Chapter Eighteen
Malam di Toko
POV: Putra
Aku menunggu sampai lampu kamarnya mati.
Jam sebelas lewat dua puluh. Aku berdiri di halaman depan, di bawah pohon jambu, dan menatap jendela kamar di lantai atas. Cahaya kuning di balik gorden. Lalu gelap.
Aku menunggu lima belas menit lagi, supaya yakin dia sudah tidur. Lalu aku masuk ke mobil, melepas rem tangan, dan membiarkan mobil itu meluncur pelan ke ujung jalan buntu tanpa menyalakan mesin. Baru di tikungan aku menyalakannya. Supaya tidak membangunkannya.
Aku menyetir ke Braga.
Toko itu kosong. Ujang pulang ke kosannya malam ini. Persib main, dan dia nonton bareng di warung kopi dekat kosan, dan dia bilang besok pagi dia akan datang dengan suara habis karena teriak-teriak. Untuk pertama kalinya dalam lima minggu, tidak ada yang tidur meringkuk di bangku panjang depan etalase.
Aku tidak menyalakan lampu besar. Aku cuma menyalakan lampu meja kerja. Lingkaran putih di atas kain beludru hitam. Sisanya gelap. Jam-jam di dinding belakang berdetak dalam gelap, puluhan detak yang sedikit tidak serempak, seperti hujan yang sangat pelan di atap seng.
Aku duduk di kursi kerja. Aku tidak melakukan apa-apa.
Lalu aku mengeluarkan Kartu Servis dari saku kemeja.
Sabtu 5.
Aku menatap tulisan itu lama.
Hari ini dia memilih Rumah Makan Dago Pakar. Hari ini dia memilih meja dua belas. Tanpa tahu. Tanpa ingat. Dia menemukannya di folder yang dia buat sendiri, dua tahun yang lalu, malam itu, waktu dia menangis sambil tertawa dan memotret wajahnya sendiri dengan tangan gemetar karena aku baru saja bilang iya.
Folder itu dia namai 47. Aku ingat dia mengetiknya di dalam mobil, setelah makan malam, dengan wajah yang masih basah. Biar aku nggak lupa ini yang keberapa, katanya. Biar kalau aku udah tua dan pikun, aku inget aku harus ngajak kamu empat puluh tujuh kali.
Hari ini dia membawa laki-laki lain ke meja itu.
Dan Kang Dedi menyapaku dengan meja biasa, Kang Putra?, karena selama dua tahun, setiap bulan, di tanggal yang sama, aku memesan meja itu. Meja dua belas. Untuk kami. Untuk mengingat malam itu. Pisang bakar keju, gratis dari dapur, karena Kang Dedi bilang pasangan nu paling bageur nu kungsi datang ka dieu. Pasangan paling manis yang pernah datang ke sini.
Bulan lalu aku tidak memesan. Dia di rumah sakit.
Bulan ini dia datang. Dengan orang lain.
Aku tidak menulis itu. Aku menulis apa yang terjadi setelahnya.
Unit ketawa di mobil waktu pulang. Cerita soal Reno. Soal bosnya yang bawa ubi rebus. Soal anjing Bu Darsih. Soal nasi goreng yang bikin alarm kebakaran bunyi.
Aku berhenti. Penaku menggantung.
Dia tertawa. Ya Tuhan, dia tertawa. Sampai memegang dasbor. Sampai air matanya keluar. Tawa yang belum pernah kudengar sejak dia bangun di rumah sakit. Tawa yang dulu, sebelum kecelakaan, kudengar setiap hari. Tawa yang memenuhi rumah, memantul dari dinding ke dinding, membuat Detik terbangun dan menatap kami dengan kesal.
Tawa itu kembali malam ini.
Karena laki-laki lain.
Sudah lama nggak dengar dia ketawa.
Aku menulis kalimat berikutnya. Lalu menulisnya lagi. Lalu menulisnya sekali lagi. Seperti orang yang mengulang kalimat supaya percaya.
Aku seneng.
Aku seneng.
Aku seneng.
Aku menatap tiga baris itu di bawah lampu meja. Tulisan tanganku. Kecil, tegak, rapi. Tiga baris yang sama.
Aku tidak menulis dicatat.
Ponselku ada di saku celana. Aku mengeluarkannya. Aku membuka WhatsApp. Aku membuka chat paling atas di ponselku, chat yang di-pin.
Ay ❤️
Ratusan voice note. Sebagian besar dari dia. Dua tahun pernikahan, setahun pacaran, dan Ayana tidak pernah bisa mengetik pesan panjang. Katanya jempolnya pegal. Katanya lebih cepat ngomong. Katanya aku mau kamu denger suaraku, bukan baca tulisanku, biar kamu kangen.
Aku tidak pernah memutarnya lagi sejak dia bangun. Lima minggu. Aku tidak berani.
Malam ini aku menekan satu.
Acak. Yang paling dekat dengan jempolku. Dari delapan bulan yang lalu.
“Maaas.”
Suaranya. Suaranya yang dulu. Ringan. Hangat. Sedikit serak karena baru bangun tidur.
“Mas, aku baru bangun, kamu udah berangkat. Teh-nya udah di meja. Masih anget. Makasih ya. Jam aku juga udah diputerin. Kamu tuh ya, tiap pagi muter jam aku, padahal aku bisa sendiri. Eh, nggak bisa sih. Aku pasti lupa. Makanya makasih.” Jeda. Bunyi cangkir diletakkan di meja. “Mas. Kalau suatu hari aku lupa jalan pulang, jemput aku, ya. Kamu kan tukang jam. Kamu pasti tahu gimana caranya bikin yang berhenti jalan lagi.”
Rekaman berhenti.
Aku duduk di kursi kerja di toko yang gelap, dengan ponsel di tangan, dan tidak bisa bernapas.
Kalau suatu hari aku lupa jalan pulang, jemput aku, ya.
Dia bilang itu delapan bulan lalu. Sebagai lelucon. Setengah mengantuk, sambil minum kopi hitam yang kubuatkan, sambil memakai jam yang kuputar.
Aku menekan voice note yang lain.
“Mas! Bulan depan meja dua belas lagi, ya! Udah aku tandain di kalender. Kang Dedi bilang pisang bakarnya mau ditambahin es krim. Hehehe. Tiap bulan ya, Mas. Sampe kita tua. Sampe kamu ompong dan aku pikun dan kita harus dituntun Ujang ke meja dua belas. Janji?”
Yang lain.
“Mas, aku nangis lagi gara-gara nonton film. Kamu di mana? Cepet pulang. Aku butuh dipeluk. Ini darurat. Ini darurat nasional.”
Yang lain.
“Mas, inget nggak, waktu aku ngajak kamu yang keempat puluh tujuh? Aku tuh gemeteran banget. Tangan aku dingin kayak es. Aku sampe pesen air putih tiga gelas. Terus kamu bilang iya, dan aku nggak denger, dan kamu harus ngulang tiga kali. Inget nggak? Aku masih inget banget. Aku nggak akan pernah lupa.”
Aku nggak akan pernah lupa.
Aku meletakkan ponsel di atas kain beludru hitam, di bawah lampu meja. Suaranya terus keluar. Voice note demi voice note, otomatis berlanjut ke yang berikutnya. Dia bercerita tentang Detik yang menyembunyikan kaus kaki di bawah kulkas. Tentang editor dari Penerbit Kancil yang menelepon jam sepuluh malam. Tentang mimpinya semalam, di mana aku berubah jadi jam weker raksasa dan dia harus memutarku setiap pagi.
Dia tertawa di voice note itu. Tawa yang sama dengan tawa di mobil tadi malam.
Tawa yang sama.
Untuk laki-laki yang berbeda.
Aku tidak tahu kapan aku mulai bicara.
Aku cuma tahu bahwa di suatu titik, di toko yang gelap, dengan voice note yang terus berputar di atas meja kerja, aku mendengar suaraku sendiri. Pelan. Serak. Seperti suara orang lain.
“Ay.”
Voice note itu terus berputar. Dia sedang cerita tentang tukang sayur yang salah memberi kembalian.
“Ay, kamu inget nggak, kamu pernah bilang kalau kamu lupa jalan pulang, aku harus jemput kamu?”
Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada jawaban. Dia cuma suara di dalam ponsel. Dia cuma rekaman dari delapan bulan lalu, dari perempuan yang sekarang tidur di kamar kami tanpa ingat satu pun dari kata-kata itu.
“Aku udah jemput,” kataku. “Aku udah di rumah sakit. Aku udah di sebelah kamu. Tapi kamu nggak kenal aku.”
Tanganku gemetar di atas meja. Aku mengepalkannya.
“Dia bahagia, Ay.” Suaraku pecah. “Dia ketawa tadi. Di mobil. Kayak kamu dulu. Persis kayak kamu. Gara-gara laki-laki itu. Gara-gara Reno.”
Voice note itu berganti. Dia sekarang sedang bernyanyi. Lagu Payung Teduh, dengan nada yang sumbang. Dia selalu sumbang kalau bernyanyi. Aku selalu bilang dia sumbang, dan dia selalu memukul lenganku, dan menyanyi lebih keras.
“Dia bahagia,” ulangku. “Laki-laki itu baik, Ay. Dia jalan di sisi jalan raya, biar dia nggak keserempet motor. Dia minjemin payungku… payung yang aku titip… dia kasih ke dia. Dia nggak bilang itu dari aku. Tapi dia juga nggak bilang itu dari dia. Dia cuma bilang bawa aja. Itu… itu baik, kan?”
Lagu Payung Teduh itu sampai di reff. Dia menyanyi paling keras di bagian itu. Paling sumbang.
“Aku harus seneng, kan?” tanyaku pada suara di ponsel. “Kalau dia bahagia. Aku harus seneng. Kan, Ay?”
Aku menunggu.
Tentu saja tidak ada jawaban.
Dan di situ, di toko jam Aki yang gelap, di depan meja kerja tempat aku belajar memegang pinset di umur sebelas tahun, tempat aku pertama kali melihatnya menangis di depan etalase dengan rambut panjang yang basah di ujung, tempat aku menolaknya empat puluh enam kali, aku menunduk ke atas kain beludru hitam.
Dan aku menangis.
Bukan menangis yang keras. Aku tidak tahu cara menangis keras. Aku tidak pernah belajar. Aku menangis seperti jam yang kehabisan tenaga: pelan, putus-putus, tidak beraturan. Bahuku bergetar. Napasku tersendat. Air mataku jatuh ke kain beludru dan tidak meninggalkan bekas, karena kain beludru hitam tidak pernah meninggalkan bekas.
Di atas meja, dia terus bernyanyi. Sumbang. Riang. Tidak tahu apa-apa.
Aku menangis sampai lagunya selesai. Lalu voice note berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya. Aku tidak mematikannya. Aku tidak sanggup mematikannya. Mematikannya rasanya seperti menyuruhnya diam, dan aku tidak pernah menyuruhnya diam selama tiga tahun aku mengenalnya.
Ketukan di rolling door membuatku terlonjak.
Dug. Dug. Dug.
“Saha di jero? Haloooo? Saha éta? Ulah maling, nya! Abdi gaduh pentungan!”
(Siapa di dalam? Haloooo? Siapa itu? Jangan maling, ya! Saya punya pentungan!)
Pak Engkos. Satpam malam kompleks pertokoan Braga. Umur enam puluhan, bertubuh kurus, dengan seragam satpam yang kebesaran dan pentungan karet yang lebih sering dia pakai untuk menggaruk punggung.
Aku buru-buru mematikan voice note. Mengusap wajahku dengan lengan kemeja. Dua kali. Tiga kali. Berdiri, menarik napas, berdeham, dan membuka rolling door sedikit.
Pak Engkos berdiri di trotoar dengan senter di satu tangan dan pentungan diangkat tinggi di tangan lain, seperti siap memukul. Waktu dia melihatku, pentungannya turun.
“Euleuh, A Putra! Abdi kirang maling! Lampu hurung peuting-peuting kieu!”
(Ya ampun, A Putra! Saya kira maling! Lampu nyala malem-malem gini!)
“Maaf, Pak. Ada servis yang harus selesai.”
Pak Engkos menyorotkan senternya ke wajahku. Aku menyipitkan mata. Dia menatapku lama, mata tuanya menyipit di balik kacamata tebal.
“A Putra,” katanya pelan. “Panon A Putra beureum.”
(A Putra. Mata A Putra merah.)
“Kurang tidur, Pak.”
“Hmm.” Pak Engkos mematikan senternya. Dia tidak bertanya lagi. Dia merogoh saku seragamnya yang kebesaran dan mengeluarkan sesuatu. Dua sachet kopi instan. Dia menyodorkan satu padaku.
“Kopi, A. Bisi ngantuk.”
(Kopi, A. Siapa tahu ngantuk.)
Aku menerimanya. “Makasih, Pak.”
“Abdi mah sok hayang ceurik ogé, A, mun kurang sare.” Pak Engkos berbalik, mengangkat pentungannya ke bahu seperti senapan, dan mulai berjalan pergi. Lalu dia berhenti dan menoleh. “Tapi mun ceurik mah, ulah di toko, A. Tetanggana kaget. Ceurik mah di imah, deukeut pamajikan.”
(Saya mah suka pengen nangis juga, A, kalau kurang tidur. Tapi kalau nangis mah, jangan di toko, A. Tetangganya kaget. Nangis mah di rumah, deket istri.)
Dia pergi, bersiul lagu dangdut, sebelum aku bisa menjawab.
Aku berdiri di depan rolling door yang setengah terbuka, dengan sachet kopi instan di tangan.
Nangis mah di rumah, deket istri.
Aku tertawa. Sendiri. Di trotoar Braga jam dua pagi. Tawa yang keluar seperti batuk, pendek dan sakit.
Lalu aku masuk lagi, menutup rolling door, dan duduk di kursi kerja. Aku tidak memutar voice note lagi. Aku cuma duduk di sana, di bawah lampu meja, sampai langit di luar jendela berubah dari hitam ke abu-abu kebiruan.
Jam enam pagi, aku pulang.
Aku mandi lama dengan air dingin, sampai mataku tidak merah lagi. Aku mengompres mata dengan sendok yang didinginkan di kulkas, trik yang diajarkan Ayana dulu, waktu dia menangis semalaman karena film dan harus rapat dengan penerbit esok paginya.
Lalu aku masak.
Nasi goreng. Telur mata sapi setengah matang. Kerupuk. Teh manis, dua sendok. Roti bakar dengan margarin dan selai srikaya, karena hari Minggu dan Ayana suka sarapan dua kali di hari Minggu.
Aku memutar jam tangannya yang tergeletak di meja makan, di atas kertas kecil bertuliskan Puterin ya Mas. Makasih. —A. Dua puluh kali. Pelan. Rata.
Dan aku bersiul.
Aku tidak pernah bersiul. Ayana yang dulu selalu bilang aku tidak bisa bersiul, bahwa siulanku seperti ketel bocor. Tapi pagi itu aku bersiul. Lagu Payung Teduh. Lagu yang dia nyanyikan semalam di voice note, dengan nada sumbang.
Aku bersiul keras, supaya terdengar sampai ke lantai atas. Supaya dia tahu, waktu dia bangun dan turun dan melihat wajahku, bahwa aku baik-baik saja. Bahwa semalam aku tidur nyenyak. Bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dia turun jam tujuh lewat. Rambutnya berantakan. Matanya masih setengah tertutup. Dia berhenti di anak tangga terakhir dan menatapku dengan alis berkerut.
“Kamu… bersiul?”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah bersiul.”
“Sekarang bersiul.”
Dia menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Kecil. Lega. Lesung pipinya muncul.
“Kamu kayaknya seneng banget pagi ini,” katanya.
Aku menaruh piring nasi goreng di depannya. Dan teh manis. Dan roti bakar.
“Iya,” kataku. “Aku seneng.”
Dia duduk dan mulai makan. Dia bercerita lagi soal Reno, sedikit, tentang pesan yang Reno kirim semalam bahwa dia sudah sampai di Jakarta dengan selamat. Lalu dia bercerita tentang beruang kentang yang mulai sedikit membaik. Lalu dia bertanya apakah hari ini kami jadi makan di rumah Ema.
Aku menjawab semuanya. Aku tersenyum di tempat yang tepat.
Dan di saku kemeja kiriku, di sebelah tempat cincinnya biasa kusimpan setiap Sabtu, Kartu Servis terlipat dengan halaman terakhir yang berisi tiga baris yang sama.
Aku seneng.
Aku seneng.
Aku seneng.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko reading
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog