Chapter Nineteen
Rabu di Braga
POV: Ayana
Rabu itu, Putra bilang dia yang akan mengatur kencannya.
“Kamu?” Aku menatapnya dari balik cangkir teh pagi. “Kamu yang ngatur? Yang kencan pertama ngajak aku ke tempat kerjanya sendiri?”
“Udah belajar,” katanya, sambil membalik telur di wajan.
“Belajar dari mana?”
Dia diam sebentar. “Gendis.”
Aku tersedak teh.
“Gendis ngajarin kamu kencan?”
“Dia kasih daftar.” Dia mengeluarkan secarik kertas dari saku celana dan meletakkannya di meja di depanku tanpa menoleh. Kertas itu dilipat empat, penuh tulisan spidol warna-warni dengan gambar bintang dan hati di pinggirnya.
PANDUAN KENCAN UNTUK MAS PUTRA YANG PAYAH oleh Gendis Paramitha, S.Sos., Ahli Percintaan Bersertifikat (Sertifikat Belum Terbit)
1. JANGAN ke toko jam. Serius. Jangan. 2. Ajak ke tempat yang ada makanannya. Ayana kalau laper galak. 3. Puji bajunya. Pake kalimat lengkap, bukan cuma “cantik”. 4. Kalau hujan, payungin. Kalau nggak hujan, doa biar hujan. 5. Jangan cuma diem kayak patung. Ngomong. Apa aja. Cerita soal jam juga boleh, asal jangan lebih dari 10 menit. 6. Kalau dia ketawa, ikut ketawa. Kalau dia nangis, peluk (KALAU DIIZININ, aturan nomor 1 kontrak!!). 7. Bonus: kalau bisa, bikin dia jatuh cinta lagi. Gampang kok. Lo udah pernah berhasil sekali.
Aku membaca daftar itu dua kali, lalu menutup wajah dengan tangan dan tertawa sampai bahuku bergetar.
“Nomor tujuh,” kataku di sela tawa. “Gampang kok.”
“Dia yang nulis,” kata Putra. Telinganya merah.
“Kamu baca semua?”
“Baca.”
“Nomor empat? Doa biar hujan?”
Dia menaruh piring telur di depanku. “Udah doa.”
Aku menatapnya. Dia menatap jendela. Di luar, langit Bandung biru bersih tanpa awan sedikit pun.
“Nggak bakal hujan, Mas. Langitnya cerah banget.”
“Liat aja nanti,” katanya.
Kencannya dimulai jam satu siang, setelah toko tutup setengah hari.
Dia menjemputku dengan kemeja flanel hijau tua yang dulu kupakai di kencan pertama, waktu aku kedinginan. Rambutnya disisir lagi. Belahan samping. Dia bahkan memakai sedikit minyak rambut, wanginya samar-samar seperti kayu cendana.
Aku memakai rok plisket kuning mustard dan kaus putih dan kardigan rajut cokelat. Aku sengaja tidak memakai gaun. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena gaun-gaun di lemari itu terasa seperti gaun untuk hari Sabtu.
Dia berdiri di ruang tengah dan menatapku dari atas ke bawah. Lalu, dengan wajah serius sekali, seperti siswa yang membaca teks pidato:
“Rok kuningnya bagus. Cocok sama kulit kamu. Kayak bunga matahari. Kardigannya juga… hangat.” Dia berhenti. Mengerutkan alis. “Itu kalimat lengkap, kan?”
Aku menggigit bibir supaya tidak tertawa. “Itu kalimat lengkap, Mas.”
“Oke.” Dia mengangguk, lega. “Nomor tiga, beres.”
Dia membawaku ke Braga lagi. Tapi bukan ke toko.
Dia membawaku ke sebuah toko buku bekas kecil di lorong sempit di belakang Braga, toko buku yang harus dimasuki dengan menunduk karena pintunya rendah, yang raknya menjulang sampai langit-langit dan penuh buku-buku tua yang baunya seperti debu dan kertas dan waktu. Pemiliknya seorang kakek tua bersarung yang tertidur di kursi rotan di dekat pintu dan tidak bangun waktu kami masuk.
“Dulu kamu sering ke sini,” kata Putra pelan, supaya tidak membangunkan kakek itu. “Nyari buku cerita anak lama. Buat referensi gambar.”
Lalu dia berhenti, seperti baru sadar dia melanggar aturan nomor enam. Nggak boleh bahas “dulu” kecuali Ayana yang nanya.
“Maaf,” katanya.
“Nggak apa-apa,” kataku. Dan aku sadar aku sungguh-sungguh. “Ceritain aja. Aku… aku mau tahu.”
Dia menatapku, sedikit kaget. Lalu dia mengangguk, dan mulai bercerita.
Dia cerita tentang buku-buku yang dulu kucari. Buku cerita anak terbitan Balai Pustaka tahun tujuh puluhan, dengan ilustrasi tangan yang warnanya sudah pudar. Aku mengumpulkannya. Ada dua puluh tiga buku di rak loteng, katanya, dan aku belum pernah memperhatikannya. Dia cerita tentang bagaimana aku bisa duduk di lantai toko buku ini dua jam, membalik halaman demi halaman, sementara dia berdiri di dekat pintu menunggu dan kakek pemilik toko mendengkur.
“Kamu nggak bosen?” tanyaku. “Nunggu dua jam?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dia mengambil satu buku dari rak, buku tipis bersampul kuning pudar bergambar kancil, dan membaliknya di tangannya.
“Kamu kalau lagi baca buku cerita anak, mukanya kayak anak kecil,” katanya. “Bibirnya gerak-gerak. Ngikutin bacaan. Kadang ketawa sendiri. Kadang cemberut kalau kancilnya ketahuan. Aku suka liatnya.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku mengambil buku kancil itu dari tangannya dan membukanya, dan pura-pura membaca.
Tiga halaman kemudian, aku sadar bibirku bergerak mengikuti bacaan.
Aku menutup mulutku rapat-rapat. Di sebelahku, aku mendengar Putra tertawa pelan.
Kami membeli tiga buku. Buku kancil, buku tentang gajah yang takut tikus, dan buku kumpulan dongeng Sunda dengan ilustrasi cat air yang membuatku menahan napas. Kakek pemilik toko terbangun sebentar untuk menerima uang, menyebut harga yang terlalu murah, lalu tertidur lagi bahkan sebelum kami keluar dari pintu.
Lalu kami makan.
Nomor dua: ajak ke tempat yang ada makanannya. Ayana kalau laper galak.
Dia membawaku ke warung kecil di ujung Braga yang menjual mi kocok. Mi kuning dengan kikil sapi yang lembut dan kuah kaldu yang kental dan taburan seledri dan bawang goreng. Aku menghabiskan satu mangkuk dan memesan setengah mangkuk lagi, dan Putra menatapku dengan ekspresi yang sama dengan waktu dia bilang kamu kalau lagi baca buku cerita anak, mukanya kayak anak kecil.
“Apa?” tanyaku dengan mulut penuh.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu liatin aku.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia menatap mangkuknya. “Kamu dulu juga nambah setengah mangkuk. Di sini. Tiap kali.”
Aku berhenti mengunyah. Lalu, pelan-pelan, aku menelan.
Aku tidak ingat warung ini. Aku tidak ingat mi kocok ini. Tapi lidahku, tanganku, perutku, sesuatu di dalam diriku yang bukan kepalaku, ingat. Seperti tanganku yang ingat cara menggambar tangan Putra dengan mata tertutup.
Ingatan prosedural, kata dr. Hana. Ingatan tubuh.
Badanku ingat hidup yang kepalaku sudah lupa.
Langit mulai menggelap jam empat sore.
Aku melihatnya waktu kami keluar dari warung mi kocok. Awan-awan abu-abu tebal yang entah dari mana datangnya, menggulung dari arah utara, dari arah Lembang, menutupi langit biru yang tadi pagi begitu bersih. Angin bertiup lebih dingin. Daun-daun pohon di sepanjang Braga berputar-putar di trotoar.
Aku menatap langit. Lalu menatap Putra.
“Nggak mungkin,” kataku.
Putra menatap langit juga. Wajahnya tetap datar. Tapi sudut bibirnya bergerak.
“Udah doa,” katanya.
Tetes pertama jatuh di hidungku.
Lalu tetes kedua di pipiku. Lalu ketiga, keempat, kelima. Lalu langit terbuka, dan hujan Bandung turun sekaligus, deras dan dingin dan berbau tanah basah.
Aku menjerit kecil dan tertawa dan menutupi kepalaku dengan tas belanjaan berisi tiga buku cerita anak. Orang-orang di sepanjang Braga berlarian mencari tempat berteduh.
Lalu sesuatu terbuka di atas kepalaku.
Payung. Payung hitam besar dengan gagang kayu melengkung. Putra memegangnya, berdiri di sebelahku, sangat dekat.
“Dari mana kamu dapet payung?”
“Bawa dari rumah.”
“Kamu bawa payung? Padahal tadi pagi langitnya cerah banget?”
“Nomor empat,” katanya. “Kalau hujan, payungin.”
Aku menatapnya. Dia menatap ke depan, ke jalan Braga yang mulai tergenang air, dengan payung hitam di tangan dan rambut yang mulai basah di ujung-ujungnya karena angin meniup hujan dari samping.
“Kamu tuh,” kataku. Lalu aku tidak tahu harus melanjutkan apa.
“Aku tuh apa?”
“Nggak tahu.” Aku tertawa. “Kamu tuh pokoknya.”
Kami berjalan di bawah payung itu sepanjang Braga. Pelan. Tidak buru-buru. Hujan memukul-mukul kain payung di atas kepala kami dengan bunyi yang menenangkan, seperti ribuan jari kecil yang mengetuk-ngetuk pintu.
Payung itu besar, tapi tidak cukup besar untuk dua orang tanpa harus berdekatan. Jadi kami berdekatan. Lenganku hampir menyentuh lengannya. Hampir. Sejengkal. Setengah jengkal.
Lalu aku menoleh, dan aku melihatnya.
Bahu kirinya basah kuyup.
Kemeja flanel hijau tuanya, di bagian bahu dan lengan kiri, sudah berubah warna jadi hitam karena basah. Air hujan menetes dari ujung lengannya. Rambutnya di sisi kiri lepek menempel di dahi.
Dan aku, di bawah payung yang sama, kering sama sekali.
Aku menatap payung di atas kepalaku. Lalu aku mengerti. Dia memiringkan payung itu ke arahku. Sedikit. Tidak kentara. Cukup untuk membuatku tetap kering, dan membiarkan separuh badannya sendiri kehujanan.
“Mas,” kataku. “Bahu kamu basah.”
“Nggak apa-apa.”
“Payungnya miring ke aku.”
“Nggak.”
“Miring, Mas.”
“Anginnya dari kiri.”
“Anginnya dari depan.”
Dia diam. Lalu, tanpa bilang apa-apa, dia memiringkan payung itu sedikit lagi ke arahku.
Aku menatapnya. Aku menatap bahunya yang basah dan rambutnya yang lepek dan wajahnya yang tetap datar, seperti tidak ada apa-apa.
Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.
Aku melangkah lebih dekat. Satu langkah. Sampai lenganku menempel di lengannya. Sampai bahuku bersentuhan dengan bahunya yang basah, dan air hujan dari kemejanya meresap ke kardigan rajutku.
“Biar muat,” kataku, tanpa menatapnya. “Kalau deketan, muat dua-duanya.”
Aku merasakan dia membeku di sebelahku.
Lalu, pelan-pelan, payung itu bergerak. Kembali ke tengah. Lurus. Di atas kami berdua.
Kami berjalan begitu sampai ke ujung Braga. Bahu menempel bahu. Di bawah payung hitam yang sekarang lurus di tengah. Dan untuk pertama kalinya, kami berdua sama-sama kering.
Hampir.
Di ujung jalan, di bawah emperan gedung tua bercat putih, aku melihat dua sosok yang sangat mencurigakan.
Satu berbadan tinggi dengan rambut ikal mengembang dan kacamata kuning. Satu lagi kurus dengan kaus PERSIB JUARA. Mereka berdua berdiri di balik pilar, setengah tersembunyi, memegang ponsel yang diarahkan ke kami, dengan ekspresi yang membuat mereka kelihatan seperti paparazi amatir.
Gendis dan Ujang.
Gendis melihatku melihatnya. Dia langsung membalikkan badan ke pilar dan pura-pura membaca poster pameran lukisan yang tertempel di sana. Ujang terlambat sedetik, dan pura-pura mengikat tali sepatu. Dia memakai sandal jepit.
“Mas,” kataku. “Itu Gendis sama Ujang.”
Putra tidak menoleh. “Iya.”
“Kamu tahu mereka ngikutin?”
“Dari toko buku.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Mereka lagi taruhan,” kata Putra. Sudut bibirnya bergerak. “Kalau aku bilang, nanti mereka kalah dua-duanya.”
Aku tertawa. Aku tertawa keras sekali, di bawah payung, di tengah hujan, dengan bahu menempel bahu laki-laki yang separuh badannya basah kuyup karena memayungiku. Aku tertawa sampai perutku sakit. Sampai Gendis dan Ujang menyerah berpura-pura dan ikut tertawa di balik pilar.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa sekeras ini.
Lalu aku ingat. Sabtu kemarin. Di mobil. Bercerita tentang Reno.
Dan entah kenapa, pikiran itu membuat tawaku berhenti sebentar. Seperti tersandung batu kecil di jalan.
Malamnya, di ranjang, Detik naik dan tidur di kakiku.
Pertama kalinya.
Dia melompat ke ranjang tanpa permisi, berjalan melewati selimut dengan langkah berat seperti gajah kecil, berputar tiga kali di atas kakiku, lalu jatuh dan bergelung seperti roti tawar raksasa. Berat. Hangat. Mendengkur seperti motor tua.
Aku tidak bergerak. Aku takut kalau aku bergerak, dia akan pergi.
Aku berbaring di sana dengan kucing gendut di kakiku dan tiga buku cerita anak bekas di meja samping ranjang dan kardigan rajut yang masih sedikit lembap tergantung di kursi, dan aku menatap langit-langit.
Ada satu hal yang terus berputar di kepalaku. Pikiran yang tadi muncul di ujung Braga, di bawah payung, dan membuat tawaku tersandung.
Aku menghitung.
Hari Sabtu, aku ke Jakarta. Atau Reno ke Bandung. Aku bertemu laki-laki yang kucintai. Aku tertawa. Kadang. Di beberapa bagian.
Hari Rabu, aku kencan dengan suami-yang-sementara-jadi-pacar sesuai kontrak cap jempol kecap. Ke toko jam. Ke Taman Lansia. Ke toko buku bekas.
Dan aku tertawa.
Banyak.
Lebih banyak dari hari Sabtu.
Aku menatap langit-langit lama sekali. Detik mendengkur di kakiku. Hujan masih turun di luar, lebih pelan sekarang, gerimis tipis yang mengetuk-ngetuk kaca jendela.
Nggak, kataku pada diriku sendiri. Nggak usah dipikirin. Itu cuma kebetulan. Cuma karena Rabu hari ini lucu. Gendis sama Ujang lucu. Mi kocoknya enak. Hujannya romantis. Itu doang.
Aku menutup mata dan memaksa diriku memikirkan hal lain.
Ponselku bergetar di meja samping ranjang. Aku meraihnya. Pesan dari Ema, yang ternyata bisa mengetik di WhatsApp, meskipun dengan huruf kapital semua dan tanpa spasi yang benar:
NENG. JUMAAH TEH ULANG TAUN SIPUTRA. 31. MANEHNA MAH TEU RESEP DIRAYAKEUN. TAPI EMA HAYANG. NENG BISA BANTU EMA? JANGAN BILANG SIPUTRA. RAHASIA.
(Neng. Jumat tuh ulang tahun si Putra. 31. Dia mah nggak suka dirayain. Tapi Ema pengen. Neng bisa bantu Ema? Jangan bilang si Putra. Rahasia.)
Aku menatap pesan itu.
Jumat. Ulang tahunnya. Lusa.
Aku bahkan tidak tahu kapan ulang tahun suamiku sendiri.
Aku membalas pesan Ema dengan cepat, sebelum aku bisa berpikir dua kali:
Bisa, Ema. Aku bantu. Kita bikin kejutan.
Lalu aku membuka chat dengan Gendis, dan mengetik: Ndis. Jumat malem. Darurat nasional. Pesta kejutan ulang tahun Mas Putra. Lo masuk tim.
Balasan Gendis datang dalam tiga detik. Rentetan emoji yang tidak bisa kubaca semuanya. Lalu: GUE UDAH NUNGGU LO NGOMONG GINI DARI LIMA MINGGU LALU.
Aku tersenyum, dan meletakkan ponsel, dan memejamkan mata.
Sebelum tertidur, ada satu pikiran terakhir yang lewat. Pelan. Hampir tidak terasa.
Payung itu. Payung hitam besar dengan gagang kayu.
Payung biru tua dengan jahitan benang merah yang dipinjamkan Reno Sabtu lalu, yang sekarang tergeletak di jok belakang mobil hijau tua karena aku lupa mengembalikannya, gagangnya juga kayu. Kayu yang sama. Bentuk lengkungan yang sama.
Aneh, pikirku setengah tertidur. Kebetulan yang aneh.
Lalu aku tertidur, dengan Detik di kakiku, dan tidak memikirkannya lagi.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga reading
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog