Chapter Twenty Eight
Kata Ema
POV: Ayana
Rumah Ema ada di belakang toko jam, di ujung gang sempit yang hanya muat satu motor.
Aku belum pernah ke sana sendirian. Setiap Minggu, sesuai aturan nomor tujuh, Putra yang menyetir, dan kami masuk lewat pintu belakang toko, melewati ruang kerja kecil yang bau oli, lalu keluar ke halaman sempit di mana rumah Ema berdiri. Rumah kayu tua bercat hijau muda, dengan teras kecil dan pot-pot anggrek yang menggantung di sepanjang atapnya.
Sabtu pagi itu, aku tidak lewat toko.
Aku tidak sanggup. Aku tidak tahu harus bilang apa kalau melihatnya. Jadi aku turun dari taksi online di mulut gang, berjalan kaki melewati jemuran tetangga dan kucing-kucing liar dan seorang kakek yang sedang memandikan burung perkututnya, dan mengetuk pintu rumah Ema dari depan.
Ema membuka pintu dengan kebaya kutubaru cokelat dan sanggul putih dan sapu lidi di tangan.
Dia menatapku. Matanya yang kecil menyipit.
“Hmm,” katanya. “Panon manéh bareuh.”
(Hmm. Matamu bengkak.)
“Iya, Ema.”
“Si Putra ogé.” Dia meletakkan sapu lidinya. “Tadi subuh Ema ningali manéhna ti jandéla. Kaluar ti toko jam lima. Mawa termos. Balik jam genep. Panonna bareuh. Siga manéh.”
(Si Putra juga. Tadi subuh Ema liat dia dari jendela. Keluar dari toko jam lima. Bawa termos. Balik jam enam. Matanya bengkak. Kayak kamu.)
Termos. Jam lima. Dia membawa termos berisi teh, menyetir dari Braga ke Sukaluyu, masuk lewat jendela dapur, memutar jamku, menuang teh ke cangkir kucing oranye, menulis kertas kecil, lalu menyetir kembali ke Braga.
Sebelum aku bangun.
Ema menatapku lama. Lalu dia menyingkir dari ambang pintu.
“Lebet,” katanya. “Ema nyieun bala-bala.”
(Masuk. Ema bikin bakwan.)
Kami duduk di teras belakang, di bangku kayu panjang yang menghadap halaman sempit penuh tanaman. Bakwan sayur yang masih panas di piring seng. Teh tubruk di gelas belimbing. Bukan teh manis. Teh tawar, pahit, kental, khas Ema.
Aku menyesapnya dan meringis.
Ema tertawa. “Manéh mah teu resep, nya? Sarua jeung si Putra. Si Putra ogé teu resep teh pait. Tapi diinum waé, keur ngahargaan Ema.”
(Kamu mah nggak suka, ya? Sama kayak si Putra. Si Putra juga nggak suka teh pahit. Tapi diminum aja, buat ngehargain Ema.)
Aku menyesapnya lagi. Pahit. Tapi aku meminumnya.
“Ema,” kataku. “Kami berantem.”
“Ema nyaho.”
(Ema tahu.)
“Ema tahu dari mana?”
“Bu Yayah.” Ema mengibaskan tangan. “Bu Yayah nelepon Ema tadi peuting jam sabelas. Ceuk manéhna, maranéh gelut. Munggaran. Si Putra kaluar mawa jakét.”
(Bu Yayah. Bu Yayah nelepon Ema semalem jam sebelas. Katanya, kalian berantem. Pertama kali. Si Putra keluar bawa jaket.)
Aku menutup wajah dengan tangan. “Bu Yayah tuh punya nomor semua orang, ya?”
“Kabéh. Nepi ka nomer pak lurah.” Ema tertawa lagi. Lalu tawanya berhenti, dan dia menatapku dengan mata tua yang tiba-tiba sangat serius. “Gelut naon?”
(Semua. Sampe nomor pak lurah. Berantem soal apa?)
Aku menceritakannya. Semuanya. Telepon Kang Dedi. Meja dua belas yang dibatalkan. Kado yang tidak mau dibuka. Foto di dinding. Lirikan sepersekian detik. Belum, dua kali. Pelan-pelan aja, aku nggak ke mana-mana. Kamu nunggu dia. Aku nggak nunggu—, yang tidak selesai.
Ema mendengarkan tanpa memotong. Dia mengunyah bakwan pelan-pelan dengan gigi yang tinggal beberapa.
Waktu aku selesai, dia diam lama.
Lalu dia bilang sesuatu yang membuatku membeku.
“Putra téh baheula nyarios ‘henteu’ ka manéh lain sakali dua kali.”
(Putra dulu bilang “nggak” ke kamu bukan sekali dua kali.)
Aku menatapnya.
“Nyarios henteu?” Aku menelan ludah. “Maksudnya… dia nolak aku? Dulu?”
Ema menatapku. Lalu matanya bergerak, ke arah toko, ke arah pintu belakang yang tertutup. Lalu kembali padaku. Dan aku melihat dia menimbang sesuatu. Seperti orang yang menyadari dia baru saja berjalan terlalu dekat ke pinggir jurang.
“Ema geus janji ka si Putra,” katanya pelan. “Moal nyaritakeun.”
(Ema udah janji ke si Putra. Nggak akan nyeritain.)
“Ema, please.”
“Henteu, Neng.”
(Nggak, Neng.)
Aku menatap gelas teh di tanganku. Teh pahit yang kental.
Dia menolakku. Dulu. Bukan sekali dua kali.
Jadi dia tidak suka aku? Dulu? Sebelum kami menikah? Dia menolak dia, perempuan di foto pernikahan, berkali-kali? Lalu kenapa akhirnya dia menikahinya? Karena kasihan? Karena terpaksa? Karena capek nolaknya, seperti katanya waktu itu, waktu aku tertawa dan menganggapnya bercanda?
Karena kamu ngajak empat puluh tujuh kali. Capek nolaknya.
Perutku dingin.
“Jadi dia nikahin aku karena terpaksa?” bisikku.
Ema menatapku. Lalu dia tertawa. Keras sekali. Sampai dia harus memegangi dadanya dan terbatuk-batuk, sampai kakek di gang sebelah berhenti memandikan burung perkututnya dan menoleh.
“Terpaksa?” Ema menyeka air mata di sudut matanya. “Si Putra? Terpaksa? Aduh, Neng. Manéh téh bener-bener poho, nya.”
(Terpaksa? Si Putra? Terpaksa? Aduh, Neng. Kamu tuh bener-bener lupa, ya.)
“Terus kenapa dia nolak aku?”
Ema berhenti tertawa. Dia meletakkan bakwan di piring seng. Lalu dia memegang tanganku dengan tangannya yang keriput dan dingin.
“Ema rék nyaritakeun hiji hal,” katanya. “Lain ngeunaan manéh. Ngeunaan Aki.”
(Ema mau cerita satu hal. Bukan tentang kamu. Tentang Aki.)
Aki, kata Ema, dulu tukang jam muda di Braga. Toko itu baru dibuka, tahun enam puluhan, di gedung yang sama. Ema anak penjual kue di pasar. Setiap pagi Ema lewat depan toko itu membawa tampah kue di kepala.
Dan setiap pagi, Aki berdiri di depan toko. Menunggu.
“Satahun,” kata Ema. “Satahun manéhna nangtung di hareup toko unggal isuk. Ngan nangtung. Teu nyarita nanaon. Teu ngagero. Teu mésér kuéh. Ngan ningali Ema liwat.”
(Setahun. Setahun dia berdiri di depan toko tiap pagi. Cuma berdiri. Nggak ngomong apa-apa. Nggak manggil. Nggak beli kue. Cuma liat Ema lewat.)
“Kenapa nggak ngomong?”
Ema tersenyum. Senyum yang membuat wajah tuanya tiba-tiba kelihatan muda.
“Ema ogé nanya kitu. Sanggeus urang kawin. Ema nanya, naha anjeun teu nyarita satahun? Aki ngajawab…” Ema berhenti. Matanya basah. “Aki ngajawab: Sabab lamun kuring nyarita jeung anjeun nolak, kuring teu bisa nangtung di dieu deui unggal isuk. Leuwih alus kuring teu nyarita, tapi bisa ningali anjeun unggal poé.”
(Ema juga nanya gitu. Setelah kami nikah. Ema nanya, kenapa kamu nggak ngomong setahun? Aki jawab: Karena kalau aku ngomong dan kamu nolak, aku nggak bisa berdiri di sini lagi tiap pagi. Lebih baik aku nggak ngomong, tapi bisa liat kamu tiap hari.)
Aku tidak bisa bicara.
“Lalaki kulawarga ieu,” kata Ema, menepuk tanganku, “lain teu hayang. Lain teu bogoh. Tapi sieun. Sieun pisan. Sieun nyokot hiji hal anu lain milikna.”
(Laki-laki keluarga ini, bukan nggak mau. Bukan nggak cinta. Tapi takut. Takut banget. Takut ngambil sesuatu yang bukan miliknya.)
“Bukan miliknya?”
“Heueuh.” Ema menatapku lurus. “Mun hiji hal can bener-bener milik manéhna, manéhna moal nyokot. Sanajan manéhna hayang pisan. Sanajan manéhna kudu nunggu satahun. Atawa…” Dia berhenti. Tersenyum kecil. “Atawa sanajan kudu nolak opat puluh genep kali.”
(Iya. Kalau sesuatu belum bener-bener miliknya, dia nggak akan ngambil. Walaupun dia pengen banget. Walaupun dia harus nunggu setahun. Atau… atau walaupun harus nolak empat puluh enam kali.)
Aku membeku.
“Empat puluh… apa, Ema?”
Ema menutup mulutnya dengan tangan. Matanya membelalak. Lalu dia berdiri tiba-tiba, mengambil piring seng berisi bakwan, dan berjalan ke dapur dengan langkah yang terlalu cepat untuk perempuan berumur tujuh puluh delapan tahun.
“Ema poho! Ema geus kolot! Ema sok ngawangkong teu puguh!”
(Ema lupa! Ema udah tua! Ema suka ngomong ngawur!)
“Ema!”
“Bala-balana tiis! Ema rék ngagoréng deui!”
(Bakwannya dingin! Ema mau goreng lagi!)
Aku duduk di bangku kayu sendirian, dengan teh pahit di tangan dan angka yang berputar di kepalaku.
Empat puluh enam.
Lalu, pelan-pelan, satu kalimat lain datang dari ingatan. Bukan ingatan tiga tahun yang hilang. Ingatan tujuh minggu yang lalu. Hari kedua di rumah ini. Meja makan. Buku catatan. Pertanyaan ketiga.
Kamu nikahin aku karena apa?
Karena kamu ngajak empat puluh tujuh kali. Capek nolaknya.
Aku menertawakannya waktu itu. Aku bilang ngarang. Aku bilang aku gengsian, aku tidak pernah mengajak cowok duluan seumur hidup.
Empat puluh tujuh kali.
Empat puluh enam kali ditolak.
Ditolak oleh dia. Oleh laki-laki yang, kata Ema, tidak akan mengambil sesuatu yang belum benar-benar miliknya.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan informasi itu. Aku memegangnya di kepalaku seperti memegang gerigi jam yang tidak tahu harus dipasang di mana.
Tapi satu hal mulai jelas. Pelan-pelan. Seperti foto yang dicuci di kamar gelap.
Dia tidak menolakku karena aku bukan dia.
Dia menolakku karena dia tidak mau mengambil sesuatu yang belum benar-benar miliknya.
Aku tidak langsung pulang.
Aku berjalan ke pintu belakang toko. Pintu kayu yang catnya mengelupas, dengan gagang kuningan yang sudah kusam. Aku berdiri di depannya lama. Lalu aku mengetuk.
Pintunya terbuka. Ujang.
Dia menatapku. Matanya membelalak. Lalu, tanpa bilang apa-apa, dia keluar dari pintu, melewatiku, dan berjalan cepat ke arah gang. Ke arah rumah Ema.
“Ujang?”
“Abdi bade ka Ema!” serunya tanpa menoleh. “Aya bala-bala! Abdi lapar pisan! Wilujeng, Teh!”
(Saya mau ke Ema! Ada bakwan! Saya laper banget! Selamat, Teh!)
Selamat? Selamat apa?
Aku masuk ke ruang belakang toko. Bau oli dan logam. Mesin bubut tua di sudut, diselimuti kain putih. Lalu pintu ke ruang depan, ke meja kerja, ke etalase.
Dia di sana.
Duduk di kursi kerja, membungkuk di atas sesuatu di bawah lampu meja. Loupe di mata kanan. Kemeja flanel biru tua, kusut, yang sama dengan semalam. Rambutnya berantakan. Bayangan janggut di rahangnya lebih gelap dari biasanya.
Dia tidak sedang bekerja.
Di atas kain beludru hitam di bawah lampu, tidak ada jam. Yang ada cuma satu benda kecil. Bundar. Berkilat.
Cincinku.
Dia menatapnya. Dengan loupe. Seperti tukang jam yang memeriksa mesin yang paling rumit.
Lalu dia mendengar langkahku, dan dia mengangkat kepala.
Loupe itu jatuh dari matanya dan menggantung di tali di lehernya.
“Ayana,” katanya.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan. Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami berdua, sekaligus, seperti dua jam yang disetel ulang supaya berdetak bersamaan.
Yang kutahu, tiba-tiba aku sudah di depan meja kerja, dan dia sudah berdiri, dan aku bilang “Maaf,” dan dia bilang “Maaf,” di detik yang sama, dan kami berdua berhenti, dan menatap satu sama lain, dan aku tertawa, dan dia tersenyum, kecil, lelah, dengan mata yang merah.
“Kamu nggak salah,” katanya.
“Aku salah. Aku ngusir kamu dari rumah kamu sendiri.”
“Aku yang pergi.”
“Karena aku yang bikin kamu pergi.” Aku menelan ludah. “Mas, pulang.”
Dia menatapku.
“Pulang,” ulangku. Suaraku pecah. “Aku nggak bisa tidur di sofa itu. Terlalu pendek. Leherku sakit. Pegasnya keras di punggung. Kamu tujuh minggu tidur di situ dan nggak pernah protes.”
Sudut bibirnya bergerak. “Udah minta bantal tambahan.”
“Satu bantal nggak cukup, Mas.”
“Cukup.”
“Nggak cukup.”
Dia menatapku. Lama. Lalu dia mengambil cincin dari kain beludru hitam dan memasukkannya kembali ke saku kiri kemejanya. Pelan. Hati-hati. Dekat jantung.
“Oke,” katanya. “Pulang.”
Malam itu, setelah makan malam yang sunyi tapi bukan sunyi yang dingin, setelah dia mencuci piring dan aku mengeringkannya, setelah Detik tertidur di atas kulkas, aku memanggilnya ke kamar.
Kali ini lampunya tidak mati. Kali ini aku tidak memakai daster satin. Aku memakai piyama katun bergambar awan. Rambutku kering. Aku tidak menghafal kalimat apa pun.
Aku cuma duduk di pinggir ranjang, dan bilang, “Mas. Sini. Bentar.”
Dia masuk. Pelan. Dia berdiri di ambang pintu dengan ragu.
“Duduk,” kataku, menepuk ranjang di sebelahku.
Dia duduk. Di pinggir ranjang. Sejengkal dariku.
“Tadi Ema cerita,” kataku.
Wajahnya langsung tegang. “Cerita apa?”
“Soal Aki. Yang berdiri di depan toko tiap pagi selama setahun, nggak ngomong apa-apa.” Aku menatap tanganku. “Ema bilang, laki-laki keluarga ini bukan nggak mau. Bukan nggak cinta. Tapi takut. Takut ngambil sesuatu yang belum bener-bener miliknya.”
Dia diam.
“Itu kenapa kamu nolak aku?” tanyaku pelan. “Dua kali?”
Dia menatap lantai lama sekali. Lalu, pelan, dia mengangguk. Sekali.
Sesuatu di dadaku yang sejak semalam membeku, mencair.
Aku bergeser lebih dekat. Lututku menyentuh lututnya. Lalu, tanpa berpikir, tanpa rencana dari buku Operasi Sofa, aku naik ke pangkuannya. Menghadapnya. Lututku di kasur, di kiri dan kanan pinggulnya. Tanganku di bahunya.
Dia membeku. Tangannya di udara.
“Aku nggak gemeteran sekarang,” bisikku. “Liat.”
Aku mengangkat tanganku dan meletakkannya di pipinya. Tidak gemetar. Hangat. Tenang.
Dia menatap mataku. Lalu tangannya, pelan-pelan, turun. Ke pinggangku. Ke punggungku. Menarikku lebih dekat.
Aku menciumnya.
Bukan seperti di dapur. Di dapur itu aku yang menarik kerah kausnya, berjinjit, terburu-buru, seperti orang yang takut berubah pikiran. Ini lain. Ini pelan. Ini dalam. Ini dia yang membalas sejak detik pertama, tanpa ragu, tanpa membeku.
Tangannya di tengkukku. Jari-jarinya di rambutku. Napasnya hangat di bibirku. Aku merasakan dia tersenyum di tengah ciuman itu, sekali, dan aku tidak tahu kenapa itu membuat lututku lemas.
Bibirnya meninggalkan bibirku. Turun. Ke rahangku. Ke bawah telingaku, di tempat tahi lalat kecil itu. Ke leherku.
Aku menahan napas.
Bibirnya di leherku. Pelan. Hangat. Lalu turun lagi, ke tulang selangka, ke kulit di pinggir kerah piyama awanku yang sedikit terbuka. Napasnya berat. Napasku lebih berat. Tanganku mencengkeram kemeja flanelnya, di bahu, di dada, di saku kiri, di atas cincinku.
Aku tidak tahu kapan aku berbaring. Aku cuma tahu bahwa tiba-tiba punggungku menyentuh kasur, dan dia di atasku, menyangga badannya dengan siku di samping kepalaku, dan rambutku tersebar di bantal, dan dia menatapku dari jarak sejengkal dengan mata yang gelap sekali, dalam sekali, seperti danau di malam hari.
Tanganku turun ke kancing kemejanya. Kancing paling atas.
Tanganku tidak gemetar.
Dan dia menahan tanganku.
“Belum,” katanya.
Pelan. Serak. Hampir tidak terdengar.
Aku menatapnya. Napasku masih terengah-engah.
“Kenapa?” bisikku. “Aku nggak gemeteran. Aku nggak niru dia. Ini aku.”
“Aku tahu.” Dia menunduk, dahinya menempel di dahiku. Napasnya hangat di wajahku. Matanya terpejam. “Aku tahu ini kamu.”
“Terus kenapa?”
Dia diam lama. Lalu dia bilang, dengan suara yang paling jujur yang pernah kudengar darinya:
“Aku cinta kamu.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Makanya belum,” katanya.
Dia membuka mata. Menatapku. Dari jarak yang tidak ada jaraknya lagi.
“Kemarin kamu bilang kamu ngerasa salah. Soal Sabtu-Sabtu itu. Soal malam ulang tahun. Kamu bilang kamu belum pantes pake cincin itu.” Dia mengusap pipiku dengan ibu jari. “Aku nggak mau kamu dateng ke aku karena ngerasa utang, Ayana. Aku nggak mau kamu bayar apa-apa. Aku mau kamu dateng karena kamu mau. Cuma karena kamu mau.”
“Aku mau,” bisikku.
“Aku tahu.” Dia tersenyum. Sedih dan hangat sekaligus. “Tapi kamu juga masih ngerasa utang. Aku bisa liat. Di mata kamu. Dua-duanya ada.”
Aku membuka mulut untuk membantah.
Lalu aku menutupnya lagi. Karena dia benar.
Dua-duanya ada. Aku mau dia. Aku mau dia lebih dari aku pernah mau apa pun. Tapi di bawah keinginan itu, di dasar dadaku, ada rasa bersalah yang belum hilang. Rasa bersalah karena lima Sabtu. Karena cincin di saku kirinya. Karena kue yang belum dipotong. Karena teras dan wajah di telapak tangan.
Dan dia bisa melihatnya.
Laki-laki yang tidak pernah belajar cara bicara, tapi belajar cara melihat.
“Aku…” kataku. Suaraku bergetar. Ada sesuatu di tenggorokanku. Sesuatu yang besar dan hangat dan sudah lama tumbuh. Sesuatu yang sejak malam ulang tahunnya sudah punya nama, tapi belum pernah kuucapkan.
“Aku…”
Kata-kata itu di ujung lidahku. Tiga kata. Kata-kata yang sama dengan yang baru saja dia ucapkan.
Aku tidak bisa.
Bukan karena tidak benar. Karena terlalu benar. Karena kalau aku mengucapkannya sekarang, di sini, dengan rasa utang yang masih ada di dasar dadaku, dia akan bertanya-tanya, seperti aku bertanya-tanya waktu dia menciumku di dapur: kamu bilang itu ke aku, atau buat bayar sesuatu?
Jadi aku menariknya turun dan menciumnya lagi. Sebagai ganti kata-kata itu.
Dia membalas. Pelan. Lama. Lalu dia melepaskanku, berguling ke samping, dan berbaring di sebelahku. Di atas selimut. Menatap langit-langit.
Kami berbaring berdampingan, napas kami berdua masih berat, tangan kami bersentuhan di atas seprai.
“Mas,” kataku setelah lama.
“Hm.”
“Tadi kamu panggil aku apa?”
Dia diam.
“Waktu Ema bilang… nggak. Tadi. Waktu kamu… di leher.” Wajahku panas. “Kamu bisik sesuatu. Satu kata.”
Dia diam lebih lama.
“Ay,” katanya akhirnya. Pelan sekali.
Jantungku melompat.
Ay. Nama yang dipakai Reno. Nama yang ditulis dia di ukiran jam. Nama di kontak WhatsApp-nya. Nama yang, kata Gendis, dia pakai setiap hari, dulu, sebelum aku bangun di rumah sakit.
Nama yang tidak pernah dia ucapkan padaku. Tujuh minggu. Selalu Ayana. Lengkap. Hati-hati. Seperti memanggil orang yang belum dikenal.
“Itu… nama buat aku?” tanyaku. “Atau buat dia?”
Dia menoleh. Menatapku dari bantal sebelah.
“Boleh aku panggil kamu Ay?” tanyanya. “Kamu. Bukan dia.”
Aku menatap matanya lama.
“Boleh,” bisikku.
Dia tersenyum. Lalu dia bangun, membetulkan kemejanya, mencium dahiku sekali, pelan, dan berdiri.
“Aku di sofa,” katanya.
“Mas…”
“Aturan nomor dua,” katanya dari ambang pintu, dengan sudut bibir yang terangkat. “Sampai Ayana bilang boleh pindah.”
“Aku bilang boleh!”
“Belum,” katanya. “Kamu belum bilang dengan bener.”
Dia menutup pintu.
Aku berbaring di ranjang sendirian, dengan bibir yang bengkak dan leher yang masih hangat dan jantung yang tidak mau pelan, dan menatap langit-langit.
Aku cinta kamu. Makanya belum.
Aku membenamkan wajah di bantal dan berteriak tanpa suara.
Lalu aku tertawa. Lalu aku menangis sedikit. Lalu aku tertawa lagi.
Laki-laki itu. Ya Tuhan. Laki-laki itu.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema reading
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog