← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Three

Istrimu Itu Aku, Kan?

POV: Ayana

Aku diizinkan pulang di hari keempat setelah bangun, dengan sekantong obat, jadwal kontrol dua minggu lagi, dan pesan dr. Hana yang diulang tiga kali: jangan dipaksa mengingat, Mbak. Biarkan saja datang sendiri.

Masalahnya, aku tidak tahu harus pulang ke mana.

“Ke rumah kamu, Yana,” kata Mama, seolah itu jawaban paling jelas di dunia.

“Rumah aku di Tebet, Ma. Kos-kosan Bu Darsih. Lantai dua, kamar paling ujung, yang jendelanya ngadep jemuran.”

Mama menatapku dengan wajah orang yang ingin menangis tapi sudah kehabisan air mata. “Kamu udah pindah dari situ tiga tahun lalu, Nak.”

“Pindah ke mana?”

Dan begitulah aku tahu bahwa aku sekarang tinggal di Bandung. Bukan di kos-kosan. Di rumah. Rumah dua lantai di sebuah kompleks bernama Sukaluyu, bersama laki-laki bernama Putra, seekor kucing, dan, menurut Mama, “pohon jambu yang kamu tanem sendiri”.

Aku tidak pernah menanam apa-apa seumur hidupku. Kaktus pemberian Tiara saja mati dalam dua minggu.


Laki-laki bernama Putra itu menyetir mobil tua berwarna hijau tua, sewarna kemeja flanelnya, dan aku duduk di kursi belakang bersama Mama karena aku menolak duduk di depan sebelah orang asing.

Dia tidak protes. Dia membukakan pintu belakang untukku, menunggu aku duduk, lalu menutupnya pelan sekali, seperti takut pintunya mengagetkanku.

Bandung pagi itu cerah. Langitnya biru tanpa noda, udaranya sejuk, jalanan dipenuhi pohon besar yang daunnya bergoyang malas. Kami melewati jalan-jalan yang, di kepalaku, cuma pernah kulihat sekali-sekali waktu liburan kantor. Gedung-gedung tua bercat putih. Kafe-kafe kecil dengan papan nama tulisan tangan. Anak-anak sekolah bersepeda.

Semuanya terlihat cantik dan asing, seperti kartu pos dari kota yang belum pernah kukunjungi.

“Ma,” bisikku. “Aku kerja di mana sekarang? Aku nggak mungkin kerja di Jakarta tapi tinggal di Bandung, kan? Aku nglaju? Tiap hari? Tiga jam?”

“Kamu udah nggak kerja di agensi, Yana.”

“HAH?”

Putra melirik dari kaca spion. Aku menurunkan suaraku.

“Aku dipecat?”

“Kamu resign.”

“Aku resign? Aku? Aku baru dapet promosi jadi senior AE bulan lalu, Ma! Aku ngejar itu dua tahun!”

“Itu tiga tahun yang lalu, Sayang.”

Aku menyandarkan kepala ke jendela mobil. Kaca jendelanya dingin dan menyenangkan di pelipisku yang masih berdenyut. Di luar, Bandung terus lewat seperti film yang diputar tanpa suara.

“Terus aku kerja apa?” tanyaku pelan. “Aku pengangguran? Aku dinafkahin suami? Aku ibu rumah tangga?” Aku menelan ludah. “Aku punya anak?”

“Nggak,” jawab Putra dari depan.

Itu kata pertama yang dia ucapkan sejak kami meninggalkan rumah sakit. Aku menatap belakang kepalanya.

“Nggak apa?”

“Nggak punya anak,” katanya, mata tetap ke jalan. “Kerjamu ilustrator. Buku anak. Kamu kerja di rumah.”

Ilustrator. Aku. Yang terakhir menggambar sesuatu di luar storyboard iklan sabun cuci adalah waktu SMA, dan gambarnya dapat nilai enam.

“Mas pasti salah orang,” kataku.

Putra tidak menjawab. Tapi aku melihat bahunya bergerak sedikit, naik dan turun, seperti orang yang menahan tawa.


Rumah itu ada di ujung jalan buntu yang tenang.

Pagar besi rendah bercat putih. Halaman kecil dengan rumput yang terlalu panjang. Pohon jambu air di pojok kiri, buahnya merah menggantung, beberapa jatuh dan dikerubungi semut. Rumahnya dua lantai, catnya hijau pucat, dengan jendela-jendela kayu besar dan sebuah loteng di atas yang jendelanya bulat seperti mata.

Di teras ada dua kursi rotan dan satu meja kecil. Di atas meja ada dua gelas kosong yang terbalik, seperti menunggu diisi.

Aku turun dari mobil dan berdiri di depan pagar. Lama.

“Yana?” Mama menyentuh lenganku.

“Ma,” kataku, “KENAPA AKU TINGGAL DI BANDUNG?!”

Seekor burung terbang dari pohon jambu. Di rumah sebelah, seorang ibu-ibu berdaster yang sedang menyiram tanaman menghentikan selangnya dan menatap kami dengan minat yang sangat besar.

“Teh Ayana!” serunya. “Udah pulang, Teh? Alhamdulillah! Kumaha, damang?”

(Teh Ayana! Udah pulang, Teh? Alhamdulillah! Gimana, sehat?)

Aku menatap ibu-ibu itu. Ibu-ibu itu menatapku dengan senyum lebar penuh kasih sayang.

“Ma,” bisikku tanpa menggerakkan bibir, “itu siapa?”

“Bu Yayah. Tetangga sebelah. Kamu sering dikasih pepes sama dia.”

“Damang, Bu!” seruku balik, dengan senyum terlebar yang bisa kuproduksi, sambil melambaikan tangan. “Makasih, Bu!”

Bu Yayah tersenyum makin lebar, lalu melirik Putra, lalu melirikku, lalu melirik Putra lagi. Ada sesuatu di lirikan itu. Sesuatu yang sangat ingin tahu.

Putra mengangguk sopan padanya, lalu membuka pagar untuk kami.


Bagian dalam rumah itu… hangat.

Itu kata pertama yang muncul di kepalaku. Hangat. Lantai kayu yang berderit di beberapa tempat. Sofa abu-abu besar yang kelihatan empuk dengan selimut rajut kuning tersampir di sandarannya. Rak buku yang penuh, bukan cuma buku tapi juga jam-jam tua, toples kaca berisi kancing, pot-pot kecil berisi tanaman yang masih hidup. Lukisan-lukisan kecil di dinding, gambar cat air, kucing, pohon, rumah, seorang laki-laki menunduk di atas meja kerja.

Dan foto-foto.

Foto pernikahan.

Aku berjalan pelan ke dinding di samping tangga, tempat foto-foto itu digantung berjajar. Foto paling besar ada di tengah, dalam bingkai kayu sederhana.

Perempuan dalam foto itu memakai kebaya putih. Rambutnya sebahu, disanggul kecil dengan melati di sisi kanan. Dia sedang tertawa. Bukan senyum foto, bukan senyum cheese, tapi tertawa betulan, mata menyipit, kepala sedikit mendongak, seperti seseorang baru saja mengatakan hal paling lucu di dunia.

Laki-laki di sebelahnya memakai beskap cokelat. Dia tidak melihat ke kamera. Dia melihat ke perempuan itu.

Aku menatap foto itu lama sekali.

Perempuan itu aku. Aku tahu itu aku. Itu lesung pipiku, itu hidungku, itu tahi lalat kecil di bawah telinga kiriku. Tapi aku tidak pernah tertawa seperti itu. Tidak di depan kamera. Tidak di depan siapa pun. Aku selalu terlalu sadar diri, terlalu sibuk memikirkan apakah gigiku kelihatan atau daguku berlipat.

Perempuan di foto itu tidak peduli.

Dan laki-laki di sebelahnya menatapnya seperti… seperti…

Aku tidak menemukan kata yang tepat. Aku tidak pernah ditatap seperti itu. Tidak oleh Reno, tidak oleh siapa pun.

Aku mengulurkan tangan dan mengangkat bingkai foto itu sedikit, mengintip ke balik bingkainya.

“Cari apa, Yana?” tanya Mama.

“Kamera tersembunyi.”

“Yana!”


Mama hanya bisa menginap satu malam. Arisan RT di Bekasi, katanya, dan dia bendaharanya, dan kalau dia tidak datang uang arisannya bisa dibawa kabur Bu Endang. Dia berjanji akan datang lagi minggu depan, dan menelepon setiap hari.

“Ma,” kataku di depan pintu keesokan paginya, sambil memegangi lengan bajunya seperti anak TK di hari pertama sekolah, “Mama tega ninggalin aku sama orang asing?”

“Itu suami kamu, Yana!”

“Itu orang asing yang ngaku-ngaku suami aku!”

“Udah ada buku nikahnya! Mama yang jadi saksi!” Mama mencium keningku, lalu dengan suara yang lebih pelan, dengan mata melirik ke arah dapur tempat Putra sedang mencuci piring: “Kamu aman sama dia, Nak. Kamu paling aman sama dia. Percaya sama Mama.”

Lalu dia pergi, naik taksi online ke stasiun, dan aku tinggal berdua dengan orang asing yang katanya membuatku paling aman.


Siang itu aku duduk di meja makan, membuka buku catatan yang kutemukan di laci, dan menulis daftar pertanyaan.

Aku ini account executive. Setidaknya, aku dulu account executive. Kalau ada klien yang tidak jelas maunya apa, aku interogasi sampai jelas. Kalau ada brief yang membingungkan, aku pecah jadi poin-poin. Suami tiba-tiba juga bisa diperlakukan sama.

Putra duduk di seberangku. Dia baru pulang dari toko untuk makan siang, katanya, meskipun aku curiga dia sengaja pulang untuk mengecek apakah aku masih hidup. Dia duduk tegak dengan tangan di atas meja, seperti siswa yang sedang ujian lisan.

“Pertanyaan pertama,” kataku, dengan pulpen siap. “Kita kenal di mana?”

“Di tokoku.”

“Toko apa?”

“Toko jam. Di Braga.”

“Aku ngapain ke toko jam?”

“Benerin jam.”

Aku mencatat. Toko jam. Braga. Benerin jam. “Jam yang mana?”

Dia menunjuk pergelangan tangan kiriku. Jam kecil bertali kulit cokelat yang sekarang berdetak lagi.

Aku menatap jam itu. Lalu menatapnya. “Terus?”

“Terus apa?”

“Terus gimana ceritanya dari benerin jam sampe nikah?”

Dia diam sebentar, seperti sedang memutuskan berapa banyak yang boleh dikatakan. “Panjang.”

“Aku punya waktu. Aku pengangguran, kata Mama.”

“Kamu ilustrator.”

“Ilustrator yang nggak inget cara gambar. Sama aja.” Aku mengetuk-ngetukkan pulpen ke buku. “Pertanyaan kedua. Mahar aku apa?”

“Seperangkat alat salat sama jam tangan.”

“Jam tangan?”

“Kamu yang minta.”

Aku mencatat, lalu berhenti. “Jam tangan siapa? Jam tangan aku?”

“Jam tangan aku,” katanya. “Kamu yang minta aku pakai jam yang kamu beliin. Itu maharnya. Kebalik.”

Aku menatap pergelangan tangan kirinya. Ada jam di sana, jam laki-laki dengan tali kulit hitam dan permukaan biru tua. Sederhana tapi cantik. Aku tidak ingat pernah membelinya.

“Itu jam dari aku?”

“Iya.”

“Mahal nggak?”

Dia berpikir sebentar. “Buat kamu waktu itu, mahal.”

Aku menunduk dan mencatat sesuatu supaya tidak perlu menatap matanya. Mahar: alat salat + jam (kebalik, aku yang beliin dia). Aku tidak tahu kenapa wajahku terasa panas.

“Pertanyaan ketiga,” kataku. Ini pertanyaan yang paling ingin kutanyakan sejak di rumah sakit. “Kamu nikahin aku karena apa?”

Putra menatapku. Lama. Lalu dia bilang, dengan wajah paling datar yang pernah kulihat:

“Karena kamu ngajak empat puluh tujuh kali. Capek nolaknya.”

Aku tertawa. Keras sekali, sampai kepalaku berdenyut lagi.

“Ngarang,” kataku. “Mas, aku tuh gengsian. Aku nggak pernah ngajak cowok duluan. Seumur hidup. Reno aja yang nembak aku, dan itu pun setelah dia PDKT enam bulan.”

Putra tidak tertawa. Dia cuma mengangguk pelan, seperti orang yang mendengar ramalan cuaca yang sudah ia tahu salah.

“Oke,” katanya.

“Serius, Mas. Kita nikah karena apa?”

“Nanti aja.”

Lagi-lagi nanti aja. Aku mencoret-coret buku catatanku dengan kesal.


Kucingnya muncul sore itu.

Aku sedang di dapur, membuka-buka lemari untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan selain sisa sop Mama, waktu aku merasakan ada yang menatapku. Aku menoleh.

Di ambang pintu dapur, duduk seekor kucing oranye gendut. Gendut sekali. Gendut yang membuat lehernya tidak kelihatan dan badannya seperti roti tawar yang kebanyakan ragi. Kucing yang sama dengan yang ada di layar kunci ponselku.

Matanya kuning dan menyipit. Ekornya bergerak-gerak pelan di lantai.

“Hai,” kataku. “Halo. Kamu… kamu kucing aku?”

Kucing itu menatapku. Lalu, pelan-pelan, telinganya rebah ke belakang.

“Sssshhhhhh.”

Aku mundur selangkah. “Hei. Hei, aku nggak ngapa-ngapain.”

“SSSSSHHHHHHH.”

“Namanya Detik,” kata Putra dari ruang tengah. Dia muncul di ambang pintu, di belakang kucing itu, dengan sebungkus makanan kucing di tangan. “Kamu yang kasih nama.”

“Kenapa dia benci aku?”

Putra berjongkok dan menggaruk belakang telinga Detik. Kucing itu langsung mendengkur keras sekali, seperti motor tua, dan menggosok-gosokkan pipinya yang gendut ke lutut Putra.

“Dia nggak benci,” kata Putra. “Dia bingung. Wangimu beda. Kamu wangi rumah sakit.”

“Aku udah mandi dua kali.”

“Wangi obat. Wangi takut.” Dia menuangkan makanan ke mangkuk, dan Detik langsung lupa padaku. “Nanti dia inget lagi. Kasih waktu.”

Kasih waktu. Semua orang menyuruhku memberi waktu. Dokter, Mama, sekarang laki-laki ini. Seolah aku punya stok waktu yang tidak terbatas. Seolah aku tidak baru saja kehilangan tiga tahun begitu saja.

Aku menatap Detik yang makan dengan rakus. Aku menatap tangan Putra yang masih mengelus punggungnya. Lalu aku melihat sesuatu di rak dapur, di samping toples gula.

Toples kaca berisi bubuk hitam pekat. Labelnya ditulis tangan, dengan huruf yang bulat dan miring, huruf yang sangat mirip tulisanku sendiri:

KOPI AYANA. Jangan disentuh, Mas!!! ☕

Aku tidak minum kopi hitam. Aku benci kopi hitam. Rasanya seperti air rendaman ban mobil.

Aku menatap tulisan itu dan, untuk pertama kalinya sejak bangun di rumah sakit, aku merasa sedikit takut. Bukan takut pada Putra. Bukan takut pada rumah ini.

Takut pada perempuan yang menulis label itu. Perempuan yang tertawa lepas di foto pernikahan. Perempuan yang rambutnya pendek dan minum kopi hitam dan menamai kucing yang membenciku.

Aku tidak kenal dia. Dan semua orang di sini mengenalnya lebih baik daripada aku.


Malam itu aku cuci muka di kamar mandi atas, kamar mandi di dalam kamar tidur utama, yang katanya kamar kami.

Di wastafel ada dua sikat gigi di satu gelas. Satu biru, satu kuning. Di rak ada sabun cuci muka yang mereknya tidak kukenal, dan krim malam yang kelihatannya mahal. Di gantungan ada dua handuk.

Aku membasuh wajah, lalu menatap tanganku yang basah di bawah keran. Cincin itu berkilat kena lampu.

Pelan-pelan, aku melepasnya. Agak susah, karena jariku sedikit bengkak setelah berhari-hari diinfus. Cincin itu akhirnya lepas, meninggalkan garis pucat di kulitku seperti bekas luka kecil.

Aku menaruhnya di pinggir wastafel. Bunyinya ting kecil di atas keramik.

Rasanya aneh memakai cincin orang. Itu alasanku. Cincin itu milik perempuan di foto. Bukan milikku.

Waktu aku keluar dari kamar mandi, kamar itu kosong. Ranjangnya sudah dirapikan, selimutnya dibuka di sisi kiri, sisi yang entah kenapa langsung kuketahui sebagai sisiku. Satu bantal sudah tidak ada.

Aku turun ke bawah pelan-pelan.

Di ruang tengah, lampu sudah dimatikan, kecuali lampu baca kecil di samping sofa. Putra sedang menata bantal di ujung sofa abu-abu, bantal yang hilang dari kamar, dan selimut rajut kuning. Dia tidak bertanya apakah aku mau dia tidur di bawah. Dia tidak menungguku menyuruhnya. Dia sudah melakukannya.

Dia mendongak waktu mendengar langkahku di tangga.

“Butuh sesuatu?”

Aku berdiri di anak tangga terakhir, memeluk diriku sendiri dengan piyama yang ternyata ukurannya pas sekali, piyama yang bukan milikku tapi milikku.

“Mas,” kataku. “Aku mau nanya satu lagi.”

“Iya?”

“Istrimu itu aku, kan?”

Dia diam.

“Maksudku,” kataku cepat, merasa bodoh, “beneran aku? Bukan… bukan orang lain yang mirip aku? Ini bukan prank? Bukan kamera tersembunyi? Bukan sinetron? Soalnya aku liat foto itu, dan perempuan di foto itu… dia ketawa kayak gitu, dan aku nggak pernah ketawa kayak gitu, dan dia minum kopi hitam, dan dia potong rambut pendek, dan dia ngajak cowok duluan empat puluh tujuh kali, katamu, dan aku nggak akan pernah—”

“Iya,” katanya.

Aku berhenti.

“Kamu,” katanya. Pelan. Pasti. “Istriku itu kamu.”

Lampu baca kecil itu membuat setengah wajahnya terang dan setengahnya gelap. Aku tidak bisa membaca ekspresinya. Tapi suaranya tidak ragu sedikit pun.

Aku mengangguk, entah kenapa. Lalu naik lagi ke atas tanpa bilang selamat malam.


Aku tidak bisa tidur.

Ranjang itu terlalu besar dan terlalu nyaman dan baunya seperti orang lain, seperti sabun dan kayu dan sedikit minyak mesin. Aku berguling ke kiri. Ke kanan. Menatap langit-langit. Menghitung domba. Menghitung domba yang memakai kemeja flanel.

Sekitar jam dua, aku menyerah dan turun untuk mengambil air minum.

Ruang tengah gelap. Lampu baca sudah dimatikan. Tapi cahaya bulan masuk dari jendela besar, cukup untuk melihat sofa.

Putra tidur di sana dengan posisi yang jelas tidak nyaman. Sofanya terlalu pendek untuknya, jadi kakinya menggantung di ujung, telapak kakinya yang memakai kaus kaki abu-abu menyembul keluar dari selimut. Satu tangannya terkulai ke lantai. Kacamatanya, lagi-lagi, masih di atas kepala.

Dan di atas dadanya, bergelung seperti roti tawar raksasa, tidur Detik. Naik turun mengikuti napasnya. Mendengkur.

Aku berdiri di kaki tangga dengan gelas kosong di tangan dan menatap mereka berdua lama sekali.

Aku tidak tahu kenapa dadaku terasa aneh.


Paginya, waktu aku bangun, cincin itu tidak ada di pinggir wastafel.

Aku sempat panik sebentar. Lalu aku melihatnya.

Di meja kecil di samping ranjang, di sisi kiri, sisiku, ada sebuah piring kecil. Piring kecil keramik putih dengan gambar bunga biru di pinggirnya, jenis piring yang biasa dipakai untuk alas cangkir teh. Di tengah piring itu ada cincinku.

Di bawah piring itu terselip secarik kertas kecil, robekan dari buku catatan. Tulisannya rapi dan kecil, huruf-huruf tegak yang sangat berbeda dari tulisanku.

Nggak usah dipakai kalau nggak nyaman. Tapi jangan sampai hilang, ya. —P.

Aku memegang kertas itu lama sekali.

Lalu aku mengambil cincin itu dan memakainya lagi. Bukan karena aku merasa istrinya. Bukan.

Biar nggak hilang, kataku pada diriku sendiri. Cuma itu. Biar nggak hilang.