← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Forty Three

Ulang Tahun yang Diulang

POV: Ayana

Kuenya gagal dua kali lagi.

Bukan karena aku lupa resepnya. Resepnya kutulis di balik kalender dapur dengan spidol merah, sejak pertama kali aku memanggangnya. Kue cokelat dua lapis, krim keju, taburan kacang kenari. Aku hafal takarannya. Aku hafal suhu ovennya.

Kuenya gagal karena tanganku gemetar.

Percobaan pertama, aku memasukkan gula dua kali. Percobaan kedua, aku lupa menyalakan oven dan baru sadar empat puluh menit kemudian, waktu adonannya masih cair dan dingin di dalam loyang, seperti aku.

“Teh,” kata Ujang dari ambang pintu dapur. Dia memegang tangga lipat dan segulung lampu kecil. “Teh, tarik napas. Ieu mah ngan ukur kueh.”

(Teh, tarik napas. Ini cuma kue.)

“Ini bukan cuma kue, Jang.”

Ujang menatapku. Lalu dia meletakkan tangga lipat dan lampu kecil di lantai, masuk ke dapur, dan mengambil mangkuk adonan dari tanganku.

“Muhun,” katanya pelan. “Abdi terang. Ieu sanés ngan ukur kueh.”

(Iya. Saya tahu. Ini bukan cuma kue.)

Kami memanggang percobaan ketiga bersama. Ujang mengukur. Aku mengaduk. Dan waktu kue itu keluar dari oven, mengembang sempurna, wanginya memenuhi seluruh rumah sampai Detik turun dari atas kulkas untuk pertama kalinya hari itu, Ujang dan aku berdiri di depan loyang dan tidak bilang apa-apa.

Lalu Ujang mengusap matanya dengan lengan kaus.

“Kebul,” katanya. “Kebul oven.”

(Asap. Asap oven.)


Orang-orang yang sama.

Itu syaratku. Pesta yang sama. Orang yang sama, ditambah siapa pun yang malam itu seharusnya ada. Dekorasi yang sama.

Balon-balon hijau tua dan cokelat, warna kemeja flanel. Lampu-lampu kecil dari pohon jambu, digantung melingkar di atas jendela. Spanduk dari kertas karton dengan huruf-huruf yang ditempel satu per satu: SELAMAT ULANG TAHUN MAS PUTRA. Gendis menemukannya di gudang, terlipat di bawah kardus, dengan huruf M yang sudah copot. Dia menempelkannya lagi dengan selotip dan bilang, “Biar autentik.”

Gendis datang dengan kacamata kuning dan dress hijau yang dia akui dibeli khusus “biar matching sama balon”. Tiara datang dengan Bang Fikri dan Bima di gendongan, tiga minggu umurnya, tidur sepanjang acara dengan mulut terbuka. Ema datang dengan rantang berisi nasi liwet dan peda. Bu Yayah datang dengan geng kompleks, empat ibu-ibu dengan kerudung warna senada dan ekspresi orang yang tidak mau ketinggalan gosip apa pun.

Dan Putra.

Putra pulang dari toko jam setengah tujuh, seperti malam itu. Membuka pintu depan, seperti malam itu.

Semua orang berteriak SURPRISE! Persis seperti malam itu.

Dan dia berdiri di ambang pintu dengan kemeja flanel hijau tua, tas kecil di bahu, kacamata sedikit melorot, dan wajah yang sama persis. Kaget. Lalu merah. Lalu merah sampai ke telinga.

Tapi kali ini, waktu matanya mencariku di antara balon-balon dan ibu-ibu kompleks, aku tidak berdiri di dekat jendela dengan ponsel di tangan.

Aku berdiri tepat di depannya.

“Selamat ulang tahun, Mas,” kataku.

Dia menatapku. Matanya sudah basah, padahal acaranya belum mulai.

“Ulang tahunku udah lewat dua bulan, Ay.”

“Belum,” kataku. “Lilinnya belum ditiup bareng aku. Jadi belum.”


Jam tujuh, aku melakukan sesuatu yang sudah kurencanakan sejak seminggu lalu.

Aku berdiri di tengah ruang tengah. Di depan meja makan dengan kue cokelat dua lapis dan lilin angka 3 dan 1. Aku mengetuk gelas teh manisku dengan sendok sampai semua orang diam.

Lalu aku mengangkat ponselku tinggi-tinggi.

“Malam itu,” kataku, “ponsel ini bunyi jam tujuh lewat dua puluh. Dan aku pergi.”

Ruangan hening. Bu Yayah berhenti mengunyah peda.

“Malam ini,” kataku, “aku nggak mau ada kemungkinan apa pun. Siapa pun yang nelepon, jam berapa pun, ada kabar apa pun. Kalau penting banget, telepon Gendis.”

“Kenapa gue?” protes Gendis.

“Karena kamu satu-satunya yang punya nomor semua orang,” kataku. “Termasuk nomor yang baru.”

Gendis langsung merah. Tiara menatapnya dengan mata menyipit. “Nomor baru siapa, Ndis?”

“Bukan siapa-siapa! Lanjut, Ay! Lanjut!”

Aku menekan tombol samping ponselku. Lama. Sampai layarnya bertanya, Matikan? Aku menekan Matikan. Layarnya gelap.

Lalu aku memberikan ponsel mati itu ke Ema.

“Ema, titip ya. Sampe besok pagi.”

Ema menerima ponsel itu dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang berharga. Lalu dia memasukkannya ke dalam kutang.

“Aman,” katanya. “Moal aya nu wani nyokot ti dieu.”

(Aman. Nggak bakal ada yang berani ngambil dari sini.)

Semua orang tertawa. Geng Bu Yayah tertawa paling keras.

Tapi waktu aku menoleh ke Putra, dia tidak tertawa. Dia berdiri di dekat meja makan dan menatapku. Dengan wajah seperti laki-laki yang baru saja melihat seseorang mengembalikan sesuatu yang dia kira sudah hilang selamanya.

Aku berjalan ke arahnya, dan menggandeng tangannya, dan tidak melepaskannya lagi sepanjang malam.


Ujang yang mulai menangis duluan.

Bukan waktu tiup lilin. Sebelumnya. Waktu Bang Fikri, yang tidak tahu apa-apa, bertanya dengan polos sambil menggendong Bima, “Eh, emang malam itu kenapa? Kok diulang?”

Ruangan hening lagi.

Aku membuka mulut. Tapi Ujang yang bicara duluan.

“Malam éta,” katanya. Suaranya sudah pecah. “Malam itu, Teh Ayana pergi ke pool travel. Akang yang nganter.”

Putra menegang di sebelahku. “Jang.”

“Abdi kedah nyarios, Kang.” Ujang menatap Putra dengan mata merah. “Sakali ieu wungkul. Abdi hoyong sadayana terang.”

(Saya harus ngomong, Kang. Sekali ini aja. Saya pengen semua orang tahu.)

Putra diam.

Ujang menatap semua orang. Lalu menatapku.

“Abdi milu,” katanya. “Saya ikut. Duduk di depan, di sebelah Akang. Teh Ayana di jok belakang. Nggak ngomong. Ngeliatin hp terus.” Dia menelan ludah. “Teh Ayana turun di pool. Lari ke warung kopi. Nggak noleh.”

Aku memejamkan mata.

“Terus Akang diem di mobil. Lama. Terus Akang nunduk ke setir.” Suara Ujang hilang sebentar. “Akang nggak bersuara. Cuma bahunya. Gerak-gerak. Lama banget. Saya belum pernah liat Akang kayak gitu. Waktu Aki meninggal juga nggak kayak gitu.”

Mama menutup mulutnya dengan tangan. Ema menunduk.

“Tangannya gemeter,” lanjut Ujang. “Nggak bisa nyalain mobil. Jadi saya yang nyetir pulang. SIM saya baru tiga bulan. Saya ngerem kedalaman terus.” Dia tertawa, basah. “Tapi pas Akang ngasih kunci ke saya, sebelum pindah ke kursi sebelah, Akang nanya satu hal.”

Dia menatap Putra.

“Akang nanya, Jang, tadi Teh Ayana bawa jaket nggak? Di bus dingin.”

Aku tidak bisa bernapas.

Aku tahu Ujang yang menyetir. Ujang sudah cerita, di malam aku membaca Kartu Servis. Aku tahu Putra menunduk ke setir. Aku tahu dia tidur di sofa dengan kue yang utuh. Aku tahu dia mengirim pesan, jangan cerita ke Teteh.

Tapi aku tidak tahu kalimat itu.

Tadi Teh Ayana bawa jaket nggak? Di bus dingin.

Di malam aku meninggalkannya di ulang tahunnya sendiri, dengan tangan yang tidak bisa menyalakan mobil, yang dia khawatirkan adalah aku kedinginan.

Aku menoleh ke Putra. Dia tidak menatapku. Dia menatap lantai. Telinganya merah. Matanya basah.

“Ujang lebay,” katanya pelan. “Bahuku nggak gerak-gerak lama.”

“Lami, Kang!” Ujang menangis sekarang, terang-terangan, dengan ingus. “Lami pisan! Sapertos mesin cuci!”

(Lama, Kang! Lama banget! Kayak mesin cuci!)

Gendis tertawa sambil menangis. Tiara tertawa sambil menangis. Bima terbangun dan ikut menangis, dan tidak ada yang tahu dia menangis karena terharu atau karena kaget.

Aku tidak tertawa.

Aku berdiri di depan Putra. Aku mengangkat kedua tanganku dan menangkup wajahnya, dan memaksanya menatapku.

“Mas,” kataku. Di depan semua orang. “Aku sedih.”

Dia menatapku.

“Aku sedih banget. Sekarang. Denger itu.” Air mataku jatuh. “Dan itu bagus. Itu harus. Aku harus sedih buat itu. Itu bagian aku. Kamu nggak boleh nyimpen bagian aku.”

Dia tidak bisa bicara.

“Inget kartu servisnya,” bisikku. “Nggak boleh lagi.”

Dia mengangguk. Sekali. Pelan.

Lalu Bu Yayah, dari sofa, dengan suara yang sangat keras dan sangat serak: “Udah, udah! Tiup lilinnya! Ibu-ibu udah pada laper! Saya udah nangis tiga kali, maskara saya udah ke dagu!”


Kali ini koreknya ada. Aku membelinya sendiri, dua kotak, dan menyimpannya di saku gaunku sejak sore.

Aku menyalakan lilin angka 3. Lalu lilin angka 1.

Lilin 3 tidak jatuh kali ini. Aku menancapkannya dalam-dalam dengan jari, sampai krim kejunya menggunung di sekitarnya.

Semua orang menyanyi. Ema dalam bahasa Sunda, Mama dalam logat Bekasi, geng Bu Yayah dalam tiga nada berbeda. Gendis merekam. Tiara mengangkat tangan Bima dan menggoyangkannya seperti kipas.

Putra berdiri di depan kue, dengan topi kerucut miring yang dipaksakan Gendis ke kepalanya. Dia menatap lilin itu. Lalu menatapku.

“Doa dulu,” bisikku.

Dia memejamkan mata. Lama. Lebih lama dari doa biasa.

Lalu dia membuka mata dan meniup lilinnya.

Dan untuk pertama kalinya, malam itu benar-benar selesai.


Hadiahku ada di meja kecil di pojok ruang tengah, ditutup kain beludru biru tua.

Sorenya, Ujang dan aku menyelundupkan sesuatu dari toko di Braga dengan mobil hijau tua. Bangku tinggi Aki. Lampu meja yang lehernya bisa ditekuk. Kotak perkakas kayu yang berisi pinset, obeng-obeng kecil, loupe, kuas, dan botol-botol minyak sekecil jari kelingking. Ujang menatanya di atas meja kecil itu, persis seperti di toko, dan bilang, “Kang Putra apal posisina. Lamun salah sasenti, anjeunna terang.”

(Kang Putra hafal posisinya. Kalau salah satu senti, dia tahu.)

Waktu tamu-tamu sudah duduk dengan piring nasi liwet di pangkuan, aku menarik tangan Putra ke pojok itu. Dan aku membuka kain beludru.

Dia melihat meja itu. Lampu. Kotak perkakas. Bangku tinggi Aki.

Dan di tengahnya, di atas kain lap putih, jam saku Aki. Tutupnya terbuka. Mesinnya diam.

Di sebelahnya, kotak kecil berwarna merah. Aku membukanya. Di dalamnya, rantai perak baru. Tipis. Berkilat. Panjangnya pas.

“Ini dari aku sama Ujang,” kataku. “Rantainya. Kami pesen di tukang perak di Cibaduyut. Ujang yang ngukur panjangnya dari foto lama Aki.”

Putra menatap rantai itu.

“Dan ini,” aku menyentuh jam saku itu, “dari Ayana yang dulu.”

Aku mengambil kertas kecil dari saku gaunku. Kertas yang terlipat, yang dia temukan di dasar kotak kayu di malam dia menangis untuk pertama kalinya di depanku. Aku membacanya keras-keras.

“Mesinnya mati. Aku sengaja nggak benerin. Biar kamu yang benerin. Biar tangan kamu yang pertama nyentuh dalemnya, kayak Aki dulu.”

Aku melipat kertas itu lagi.

“Dia nunggu setahun buat ngasih ini ke kamu, Mas,” kataku. “Terus nunggu dua bulan lagi. Jangan bikin dia nunggu lebih lama.”

Dia menatapku lama.

Lalu dia duduk di depan meja kecil itu. Menyalakan lampu. Menarik bangku tinggi Aki ke sebelahnya, dan menepuknya.

“Asisten,” katanya. Suaranya serak. “Duduk.”


Aku tidak tahu apa-apa soal jam.

Tapi aku tahu cara memegang lampu supaya cahayanya jatuh tepat di tempat yang dia tunjuk. Aku tahu cara memberikan pinset dengan ujung menghadap ke bawah, karena dia pernah mengajariku itu di malam lain di toko, waktu aku pikir aku sedang belajar dari orang asing. Aku tahu cara diam.

Dia bekerja dengan loupe di mata kanan. Tangannya tidak gemetar. Jari-jarinya bergerak di dalam mesin kecil itu seperti orang yang membelai sesuatu yang sedang tidur.

Pelan-pelan, ruang tengah berubah. Tamu-tamu berhenti bicara. Satu per satu, mereka berkumpul di sekeliling meja kecil itu. Ema di kursi terdekat, dengan tangan di dada. Mama di belakangnya. Gendis berhenti merekam. Bahkan geng Bu Yayah berbisik.

“Per utamanya udah lemes,” gumam Putra, tidak kepada siapa-siapa. “Umurnya enam puluh tahun. Nggak apa-apa. Masih bisa.”

“Pinset yang kecil,” katanya.

Aku memberikannya.

“Minyak. Yang botol biru.”

Aku memberikannya.

“Ay.”

“Hm?”

“Lampunya. Sedikit ke kiri.”

Aku menggeser lampunya. Bahuku menempel di bahunya. Dia tidak menyuruhku bergeser.

Satu jam. Lalu satu jam lagi. Bima tertidur lagi. Bu Yayah menguap. Ujang duduk di lantai di dekat kaki Putra, persis seperti anak umur dua belas tahun di foto berbingkai itu, menatap dengan mulut terbuka.

Lalu Putra memasang satu roda kecil terakhir. Memutar mahkota pemutar yang bentuknya seperti bawang. Satu kali. Dua kali.

Dan jam saku Aki berdetak.

Tik.

Pelan. Hampir tidak terdengar.

Tik. Tik. Tik.

Ema mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya. Seperti suara orang yang memanggil nama seseorang yang sudah lama pergi.

Putra mengangkat jam itu dari meja. Dia memasang rantai perak baru, dengan tangan yang sekarang, baru sekarang, sedikit gemetar. Lalu dia berbalik dan memberikan jam itu ke Ema.

Ema menggenggamnya dengan dua tangan. Dia mendekatkannya ke telinga. Dia memejamkan mata dan mendengarkan.

“Aki,” bisiknya. “Ieu sorana Aki.”

(Aki. Ini suaranya Aki.)

Tidak ada yang tidak menangis di ruangan itu. Bahkan Bu Yayah. Bahkan Detik, kurasa, di atas kulkas, walaupun kucing tidak bisa menangis, dan kalaupun bisa, Detik tidak akan mau ketahuan.


Ema mengembalikan jam itu ke Putra.

“Nu anjeun,” katanya. “Ti pamajikan anjeun. Pasang jamna.”

(Ini punya kamu. Dari istri kamu. Pasang jamnya.)

Putra membuka tutup jam saku itu untuk mencocokkan waktunya. Dia melirik jam tangannya sendiri.

Lalu dia membeku.

Aku melirik jam tanganku. Jam tangan perak kecil dengan tali kulit cokelat. Jam yang berhenti di 21.47 di malam kecelakaan. Jam yang dia perbaiki semalaman di malam keduaku di rumah ini, waktu aku masih memanggilnya Mas Putra dan mengira dia orang asing.

Jarum panjangnya baru saja bergeser.

21.47.

Aku tidak merencanakan ini. Aku bersumpah aku tidak merencanakan jamnya. Aku merencanakan kata-katanya. Tapi bukan jamnya.

Atau mungkin aku merencanakannya, dulu, di kehidupan yang lain, waktu aku menyatakan cinta empat puluh tujuh kali kepada laki-laki ini, dan alam semesta mencatatnya.

Aku turun dari bangku tinggi Aki.

Aku berdiri di depannya. Dia masih duduk, jadi untuk pertama kalinya, aku sedikit lebih tinggi darinya.

Aku tidak berlutut. Aku tidak mengeluarkan kotak cincin. Aku cuma memegang tangannya. Tangan yang baru saja menghidupkan jam Aki.

“Aku cinta kamu, Putra Adiwangsa,” kataku.

Ruang tengah sunyi. Hanya jam saku Aki yang berdetak.

“Ini ajakan ke-empat puluh delapan,” kataku. “Nikah lagi sama aku.”

Dia menatapku. Bibirnya terbuka. Tidak ada suara yang keluar.

Lalu Ema, dari kursinya, berbisik sangat keras: “Jawab, budak.”

(Jawab, Nak.)

Putra tertawa. Basah. Pecah.

“Iya,” katanya. “Iya. Iya. Seribu kali iya.”

Semua orang bersorak. Gendis menjerit. Ujang memeluk kaki Putra. Bima terbangun lagi.

Dan di tengah semua keributan itu, aku mencondongkan badan ke telinganya dan berbisik:

“Mas. Cincinku yang aku titip. Aku mau ambil.”

Dia menatapku. Lalu tangannya bergerak ke saku kiri kemeja flanelnya. Saku yang selama ini selalu ada isinya.

Dia mengeluarkan cincin itu. Emas putih. Polos. Ada ukiran di dalamnya yang belum pernah kubaca, karena dulu aku melepasnya di wastafel di hari ketiga tanpa melihatnya.

Aku membaca ukirannya sekarang.

P · A · 06.11

Dia mengulurkan cincin itu padaku.

Aku menggeleng.

“Bukan kamu yang pasangin,” kataku. “Aku yang ambil. Aku yang pake. Sendiri. Biar tanganku yang inget, aku yang milih.”

Aku memasang cincin itu di jari manisku. Pas. Seperti tidak pernah dilepas.

Lalu aku memegang tangan kirinya. Tangan dengan cincin yang sama, yang tidak pernah dia lepas sekali pun selama dua bulan ini. Bahkan di Sabtu-Sabtu itu.

Aku melepasnya dari jarinya. Pelan. Dia membiarkanku.

Lalu aku memasangkannya kembali.

“Yang di akad,” bisikku, “aku yang masangin juga, kan?”

Dia mengangguk. Dia tidak bisa bicara.

“Aku nggak inget,” kataku. “Jadi aku ulang. Biar aku punya juga.”


Tamu-tamu pulang jam sebelas. Ema pulang terakhir, dengan ponselku masih di dalam kutangnya, dan menolak mengembalikannya. “Isukan,” katanya. “Sakumaha jangji.”

(Besok. Sesuai janji.)

Rumah sunyi. Balon-balon hijau dan cokelat mulai mengempis. Lampu-lampu kecil dari pohon jambu masih menyala di atas jendela. Di meja kecil di pojok, jam saku Aki tergeletak di atas kain lap putih, dengan rantai perak barunya, berdetak.

Putra berdiri di tengah ruang tengah dan memandang semuanya. Kue yang tinggal separuh. Spanduk dengan huruf M yang diselotip. Bangku tinggi Aki.

Aku berdiri di tangga. Anak tangga ketiga.

“Put,” panggilku.

Dia menoleh. Telinganya langsung merah. Aku jarang memanggilnya begitu. Hanya kalau aku sedang berniat jahat.

Aku tidak naik ke kamar. Aku naik ke loteng.

Studio kecilku. Di bawah atap miring, dengan jendela bundar yang menghadap ke pohon jambu. Lantainya penuh tumpukan bantal dan selimut, karena aku lebih suka menggambar sambil tengkurap. Di dinding, puluhan gambar ditempel dengan selotip. Beruang kentang. Gajah yang takut tikus. Dan, di bagian yang tidak pernah dia lihat, karena aku melarangnya naik selama dua minggu terakhir, gambar-gambar baru.

Tangannya memegang obeng kecil.

Punggungnya, di balik meja kerja Aki, di bawah lampu.

Wajahnya, tidur di sofa abu-abu, dengan Detik di perutnya.

Wajahnya, tertawa, kepala sedikit mendongak, di trotoar Braga, di bawah hujan.

Dia berdiri di ambang pintu loteng dan melihat semuanya. Lama.

“Ini…” Suaranya hilang.

“Ini kamu,” kataku. “Selama dua minggu ini aku gambar kamu. Pake mata kebuka.”

Aku berdiri di tengah tumpukan bantal, di bawah jendela bundar. Lampu jalan masuk lewat kaca, oranye dan redup, jatuh di bahuku yang terbuka. Gaun yang kupakai malam ini berwarna krem, dengan tali tipis di bahu, dan aku memilihnya karena aku tahu matanya akan berhenti di tali itu.

Matanya berhenti di tali itu.

Aku tersenyum. Lesung pipi kiri.

“Sini, Sayang,” kataku.

Dia membeku di ambang pintu. Aku belum pernah memanggilnya begitu. Aku melihat kata itu menghantamnya. Aku melihat lututnya hampir menyerah.

Lalu dia masuk. Menutup pintu loteng di belakangnya.

Aku mengulurkan tangan, dan menariknya turun ke tumpukan bantal, di antara gambar-gambar dirinya sendiri, di bawah jendela bundar dengan lampu jalan oranye.

Di bawah, di ruang tengah, jam saku Aki berdetak.

Tik. Tik. Tik.

Tidak telat. Tidak lagi.