Chapter Thirty Seven
Malam Ini Jangan di Sofa
POV: Ayana
Kami memasang foto-foto itu kembali sore harinya.
Bukan cuma kami berdua. Ema datang jam dua dengan rantang susun empat dan mata yang masih bengkak. Ujang datang jam dua lewat lima dengan wajah yang lebih bengkak lagi, dan langsung memelukku di ambang pintu sampai aku tidak bisa bernapas, sambil menangis dan minta maaf karena sudah cerita, dan berterima kasih karena aku pulang, dalam satu kalimat panjang campur Sunda yang tidak bisa kumengerti setengahnya. Gendis datang jam dua lewat sepuluh dengan helm di tangan, berdiri di ambang pintu, menatapku lama, lalu melempar helmnya ke sofa dan memukul lenganku keras sekali.
“Itu buat surat lo,” katanya.
Lalu dia memelukku lebih keras lagi.
“Dan itu buat pulang lo,” katanya di bahuku, dengan suara yang pecah.
Kardus air mineral itu kami bawa dari gudang ke ruang tengah. Putra membuka lakbannya. Tiga lapis. Dia menatap lapisan paling atas yang miring, lapisan dariku, lama sekali, lalu melepasnya pelan-pelan dan menggulungnya kecil-kecil dan memasukkannya ke saku kemeja. Aku tidak bertanya kenapa.
Lalu kami mengeluarkan foto-foto itu satu per satu.
Ujang membawa palu dan paku kecil, meskipun pakunya tidak perlu, karena bekas-bekas paku di dinding masih ada semua. Persegi-persegi pucat dengan lubang kecil di tengahnya, menunggu. Gendis memegang setiap bingkai dan membacakan apa yang ada di foto itu, ini waktu lo ke Pangalengan, lo jatuh ke kolam ikan, Mas Putra yang nyelametin, ini waktu Detik pertama dateng, lo nangis gara-gara dia nyakar sofa, ini waktu Mas Putra ulang taun ke-29, lo bikin kue bentuk jam, gagal, bentuknya kayak ban, dan setiap kali dia membacakan, Ema tertawa dan Ujang menangis lagi dan Putra menggantung foto itu di tempatnya dengan hati-hati, memastikan lurus, mundur dua langkah, memiringkan kepala, maju lagi, membetulkan satu milimeter ke kiri.
Aku berdiri di tengah ruang tengah dan melihat dinding-dinding itu pelan-pelan terisi.
Wajahku. Di mana-mana. Tertawa. Cemberut. Tidur. Belepotan cat air. Basah kuyup di kolam ikan. Menangis di depan kucing oranye kecil yang belum gendut.
Aku menunggu rasa itu datang. Rasa asing. Rasa itu bukan aku. Rasa yang dulu membuatku mengintip ke balik bingkai foto pernikahan mencari kamera tersembunyi.
Tidak datang.
Yang datang malah rasa lain. Rasa seperti melihat foto-foto kakak perempuan yang tidak pernah kukenal, yang kubaca surat-suratnya, yang kudengar suaranya di voice note, yang kucintai lewat cerita orang lain. Kakak perempuan yang sudah pergi, tapi meninggalkan rumah ini untukku. Dan laki-laki ini. Dan kucing gendut ini.
Foto terakhir yang dipasang adalah foto gaun hijau. Meja dua belas. Tangan menutupi separuh wajah. Mata basah. Senyum lebar.
Putra memegangnya lama. Bekas sidik jempolnya masih ada di pojok kaca.
“Di mana?” tanyanya. Padaku.
Aku menatap dinding-dinding yang sudah penuh. Lalu aku menunjuk satu tempat. Dinding di samping tangga. Di sebelah foto pernikahan.
“Di situ,” kataku. “Biar dia nemenin yang itu.”
Putra menatapku. Lalu dia memasangnya. Di sebelah foto pernikahan. Dua foto bersebelahan. Malam dia bilang iya, dan pagi dia bilang sah.
Dia tidak mengusap sidik jarinya di kaca.
Setelah Ema pulang (dengan rantang kosong dan janji akan membuat sop buntut “mun maranéh geus mimiti saré sakamar”, kalau kalian udah mulai tidur sekamar, yang membuat Ujang tersedak air dan Putra pura-pura sibuk mencari obeng), Gendis menarikku ke teras.
“Ay,” bisiknya. Matanya berkilat di balik kacamata kuning. “Operasi Sofa. Fase final. Lo udah siap?”
“Ndis…”
“Lo udah siap, Ay. Gue liat muka lo. Gue liat cara lo ngeliatin dia waktu masang foto tadi.” Dia menyeringai. “Tapi lo nggak punya baju.”
“Aku punya baju.”
“Lo punya baju dia.” Gendis menyilangkan tangan. “Daster satin itu punya dia. Kaus abu-abu itu punya Mas Putra. Kemeja flanel itu punya Mas Putra juga. Lo nggak punya satu pun baju malem yang punya lo.”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.
Dia benar.
Gendis mengambil kunci motornya dari saku overall.
“Ayo,” katanya. “Pasar Baru. Lantai dua. Gue tahu toko yang bagus. Dan kali ini, kalau lo panik, gue nggak bakal ilang di kerumunan ibu-ibu pengajian.”
Aku memilihnya sendiri.
Gendis menawarkan yang merah. Aku menolak. Gendis menawarkan yang hitam berenda. Aku menolak sambil memukul lengannya. Gendis menawarkan yang ungu dengan bulu-bulu di pinggir, dan kami berdua tertawa sampai penjaga toko menatap kami dengan curiga.
Lalu aku melihatnya. Tergantung di ujung rak, sendirian.
Gaun tidur katun tipis. Bukan satin. Bukan sutra. Katun yang lembut sekali, hampir seperti kain kasa, warna putih gading seperti mentega. Tali bahu yang sedikit lebih lebar dari tali daster satin. Panjangnya sampai lutut. Ada kancing-kancing kecil dari kerang di bagian depan, dari leher sampai pinggang. Sederhana. Polos. Tidak berusaha jadi apa-apa.
“Itu?” tanya Gendis, mengangkat alis.
“Itu,” kataku.
Gendis menatap gaun itu. Lalu menatapku. Lalu tersenyum, senyum yang lembut sekali, yang jarang kulihat di wajahnya.
“Itu lo banget, Ay,” katanya. “Yang sekarang.”
Malam itu, aku mandi lama.
Air hangat. Sampo melati, karena aku suka wanginya, bukan karena dia memakainya. Sabun yang wanginya seperti susu dan madu, yang kubeli tadi sore di Pasar Baru, sabunku sendiri. Aku mengeringkan rambut dengan handuk sampai setengah kering. Bukan basah. Aku tidak mau dia menyelimutiku dan bilang nanti masuk angin.
Aku memakai gaun tidur katun putih gading itu. Kainnya jatuh lembut di kulitku. Dingin, lalu hangat. Tidak licin seperti satin. Lebih seperti dipeluk.
Aku berdiri di depan cermin lemari.
Kontrak cap jempol kecap tidak ada lagi di pojok cermin. Masih di saku kardiganku, terlipat, sejak aku membawanya ke Bekasi. Pojok cermin itu kosong sekarang, cuma ada bekas selotip yang sedikit lengket.
Perempuan di cermin menatapku balik.
Rambut sebahu, setengah kering, sedikit bergelombang di ujung. Bahu yang terbuka di antara tali gaun. Kulit kuning langsat yang kelihatan hangat di bawah warna putih gading. Leher. Tulang selangka. Kancing-kancing kecil dari kerang yang berjajar dari leher ke pinggang, berkilat sedikit kena lampu.
Aku mengangkat tanganku. Tidak gemetar.
Aku tersenyum ke perempuan di cermin. Lesung pipi kiri muncul.
Punyaku, pikirku. Bukan punya dia.
Lalu aku turun.
Dia di ruang tengah.
Berdiri di depan sofa abu-abu yang terlalu pendek, membelakangiku. Kaus putih polos. Celana training abu-abu. Rambut basah habis mandi. Dia sedang membentangkan selimut rajut kuning di atas sofa, merapikan sudut-sudutnya, menepuk bantal tambahan supaya mengembang. Kebiasaan sembilan minggu. Dia melakukannya tanpa berpikir, seperti tangannya melakukannya sendiri.
Semalam aku memintanya tidur di sebelahku. Cuma minta, kataku. Yang bener nanti.
Dia menganggapnya serius. Tentu saja. Dia selalu menganggap kata-kataku serius.
Jadi malam ini dia kembali ke sofa. Menunggu. Tidak menagih. Tidak berasumsi.
Aku berjalan ke belakangnya. Pelan. Kakiku telanjang di lantai kayu, tidak bersuara.
Lalu aku mengulurkan tangan, melewati bahunya, dan mengambil ujung selimut rajut kuning itu dari tangannya.
Dia membeku.
“Mas,” kataku.
Dia berbalik.
Dan dia berhenti bernapas.
Aku melihatnya. Matanya bergerak, pelan sekali, dari wajahku. Ke rambutku yang setengah kering. Ke bahuku. Ke tali gaun yang lebar. Ke kancing-kancing kecil dari kerang. Ke kain putih gading yang jatuh sampai lutut. Ke kakiku yang telanjang di lantai kayu.
Lalu kembali ke wajahku. Dan di sana, matanya berhenti.
Dia tidak bilang cantik. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menatapku, dengan mata yang pelan-pelan menggelap, seperti danau di senja hari, dan jakunnya naik turun sekali, keras.
“Ini punyaku,” kataku. Suaraku pelan. “Aku beli tadi sore. Sama Gendis. Aku yang milih.” Aku menelan ludah. “Bukan punya dia.”
“Ay,” katanya. Suaranya hilang di tengah.
Aku menarik selimut rajut kuning itu dari sofa. Aku melipatnya. Asal-asalan, tidak serapi dia. Aku meletakkannya di sandaran sofa.
Lalu aku menatapnya.
“Malam ini,” kataku, “jangan di sofa.”
Dia tidak bergerak.
Aku melangkah lebih dekat. Satu langkah. Sampai jarak di antara kami tinggal sejengkal. Aku harus mendongak untuk menatapnya. Dia tinggi sekali. Aku selalu lupa betapa tingginya dia, sampai aku berdiri sedekat ini.
“Aturan nomor dua,” kataku. “Mas Putra tidur di sofa sampai Ayana bilang boleh pindah.”
Dia menatapku.
“Kamu bilang aku belum bilang dengan bener,” kataku. “Jadi sekarang aku bilang dengan bener.”
Aku menarik napas.
“Mas Putra Adiwangsa,” kataku. Pelan. Jelas. Setiap kata. “Mulai malam ini, kamu boleh pindah dari sofa. Ke kamar. Ke ranjang. Ke sebelah aku.” Aku berhenti. “Selamanya.”
Hening.
Di dapur, jam dinding berdetak. Di atas kulkas, Detik menguap. Di luar, angin menggoyang pohon jambu, dan sebuah buah jatuh ke rumput dengan bunyi tuk kecil.
Lalu aku mengulurkan tangan. Ke dadanya. Ke kaus putih polos. Ke tempat di mana biasanya ada saku kiri, dan cincinku di dalamnya. Malam ini dia memakai kaus, tidak ada saku. Aku tahu cincin itu ada di mana. Di Kartu Servis, di meja samping sofa, terselip di antara halaman.
Aku menekan telapak tanganku ke dadanya. Jantungnya berdebar. Keras. Cepat. Seperti jam weker Bu Ratna sebelum diganjal kain flanel.
Aku berjinjit. Bibirku di dekat telinganya.
“Udah boleh belum?” bisikku.
Dia menutup mata.
Lama.
Lalu tangannya bergerak. Pelan. Ke pinggangku. Ke kain katun putih gading. Jari-jarinya menyentuh, tidak menarik, cuma menyentuh, seperti memastikan aku nyata. Seperti di dapur, di pagi ciuman pertama. Lalu tangannya yang lain naik, ke tengkukku, ke rambutku yang setengah kering.
Dia membuka mata. Dia menatapku dari jarak yang tidak ada jaraknya lagi.
“Udah dari dulu, Ay,” katanya.
Serak. Pelan. Pasti.
“Udah dari dulu.”
Dia menciumku.
Bukan seperti di dapur, di mana aku yang menarik kerah kausnya. Bukan seperti di tepi ranjang, di mana dia berhenti di kancing pertama. Ini dia. Dia yang menciumku duluan. Dia yang menarikku ke dadanya. Dia yang tidak berhenti.
Pelan, awalnya. Seperti orang yang membuka pintu yang sudah lama dikunci, hati-hati, takut engselnya berderit. Lalu lebih dalam. Lalu lebih lama. Tangannya di pinggangku menarikku lebih dekat, sampai tidak ada udara di antara kami, sampai aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya di dadaku.
Aku tidak tahu kapan kami naik tangga.
Aku cuma ingat anak tangga terakhir. Tempat dia biasa menciumku dan bilang selamat tidur, Ay dan turun lagi ke sofa. Malam ini dia berhenti di anak tangga itu, menyandarkanku ke dinding, ke sebelah foto pernikahan dan foto gaun hijau, dan menciumku sampai lututku lemas. Lalu dia tidak bilang selamat tidur.
Dia mengangkatku.
Aku memekik kecil, kaget, dan tertawa di lehernya. Dia membawaku naik, satu anak tangga demi satu anak tangga, ke kamar, dengan satu lengan di bawah lututku dan satu lagi di punggungku, seperti membawa sesuatu yang sangat berharga.
Pintu kamar tidak dikunci. Malam ini tidak ada yang perlu dikunci.
Dia menurunkanku di pinggir ranjang. Pelan. Seperti meletakkan jam antik di atas kain beludru. Lalu dia berlutut di depanku, di lantai, sehingga mata kami sejajar.
Dia menatapku lama. Lampu kamar temaram, kuning, dari saklar putar yang kuredupkan sore tadi.
“Kamu nggak gemeteran,” katanya pelan.
“Nggak.”
“Kamu nggak ngerasa utang.”
“Nggak.” Aku memegang wajahnya dengan dua tangan. “Aku cuma mau kamu, Mas. Itu aja. Cuma mau.”
Dia memejamkan mata, dan menyandarkan dahinya ke dahiku.
“Aku cinta kamu, Ay,” bisiknya.
“Cinta kamu,” bisikku balik.
Tangannya di kancing paling atas gaunku. Kancing kecil dari kerang.
Dia membukanya. Pelan. Sangat pelan. Seperti tukang jam yang membuka tutup belakang jam paling rumit di dunia, takut merusak sesuatu di dalamnya. Lalu bibirnya di sana, di kulit yang baru terbuka, di bawah tulang selangka. Hangat. Napasnya berat.
Kancing kedua.
Bibirnya turun. Aku menahan napas. Tanganku mencengkeram rambutnya, kausnya, bahunya.
Kancing ketiga.
Aku menarik kausnya ke atas. Dia membiarkanku. Kaus putih polos itu jatuh ke lantai di sebelah ranjang. Dan aku melihatnya, untuk pertama kalinya dengan mata ini, bahu yang lebar dan dada yang naik turun dan bekas luka kecil di pinggang kiri yang tidak pernah kulihat, dan jariku menyentuhnya, dan dia menggigil.
“Itu kenapa?” bisikku.
“Mesin bubut,” katanya. “Umur tujuh belas.”
Aku menunduk dan mencium bekas luka itu.
Dia mengerang pelan. Lalu dia mendorongku berbaring, pelan, ke bantal, ke rambutku yang tersebar setengah kering, dan dia menatapku dari atas, dengan siku di samping kepalaku, dengan mata yang gelap sekali, dalam sekali.
“Ay,” katanya. Seperti doa.
Tangannya di kancing keempat.
Di kancing kelima.
Di kancing terakhir, di pinggang, kancing kecil dari kerang yang berkilat kena lampu temaram.
Aku memegang tangannya di atas kancing itu. Dia berhenti. Dia menatapku, bertanya, belum?
Aku tersenyum. Lesung pipi kiri.
Lalu aku membuka kancing terakhir itu sendiri.
Detik menggaruk-garuk pintu kamar selama sepuluh menit penuh.
Waktu kami akhirnya membiarkannya masuk, jauh setelah tengah malam, dia melompat ke ranjang dengan wajah sangat tersinggung, berjalan di atas kaki kami berdua dengan langkah berat seperti gajah kecil yang sedang protes, berputar tiga kali, lalu jatuh di antara kami dan bergelung seperti roti tawar raksasa.
Putra tertawa. Pelan. Di rambutku.
Aku tertawa juga. Di dadanya. Di atas jantungnya yang sekarang berdebar pelan dan teratur dan tenang.
Di meja samping ranjang, di sebelah Kartu Servis, ada dua jam tangan yang berdetak. Jamku. Jamnya. Kami melepasnya entah kapan, entah bagaimana, dan menaruhnya di sana bersebelahan.
Dan di antara halaman Kartu Servis, terselip, cincinku.
Belum. Nanti. Aku yang minta.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa belum pantas.
Malam ini aku cuma merasa pulang.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa reading
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog