← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Thirty Eight

Sabtu Pertama

POV: Ayana

Aku bangun duluan.

Pertama kalinya. Sembilan minggu dan empat hari, dan setiap pagi dia selalu bangun duluan. Merebus air. Menyiapkan dua cangkir. Memutar jam tanganku. Melipat selimut di sofa sebelum aku turun.

Pagi ini, waktu aku membuka mata, langit di balik jendela masih abu-abu kebiruan, dan dia masih tidur.

Di sebelahku. Di sisi kanan ranjang. Di bantal yang sembilan minggu tidak pernah dipakai.

Dia tidur telentang, satu lengan di bawah kepalaku, satu lagi di atas perutnya. Wajahnya menghadap ke arahku. Rambutnya berantakan menempel di dahi. Bulu matanya panjang, lebih panjang dari yang kusadari. Mulutnya sedikit terbuka. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, alisnya tidak berkerut sama sekali.

Tenang. Benar-benar tenang. Bukan danau tanpa angin yang sengaja dia bangun. Tenang yang lain. Tenang orang yang tidur nyenyak setelah lama sekali tidak bisa tidur.

Detik tidur di antara kaki kami, mendengkur.

Aku menatap wajahnya lama sekali. Aku tidak mau bergerak. Aku tidak mau membangunkannya.

Lalu aku ingat sesuatu, dan pelan-pelan, sangat pelan, aku menarik lenganku dari bawah kepalanya dan turun dari ranjang.

Lantai kayu dingin di telapak kakiku. Gaun tidur katun putih gading tergeletak di lantai di sebelah ranjang, di sebelah kaus putih polos miliknya. Aku tidak memungutnya. Aku membuka lemari, di sisi kanan, sisinya, dan mengambil kemeja flanel kotak-kotak hijau tua.

Kemeja yang dia pinjamkan di kencan pertama. Kemeja yang kupakai waktu Operasi Sofa, waktu nasi gorengnya keasinan.

Aku memakainya. Cuma itu. Kebesaran sekali. Lengannya jatuh sampai ujung jari. Ujungnya sampai pertengahan paha. Wangi sabun dan kayu dan sedikit minyak mesin.

Lalu aku turun ke dapur.


Aku merebus air.

Aku menyiapkan dua cangkir. Cangkir kucing oranye. Cangkir putih yang sedikit retak di bibirnya.

Aku berdiri di depan dua cangkir itu dan berpikir lama.

Teh untuknya. Bagaimana dia suka tehnya? Aku tidak tahu. Sembilan minggu dia membuatkanku teh setiap pagi, dua sendok gula, dan aku tidak pernah sekali pun bertanya bagaimana dia minum tehnya sendiri.

Aku tahu dia tidak suka teh manis. Akang kan nggak suka teh manis, kata Ujang di hari pertama, kata Ema di rumahnya. Aku tahu dia meminum kopi hitam dulu, setiap pagi, bersama dia. Kopi Gayo dari toples dengan label Jangan disentuh, Mas!!!

Tapi toples itu tidak ada lagi di rumah ini. Dan dia minum teh sekarang. Setiap pagi. Dari cangkir putih yang retak.

Teh apa? Manis atau tawar? Berapa sendok?

Aku membuka laci di bawah kompor. Di dalamnya, di samping korek api yang sudah diganti Ujang, aku menemukan secarik kertas kecil. Tulisan kecil dan tegak.

Teh buat aku: tawar. Tapi Ay suka liat aku minum teh manis. Jadi kalau dia yang bikin, biarin manis.

Tanggalnya di pojok. Dua tahun lalu.

Aku menatap kertas itu. Lalu aku tertawa kecil, sendirian, di dapur yang masih abu-abu, dengan kemeja flanel yang kebesaran.

Dia menulis catatan untuk dirinya sendiri. Tentang bagaimana dia minum teh. Supaya kalau aku yang membuatkan, dia tidak lupa untuk tidak protes.

Aku menuang dua sendok gula ke cangkir putih yang retak.


Waktu dia turun jam enam lewat tiga puluh, aku sedang duduk di atas meja dapur.

Bukan di kursi. Di atas meja dapur, di sebelah kompor, dengan kaki telanjang yang menggantung dan mengayun-ayun. Kemeja flanel hijau tua. Rambut yang belum disisir, berantakan, satu sisi menempel di pipi. Dua cangkir teh di sebelahku, uapnya naik pelan-pelan.

Dia berhenti di ambang pintu dapur.

Kaus abu-abu yang dia ambil asal dari lemari. Celana training. Rambut yang lebih berantakan dari rambutku. Matanya masih setengah tertutup. Lalu matanya melihatku, dan tiba-tiba terbuka lebar sekali.

Dia menatap kemeja flanel itu. Lalu kakiku yang mengayun. Lalu wajahku.

Telinganya mulai merah.

“Pagi,” kataku.

“Pagi,” katanya. Suaranya serak. “Kamu… bikin teh?”

“Bikin teh.” Aku mengulurkan cangkir putih yang retak. “Buat kamu. Pertama kali.”

Dia berjalan ke arahku. Pelan. Seperti orang yang mendekati burung yang takut terbang. Dia mengambil cangkir itu dari tanganku. Dia menatap isinya.

Dia menyesapnya.

Lalu dia berhenti, cangkir masih di bibirnya, dan matanya menatapku dari atas bibir cangkir.

“Manis,” katanya.

“Dua sendok,” kataku. “Aku nemu catatan kamu. Di laci. Kalau dia yang bikin, biarin manis.”

Dia menurunkan cangkirnya. Wajahnya merah sampai ke leher.

“Itu…” katanya. “Itu udah lama.”

“Masih berlaku?”

Dia menatapku lama. Lalu menyesap tehnya lagi. Pelan. Sampai setengah cangkir.

“Masih berlaku,” katanya.

Aku tersenyum. Lebar. Lesung pipi.

Lalu aku mengambil sepotong roti bakar dari piring di sebelahku, roti bakar dengan margarin dan selai srikaya, gosong sedikit di pinggir, dan menyodorkannya ke mulutnya.

“Aaa,” kataku.

Dia menatap roti itu. Lalu menatapku. Lalu, pelan-pelan, membuka mulut, dan aku menyuapinya.

Dia mengunyah. Matanya tidak lepas dariku.

“Jangan liatin terus,” kataku. Wajahku mulai panas.

Dia menelan roti itu. Lalu dia meletakkan cangkir tehnya di meja dapur, di sebelah pahaku. Lalu dia meletakkan dua tangannya di meja, di kiri dan kanan pinggulku, dan mencondongkan badan sampai wajahnya sejajar dengan wajahku.

“Dua tahun,” katanya pelan, “aku boleh liatin kamu kayak gini tiap pagi. Terus sembilan minggu aku nggak boleh.”

Napasku tertahan.

“Sekarang aku nyicil,” katanya.

Dan dia menatapku. Lama. Terang-terangan. Dari rambutku yang berantakan, ke mataku, ke lesung pipiku, ke bibirku, ke leherku, ke kemeja flanel kebesaran yang kancingnya cuma terpasang setengah. Lalu kembali ke mataku.

Aku tidak bisa bicara.

Laki-laki yang tidak pernah belajar cara bicara. Ternyata, kalau dia mau, dia bisa membuat lututku lemas cuma dengan tiga kalimat.

“Mas,” bisikku. “Itu nggak adil.”

“Kenapa?”

“Kamu bilang kamu nggak bisa ngomong.”

Sudut bibirnya bergerak.

“Aku nggak bisa ngomong,” katanya. “Sama orang lain.”

Lalu dia menciumku. Di dapur. Di atas meja, di sebelah kompor dan dua cangkir teh yang mulai dingin.


Setelah sarapan (sarapan yang terlalu lama, sarapan yang membuat teh benar-benar dingin dan roti bakar yang tersisa dimakan Detik), aku mengambil ponselku dari meja samping ranjang.

Aku duduk di tepi ranjang dengan kemeja flanel yang masih kebesaran. Putra sedang mandi. Aku mendengar air mengalir di kamar mandi, dan, entah kenapa, aku mendengar dia bersiul. Bukan siulan pura-pura yang keras seperti pagi setelah Sabtu kelima. Siulan pelan. Tidak sengaja. Lagu yang tidak kukenal.

Aku membuka pengaturan ponsel. Kode layar kunci.

0611.

Aku tahu artinya sekarang. Dari kalender di kulkas. Dari 2 TAHUN!!! ♡♡♡. Dari jangan lupa kado, jangan sampe ketahuan. Enam November. Hari jadi pernikahan kami. Hari yang dia lewatkan di kursi rumah sakit, di sebelah istri yang koma.

Kamu yang bikin, katanya di malam pertama aku minta dia membukakan ponselku. Dia mengetik empat angka itu tanpa ragu, tanpa bilang apa-apa, sementara aku menunggu untuk membuka Instagram laki-laki lain.

Aku tidak mengganti kodenya.

Aku membuka pengaturan alarm. Alarm pagiku. Aku mengganti labelnya, dari Bangun menjadi 0611 — jangan lupa lagi.

Aku membuka pengaturan wallpaper. Foto kucing oranye gendut yang tidur telentang di atas tumpukan kertas. Aku menggantinya dengan foto lain, foto yang kuambil diam-diam tadi pagi, waktu dia masih tidur. Wajahnya. Alis yang tidak berkerut. Bulu mata yang panjang. Detik di sebelahnya. Di sudut kanan atas, aku menambahkan teks kecil dengan aplikasi edit.

06.11.

“Biar aku nggak lupa lagi,” bisikku ke layar.

Pintu kamar mandi terbuka. Dia keluar dengan handuk di leher dan rambut basah. Dia melihatku memegang ponsel, melihat layarnya, melihat wajahnya sendiri di wallpaper.

Dia berhenti.

“Itu aku?”

“Itu kamu.”

“Kapan kamu…”

“Tadi pagi. Kamu tidur. Muka kamu nggak berkerut.” Aku menyembunyikan ponsel di balik punggung. “Jarang-jarang.”

Dia menatapku lama. Telinganya merah lagi.


Lalu aku berdiri, dan mengumumkan sesuatu.

“Mas. Hari ini Sabtu.”

Wajahnya berubah. Sedikit. Sekilas. Bayangan yang lewat di permukaan danau.

Sabtu. Sembilan minggu, Sabtu artinya mobil hijau tua menyala di depan pagar jam sembilan pagi, termos teh dan bantal leher di jok belakang, cincin di saku kiri.

Aku melihat bayangan itu lewat di wajahnya. Dan aku ingin menghapusnya. Selamanya.

“Mulai sekarang,” kataku, “Sabtu punya kamu.”

Dia menatapku.

“Bukan punya aku. Bukan punya siapa-siapa. Punya kamu.” Aku melangkah ke arahnya dan menarik ujung handuk di lehernya. “Tiap Sabtu, aku yang ngatur. Aku yang jemput. Aku yang nunggu. Kamu tinggal ikut.”

“Ay…”

“Ini bukan bayar utang,” kataku cepat. “Aku udah nggak ngerasa utang. Ini… ini aku pengen. Aku pengen ngasih kamu Sabtu yang baru. Biar Sabtu yang lama ketutupan.”

Dia diam lama.

“Hari ini mulai?” tanyanya akhirnya.

“Hari ini mulai.” Aku tersenyum. “Kamu buka toko kayak biasa. Jam sepuluh. Aku dateng nanti.”


Aku datang jam satu siang.

Tapi aku tidak masuk.

Aku berdiri di trotoar Braga, di seberang toko jam. Di tempat yang sama. Persis di tempat yang sama dengan kepingan ingatan itu, tempat aku berdiri basah kuyup dan berteriak YANG KEEMPAT PULUH ENAM! ke arah toko.

Hari ini tidak hujan. Langit Bandung biru, dengan awan-awan putih tipis. Udaranya sejuk. Matahari jatuh miring di atas gedung-gedung tua bercat putih.

Aku memakai gaun kuning mustard dengan kardigan cokelat. Aku membawa tas kecil dan sebotol teh manis dingin. Aku berdiri di samping tiang lampu jalan.

Dan aku menunggu.

Di balik kaca etalase, aku bisa melihatnya. Membungkuk di atas meja kerja. Loupe di mata. Jam meja kuningan di depannya. Dia tidak melihatku.

Lima belas menit.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Aku duduk di trotoar. Kakiku pegal. Seorang pengamen dengan gitar kecil berhenti di depanku dan memainkan lagu Payung Teduh, dan aku memberinya lima ribu, dan dia memainkannya lagi.

Lalu ponselku bergetar. Pesan dari nomor yang tidak kukenal. Ternyata Ujang.

Teh, Akang ngintip ti jandela. Geus lima kali.

(Teh, Akang ngintip dari jendela. Udah lima kali.)

Aku menatap kaca etalase. Siluet di balik meja kerja masih membungkuk. Tidak bergerak.

Lima belas menit kemudian:

Genep kali, Teh. Ayeuna Akang pura-pura nyusun obeng. Obengna geus disusun tilu kali.

(Enam kali, Teh. Sekarang Akang pura-pura nyusun obeng. Obengnya udah disusun tiga kali.)

Aku menutup mulut dengan tangan supaya tidak tertawa terlalu keras di trotoar.

Setengah jam lagi:

Teh, Akang nanya ka abdi, “Jang, Teteh tos tuang can? Panas di luar.” Abdi nyarios teu nyaho. Akang nyieun teh. Diantep dina méja. Teu dibawa kaluar. Ayeuna tehna geus tiis.

(Teh, Akang nanya ke saya, “Jang, Teteh udah makan belum? Panas di luar.” Saya bilang nggak tahu. Akang bikin teh. Didiemin di meja. Nggak dibawa keluar. Sekarang tehnya udah dingin.)

Tiga jam.

Tiga jam penuh, aku duduk di trotoar Braga, di seberang toko jam, dengan botol teh manis yang sudah habis dan kaki yang kesemutan dan pengamen yang sudah memainkan lagu Payung Teduh empat kali.

Seperti tiga jam di bawah pohon ketapang di Kemang. Sabtu pertama.

Aku tidak tahu apakah dia tahu kenapa aku memilih tiga jam. Aku tidak tahu apakah dia ingat.

Lalu lonceng di atas pintu toko berbunyi. Kling.


Dia keluar.

Kemeja flanel biru tua. Loupe masih tergantung di tali di lehernya, berayun-ayun di dadanya. Rambutnya berantakan, seperti dia sudah menyisirnya dengan jari berkali-kali.

Dia menyeberang jalan. Pelan. Dengan mata yang tidak lepas dariku. Seorang pengendara motor membunyikan klakson, dan dia tidak menoleh.

Dia berhenti di depanku. Aku masih duduk di trotoar. Aku mendongak.

“Kenapa nggak masuk?” tanyanya.

Suaranya aneh. Tidak tenang. Bergetar sedikit di ujung.

Aku berdiri. Kakiku kesemutan, dan aku terhuyung, dan dia menangkap lenganku.

“Dulu kamu nunggu di luar,” kataku. “Lima Sabtu. Tiga jam. Di bawah pohon ketapang. Termos nggak diminum. Bantal leher masih diplastikin.”

Dia menatapku.

“Sekarang giliranku,” kataku.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma berdiri di trotoar Braga, dengan tangan masih memegang lenganku, dan matanya basah.

Lalu aku menarik napas. Aku menegakkan badan. Aku menatapnya lurus-lurus. Persis seperti perempuan dengan rambut panjang yang basah di ujung, tiga tahun lalu, di depan etalase toko itu, dengan jam tangan yang baru saja diperbaiki.

“Mas,” kataku. “Mau nonton nggak, minggu depan?”

Ajakan ke-1.

Dia menatapku. Matanya membelalak. Lalu, tanpa jeda sama sekali, tanpa berpikir, tanpa ragu sedetik pun:

“Mau.”

Aku membeku.

“Mas!”

“Apa?”

“Jangan langsung iya!” Aku memukul lengannya. “Aku mau ngejar! Aku udah siap ngajak empat puluh tujuh kali! Aku udah bikin daftar!” Aku mengeluarkan selembar kertas dari tas. Daftar ajakan yang kutulis semalam, sambil dia tidur, dengan pulpen di atas Kartu Servis sebagai alas. “Liat! Ajakan ke-2, seblak Cikawao! Ajakan ke-3, kunang-kunang di Tahura! Aku udah ngecek bulannya, bulan depan ada! Ajakan ke-12—”

“Mau.”

“MAS!”

“Mau semuanya,” katanya. Dan dia tersenyum. Lebar. Dengan seluruh wajahnya. Senyum yang membuatku ingat kepingan ingatan di Bekasi, di trotoar depan Pasar Baru, waktu dia tertawa di meja dua belas dan bilang iya tiga kali. “Mau semuanya, Ay. Seblak, kunang-kunang, apa aja. Kamu nggak usah ngejar. Aku udah ketangkep dari dulu.”

Aku menatapnya.

Lalu aku tertawa. Dan menangis. Di trotoar Braga. Di depan pengamen yang langsung memainkan lagu Payung Teduh lagi, kelima kalinya, dengan semangat.


Dari pintu toko, aku melihat Ujang berdiri dengan ponsel di tangan, merekam.

Dan di belakang Ujang, keluar dari gang di sebelah toko, Ema. Dengan kebaya kutubaru ungu dan sanggul putih dan kantong plastik berisi bakwan. Dia berhenti di trotoar, menatap kami berdua, lalu tertawa keras sekali, serak dan bahagia, sampai Pak Engkos keluar dari pos satpam untuk melihat ada apa.

“Tah!” seru Ema, menunjuk Putra dengan bakwan. “Ayeuna mah manéh nu diudag!”

(Nah! Sekarang kamu yang dikejar!)

Putra menutup wajahnya dengan tangan.

Ponselku bergetar lagi. Gendis. Dia pasti sudah menerima video dari Ujang.

AYANA KIRANA. GUE RESMI NYATAKAN LO LULUS AUDISI SAHABAT. NILAI AKHIR: 100. CATATAN JURI: AKHIRNYA LO NGGAK BEGO.

Lalu satu pesan lagi:

Gue nangis di kantor. Bos gue nanya kenapa. Gue bilang alergi.

Dan malam itu, waktu kami pulang ke rumah hijau pucat di ujung jalan buntu, Bu Yayah berdiri di balik pagarnya dengan selang air yang mengalir ke pot kembang sepatu yang sudah tenggelam.

“Teh Ayana!” serunya. “Kang Putra! Ti mana?”

(Teh Ayana! Kang Putra! Dari mana?)

“Dari Braga, Bu,” kataku.

Bu Yayah melirik kami berdua. Tanganku di tangan Putra. Kemeja flanel hijau tua yang kuikat di pinggang. Lalu matanya bergerak ke atas, ke jendela kamar kami di lantai dua.

Gordennya tertutup. Dari tadi pagi.

Bu Yayah tersenyum. Lebar. Sangat lebar. Dan langsung mengeluarkan ponsel dari saku dasternya.

“Wilujeng, nya,” katanya, sambil mengetik dengan kecepatan cahaya. “Wilujeng pisan.”

(Selamat, ya. Selamat banget.)

Putra menarikku masuk ke rumah sebelum aku sempat bertanya selamat untuk apa.

Dari balik pintu, aku mendengar dia tertawa. Pelan. Malu. Bahagia.

Sabtu pertama.

Satu dari banyak.