Chapter Forty
Yang Biru
POV: Ayana
Gaun biru itu masih tergantung di lemari, di tempat yang sama dengan waktu aku menggantungnya kembali setelah Sabtu kedua.
Sabtu kedua yang lama. Sabtu ke Jakarta. Sabtu di mana aku berdiri di ruang tengah dengan dua gaun di tangan dan bertanya pada laki-laki yang membelikan salah satunya, yang mana?
Yang biru. Kamu cantik pake biru.
Aku mengeluarkannya dari lemari hari Sabtu pagi dan meletakkannya di atas ranjang. Biru seperti langit Bandung di bulan Juli. Lengan pendek yang sedikit mengembang. Ritsleting panjang di punggung. Sabuk tipis dari kain yang sama.
Aku menatapnya lama.
Aku tahu sekarang. Kartu Servis yang memberitahuku. Dua minggu berkeliling butik di Dago. Ujang yang akhirnya menemukannya di butik kecil di Jalan Progo. Kertas cokelat dan tali rami. Mas, aku kayak langit nggak?
Dan Sabtu kedua yang lama: Unit pakai gaun biru. Cantik. Bukan buat aku. Nggak apa-apa. Dicatat.
Aku memakainya.
Putra sedang duduk di teras, membaca koran, waktu aku keluar.
Kacamata di hidung kali ini, bukan di kepala. Kemeja flanel kotak-kotak merah tua. Teh di cangkir putih yang retak. Detik tidur di kursi rotan sebelahnya.
Dia mendengar pintu terbuka. Dia menurunkan koran.
Dia berhenti.
Koran itu pelan-pelan turun ke pangkuannya. Lalu meluncur ke lantai. Dia tidak memungutnya.
Aku berdiri di ambang pintu dan memutar badan sekali. Rok gaun biru itu mengembang. Seperti setahun lalu, di ruang tengah, di depan sofa, waktu aku memutar badan dan bertanya Mas, aku kayak langit nggak?
Aku tidak ingat malam itu. Tapi aku ingat membacanya. Dan aku tahu harus berputar.
“Gimana?” tanyaku.
Dia tidak menjawab. Dia menatapku dengan wajah yang sama dengan pagi itu di ruang tengah, dua minggu lalu, waktu aku turun dengan gaun ini untuk ke Jakarta. Tapi kali ini ada yang berbeda. Kali ini wajahnya tidak dibangun jadi danau. Kali ini wajahnya terbuka. Dan yang ada di sana bukan sakit.
“Ay,” katanya. Suaranya serak.
Aku berjalan ke arahnya. Aku berdiri di depan kursinya. Aku membungkuk sedikit, sampai wajahku sejajar dengan wajahnya, dan menyentuh ujung hidungnya dengan ujung jariku.
“Kali ini,” kataku, “buat yang beliin.”
Rumah Makan Dago Pakar di malam hari persis seperti di foto.
Lampu-lampu kecil di pohon beringin. Jendela-jendela besar dengan cahaya kuning hangat. Di kejauhan, di balik pagar kayu, Kota Bandung terhampar di lembah, lampu-lampunya berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Aku yang menyetir. Lagi. Dan memarkir mobil di halaman berbatu dengan hanya dua kali maju mundur. Kemajuan.
Putra turun dari mobil, berjalan memutar, dan membukakan pintu untukku. Aku membiarkannya. Hari ini aku ingin dibukakan pintu.
Lalu kami berjalan ke teras. Bergandengan.
Kang Dedi ada di meja penerima tamu. Rompi hitam. Dasi kupu-kupu. Kumis tipis. Dia sedang menata menu.
Dia mendongak.
Dia melihat kami. Melihatku dengan gaun biru. Melihat Putra di sebelahku. Melihat tangan kami yang bertaut.
Menu-menu di tangannya jatuh ke lantai. Semuanya. Berserakan di teras.
“Ka… Kang Putra?” Suaranya bergetar. “Teh Ayana?”
“Malam, Kang,” kataku. Aku tersenyum. “Atas nama Putra Adiwangsa. Meja biasa.”
Kang Dedi menatapku. Lalu menatap Putra. Lalu menatapku lagi.
Lalu dia menangis.
Laki-laki empat puluh tahunan dengan kumis tipis dan rambut yang mulai menipis di puncak kepala dan rompi hitam dan dasi kupu-kupu, berdiri di teras restoran dengan menu berserakan di kakinya, dan menangis seperti anak kecil.
“Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, Teh. Abdi kirang… abdi kirang Teteh moal uih deui. Sanggeus Kang Putra ngabatalkeun méja… abdi kirang…”
(Ya Allah. Ya Allah, Teh. Saya kira… saya kira Teteh nggak akan balik lagi. Setelah Kang Putra batalin meja… saya kira…)
Aku memeluknya. Aku tidak tahu kenapa. Laki-laki yang tidak kuingat, tapi yang menyiapkan mawar kuning dan pisang bakar dengan es krim setiap bulan selama dua tahun.
Kang Dedi menepuk-nepuk punggungku dengan canggung, masih menangis. Lalu dia melepaskan diri, mengusap matanya dengan saputangan dari saku rompi, membetulkan dasi kupu-kupunya, dan berdeham keras.
“Mangga,” katanya, dengan suara yang sudah resmi lagi, meskipun masih serak. “Méja dua belas. Abdi tos nyiapkeun.”
(Silakan. Meja dua belas. Saya udah nyiapin.)
“Kang Dedi udah nyiapin?” tanyaku. “Kami nggak pesen dulu.”
Kang Dedi menatap Putra. Putra menatap lantai. Telinganya merah.
“Kang Putra nelepon tadi siang,” kata Kang Dedi. “Diam-diam. Ceunah, Kang, peuting ieu méja biasa. Mawar konéng. Pisang bakar ku és krim. Tapi ulah béja ka Ayana, manéhna nyangka manéhna nu ngatur.”
(Kang Putra nelepon tadi siang. Diam-diam. Katanya, “Kang, malam ini meja biasa. Mawar kuning. Pisang bakar pake es krim. Tapi jangan bilang Ayana, dia ngira dia yang ngatur.”)
Aku menatap Putra.
“Mas.”
“Sabtu punya aku, kan?” katanya pelan, tidak menatapku. “Aku boleh ngatur sedikit.”
Meja dua belas. Meja dekat jendela besar. Taplak putih. Vas kecil berisi satu tangkai mawar kuning.
Kali ini aku duduk di kursi yang menghadap jendela, dan dia di kursi yang menghadap aku.
Bukan di atas kap mobil di ujung parkiran. Di sini. Di seberang meja. Sejengkal dariku.
Aku melihat ke luar jendela. Halaman parkir yang berbatu. Lampu-lampu di pohon beringin. Mobil hijau tua di ujung, di bawah lampu jalan yang kuning redup.
Kosong. Tidak ada yang duduk di atas kapnya.
Aku menatapnya lama. Lalu aku menatap laki-laki di depanku.
“Waktu itu,” kataku pelan, “kamu duduk di sana. Di atas kap mobil. Liatin meja ini.”
“Iya.”
“Kamu liat apa?”
Dia diam lama. Dia menatap mawar kuning di vas.
“Kamu,” katanya. “Pake gaun biru. Di meja kita. Ketawa.” Dia menelan ludah. “Bukan buat aku.”
Aku mengulurkan tangan di atas meja dan memegang tangannya.
“Sekarang buat kamu,” kataku. “Semuanya. Gaunnya. Mejanya. Ketawanya.”
Makanannya enak. Gurame bakar, karedok, nasi liwet, sambal dadak. Sama persis dengan yang kumakan bersama Reno tiga minggu lalu. Tapi rasanya lain sekali.
Dan di bawah meja, kakiku tidak bisa diam.
Aku tidak merencanakannya. Sungguh. Itu bukan bagian dari Operasi Sofa, karena Operasi Sofa sudah selesai, sudah sukses, sudah ditutup dengan stiker bintang emas terakhir di buku tulis Gendis. Tapi waktu aku melepas sepatu di bawah meja karena kakiku pegal setelah menyetir, ujung kakiku menyentuh kakinya. Pergelangan kakinya. Di balik celana jeans.
Dia tersedak sambal dadak.
Aku tidak menarik kakiku. Aku menggesernya. Pelan. Naik sedikit. Ke betisnya.
Dia meletakkan sendoknya. Dia menatapku dengan mata yang membelalak. Wajahnya merah. Telinganya lebih merah lagi.
“Ay,” bisiknya.
“Hm?” Aku menyuapkan karedok ke mulutku dengan wajah paling polos yang bisa kubuat.
“Kaki kamu.”
“Kenapa kaki aku?”
“Kaki kamu di…”
“Di mana?” Aku menggeser lagi. Sedikit lebih naik.
Dia memejamkan mata. Rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram ujung taplak meja.
Di meja sebelah, sepasang suami istri tua yang sedang merayakan sesuatu, mungkin ulang tahun pernikahan, dengan kue kecil dan lilin, menatap kami. Sang istri tersenyum penuh pengertian. Sang suami mengangkat gelas teh ke arah Putra, seperti bilang semangat, Nak.
Putra menutup wajahnya dengan dua tangan.
Aku tertawa sampai hampir tersedak karedok.
Kang Dedi datang dengan piring kecil.
Pisang bakar dengan parutan keju dan susu kental manis cokelat. Dan di atasnya, satu sendok besar es krim vanila yang mulai meleleh pelan-pelan di atas pisang yang masih hangat.
“Pisang bakar,” kata Kang Dedi, meletakkan piring itu di tengah meja. Suaranya bergetar sedikit. “Ku és krim. Siga anu dipénta Teh Ayana baheula. Gratis. Ti dapur.”
(Pisang bakar. Pake es krim. Kayak yang diminta Teh Ayana dulu. Gratis. Dari dapur.)
Dia berhenti. Dia menatap kami berdua. Matanya basah lagi.
“Kanggo hari jadi,” katanya.
(Buat hari jadi.)
Kali ini dia tidak berhenti di tengah kalimat. Kali ini dia tidak melirik siapa-siapa dengan wajah pucat. Kali ini dia menyelesaikannya, dan tersenyum, dan pergi dengan langkah ringan.
Aku menatap pisang bakar itu.
Hari jadi. Hari jadi apa? Bukan hari jadi pernikahan. Itu sudah lewat, waktu aku koma. Bukan hari jadi pacaran. Itu…
Aku tidak tahu kapan hari jadi pacaran kami. Malam ajakan ke-47. Tanggal berapa?
Aku menatap Putra. Dia sedang menatap pisang bakar itu juga. Lalu dia mengangkat kepala.
“Tanggal enam,” katanya pelan. “Tiap bulan. Bulan ini tanggal enam jatuh hari Sabtu.”
Aku menatapnya.
“Malam ajakan ke-47,” katanya. “Tanggal enam. Tiga tahun lalu. Bulan ini.”
Aku tidak bisa bicara.
“Itu kenapa aku pesen meja ini tiap tanggal enam,” katanya. “Dua tahun. Bukan karena aku nggak bisa move on dari dia. Karena itu tanggal kita. Tanggal kamu ngajak, dan aku bilang iya.”
Dan hari jadi pernikahan kami, enam November, juga tanggal enam.
0611.
Aku menatap pisang bakar yang es krimnya mulai meleleh. Aku menatap mawar kuning di vas. Aku menatap laki-laki di depanku.
Lalu aku memanggil Kang Dedi.
“Kang,” kataku waktu dia datang. “Bulan depan. Tanggal enam. Meja biasa, ya.”
Kang Dedi menatapku. Lalu menatap Putra. Lalu tersenyum lebar sekali.
“Siap, Teh.”
“Dan bulan depannya lagi,” kataku. “Dan bulan depannya lagi. Tiap bulan.” Aku menelan ludah. “Sampai kami tua. Sampai dia ompong dan aku pikun dan kami harus dituntun Ujang ke meja dua belas.”
Kang Dedi tertawa. Putra menatapku dengan wajah yang tiba-tiba sangat pucat.
“Ay,” bisiknya. “Itu…”
“Apa?”
“Itu kalimat kamu,” katanya. “Dulu. Di voice note. Sampe kamu ompong dan aku pikun dan kita harus dituntun Ujang ke meja dua belas.”
Aku membeku.
Aku tidak pernah mendengar voice note itu. Aku tidak tahu kalimat itu ada.
Tapi kalimat itu keluar dari mulutku. Kata per kata. Sama persis.
Kami saling menatap di atas pisang bakar yang meleleh. Lama.
Lalu Putra tertawa. Pelan. Basah. Dan aku juga tertawa. Dan di meja sebelah, pasangan suami istri tua itu mengangkat gelas teh mereka ke arah kami berdua.
Ritsletingnya macet.
Kali ini betulan.
Kami pulang jam sepuluh malam. Aku menyetir lagi, dengan satu tangan di setir dan satu tangan di pahanya, dan dia tidak bisa berhenti menatapku sepanjang jalan. Kami masuk ke rumah. Detik menyambut di pintu, mengeong protes karena ditinggal. Kami naik ke kamar.
Aku berdiri di depan cermin lemari, membelakanginya, dan meraih ritsleting di punggung gaun biru itu.
Ritsleting itu tidak mau turun.
Aku menariknya lagi. Tidak bergerak. Aku memutar badan, mencoba melihat lewat bahu. Ada sedikit kain yang terjepit di gigi ritsleting, di tengah punggung, di tempat yang tidak bisa kujangkau.
“Mas,” kataku.
Dia sedang duduk di pinggir ranjang, melepas jam tangannya.
“Ritsletingnya macet,” kataku.
Dia menatapku. Lama. Dengan alis terangkat.
“Ay.”
“Beneran!”
“Kayak waktu itu?”
“Beneran, Mas! Kali ini beneran! Sumpah!” Aku memutar badan, memunggunginya, menunjuk punggungku sendiri. “Liat! Ada kainnya kejepit!”
Dia berdiri. Dia berjalan ke belakangku. Aku melihatnya di cermin, berdiri di belakangku, tinggi, dengan wajah setengah tertawa, setengah sesuatu yang lain.
Dia menunduk. Dia melihat ritsleting itu. Dia melihat kain yang terjepit di tengah punggung.
“Oh,” katanya. Pelan. “Beneran.”
“Kan.”
Jari-jarinya menyentuh ritsleting itu. Ujung jarinya menyentuh kulit punggungku di atasnya. Hangat. Aku menahan napas.
Dia membebaskan kain yang terjepit itu. Pelan. Sangat pelan. Dengan ketelitian yang sama dengan yang dia pakai untuk mengeluarkan gerigi sebesar biji wijen dari dalam jam saku. Lalu dia menarik ritsleting itu turun.
Gigi demi gigi.
Dari tengkukku. Ke tulang belikat. Ke tengah punggung. Ke pinggang.
Pelan.
Lebih pelan dari yang perlu.
Jari-jarinya mengikuti di sepanjang tulang punggungku. Tidak lagi melayang di atas kulit seperti di Operasi Sofa. Kali ini menyentuh. Telapak tangannya yang hangat, sedikit kasar, dengan bekas luka di jempol kiri, turun di sepanjang punggungku, mengikuti ritsleting yang terbuka.
Aku menatapnya di cermin. Dia menatapku di cermin.
Gaun biru itu melonggar di bahuku.
“Ay,” katanya. Di dekat telingaku. Napasnya hangat di leherku.
“Hm?”
“Kamu kayak langit.”
Aku tidak ingat malam setahun lalu. Aku tidak ingat berputar di ruang tengah dan bertanya aku kayak langit nggak?
Tapi aku tahu jawabannya. Dan jawabannya ada di sini sekarang, di napasnya di leherku, di tangannya di punggungku, di matanya di cermin.
Aku berbalik.
Gaun biru itu jatuh dari bahuku.
Dan dia menciumku, dan lampu kamar meredup dengan saklar putar yang dia putar tanpa melepaskan bibirnya dari bibirku, dan sisa malam itu bukan milik siapa-siapa selain kami berdua.
Detik tidak menggaruk-garuk pintu kali ini.
Waktu aku membukakan pintu untuknya, jauh setelah tengah malam, aku baru sadar gaun biru itu terlempar sampai ke ambang pintu, setengah tersangkut di celah bawahnya. Dan Detik, dari sisi luar, sudah menarik separuhnya keluar dan tidur di atasnya. Bergelung seperti roti tawar raksasa di atas langit.
Putra tertawa di belakangku. Pelan. Di rambutku.
“Biarin,” katanya. “Dia juga suka biru.”
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru reading
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog