← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Thirty

Kepingan

POV: Ayana

Boneka beruang itu akhirnya selesai hari Sabtu pagi, jam tiga, setelah dua minggu, empat gulung benang, dan satu jari Gendis yang tertusuk jarum sebelas kali.

Kami berdua berdiri di ruang tengah, menatapnya.

Boneka itu setinggi anak umur lima tahun. Bulunya cokelat, lembut, dari kain bulu yang kami beli di Pasar Baru di hari aku tidak bisa bernapas di tangga darurat. Matanya dari kancing hitam besar. Hidungnya dari kain flanel. Syalnya dari sisa wol merah.

Dan bentuknya…

“Ndis,” kataku pelan.

“Gue tahu.”

“Itu kentang.”

“Gue tahu, Ay.”

Boneka itu bulat lonjong di bagian badan, kecil di bagian kepala, dengan dua kuping yang dijahit sedikit terlalu jauh satu sama lain. Persis seperti beruang kentang yang kugambar tiga puluh dua kali di loteng.

Gendis menutup wajahnya dengan dua tangan. “Acaranya jam sepuluh. Anak-anak TK dari tiga sekolah dateng. Penerbit Kancil bawa fotografer. Dan kita bawa kentang dikasih kuping.”

Aku menatap boneka itu lama. Lalu, entah kenapa, aku mulai tertawa.

Sudah tiga hari aku tidak benar-benar tertawa. Sejak gudang. Sejak aku nggak mau unit pengganti. Tiga hari tersenyum dan bilang nggak apa-apa dan membalas ciuman di anak tangga terakhir dengan bibir yang kaku. Tiga hari melihat dia melirikku dengan dahi berkerut setiap kali dia pikir aku tidak melihat.

Tapi boneka kentang ini. Boneka kentang ini terlalu lucu.

Gendis ikut tertawa. Kami berdua tertawa sampai terduduk di karpet, dan Detik, yang sejak tadi mengendus-endus boneka itu dengan curiga, tiba-tiba melompat dan memeluknya. Memeluk perut kentangnya dengan empat kaki, lalu menggigit kupingnya.

“DETIK, JANGAN!”


Acaranya ternyata sukses besar.

Anak-anak TK itu, tiga puluh anak kecil dengan seragam warna-warni dan mata yang berbinar, tidak peduli boneka itu berbentuk kentang. Mereka memeluknya, menungganginya, menamainya Kentang (seorang anak laki-laki bergigi ompong yang mengusulkan, dan semua anak lain setuju dengan berteriak), dan menolak melepaskannya waktu acara selesai.

Editor dari Penerbit Kancil, seorang perempuan berkerudung biru dengan suara keras dan tawa lebih keras, memelukku lama di belakang panggung.

“Teh Ayana, ya Allah, kami semua khawatir pas denger Teteh kecelakaan,” katanya. “Teteh udah bisa gambar lagi? Kami nunggu buku keempat, lho. Gajah yang Takut Tikus. Teteh udah setengah jalan sebelum kecelakaan.”

Aku tidak tahu ada buku keempat. Aku tidak tahu ada gajah yang takut tikus.

Lalu aku ingat. Buku tipis bersampul kuning di toko buku bekas, waktu kencan Rabu di Braga. Buku tentang gajah yang takut tikus. Putra membelikannya.

Dia tahu. Dia tahu aku sedang mengerjakan buku itu sebelum kecelakaan. Dan dia membelikanku buku bekas tentang gajah yang takut tikus, tanpa bilang apa-apa, supaya kalau suatu hari aku menemukan sketsa setengah jadi di loteng, aku punya referensinya.

Aku menunduk dan bilang ke editor itu bahwa aku sedang mencoba.

Lalu aku pamit ke kamar mandi, dan berdiri di depan wastafel lama sekali, dan tidak menangis.


Waktu kami keluar dari toko buku di Jalan Merdeka, langit sudah gelap.

Bukan gelap malam. Gelap hujan. Awan-awan abu-abu tebal menggantung rendah di atas kota, berat seperti kain basah. Udaranya dingin dan lembap dan berbau tanah.

“Gue duluan, Ay,” kata Gendis, melirik langit dengan cemas. “Motor gue di parkiran belakang. Lo dijemput Mas Putra?”

“Nggak. Dia lagi ada servis jam di toko. Aku jalan aja ke Braga. Deket.”

“Hujan bentar lagi.”

“Aku bawa payung.”

Aku membuka tas dan mengeluarkan payung. Payung lipat biru tua. Dengan gagang kayu. Payung yang dipinjamkan Reno Sabtu keempat, yang tidak pernah kukembalikan, yang sudah tiga minggu tinggal di dalam tasku karena aku lupa mengeluarkannya.

Gendis menatap payung itu. Lalu menatapku dengan alis berkerut.

“Itu payung siapa?”

“Reno.”

Alis Gendis berkerut lebih dalam. Dia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi.

“Ay, itu payung—”

Petir menyambar. Keras sekali. Gendis menjerit kecil dan berlari ke parkiran tanpa menyelesaikan kalimatnya, sambil berteriak KABARIN KALAU UDAH NYAMPE!

Aku menatap payung biru tua di tanganku.

Itu payung— Payung apa?

Tetes pertama jatuh di pipiku.


Aku berjalan ke Braga di bawah hujan.

Hujan Bandung yang deras dan dingin. Air mengalir di sepanjang trotoar seperti sungai kecil. Jalan Merdeka, lalu belok ke Jalan Braga. Lampu-lampu jalan menyala kuning, cahayanya pecah di genangan air. Gedung-gedung tua bercat putih berdiri basah dan berkilat. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

Payung biru tua itu berat di tanganku. Angin bertiup dari samping, membuat hujan miring. Aku memiringkan payung untuk melawannya.

Lalu aku melihat jari-jari payungnya.

Salah satu jari payung itu, yang di sisi kanan, pernah patah. Disambung dengan kawat tipis. Dijahit ke kain payung dengan benang merah. Jahitan yang sangat rapi. Sangat teliti. Jahitan kecil-kecil, rata, seperti dijahit oleh seseorang yang terbiasa bekerja dengan benda-benda yang sangat kecil.

Aku sudah melihatnya waktu Reno meminjamkannya. Aku pikir Reno yang menjahitnya. Aku bilang kamu yang jahit ini? Rapi banget. Dan Reno bilang bawa aja, Ay.

Dia tidak bilang iya.

Aku berhenti berjalan.

Di depanku, di seberang jalan, di antara kafe bergaya kolonial dan galeri lukisan yang sepi, ada sebuah toko. Dinding putih yang catnya mengelupas. Jendela kaca besar berbingkai kayu hijau. Papan nama dari kayu dengan huruf-huruf kuningan yang sudah kusam.

JAM TUA ADIWANGSA

Lampu di dalamnya menyala. Kuning. Hangat. Di balik kaca etalase, jam-jam berjajar. Dan di belakang meja kerja, siluet seseorang yang membungkuk. Loupe di mata. Bahu lebar. Tidak menyadari hujan, tidak menyadari dunia, tidak menyadari aku yang berdiri di seberang jalan.

Hujan memukul-mukul kain payung di atas kepalaku. Keras. Berirama. Seperti ribuan jari kecil yang mengetuk-ngetuk pintu.

Lalu sesuatu terjadi di kepalaku.


Bukan ingatan. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Lebih seperti kilat. Seperti seseorang menyalakan lampu sekejap di ruangan yang gelap, lalu mematikannya lagi. Satu detik. Mungkin kurang.

Tapi dalam satu detik itu, aku melihat sesuatu.

Hujan. Hujan yang sama. Braga yang sama. Lampu-lampu jalan yang sama, cahayanya pecah di genangan air.

Aku berdiri di tempat ini. Persis di sini. Di seberang toko jam.

Tapi aku tidak memegang payung. Aku basah kuyup. Rambutku menempel di wajah, di leher, di bahu. Pendek. Rambutku sudah pendek. Air hujan mengalir dari dahiku ke mataku, ke pipiku, bercampur dengan sesuatu yang hangat. Air mata, mungkin. Atau tawa. Aku tidak tahu.

Dan aku berteriak.

Aku berteriak ke arah toko jam itu, dengan suara yang keras sekali, sekeras-kerasnya, dengan tangan di mulut seperti corong:

“YANG KEEMPAT PULUH ENAM!”

Pintu-pintu toko di sepanjang jalan terbuka. Orang-orang keluar. Penjaga kafe sebelah. Pemilik galeri. Seorang satpam tua dengan pentungan. Mereka semua menatapku.

Lalu pintu toko jam itu terbuka. Lonceng di atas pintunya berbunyi kling.

Seseorang keluar. Laki-laki. Tinggi. Kemeja flanel. Membawa payung. Payung yang dibuka di tengah hujan, payung yang gagangnya kayu, payung yang—

Lalu lampunya mati.


Aku terhuyung.

Kakiku goyah. Payung biru tua di tanganku miring, dan hujan menyiram wajahku, dingin dan keras. Aku berpegangan pada tiang lampu jalan di sebelahku. Napasku pendek-pendek.

Yang keempat puluh enam.

Itu aku. Itu benar-benar aku. Bukan cerita dari Ema. Bukan tulisan di buku kecil bersampul kulit cokelat. Aku ingat. Sekejap. Sepotong. Seperti gerigi kecil yang ditemukan di dasar laci.

Aku berdiri di sini. Basah kuyup. Berteriak ke arah toko jam itu seperti orang gila. Di depan semua orang. Di depan satpam tua dengan pentungan.

Ditolak. Tapi aku keluar bawa payung.

Aku ingat tulisan itu. Dari buku kecil bersampul kulit cokelat. Ajakan ke-46.

Dia keluar membawa payung. Setelah menolak empat puluh enam kali, dia tetap keluar membawa payung.

Aku menatap toko jam di seberang jalan. Siluet di balik kaca etalase masih membungkuk di atas meja kerja. Tidak tahu aku di sini.

Lalu aku menatap payung di tanganku. Payung biru tua. Gagang kayu. Jari-jari yang dijahit dengan benang merah.

Payung di kepingan itu. Payung yang dia bawa keluar dari toko di bawah hujan. Gagangnya kayu. Bentuk lengkungannya…

Aku tidak yakin. Kepingan itu terlalu cepat. Terlalu buram. Aku tidak bisa melihat warnanya.

Tapi tanganku, tanganku yang memegang gagang kayu ini, tiba-tiba terasa sangat dingin.


Aku tidak masuk ke toko.

Aku berdiri di seberang jalan, di bawah payung biru tua, di samping tiang lampu, selama lima belas menit. Hujan mulai reda. Orang-orang mulai keluar dari tempat berteduh. Siluet di balik kaca etalase masih membungkuk di atas meja kerja.

Aku memikirkan semuanya.

Empat puluh enam penolakan. Dicatat satu per satu.

Kamu nikahin aku karena apa? Karena kamu ngajak empat puluh tujuh kali. Capek nolaknya.

Putra téh baheula nyarios “henteu” ka manéh lain sakali dua kali.

Lalaki kulawarga ieu lain teu hayang. Tapi sieun. Sieun nyokot hiji hal anu lain milikna.

Dia tidak mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Dia menolakku empat puluh enam kali. Dulu. Karena dulu aku bukan miliknya.

Lalu, akhirnya, dia bilang iya. Dan selama dua tahun, perempuan itu jadi miliknya. Selamanya yang ini.

Lalu perempuan itu hilang. Di malam sebelum hari jadi kedua. Di bawah lampu motor di Jalan Dago.

Dan yang bangun di rumah sakit adalah aku.

Aku, yang bukan miliknya. Aku, yang tidak ingat empat puluh tujuh ajakan itu. Aku, yang dalam delapan minggu menitipkan cincin itu lima Sabtu berturut-turut dan pergi di malam ulang tahunnya dan membawa laki-laki lain ke meja dua belas.

Dan dia, laki-laki yang tidak mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya, menolakku. Dua kali. Tiga kali. Belum. Belum. Belum.

Dia bilang karena aku masih merasa utang.

Tapi bagaimana kalau alasannya lebih sederhana?

Bagaimana kalau dia menolakku karena aku bukan miliknya? Karena aku bukan yang ini? Karena yang ini, yang dia gendong ke klinik jam tiga pagi, yang dia tulis selamanya yang ini, ada di kardus air mineral di gudang, dengan sidik jarinya di pojok kaca?

Dan aku cuma unit pengganti yang tidak dia mau.

Aku menatap siluet di balik kaca etalase.

Dulu aku mengejarnya. Empat puluh tujuh kali. Sampai dia lelah menolak. Sampai dia bilang iya.

Sekarang aku menyakitinya. Lima Sabtu. Satu malam ulang tahun. Satu pertengkaran di mana aku menyuruhnya pergi dari rumahnya sendiri.

Aku sudah cukup memaksa. Aku sudah cukup menyakiti.

Mungkin yang paling baik yang bisa kulakukan untuknya, satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk membayar semuanya, adalah berhenti.

Berhenti memaksa. Berhenti menyakiti. Berhenti berdiri di depan tokonya di bawah hujan, berteriak meminta sesuatu yang bukan milikku.

Memberinya ruang untuk menunggu dia. Yang mungkin, kata dr. Hana, sebagian kecil kemungkinannya, suatu hari bisa kembali. Sepotong demi sepotong. Seperti kepingan tadi.

Dan kalau dia kembali, dia tidak perlu menemukan aku menghalangi jalannya.


Aku pulang naik taksi.

Waktu dia pulang jam enam lewat sepuluh, aku sudah di dapur, sudah memasak sayur bening dan tempe goreng, sudah memotong pepaya untuk pencuci mulut.

“Ay.” Dia mencium dahiku. Rambutnya basah sedikit. “Gimana acaranya? Gendis bilang sukses.”

“Sukses. Bonekanya dinamain Kentang sama anak-anak.”

Dia tertawa kecil. “Cocok.”

Kami makan. Dia bercerita tentang jam kolektor dari Jakarta, jam meja Prancis abad sembilan belas dengan figur malaikat kecil dari perunggu yang sayapnya patah. Dia menyambungnya dengan solder perak. Butuh dua hari. Aku mendengarkan, mengangguk, tersenyum di tempat yang tepat.

Di tengah ceritanya, dia berhenti.

“Ay,” katanya.

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

Aku mengangkat kepala. “Kenapa apa?”

“Tiga hari ini.” Dia meletakkan sendoknya. Dia jarang meletakkan sendok. Itu kebiasaanku. “Kamu… jauh. Senyum kamu beda. Waktu aku cium, kamu… kayak nggak di situ.”

Aku menatapnya.

Laki-laki yang tidak pernah belajar cara bicara, tapi belajar cara melihat.

“Capek aja,” kataku. “Bikin boneka dua minggu. Kurang tidur.”

Dia menatapku lama. Matanya mencari sesuatu di wajahku.

“Kalau ada apa-apa,” katanya pelan, “bilang, ya. Aturan nomor lima. Kamu boleh nanya apa aja. Aku jawab jujur.”

Aturan nomor lima. Ayana boleh nanya apa aja, Mas Putra wajib jawab jujur.

Aku bisa bertanya sekarang. Kenapa foto-fotoku ada di gudang? Kenapa ada sidik jarimu di kaca foto gaun hijau? Apa artinya “aku nggak mau unit pengganti”? Apa aku unit pengganti?

Dia akan menjawab jujur. Dia tidak bisa bohong. Ujang yang bilang.

Dan itulah yang membuatku takut.

Karena kalau dia menjawab jujur, dan jawabannya iya, aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas setelah itu.

“Nggak ada apa-apa, Mas,” kataku. “Beneran.”

Dia mengangguk. Pelan. Tidak percaya. Tapi dia tidak memaksa.

Dia tidak pernah memaksa.

Malam itu, di anak tangga terakhir, dia menciumku. Pelan. Lama. Tangannya di pinggangku. Tanganku di dadanya. Di atas saku kiri. Di atas cincinku.

Aku membalasnya. Kali ini aku membalasnya dengan benar. Dengan semua yang kupunya. Seperti orang yang mencium seseorang untuk terakhir kalinya.

Dia menarik diri, sedikit terengah, dan menatapku dengan alis berkerut.

“Ay?”

“Selamat tidur, Mas,” kataku.

Lalu aku naik ke kamar. Dan aku tidak menangis sampai pintu tertutup.