Chapter Thirty Two
Teras Rumah Mama
POV: Putra
Detik yang pertama kulihat waktu membuka pintu.
Dia duduk di atas keset, tepat di depan pintu, menghadap ke luar. Dia tidak lari waktu pintu terbuka. Dia tidak menggosok-gosokkan badannya ke kakiku seperti biasa. Dia cuma mendongak dan menatapku dengan mata kuning yang lebar, lalu mengeong. Pelan. Panjang.
Aku tahu mengeong itu. Aku pernah mendengarnya sekali. Lima malam di bulan lalu, waktu Ayana di rumah sakit dan aku pulang sebentar untuk memberinya makan, Detik duduk di depan pintu kamar kami dan mengeong seperti itu sepanjang malam.
Mengeong mencari seseorang.
Bakwan di kantong plastik di tanganku tiba-tiba terasa sangat berat.
“Ay?”
Rumah sunyi. Tidak ada bunyi televisi. Tidak ada bunyi pensil di loteng. Tidak ada bunyi air di kamar mandi.
Aku berjalan ke ruang makan.
Dua cangkir teh. Cangkir kucing oranye, setengah habis. Cangkir putihku yang retak, setengah habis. Persis seperti waktu aku meninggalkannya tadi pagi. Tehnya sudah dingin. Ada lapisan tipis di permukaannya.
Di antara dua cangkir itu, selembar kertas terlipat.
Dan di atas kertas itu, jam tangannya.
Jam kecil dengan tali kulit cokelat muda. Masih berdetak. Tik. Tik. Tik. Per-nya masih kencang, karena tadi pagi aku memutarnya dua puluh kali.
Di bawah jam itu, kertas kecil. Kertas yang biasa dia taruh di bawah jamnya setiap malam. Biasanya tulisannya Puterin ya Mas. Makasih. —A.
Malam ini tulisannya lain. Gemetar. Hampir tidak terbaca.
Nggak usah diputer lagi, Mas.
Aku meletakkan kantong bakwan di lantai. Aku tidak sadar meletakkannya. Aku cuma sadar tanganku kosong.
Aku membuka surat itu.
Aku membacanya berdiri.
Lalu aku membacanya lagi, duduk. Di kursinya. Kursi yang masih menyisakan bentuk tubuhnya di bantalan.
Lalu aku membacanya sekali lagi.
Aku baca “aku nggak mau unit pengganti.” Aku baca “selamanya yang ini.”
Aku ingat malam itu. Setahun lalu. Dia demam tiga hari, empat puluh derajat di hari ketiga, menggigil di bawah tiga lapis selimut dan masih menolak ke dokter karena aku nggak suka bau rumah sakit, Mas. Aku menggendongnya ke klinik jam tiga pagi. Dokter jaga bilang tifus. Cuma tifus. Aku duduk di kursi plastik di koridor klinik sampai matahari terbit dan menulis kalimat itu di Kartu Servis dengan tangan yang masih gemetar.
Kalau unit ini rusak, aku nggak mau unit pengganti. Nggak ada unit lain. Aku benerin yang ini. Selamanya yang ini.
Maksudku: aku tidak akan pernah mencari orang lain. Kalau dia rusak, aku perbaiki. Kalau dia sakit, aku gendong. Kalau dia lupa, aku…
Kalau dia lupa, aku pacarin lagi dari awal.
Yang ini. Dia. Yang bangun di rumah sakit dan bertanya Mas siapa?. Yang ini juga yang ini. Tidak ada unit lain. Tidak pernah ada.
Dan dia membaca kalimat itu, dan dia mengira dia yang pengganti.
Bukan semuanya. Sampai hari jadi kedua.
Dia berhenti tepat sebelum halaman itu. Halaman Hari ke-1 (lagi). Halaman-halaman yang kutulis setiap hari sejak dia bangun. Tentang teh manis dua sendok. Tentang roti bakar gosong. Tentang beruang kentang. Tentang tangan yang mencari tanganku di Jalan Asia Afrika.
Dia berhenti satu halaman sebelum dirinya sendiri.
Istrimu itu dia, bukan aku.
Aku kembaliin.
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
Lalu mataku turun ke baris terakhir. Satu baris, terpisah dari yang lain, dengan tulisan yang lebih kecil dan lebih miring dari semua tulisan di atasnya. Ada noda kecil di samping kata kembaliin, di mana tintanya meleleh karena ada yang jatuh ke atasnya.
Aku sayang kamu. Makanya aku pergi.
Aku tertawa.
Aku tidak tahu kenapa aku tertawa. Tawa itu keluar dari dadaku seperti batuk, pendek dan sakit, dan aku menutup mulut dengan tangan, dan tawa itu berubah jadi sesuatu yang lain di balik telapak tanganku.
Sembilan minggu. Sembilan minggu aku menunggu dia bilang itu. Tidak. Aku tidak menunggu. Aku tidak berani menunggu. Aku cuma… berharap. Diam-diam. Tanpa berani mengakuinya bahkan pada Kartu Servis.
Dan kali pertama dia bilang aku sayang kamu, dia menulisnya di surat perpisahan.
Di bawah jam tangan yang dia suruh berhenti diputar.
Aku mengetik pesan dengan tangan yang tidak mau diam.
Ay. Aku udah baca suratnya.
Aku mengirimnya. Centang dua. Tidak biru.
Aku mengetik lagi. Ay, itu bukan— Menghapusnya. Ay, kamu salah— Menghapusnya. Ay, unit pengganti itu— Menghapusnya.
Aku tidak tahu cara mengatakannya. Aku tidak pernah tahu cara mengatakan apa pun. Aku cuma tahu cara memperbaiki.
Aku meletakkan ponsel di meja dan pergi ke gudang.
Kardus air mineral di rak paling bawah. Lakbannya tiga lapis sekarang. Dua lapis dariku, waktu aku menutupnya pertama kali sebelum dia pulang dari rumah sakit, dan waktu aku menutupnya lagi setelah membuka dan memegang foto gaun hijau itu di malam setelah Sabtu kelima. Satu lapis lagi, lapisan paling atas, sedikit miring, tidak serapi dua yang lain.
Lapisan dari dia.
Aku duduk di lantai gudang, di samping kardus itu, dan menatap lapisan lakban yang miring.
Dia melihatnya. Foto-foto yang kuturunkan dari dinding supaya dia tidak merasa harus jadi orang di foto-foto itu. Supaya dia bisa jadi dirinya sendiri di rumah ini, tanpa wajah orang lain yang menatapnya dari setiap dinding.
Dan dia mengira aku menyembunyikan dia. Dia mengira aku membuat museum.
Aku memegang kardus itu dengan dua tangan, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan minggu, aku mengerti sesuatu dengan sangat jelas.
Setiap kebaikan yang kulakukan untuknya, dia baca terbalik.
Aku menurunkan foto-foto supaya dia tidak tertekan. Dia membacanya sebagai museum.
Aku tidak membuka kado itu karena aku tidak mau memaksanya menjadi orang yang membelinya. Dia membacanya sebagai itu dari dia, bukan dari kamu.
Aku membatalkan meja dua belas supaya dia tidak merasa harus ingat. Dia membacanya sebagai itu tempatnya dia.
Aku bilang belum karena aku mau dia datang tanpa rasa utang. Dia membacanya sebagai aku bukan dia.
Aku menyembunyikan sakitku supaya dia tidak merasa bersalah. Dan dia, tanpa melihat sakitnya, terus menyakitiku. Dan waktu akhirnya dia melihat, di teras, di wajahku di telapak tangan, dia mengira itu karena dia.
Bukan karena dia.
Karena dia. Dia yang ini.
Aku menundukkan kepala ke atas kardus air mineral dan tidak bergerak lama sekali.
Lalu aku berdiri.
Aku kembali ke ruang makan. Jam tangannya masih di atas surat. Masih berdetak.
Aku memungutnya. Aku memegang mahkotanya.
Nggak usah diputer lagi, Mas.
“Maaf, Ay,” kataku ke jam itu. “Yang ini aku nggak bisa.”
Aku memutarnya. Dua puluh kali. Pelan. Rata. Seperti setiap pagi.
Lalu aku memasukkannya ke saku kiri kemeja. Di sebelah cincinnya.
Aku mengambil kunci mobil.
Bekasi jam sebelas malam ramai dan panas dan bising, dan gang sempit tempat rumah Mama berdiri dipenuhi motor yang parkir sembarangan.
Aku memarkir mobil hijau tua di mulut gang, di depan warung rokok, dan berjalan kaki ke rumah dengan pagar besi hijau.
Lampu teras menyala. Lampu ruang tamu menyala. Lampu kamar depan, kamar yang jendelanya menghadap teras, kamar dengan gorden kuning pudar, gelap.
Aku membuka pagar. Pelan. Pagar itu berderit keras sekali.
Pintu depan terbuka sebelum aku sempat mengetuk.
Mama. Daster batik. Rol rambut. Mata merah.
Dia menatapku. Lama. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma melihat wajahku, dan bibirnya bergetar, dan dia menutup mulutnya dengan tangan.
“Ma,” kataku. “Dia di sini?”
Mama mengangguk. Lalu dia menoleh ke dalam rumah, ke arah lorong sempit. Lalu kembali padaku.
“Dia udah tahu kamu dateng,” bisik Mama. “Dia denger pagarnya.”
“Boleh aku ketemu?”
Mama menatapku dengan wajah yang hampir pecah. Lalu dia menggeleng. Pelan.
“Dia bilang jangan,” kata Mama. “Dia bilang, kalau kamu dateng, bilang dia udah tidur.”
Aku menatap pintu depan di belakang Mama. Pintu kayu dengan cat cokelat yang mengelupas di bagian bawah, bekas dicakar kucing tetangga.
Aku bisa masuk. Aku tahu aku bisa. Mama tidak akan menahanku. Aku bisa berjalan ke kamar dengan gorden kuning pudar dan mengetuk pintunya dan bilang semuanya. Bahwa unit pengganti bukan dia. Bahwa foto-foto itu bukan museum. Bahwa aku tidak menunggu siapa pun.
Tapi kalau aku masuk, dia akan pulang karena aku menjemputnya. Karena aku datang dengan penjelasan. Karena dia merasa bersalah sudah salah paham.
Bukan karena dia mau.
Aku menarik napas.
“Oke,” kataku. “Aku di teras aja.”
Aku duduk di kursi plastik di teras.
Kursi plastik biru yang terlalu kecil, yang kakinya sedikit miring, yang bergoyang setiap kali aku bergerak. Di sebelahku, pot-pot lidah mertua. Di depanku, gang sempit dan motor-motor yang lewat dan tukang nasi goreng yang memukul wajan.
Pintu depan tertutup di belakangku.
Aku tidak bicara. Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku cuma duduk. Seperti Aki dulu, berdiri di depan toko setiap pagi, tidak bicara, cuma ada.
Jam dua belas, pintu depan terbuka sedikit. Mama menyelipkan segelas teh dan obat nyamuk bakar yang sudah menyala ke lantai teras, di sebelah kursiku. Lalu sebotol lotion anti nyamuk.
“Nyamuk Bekasi gede-gede, Put,” bisik Mama. “Kayak helikopter.”
Lalu dia menutup pintu lagi.
Aku menatap teh itu. Teh manis. Dua sendok. Mama tahu. Tentu saja Mama tahu.
Jam satu, aku mendengar sesuatu di balik pintu. Bukan langkah kaki. Bunyi gesekan. Seperti seseorang yang duduk di lantai, bersandar ke pintu.
Aku tidak bergerak. Aku tidak memanggil.
Aku cuma menggeser kursi plastikku sedikit. Ke dekat pintu. Sampai punggungku bersandar ke kayunya.
Dari sisi lain, sejarak tiga senti papan kayu yang catnya mengelupas, aku mendengar napasnya.
Pelan. Teratur. Tidak tidur.
Kami duduk seperti itu sampai azan subuh.
Lalu aku berdiri, kakiku kesemutan, dan berbisik ke pintu: “Aku buka toko dulu. Nanti malem aku dateng lagi.”
Tidak ada jawaban.
Aku menyetir ke Bandung, tiga setengah jam, dan membuka toko jam sembilan.
“Kang!” Ujang menyambutku di pintu dengan wajah pucat. “Kang, Teteh kamana? Bu Yayah nelepon Teh Gendis, Teh Gendis nelepon abdi, ceunah Teteh mawa koper—”
(Kang! Kang, Teteh ke mana? Bu Yayah nelepon Teh Gendis, Teh Gendis nelepon saya, katanya Teteh bawa koper—)
“Ke Bekasi, Jang. Ke Mama.”
Ujang menatapku. Lalu dia melihat mataku. Lalu dia melihat lingkaran hitam di bawahnya. Lalu dia melihat kemeja flanel yang sama dengan kemarin.
“Akang ti Bekasi? Peuting tadi?”
(Akang dari Bekasi? Semalem?)
“Iya.”
“Nyetir genep jam? Teu sare?”
(Nyetir enam jam? Nggak tidur?)
Aku tidak menjawab. Aku memasang loupe di mata.
Ujang berdiri di depan meja kerjaku. Tidak pergi. Tangannya mengepal di samping badan.
“Kang,” katanya. Suaranya bergetar. “Abdi rék ka Bekasi. Abdi rék nyarita ka Teteh.”
(Kang. Saya mau ke Bekasi. Saya mau ngomong ke Teteh.)
“Ngomong apa?”
“Pool travel.” Ujang menelan ludah. “Peuting ulang taun Akang. Akang ceurik dina mobil. Abdi nu nyetir. Teteh kudu nyaho—”
(Pool travel. Malem ulang tahun Akang. Akang nangis di mobil. Saya yang nyetir. Teteh harus tahu—)
“Jangan.”
Ujang berhenti. Aku belum pernah membentaknya. Dua tahun dia di sini, aku belum pernah meninggikan suara padanya. Bahkan waktu dia menginjak jam antik dari Belanda.
Aku melepas loupe-ku. Aku menatapnya.
“Maaf, Jang,” kataku, lebih pelan. “Tapi jangan. Jangan cerita.”
“Naha, Kang?” Mata Ujang basah. “Teteh nyangka Akang nungguan Teteh nu baheula. Teteh nyangka Akang teu bogoh ka Teteh nu ayeuna. Mun Teteh nyaho Akang ceurik—”
(Kenapa, Kang? Teteh ngira Akang nungguin Teteh yang dulu. Teteh ngira Akang nggak cinta sama Teteh yang sekarang. Kalau Teteh tahu Akang nangis—)
“Kalau dia tahu aku nangis,” kataku, “dia pulang karena kasihan.”
Ujang terdiam.
“Aku nggak mau dia pulang karena kasihan, Jang. Atau karena ngerasa bersalah. Atau karena dikasih tahu.” Aku menatap meja kerja. “Aku mau dia pulang karena dia mau. Karena dia milih. Sendiri.”
Ujang menatapku lama. Lalu dia mengusap matanya dengan lengan kaus PERSIB JUARA-nya.
“Akang téh bodo,” katanya. Suaranya pecah. “Bodo pisan. Ema leres.”
(Akang tuh bodoh. Bodoh banget. Ema bener.)
“Iya,” kataku. “Bikin teh, Jang.”
Malam kedua, Gendis ikut.
Dia menunggu di depan toko jam setengah tujuh dengan helm di tangan dan wajah orang yang siap perang. “Gue ikut,” katanya. “Gue mau nyeret dia pulang. Gue mau jambak rambutnya yang sebahu itu.”
“Nggak, Ndis.”
“Mas Putra—”
“Nggak.” Aku membuka pintu mobil. “Kalau kamu mau ikut, ikut. Tapi duduk di mobil. Jangan masuk. Jangan ngomong apa-apa ke dia.”
Gendis menatapku lama. Lalu dia melempar helmnya ke jok belakang dan masuk ke kursi depan dengan kasar.
Dia menangis sepanjang tol Cipularang. Dia tidak bilang kenapa. Aku tidak bertanya.
Di Bekasi, dia duduk di mobil di mulut gang, seperti yang kuminta. Aku duduk di kursi plastik biru di teras, bersandar ke pintu. Mama menyelipkan teh dan obat nyamuk bakar. Bu Endang, tetangga Mama, mengintip dari balik pagar sebelah dengan senter.
“Bu Ratih,” bisik Bu Endang keras. “Itu siapa? Maling?”
“Mantu saya, Bu,” jawab Mama dari balik pintu.
“Kok duduk di luar?”
“Lagi nunggu.”
“Nunggu apa?”
Hening.
“Nunggu anak saya pulang,” kata Mama. Pelan.
Bu Endang mematikan senternya dan tidak bertanya lagi.
Jam satu, bunyi gesekan di balik pintu. Seseorang duduk di lantai.
Malam ini, aku bicara.
“Ay,” kataku. Pelan, ke pintu. “Jam kamu masih kuputer.”
Hening.
“Tiap pagi. Dua puluh kali. Aku nggak bisa nggak muter. Maaf.” Aku menatap obat nyamuk bakar yang asapnya berputar pelan di bawah lampu teras. “Jamnya ada di sini. Di saku. Sebelah cincin kamu.”
Hening lagi.
Lalu, dari balik pintu, sangat pelan, bunyi yang tidak bisa disalahartikan. Isakan. Tertahan. Seperti dibekap tangan.
Aku memejamkan mata. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi malam itu.
Gendis tertidur di mobil. Waktu subuh, aku membangunkannya. Matanya bengkak. Dia tidak bilang apa-apa sepanjang jalan pulang.
Malam ketiga.
Aku duduk di kursi plastik biru yang sama, di teras yang sama, bersandar ke pintu yang sama. Teh manis dua sendok. Obat nyamuk bakar. Lotion anti nyamuk yang sudah setengah habis.
Jam satu. Bunyi gesekan. Seseorang duduk di lantai, di sisi lain pintu.
Aku menarik napas panjang.
“Ay.”
Hening.
“Aku nggak akan maksa kamu pulang,” kataku. “Aku nggak akan masuk. Aku nggak akan ngejelasin apa-apa. Kamu boleh di sini selama yang kamu mau. Seminggu. Sebulan. Setahun.”
Hening.
“Tapi aku mau kamu tahu satu hal.”
Aku menatap gang sempit di depanku. Motor-motor yang diparkir. Tukang nasi goreng yang sudah tutup. Lampu jalan yang berkedip.
“Pelan-pelan aja,” kataku. “Aku nggak ke mana-mana.”
Dari balik pintu, sebuah tarikan napas tajam.
Dulu kalimat itu membuatnya tenang. Di koridor rumah sakit. Di balik pintu kamar. Lalu kalimat itu membuatnya marah, di meja makan, justru itu, kamu nunggu dia.
Malam ini aku tidak tahu kalimat itu akan jadi apa baginya. Tapi aku tidak punya kalimat lain. Laki-laki yang tidak pernah belajar cara bicara, cuma punya satu kalimat.
Lalu ternyata aku punya satu lagi.
“Aku cinta kamu, Ayana,” kataku ke pintu. Pelan. Pasti. “Yang ini. Dari hari kedua.”
Hening yang sangat panjang.
Lalu isakan. Lebih keras dari semalam. Tidak dibekap lagi.
Aku berdiri. Kakiku kesemutan. Aku mengeluarkan dua benda dari saku kiri kemejaku.
Jam tangannya. Tali kulit cokelat muda. Berdetak. Sudah kuputar tadi pagi, dua puluh kali.
Dan jam tanganku sendiri. Yang kulepas dari pergelangan tangan kiriku. Tali kulit hitam, permukaan biru tua. Jam yang dia belikan untukku sebagai mahar. Yang tidak pernah kulepas selama dua tahun, kecuali untuk mandi.
Cincinnya tetap di saku. Itu bukan milikku untuk dikembalikan. Itu milik dia untuk diminta.
Aku meletakkan dua jam itu di lantai teras, di depan pintu, di atas keset. Bersebelahan. Lalu aku menyobek selembar kertas dari Kartu Servis, halaman kosong di bagian paling belakang, dan menulis dengan pulpen kecil:
Jam kamu udah kuputer. Biar nggak telat pulang.
Jamku kutitip. Dulu kamu titip cincin ke aku lima Sabtu. Sekarang gantian.
—P.
Aku menyelipkan kertas itu di bawah dua jam itu.
Lalu aku berjalan ke jendela dapur di samping rumah, yang lampunya menyala. Mama ada di sana, berdiri di depan kompor, tidak memasak apa-apa. Cuma berdiri. Dia sudah berdiri di sana sejak malam pertama.
Aku mengetuk kaca jendela pelan. Mama membukanya.
“Ma,” bisikku.
“Put.” Mata Mama merah.
“Cerita aja, Ma,” kataku. “Semuanya. Aku lepasin janjinya.”
Mama menatapku.
“Aku nggak bisa ngomong,” kataku. “Aku udah coba tiga malam. Aku cuma bisa ngomong satu kalimat. Dua kalimat. Mama yang bisa.” Aku menelan ludah. “Ceritain soal empat puluh tujuh. Soal kenapa aku nolak empat puluh enam kali. Soal Reno. Soal semuanya.”
“Put…”
“Biar dia tahu. Terus biar dia yang milih.” Aku tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana caraku tersenyum. “Kalau habis tahu semuanya dia tetep nggak mau pulang, ya… ya udah.”
Ya udah. Kata yang sama yang kukatakan di koridor rumah sakit, waktu dia masih koma. Kata yang membuat Gendis ingin menonjokku.
Mama mengulurkan tangan lewat jendela dan memegang pipiku. Tangannya bau bawang dan minyak kayu putih.
“Kamu tuh,” katanya. Suaranya pecah. “Kamu tuh terlalu baik, Nak. Mama udah bilang. Terlalu baik itu bodoh.”
“Iya, Ma.”
“Pulang. Tidur. Kamu udah tiga malem nggak tidur.”
“Iya, Ma.”
Mama menutup jendela. Aku melihatnya dari balik kaca. Dia berdiri di depan kompor lagi. Lalu dia menutup wajahnya dengan celemek.
Aku berjalan kembali ke mobil hijau tua di mulut gang. Tanpa jam di pergelangan tangan kiriku. Pergelangan itu terasa ringan dan telanjang dan aneh, seperti ada yang hilang.
Aku menyetir ke Bandung.
Di tol Cipularang, jam tiga pagi, di bawah lampu-lampu jalan tol yang lewat satu per satu, kuning, berirama, seperti detak jam, aku menyadari sesuatu.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku tidak tahu jam berapa sekarang.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama reading
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog