Chapter Seven
Audisi Sahabat
POV: Ayana
Perempuan itu datang hari Jumat pagi, membawa dua kantong belanjaan, satu buket bunga matahari, dan wajah orang yang siap berperang.
Aku membuka pintu dan dia langsung masuk tanpa permisi, melewatiku, menaruh semua bawaannya di meja makan, lalu berbalik dan menatapku dengan tangan di pinggang.
Dia tinggi, lebih tinggi dariku sekepala, dengan rambut ikal mengembang yang diikat asal di puncak kepala dan kacamata bulat besar berbingkai kuning. Dia memakai overall jeans di atas kaus garis-garis, dan anting yang berbentuk pensil.
“Lo beneran nggak inget gue?” tanyanya.
“Eh…”
“Nggak usah bohong. Mas Putra udah bilang. Gue cuma mau denger dari mulut lo sendiri.”
“Maaf,” kataku pelan. “Aku nggak inget.”
Perempuan itu menatapku lama. Lalu bibirnya bergetar. Lalu matanya berkaca-kaca. Lalu dia menarik kursi makan dengan keras, duduk, membenamkan wajah di kedua tangannya, dan menangis.
Keras.
“Dua tahun!” ratapnya dari balik telapak tangan. “Dua tahun gue nemenin lo! Gue yang nemenin lo pas pameran pertama! Gue yang nulis cerita Beruang yang Takut Gelap! Gue yang bantuin lo ngecat loteng! Gue yang tahu lo pernah nangis karena salah warna di halaman dua belas! Dan sekarang lo nggak inget nama gue? Gue bahkan belum ngenalin diri!”
Aku berdiri canggung di sebelahnya, tidak tahu harus berbuat apa. Detik, dari atas kulkas, menatap kami berdua dengan wajah lelah, seperti sudah terlalu sering melihat drama ini.
“Kamu… Gendis?” tebakku. Dari nama grup WhatsApp. Gendis & Ayana Bestie Selamanya 💕.
Tangisnya berhenti seketika. Dia mengangkat wajah, dengan maskara yang sudah luntur di bawah mata.
“Lo inget?”
“Nggak. Aku liat di grup WA.”
Dia menangis lagi, lebih keras.
Setengah jam kemudian, setelah dua gelas teh manis dan setengah kotak tisu, Gendis sudah tenang. Atau setidaknya, cukup tenang untuk mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan menaruhnya di depanku.
“Apa ini?”
“Formulir audisi.”
“Audisi apa?”
“Audisi sahabat.” Gendis membetulkan kacamatanya dengan gaya juri ajang pencarian bakat. “Lo nggak inget gue. Gue nggak mau maksa lo jadi sahabat gue cuma karena dulu kita sahabatan. Itu nggak adil buat lo, dan nggak adil buat gue. Jadi kita mulai dari nol. Lo isi formulir ini, gue nilai, dan kalau lolos, kita lanjut ke tahap wawancara.”
Aku menatap kertas itu. Ditulis tangan, dengan spidol warna-warni dan gambar bintang di pojok.
FORMULIR AUDISI CALON SAHABAT GENDIS PARAMITHA
1. Seblak level berapa? (Jawaban salah = diskualifikasi)
2. Pilih: kucing atau anjing?
3. Kalau sahabatmu ditinggal pacar, kamu: (a) bawain es krim (b) bawain es krim + ngehujat mantannya (c) bawain es krim + ngehujat mantannya + bikin akun palsu buat ngomenin mantannya
4. Pendapatmu soal Mas Putra (jujur, nggak dinilai… mungkin)
5. Mau nggak, jadi sahabat Gendis lagi? (Jawaban “nggak” nggak diterima)
Aku mengangkat kepala. “Pertanyaan lima itu bukan pertanyaan.”
“Itu pertanyaan retoris. Isi aja.”
Aku tertawa. Tawa pertama yang keluar dengan lepas sejak aku bangun di rumah sakit. Dan Gendis, yang tadi menangis seperti anak kecil, ikut tersenyum, dengan cara yang membuatku merasa, untuk pertama kalinya di rumah ini, bahwa aku tidak sendirian.
Aku mengambil pulpen dan mulai mengisi.
1. Level 2. Lebih dari itu aku sakit perut.
“Salah,” kata Gendis dari seberang meja, mengintip. “Lo level lima. Dulu. Tapi ya udah, gue kasih remedial.”
2. Dulu aku alergi kucing. Sekarang katanya nggak. Tapi kucingnya benci aku. Jadi… netral?
“Detik nggak benci lo. Dia ngambek. Beda.”
3. (b). Bikin akun palsu itu kriminal.
“Lo dulu pilih (c),” kata Gendis. “Lo yang bikin akunnya. Nama akunnya penggemar_rahasia_mantanmu. Gue cuma nemenin.”
“Siapa mantan yang di-stalk?”
“Mantan gue. Andre. Anak band indie yang nggak jelas.” Gendis mengibaskan tangan. “Udah lewat. Lanjut.”
Pertanyaan empat. Pendapatmu soal Mas Putra.
Aku memegang pulpen di atas kertas lama sekali.
Pendapatku soal Mas Putra. Laki-laki yang tidur di sofa yang terlalu pendek. Yang membetulkan jamku dalam semalam. Yang menambahkan nasi ke piringku setelah aku bilang aku cinta laki-laki lain. Yang menukar semua kopi di dapur dengan teh tanpa bilang apa-apa, tanpa menunggu diminta, sampai aku harus mencari sendiri toples kopi itu di seluruh rumah dan tidak menemukannya.
4. Dia baik. Aneh. Nggak banyak ngomong. Masakannya enak.
Aku berhenti. Lalu menambahkan:
Kayaknya dia lebih kenal aku daripada aku kenal diriku sendiri. Dan itu bikin aku agak takut.
Gendis membaca jawabanku tanpa bersuara. Wajahnya berubah. Untuk sesaat, juri ajang pencarian bakat itu hilang, digantikan sesuatu yang lebih lembut.
“Itu jawaban paling jujur yang pernah lo tulis,” katanya pelan.
“Gendis,” kataku, setelah formulir itu dinyatakan lolos dengan catatan dan ditempel di pintu kulkas di sebelah kalender. “Aku boleh nanya sesuatu?”
“Tanya aja. Itu hak peserta yang lolos.”
“Aku sama Mas Putra. Gimana ceritanya kita bisa nikah?”
Gendis yang sedang menuang teh kedua berhenti. Teko di tangannya menggantung di udara. Lalu dia menaruhnya kembali pelan-pelan.
“Kenapa nanya gue?”
“Soalnya tiap kali aku nanya dia, jawabannya nanti aja. Tiap kali aku nanya Ema, dia pura-pura pikun. Tiap kali aku nanya Ujang, dia kabur. Tiap kali aku nanya Mama, Mama nangis.” Aku memutar cangkir tehku. “Aku cuma mau tahu. Kita kenal di toko jam, katanya. Terus? Siapa yang nembak duluan? Dia, kan? Pasti dia. Soalnya aku tuh gengsian banget, Ndis. Aku nggak mungkin—”
“Ayana.”
Gendis memanggil namaku dengan cara yang membuatku berhenti.
“Gue nggak bisa cerita,” katanya.
“Kenapa?”
“Mas Putra minta.” Dia menatap teh di cangkirnya. “Waktu lo masih koma, hari ketiga, waktu dokter bilang ada kemungkinan lo bangun tapi ada yang hilang, dia ngumpulin kita semua di koridor rumah sakit. Gue, Ema, Ujang, nyokap lo. Terus dia bilang, kalau lo bangun dan lo lupa, jangan ada yang cerita soal kalian. Soal gimana kalian ketemu. Soal gimana kalian jadian. Soal semuanya.”
“Kenapa?”
Gendis diam sebentar.
“Katanya,” dia berhenti, menelan, “katanya biar lo nggak milih dia karena cerita orang. Biar kalau lo milih dia lagi, itu karena lo mau, bukan karena lo dikasih tahu dulu lo cinta banget sama dia. Dan kalau lo nggak milih dia…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku menatap Gendis. Gendis menatap tehnya.
“Kalau aku nggak milih dia?” tanyaku.
“Ya udah,” kata Gendis. Suaranya serak. “Itu kata dia. Ya udah. Persis kayak gitu. Dua kata. Gue sampe pengen nonjok dia, Ay. Sumpah. Orang lagi nangis-nangis di koridor, dia bilang ya udah kayak lagi ngomongin cuaca.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
Di luar, angin bertiup, dan buah jambu jatuh ke rumput dengan bunyi tuk kecil. Detik turun dari kulkas, berjalan melewati kakiku tanpa mendesis (pertama kalinya), dan pergi ke ruang tengah untuk tidur di sofa. Di bantal yang semalam dipakai Putra.
“Dia aneh,” kataku akhirnya. Pelan.
“Dia bodoh,” koreksi Gendis. “Bodoh yang paling baik yang pernah gue kenal.”
Siangnya, Gendis memaksaku video call dengan Tiara.
“Lo masih inget Tiara, kan? Dia sahabat lo dari zaman kuliah. Itu masuk periode yang lo inget.”
“Inget dong! Tiara! Aku inget banget!”
Gendis menelepon dari ponselnya. Bunyi sambungan dua kali, lalu layar menyala, dan wajah Tiara muncul.
Wajah Tiara yang… bulat?
Pipinya lebih penuh. Rambutnya yang dulu dicat cokelat terang sekarang hitam, diikat ke belakang. Dan waktu dia mengubah posisi kamera, aku melihat perutnya.
Perutnya besar. Besar sekali. Seperti dia menelan bola basket, lalu bola basket itu tumbuh jadi semangka.
“AY!” Tiara menjerit, lalu langsung menangis. Sepertinya semua orang menangis setiap kali melihatku sekarang. “Ay, ya ampun, Ay, lo udah bangun, Mama lo bilang lo lupa, lo beneran lupa? Lo inget gue nggak? Lo inget gue, kan? Gue Tiara! Kita sekamar di asrama! Lo pernah muntah di sepatu gue pas ospek!”
“Ti,” kataku dengan suara tercekik, menunjuk layar. “Ti, perut lo.”
Tiara melihat ke bawah, ke perutnya, lalu ke kamera lagi. “Oh. Iya. Delapan bulan.”
“Delapan bulan?”
“Cowok. Rencananya mau dikasih nama Bima.”
“Lo… lo udah nikah?”
“Udah dua tahun, Ay. Sama Bang Fikri.” Tiara menggigit bibir. “Lo jadi bridesmaid gue. Lo pake kebaya hijau toska. Lo nangis lebih kenceng dari nyokap gue.”
Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan menatap langit-langit.
Tiara, yang dulu bersumpah tidak akan menikah sebelum umur tiga puluh. Tiara, yang menghabiskan setiap malam minggu di kos menonton film horor denganku karena kami berdua jomblo, atau, dalam kasusku, karena Reno lebih suka main futsal. Tiara sudah menikah dua tahun dan sebentar lagi punya anak.
Bang Fikri. Aku bahkan tidak tahu Bang Fikri itu siapa.
“Ay?” panggil Tiara dari layar. “Ay, lo masih di situ?”
“Masih.” Aku mengangkat kepala lagi. “Ti, aku boleh nanya?”
“Boleh. Apa aja.”
“Reno.”
Wajah Tiara di layar langsung berubah.
Aku tidak tahu cara menjelaskannya. Seperti layar itu tiba-tiba membeku, padahal tidak. Senyumnya masih ada, tapi kaku. Matanya bergerak cepat, melirik ke samping, ke arah Gendis yang ada di belakangku, lalu kembali padaku.
“Reno kenapa?”
“Aku liat lo komen di Instagram dia. Tiga minggu lalu. Welcome home. Jadi lo masih kontakan sama dia?”
“Kadang-kadang. Dikit.” Tiara membetulkan posisi duduknya, seperti perutnya tiba-tiba tidak nyaman. “Kenapa, Ay?”
“Dia pulang, Ti. Dan dia masih sendiri. Aku… aku pengen ketemu dia.”
Hening.
Di belakangku, aku mendengar Gendis menarik napas tajam.
Di layar, Tiara menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya. Ekspresi orang yang tahu sesuatu, sesuatu yang berat, dan sedang menimbang apakah dia boleh mengatakannya.
“Jangan, Ay,” katanya.
“Kenapa?”
“Jangan. Pokoknya jangan.”
“Ti, kenapa? Kamu tahu sesuatu? Dia udah punya pacar? Dia udah tunangan? Dia—”
“Bukan gitu.”
“Terus apa?”
Tiara membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. Lalu dia menggeleng, dan matanya berkaca-kaca lagi, tapi kali ini bukan karena senang.
“Gue nggak bisa bilang, Ay. Tapi please, jangan. Lo udah punya Mas Putra. Lo udah punya hidup yang bagus banget. Jangan ngerusak itu buat Reno.”
“Aku nggak inget hidupku yang bagus banget, Ti. Yang aku inget cuma Reno.”
Tiara menutup mata. Lama.
“Ti?”
“Gue harus ke dokter kandungan,” katanya tiba-tiba, terlalu cepat. “Jadwal kontrol. Udah telat. Nanti gue telepon lagi ya, Ay. Gue sayang lo. Jaga diri. Jangan, ya.”
Layarnya mati.
Aku menatap layar hitam itu, lalu menoleh ke Gendis.
Gendis tidak menatapku. Dia sibuk menyusun tisu bekas di meja menjadi tumpukan yang sangat rapi.
“Ndis. Kamu tahu kenapa Tiara bilang jangan?”
“Nggak,” kata Gendis. Dan aku tahu dia jujur, karena dia kelihatan sama bingungnya denganku. “Gue nggak kenal Reno. Gue cuma tahu namanya dari cerita lo dulu. Tapi, Ay…”
Dia akhirnya menatapku. Kacamata kuningnya sedikit melorot.
“Lo serius mau ngejar mantan lo? Lo udah gila? Lo punya Mas Putra! Lo tahu nggak berapa banyak cewek di Braga yang pura-pura jamnya rusak cuma buat ngeliat Mas Putra kerja pake loupe? Ada satu tante-tante dari Antapani yang dateng tiap bulan bawa jam weker yang sama! Tiap bulan, Ay! Jam wekernya udah nggak ada yang bisa diservis lagi!”
“Ndis…”
“Dan lo mau ngejar Reno? Yang ninggalin lo demi beasiswa? Yang bilang aku nggak mau LDR kayak lagi milih menu makan siang?”
“Kamu bilang kamu nggak kenal Reno.”
“Gue nggak kenal dia, tapi gue kenal lo! Dulu! Lo yang cerita! Lo bilang dia—” Gendis berhenti mendadak. Dia menutup mulutnya dengan tangan. “Oke. Nggak. Gue udah janji sama Mas Putra. Gue nggak cerita.”
“Ndis!”
“Nggak!”
Kami saling menatap. Lalu Gendis mendesah panjang, berdiri, mengambil tasnya, dan menunjukku dengan jari telunjuk yang kuku-kukunya dicat warna-warni.
“Peserta audisi,” katanya, dengan nada juri lagi. “Lo lolos tahap satu. Tapi ingat, nilai lo bisa dikurangi kalau lo ngelakuin hal bodoh. Dan ngejar mantan yang ninggalin lo pas lo punya suami kayak Mas Putra itu masuk kategori hal bodoh tingkat dewa.”
Lalu dia memelukku. Erat sekali. Wangi rambutnya seperti vanila dan cat minyak.
“Gue kangen lo, Ay,” bisiknya di bahuku. “Gue kangen lo banget.”
Aku memeluknya balik. Aku tidak ingat dia. Tapi entah kenapa, pelukannya terasa seperti pelukan yang pernah kukenal.
Malamnya, setelah Gendis pulang, aku duduk di kamar dengan ponsel di tangan.
Instagram terbuka. Profil Reno terbuka. Tombol Message menyala biru di bawah fotonya.
Jangan, Ay. Pokoknya jangan.
Hal bodoh tingkat dewa.
Biar kalau lo milih dia lagi, itu karena lo mau.
Aku menatap tombol itu sampai mataku perih.
Lalu aku menekan tombol samping ponsel, layarnya mati, dan aku melempar ponsel ke ujung ranjang.
Belum, kataku pada diriku sendiri. Belum malam ini.
Di bawah, aku mendengar Putra pulang. Suara pintu depan. Suara kunci di gantungan. Suara langkahnya di dapur. Suara kulkas dibuka, lalu ditutup, lalu sunyi lama sekali.
Aku tahu dia sedang membaca formulir audisi yang ditempel Gendis di pintu kulkas.
Formulir dengan jawabanku untuk pertanyaan nomor empat.
Aku menarik selimut sampai ke kepala dan pura-pura tidak memikirkannya.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat reading
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog