggak apa-apa.”

Dia diam lama.

“Bukan gitu maksudku,” katanya pelan.

“Terus maksudnya gimana?”

Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson. Putra menginjak gas dan tidak menjawab.

Aku tidak bertanya lagi.


Dua hari kemudian, rumah sakit menelepon.

Bukan dr. Hana. Bagian administrasi. Suara perempuan yang ramah dan agak terburu-buru. Barang-barang pribadi pasien atas nama Ayana Kirana yang dititipkan di bagian keamanan pada malam kedatangan pasien di IGD, katanya, belum diambil. Sudah lewat batas waktu penyimpanan. Mohon diambil secepatnya.

Putra sedang di toko. Aku tidak mau mengganggunya. Jadi aku pergi sendiri, naik taksi online, dan dalam perjalanan aku memeluk tasku erat-erat setiap kali ada motor yang lewat terlalu dekat.

Petugas keamanan menyerahkan sebuah kantong plastik besar berwarna bening dengan label namaku. Di dalamnya ada tas selempang kulit cokelat yang talinya putus. Dompet. Kunci rumah dengan gantungan kunci berbentuk kucing oranye. Sebuah pulpen. Dan sebuah tas belanja kertas, yang sudah kusut dan sobek di satu sisi, dengan bercak cokelat kehitaman di pinggirnya.

Bercak itu. Aku menatapnya lama. Lalu aku sadar itu apa.

Darah. Darahku.

Aku duduk di bangku ruang tunggu dan membuka tas belanja kertas itu dengan tangan yang gemetar.

Di dalamnya ada sebuah kotak.

Kotak kecil, kira-kira seukuran telapak tangan. Dibungkus kertas cokelat polos, diikat tali rami dengan simpul pita yang rapi. Bungkusan buatan tangan. Satu sudut kotaknya penyok. Tali raminya sedikit kendur.

Di bawah tali rami itu terselip sebuah kartu kecil. Kartu putih dengan gambar jam dinding kecil yang digambar tangan, cat air, warna biru dan emas. Dan tulisan bulat-bulat miring, tulisanku:

Untuk Mas Putra 2 tahun ♡ (jgn nangis ya. eh, nangis aja deh.)

Aku menatap kartu itu.

2 tahun.

Lalu aku teringat kalender di pintu kulkas. Tanggal yang dilingkari spidol merah berkali-kali sampai kertasnya hampir sobek. 2 TAHUN!!! ♡♡♡ jgn lupa kado. JGN SAMPE KETAHUAN.

Bukan ulang tahun Detik.

Tanganku mulai gemetar lebih hebat.

Hari jadi. Hari jadi pernikahan kami. Yang kedua. Aku membeli kado ini di malam itu. Aku menulis udah ketemu!!! Mas pasti nangis liatnya, enam belas menit sebelum jam tanganku berhenti. Aku menyeberang jalan dengan tas belanja ini di tangan.

Dan tanggalnya, tanggal yang dilingkari spidol merah itu, sudah lewat. Waktu aku masih koma.

Aku ingat Mama pernah bilang, di rumah sakit, Putra nggak pulang-pulang selama kamu koma. Dia tidur di kursi itu empat malam.

Empat malam. Termasuk malam hari jadi kami.

Dia melewatkan hari jadi pernikahan kami yang kedua di kursi rumah sakit, di sebelah istri yang koma. Lalu istrinya bangun dan bertanya Mas siapa?

Lalu, dua minggu kemudian, istrinya bilang aku masih cinta Reno.

Dan dia bilang oke, dan menambahkan nasi ke piringku.

Aku duduk di bangku ruang tunggu rumah sakit itu lama sekali, memegang kotak kecil yang dibungkus kertas cokelat, sampai seorang satpam datang dan bertanya apakah saya baik-baik saja, Mbak.


Malamnya, aku menaruh kotak itu di meja makan, di depan piring Putra, sebelum dia pulang.

Dia masuk jam enam lewat sepuluh. Dia mencuci tangan sampai ke siku, ganti kaus, lalu datang ke dapur, dan berhenti di ambang pintu.

Dia melihat kotak itu.

Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat wajahnya berubah banyak. Bukan sekilas. Bukan cahaya yang melintas di permukaan danau. Wajahnya runtuh. Pelan-pelan, seperti dinding pasir yang terkena ombak.

Lalu, dalam dua detik, dia membangunnya kembali.

“Dari rumah sakit?” tanyanya. Suaranya hampir normal.

“Iya. Barang-barangku malam itu. Ini ada di tas belanja.” Aku mendorong kotak itu sedikit ke arahnya. “Buat kamu. Ada namamu.”

Dia tidak bergerak dari ambang pintu.

“Mas. Ini kado hari jadi kita, kan? Yang kedua? Tanggal yang di kalender kulkas itu?”

Dia diam lama. Lalu mengangguk. Sekali.

“Aku pikir itu ulang tahun Detik,” kataku. Suaraku pecah sedikit di ujung. “Aku sempet minta maaf ke Detik karena lupa ulang tahun dia.”

Sudut bibirnya bergerak. Hampir senyum. Hampir.

“Buka,” kataku. “Aku nggak tahu isinya apa. Aku nggak inget beli apa. Tapi aku… aku nulis Mas pasti nangis liatnya. Di WhatsApp. Sebelum ketabrak. Jadi pasti sesuatu yang bagus banget.”

Dia berjalan ke meja. Pelan. Dia berdiri di depan kotak itu, menatapnya, dan tangannya terulur. Aku menahan napas.

Lalu tangannya berhenti. Satu senti dari kertas cokelat itu.

“Nanti,” katanya.

“Mas…”

“Nanti aja.”

“Itu jatah nanti aja ketiga minggu ini.”

“Iya.”

“Abis ini denda seblak level lima.”

“Iya.”

Dia mengambil kotak itu. Tidak membukanya. Dia memegangnya dengan dua tangan, hati-hati sekali, seperti memegang burung yang terluka.

“Kenapa nggak dibuka?” tanyaku pelan.

Dia menatap kotak itu.

“Itu dari dia,” katanya.

Hening.

Dia.

Bukan kamu. Dia.

Aku menatapnya. Dia tidak menatapku. Dia menatap kartu kecil bergambar jam dinding biru dan emas, dengan tulisan jgn nangis ya. eh, nangis aja deh.

“Itu dari dia,” ulangnya, lebih pelan. “Bukan dari kamu. Kamu nggak inget belinya. Kamu nggak tahu isinya. Kalau aku buka sekarang…”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Lalu dia membawa kotak itu naik ke atas, ke kamar kami. Kamarku. Aku mendengar pintu lemari dibuka, lalu ditutup lagi. Dia turun beberapa saat kemudian dengan tangan kosong, dan mulai memasak tanpa bicara.

Aku duduk di meja makan dan menatap tempat kotak itu tadi berada.

Itu dari dia.

Selama ini aku yang merasa asing dengan perempuan di foto pernikahan. Perempuan yang minum kopi hitam dan menulis label toples dan mengirim voice note satin. Aku yang bilang dia bukan aku.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar Putra yang bilang begitu.

Dia. Dan kamu. Dua orang yang berbeda.

Dan entah kenapa, itu terasa jauh lebih sakit daripada waktu aku sendiri yang mengatakannya.


Sabtu keempat, hujan turun dari pagi.

Hujan Jakarta yang deras dan miring dan membuat jalanan Kemang banjir sampai mata kaki. Aku duduk di kafe yang sama, di kursi belakang yang sama, dengan Reno di depanku, dan mengeluarkan sapu tangan dari tas.

“Ini,” kataku. “Buat kamu.”

Reno membuka sapu tangan itu. Jam tangannya berdetak di telapak tangannya.

Dia menatapnya lama sekali. Mendekatkannya ke telinga. Wajahnya berubah dari kaget, ke takjub, ke sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat rahangnya mengeras.

“Ay,” katanya pelan. “Tiga tukang jam bilang ini nggak bisa dibenerin.”

“Suamiku bisa,” kataku. Aku tidak bisa menahan nada bangga di suaraku. “Dia nggak tidur semalem buat benerin ini. Matanya sampe merah.”

Reno tidak menjawab. Dia membalik jam itu. Menatap tutup belakangnya. Lalu, perlahan, dia memasangnya di pergelangan tangan kirinya. Menutup gespernya. Menatapnya berdetak.

“Dia buka tutup belakangnya,” kata Reno. Bukan pertanyaan.

“Kayaknya. Kenapa?”

Reno menatapku. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa kubaca. Lalu dia tersenyum, senyum miring yang dulu kusukai, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Bilang makasih ke dia, ya, Ay.”

Kami bicara lama. Lebih lama dari biasanya, karena hujan tidak berhenti. Waktu akhirnya aku harus pulang, jam lima sore, hujan masih deras. Aku berdiri di pintu kafe dan menatap jalanan yang berubah jadi sungai.

“Aku lupa bawa payung,” kataku.

Reno menghilang sebentar ke arah meja satpam di dekat pintu. Lalu dia kembali, membawa sebuah payung lipat.

“Bawa ini,” katanya.

Aku menerimanya. Payung lipat biru tua. Gagangnya kayu. Waktu aku membukanya, aku melihat salah satu jari-jari payungnya pernah patah, lalu disambung kembali dengan kawat tipis dan dijahit ke kain payung dengan benang merah. Jahitan yang sangat rapi. Sangat teliti. Seperti dijahit oleh seseorang yang terbiasa bekerja dengan benda-benda kecil.

“Kamu yang jahit ini?” tanyaku, takjub. “Rapi banget.”

Reno menatap payung itu. Wajahnya berubah lagi.

“Bawa aja, Ay,” katanya. Suaranya aneh. “Nanti kehujanan.”

Aku berlari ke mobil hijau tua di bawah pohon ketapang di bawah payung biru tua itu. Hujan memukul-mukul kainnya. Aku merasa hangat. Reno memberiku payungnya. Reno yang dulu, waktu kami pacaran, tidak pernah membawa payung dan selalu membiarkan kami berdua basah kuyup.

Dia berubah, pikirku. Dia lebih perhatian sekarang.

Putra membukakan pintu dari dalam. Aku masuk, melipat payung itu, dan menaruhnya di bawah kakiku.

Putra melirik payung itu. Sekali. Lalu kembali menatap jalan.

“Dari Reno,” kataku, dengan senyum yang tidak bisa kusembunyikan. “Aku lupa bawa payung. Dia minjemin.”

“Oh,” kata Putra.

Dia menyalakan wiper. Wiper itu bergerak maju mundur di kaca depan, menyapu air hujan. Maju, mundur. Maju, mundur. Seperti roda keseimbangan jam.

“Baik banget dia,” kataku.

“Iya,” kata Putra. “Baik.”

Kami menyetir pulang di bawah hujan. Aku memeluk payung biru tua itu di pangkuanku sepanjang jalan tol, menyentuh jahitan benang merah di jari-jarinya, dan tersenyum pada jendela.

Putra tidak bicara sepanjang perjalanan.