← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Thirty Three

Rahasia Mama

POV: Ayana

Aku tidak tidur malam itu.

Aku duduk di lantai di balik pintu depan, punggung bersandar ke kayu yang catnya mengelupas, sampai lama setelah bunyi kursi plastik di teras berhenti berderit. Sampai lama setelah langkahnya menjauh. Sampai lama setelah bunyi mesin mobil tua di mulut gang menyala, lalu menjauh, lalu hilang ditelan bunyi motor dan tukang nasi goreng dan anjing tetangga.

Aku cinta kamu, Ayana. Yang ini. Dari hari kedua.

Yang ini.

Aku memeluk lututku dan menangis tanpa suara sampai langit di balik gorden kuning pudar berubah dari hitam ke abu-abu.

Lalu, waktu azan subuh terdengar dari masjid di ujung gang, aku berdiri. Kakiku kesemutan. Aku memegang gagang pintu.

Aku membukanya.


Teras kosong.

Kursi plastik biru masih di sana, sedikit miring, di posisi yang sama, didorong ke dekat pintu. Gelas teh kosong di lantai. Obat nyamuk bakar yang sudah habis jadi abu melingkar. Botol lotion anti nyamuk yang tinggal seperempat.

Dan di atas keset bertuliskan SELAMAT DATANG yang sudah pudar, dua jam tangan.

Bersebelahan. Rapi. Seperti diletakkan dengan sangat hati-hati di bawah lampu teras.

Jamku. Tali kulit cokelat muda. Permukaan putih kecil dengan angka romawi. Aku berlutut dan memungutnya. Jarumnya bergerak. Tik. Tik. Tik. Per-nya penuh.

Nggak usah diputer lagi, Mas.

Dia memutarnya. Tiga hari. Setiap pagi.

Dan di sebelahnya, jam yang lain.

Tali kulit hitam. Permukaan biru tua. Sederhana tapi cantik. Jam yang selalu ada di pergelangan tangan kirinya. Yang dia pakai waktu aku bangun di rumah sakit. Yang dia pakai waktu menyetir ke Jakarta lima Sabtu. Yang dia pakai waktu duduk di atas kap mobil di parkiran Dago, waktu memperbaiki jam tangan Reno semalaman, waktu tertidur di sofa menghadap pintu.

Jam yang, kata Mama di hari pertama, kamu yang beliin, Yana, itu mahar kalian.

Jam yang tidak pernah dia lepas.

Di bawah dua jam itu, secarik kertas. Sobekan dari buku kecil bersampul kulit cokelat. Aku mengenali kertasnya. Tulisan kecil dan tegak.

Jam kamu udah kuputer. Biar nggak telat pulang.

Jamku kutitip. Dulu kamu titip cincin ke aku lima Sabtu. Sekarang gantian.

—P.

Aku duduk di lantai teras, di atas keset, dengan dua jam tangan di pangkuanku. Satu berdetak. Satu lagi, jam miliknya, juga berdetak. Pelan. Rata. Sempurna.

Lima Sabtu aku mengulurkan cincin ke telapak tangannya tanpa berkata apa-apa. Lima Sabtu dia memasukkannya ke saku kiri, dekat jantung, dan menekan sakunya sekali, memastikan tidak akan jatuh.

Sekarang dia menitipkan jamnya padaku.

Aku menekan jam itu ke dadaku. Ke kiri. Ke tempat jantungku berdebar terlalu keras.


“Yana.”

Mama berdiri di ambang pintu. Daster batik. Rol rambut yang sudah setengah lepas. Mata merah dan bengkak, lebih bengkak dari mataku.

Dia menatapku yang duduk di keset dengan dua jam di dada.

“Masuk,” katanya. “Mama bikin teh.”

“Ma—”

“Dia lepasin janjinya,” kata Mama.

Aku membeku.

“Semalem,” kata Mama. Suaranya bergetar. “Dia ngetuk jendela dapur. Dia bilang, cerita aja, Ma. Semuanya. Aku lepasin janjinya.” Mama menelan ludah. “Dia bilang dia nggak bisa ngomong. Dia udah coba tiga malem. Dia bilang Mama yang bisa.”

Aku tidak bisa bicara.

“Masuk, Yana.” Mama mengulurkan tangan. “Duduk. Mama mau cerita. Dari awal.”


Mama menyalakan kompor dan menggoreng tempe.

“Mama cuma bisa masak tempe kalau lagi sedih,” katanya, tanpa menoleh, waktu aku bertanya kenapa jam lima pagi. “Dari dulu. Waktu Papa meninggal, Mama goreng tempe sebulan.”

Aku duduk di meja makan yang kecil, di bawah lampu neon yang berkedip. Dua jam tangan di depanku. Teh manis di cangkir motif bunga.

Mama meletakkan sepiring tempe goreng di antara kami dan duduk. Dia memegang tanganku di atas meja. Tangannya hangat dan sedikit berminyak.

“Kamu inget waktu Reno mutusin kamu?” tanyanya.

“Inget, Ma. Itu yang paling aku inget.”

“Kamu nangis tiap malem. Nelepon Mama jam dua pagi. Nggak mau makan. Dua minggu. Mama sampe mau ke Jakarta jemput kamu.” Mama mengusap punggung tanganku dengan ibu jari. “Terus sebulan kemudian, kamu nelepon Mama dari Bandung. Kamu bilang kamu kabur ke Bandung buat weekend. Biar nggak lewat Kemang. Kamu bilang kamu beli jam di Cihapit terus jatuh, terus kamu bawa ke tukang jam di Braga.”

Aku menatap jam kecil bertali kulit cokelat muda di meja.

“Malem itu kamu nelepon Mama lagi,” kata Mama. “Dan kamu nggak nangis. Pertama kali dalam sebulan, kamu nggak nangis. Kamu cerita soal tukang jam itu. Katanya ganteng. Katanya nggak ngomong apa-apa. Katanya tangannya bagus banget.” Mama tersenyum. Matanya basah. “Kamu bilang, Ma, aku mau ngajak dia nonton.”

“Dan dia nolak,” bisikku.

“Dia nolak.” Mama mengangguk. “Minggu depannya kamu ke Bandung lagi. Ngajak lagi. Ditolak lagi. Terus minggu depannya lagi. Terus lagi. Tiap Sabtu malem kamu nelepon Mama. Ma, ditolak lagi! Yang ketujuh! Ma, yang kedua belas! Tapi nasinya dimakan! Ma, yang kesembilan belas, aku bilang suka di depan anak magangnya, anaknya jatuh dari kursi!”

Mama tertawa. Air matanya turun.

“Kamu ketawa terus tiap nelepon, Yana. Padahal ditolak. Mama nggak ngerti. Mama pikir kamu udah gila. Mama pikir kamu pelarian dari Reno, nyari cowok lain buat ngelupain dia.”

“Mungkin emang iya, Ma.”

“Itu yang dia pikir juga.”

Aku mengangkat kepala.

Mama menatapku lurus. Ibu jarinya berhenti di punggung tanganku.

“Dia nolak kamu bukan karena dia nggak suka, Yana,” kata Mama. Pelan. Satu kata per satu kata. “Dia nolak kamu karena kamu baru putus. Karena dia liat mata kamu bengkak di hari pertama kamu masuk ke tokonya. Karena dia nggak mau jadi tempat pelarian kamu. Dia nggak mau kamu milih dia cuma buat ngelupain Reno.”

Napasku berhenti.

“Mama tahu karena dia yang bilang,” lanjut Mama. “Setahun kemudian. Waktu dia dateng ke sini. Ke rumah ini. Sendirian. Naik travel dari Bandung. Duduk di kursi plastik biru itu, di teras, yang semalem dia dudukin.”

Aku menatap pintu depan. Ke teras di baliknya. Ke kursi plastik biru yang miring.

“Dia minta restu,” kata Mama. “Dia gemeteran. Tangannya dingin kayak es. Dia bilang, Bu, saya nolak Ayana empat puluh enam kali. Bukan karena saya nggak mau. Karena saya takut dia cuma lari dari orang lain. Saya nunggu sampai dia nggak nyebut nama orang itu lagi. Sampai dia dateng ke toko saya bukan buat lari, tapi buat dateng. Yang keempat puluh tujuh, saya bilang iya, karena saya yakin dia udah nggak lari.”

Aku menutup mulut dengan dua tangan.

“Terus dia bilang satu hal lagi,” kata Mama. Suaranya pecah. “Dia bilang, Bu, saya liat dia nangis di depan etalase toko saya karena laki-laki lain. Saya janji, saya nggak akan pernah bikin dia nangis kayak gitu.”


Aku tidak tahu berapa lama aku menangis di meja makan Mama.

Mama tidak menyuruhku berhenti. Dia memegang tanganku. Dia menggoreng tempe lagi, piring kedua, yang tidak dimakan siapa-siapa. Di luar, gang sempit itu mulai ramai. Motor lewat. Tukang sayur berteriak. Bu Endang menyapu teras sebelah dengan sapu lidi, keras, sambil melirik-lirik ke jendela dapur Mama.

Di tengah-tengah, jendela dapur diketuk. Bu Endang. Wajahnya menempel di kaca, dengan sapu lidi masih di tangan dan rol rambut warna-warni di kepala.

“Bu Ratih,” bisiknya keras. “Itu anaknya kenapa nangis? Mantunya yang semalem itu bikin ulah?”

“Bukan, Bu,” jawab Mama tanpa menoleh. “Anak saya yang bikin ulah.”

Bu Endang mengedip. Dia menatapku. Lalu menatap tempe goreng di meja.

“Oh.” Dia diam sebentar. “Tempenya kebanyakan, Bu? Saya mau dua.”

Mama membuka jendela, menyerahkan dua potong tempe di atas selembar tisu, lalu menutupnya lagi. Bu Endang pergi sambil mengunyah, dan aku tertawa di sela tangisku, tawa basah yang membuat Mama ikut tersenyum.

Lalu, waktu tangisku mulai reda, Mama bicara lagi. Lebih pelan.

“Yana. Ada satu hal lagi. Yang paling penting.”

Aku mengangkat kepala.

“Kemarin,” kata Mama, “waktu kamu bangun dan lupa, kamu baru putus dari Reno lagi. Di kepala kamu. Persis kayak tiga tahun lalu.”

Aku membeku.

“Dan kamu ngejar Reno,” kata Mama. “Persis kayak dulu kamu ngejar dia. Tiap Sabtu. Ke Jakarta. Bawa harapan. Pulang sambil ketawa.”

Dunia berhenti.

“Dia tahu, Yana,” bisik Mama. “Dia tahu. Dia liat semuanya. Polanya sama. Kamu ngelakuin ke Reno apa yang dulu kamu lakuin ke dia. Dan dia…” Mama menutup mata. “Dia nganter kamu tiap Sabtu.”

Lucu ya, Ay. Lucu banget.

Aku tidak tahu dari mana kalimat itu datang. Aku tidak pernah mendengarnya. Tapi kalimat itu muncul di kepalaku, dengan suara yang tenang dan dalam, dan aku tahu, entah bagaimana aku tahu, dia pernah memikirkan kalimat itu. Sendirian. Di sofa. Di malam-malam yang tidak kulihat.

“Dulu dia nyuruh aku pergi,” bisikku. “Karena aku baru patah hati.”

“Iya.”

“Kemarin aku patah hati lagi. Di kepala aku. Gara-gara Reno lagi.”

“Iya.”

“Dan kali ini dia nggak nyuruh aku pergi.”

Mama menggeleng. Pelan.

“Dia nganter aku,” kataku. Suaraku hancur. “Dia nganter aku ke tempat aku mau pergi.”


“Foto-foto itu,” kata Mama setelah lama. “Di gudang.”

Aku menatapnya.

“Dia nelepon Mama dari rumah sakit. Hari keempat. Sehari sebelum kamu bangun.” Mama mengusap matanya dengan ujung daster. “Dokter bilang ada kemungkinan kamu lupa sebagian. Dia nelepon Mama, dan dia bilang, Ma, kalau Ayana bangun dan lupa, foto-fotonya saya turunin semua, ya. Biar dia nggak ngerasa harus jadi orang di foto itu. Biar dia bisa jadi siapa aja yang dia mau di rumah itu.”

Aku menatap meja.

“Cuma foto nikahan yang dia biarin,” kata Mama. “Karena katanya, itu satu-satunya bukti yang bisa dia liat kalau dia nanya. Yang lain, biar dia nemuin sendiri, kalau dia mau.”

Museum, pikirku. Aku mengira itu museum. Aku mengira dia menyembunyikan dia di kardus air mineral supaya bisa menatapnya diam-diam.

Bukan.

Dia menyembunyikan dia supaya aku bebas.

“Ma,” kataku. “Sidik jarinya. Di kaca foto gaun hijau. Dia buka kardus itu. Dia… dia megang foto itu lama banget.”

Mama menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum yang sangat sedih dan sangat lembut.

“Yana,” katanya. “Kamu pikir dia kangen siapa?”

“Dia. Aku yang dulu.”

“Iya,” kata Mama. “Dia kangen kamu yang dulu. Tentu aja dia kangen. Dua tahun, Yana. Dua tahun nikah, setahun pacaran. Semua yang kalian punya, cuma dia yang inget sekarang. Kamu pikir dia nggak boleh kangen?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kangen sama yang dulu bukan berarti nggak cinta sama yang sekarang,” kata Mama. “Mama kangen Papa tiap hari. Tapi Mama tetep sayang sama kamu, sama hidup Mama yang sekarang. Dua-duanya bisa ada.”

Dua-duanya ada. Kata-katanya di malam di tepi ranjang. Aku bisa liat. Di mata kamu. Dua-duanya ada.


Mama berdiri dan mulai membereskan piring. Piring tempe yang tidak dimakan. Cangkir teh yang sudah dingin.

“Kamu nggak harus pulang hari ini,” katanya, membelakangiku, di depan wastafel. “Dia juga bilang gitu. Dia bilang, kalau habis tahu semuanya dia tetep nggak mau pulang, ya udah.”

Ya udah.

“Pikirin dulu,” kata Mama. “Mama nggak mau kamu pulang karena kasihan. Dia juga nggak mau. Dia bilang itu ke Ujang. Ujang yang cerita ke Gendis. Gendis yang cerita ke Mama. Semalem, jam dua belas, sambil nangis di telepon.” Mama berhenti. “Dia bilang, aku nggak mau dia pulang karena kasihan. Aku mau dia pulang karena dia mau.”

Aku menatap dua jam tangan di meja.

Jamku. Berdetak. Diputar tiga hari berturut-turut oleh laki-laki yang kusuruh berhenti.

Jamnya. Berdetak juga. Jam yang tidak pernah dia lepas. Dititipkan di keset Mama, di bawah lampu teras, jam satu pagi.

Aku memungut jam miliknya. Tali kulit hitam. Permukaan biru tua. Berat di telapak tanganku. Lebih berat dari jamku.

Aku membaliknya.

Tutup belakangnya baja polos. Ada empat lekukan kecil di pinggirnya, empat takik untuk alat pembuka. Persis seperti jam tangan Reno.

Dia buka tutup belakang jam ini. Ada ukirannya. Dari kamu.

Suara Reno. Di warung kopi di Pasteur. Malam ulang tahun Putra.

Mahar: alat salat dan jam tangan. Kebalik. Aku yang beliin dia.

Catatanku sendiri. Hari kedua di rumah itu. Di buku catatan interogasi.

Aku menatap tutup belakang jam itu. Empat takik kecil di pinggirnya.

Kalau aku memberikan jam pada Reno dengan ukiran di dalamnya, biar nggak telat lagi…

Apa yang kuukir di jam yang kuberikan pada suamiku sendiri, di hari aku menikahinya?

“Ma,” kataku. Suaraku aneh. “Di pasar ada tukang servis jam, nggak?”

Mama menoleh dari wastafel. Dia menatap jam di tanganku. Dia menatap wajahku.

Lalu, pelan-pelan, dia tersenyum.

“Pak Udin,” katanya. “Di depan Pasar Baru Bekasi. Pake payung gede warna oranye. Buka jam tujuh.”

Aku menatap jam dinding di atas kulkas Mama.

Jam enam lewat empat puluh tujuh.