Chapter Thirty Five
Halaman Baru
POV: Ayana
Travel itu berhenti di pool Pasteur jam dua lewat dua puluh siang.
Aku turun pertama. Kursi paling depan. Mama benar. Tidak bisa kabur. Sopir travelnya bahkan menatapku dengan heran waktu aku melompat turun sebelum pintu terbuka sepenuhnya, menyeret koper kecil dengan stiker bandara yang setengah mengelupas.
Lahan parkir berlubang. Bus-bus kecil. Calo-calo dengan rompi oranye. Lampu jalan di ujung, yang mati.
Aku menatap ujung lahan itu. Ke bawah lampu jalan yang mati. Ke tempat mobil hijau tua itu diparkir di malam ulang tahunnya, dengan lampu mati dan mesin mati dan dua siluet di dalamnya. Satu tegak. Satu menunduk rendah, seperti mencari sesuatu yang jatuh di bawah setir.
Mungkin kuncinya jatuh, pikirku waktu itu.
Aku menggenggam jam tangan miliknya lebih erat di saku kardigan.
Lalu aku memesan taksi online. Bukan ke rumah.
Ke Braga.
Lonceng di atas pintu berbunyi kling.
Toko itu terang dan sejuk dan wangi minyak mesin dan kayu tua. Jam-jam di dinding belakang berdetak, puluhan detak yang sedikit tidak serempak, seperti hujan pelan. Di balik etalase, jam-jam tangan di bantalan beludru merah.
Dan di balik meja kerja, bukan dia.
Ujang.
Dia sedang duduk di kursi kerja Putra, dengan loupe di mata kanan yang jelas kebesaran untuk wajahnya, membungkuk di atas jam weker kaleng merah muda. Jam weker Bu Ratna. Dia mendongak waktu lonceng berbunyi.
Loupe itu jatuh dari matanya dan berguling di atas meja.
“TETEH?”
“Ujang.” Suaraku serak. “Mas Putra mana?”
Ujang berdiri. Kursi kerja itu berputar di belakangnya. Dia menatapku, menatap koperku, menatap wajahku. Lalu matanya mulai berkaca-kaca, dan dia menunjuk ke pintu belakang dengan tangan yang gemetar.
“Di Ema,” katanya. “Saré. Akang tilu peuting teu saré, Teh. Nyetir ka Bekasi unggal peuting. Isuk ieu Akang muka toko jam salapan, terus jam sapuluh Akang ampir ragrag dina korsi. Ema ngamuk. Ema nyeret Akang ka imahna. Ayeuna Akang saré dina sofa Ema.”
(Di Ema. Tidur. Akang tiga malem nggak tidur, Teh. Nyetir ke Bekasi tiap malem. Pagi ini Akang buka toko jam sembilan, terus jam sepuluh Akang hampir jatuh dari kursi. Ema ngamuk. Ema nyeret Akang ke rumahnya. Sekarang Akang tidur di sofa Ema.)
Sofa Ema. Aku pernah melihatnya. Sofa rotan tua dengan bantalan tipis. Lebih pendek dari sofa abu-abu di rumah.
Aku mulai melangkah ke pintu belakang.
“Teh.”
Aku berhenti.
Ujang berdiri di samping meja kerja. Dia menatap sesuatu di atas meja. Sesuatu kecil, persegi, tebal, dengan sampul kulit cokelat yang lusuh di sudut-sudutnya.
Kartu Servis.
“Akang ninggalkeun ieu,” kata Ujang pelan. “Waktu Ema nyeret. Akang poho.”
(Akang ninggalin ini. Waktu Ema nyeret. Akang lupa.)
Aku menatap buku itu.
“Teteh tos maca,” kata Ujang. Bukan pertanyaan. “Teteh tos maca halaman nu baheula. Akang nyarios. Teteh nyerat dina surat.”
(Teteh udah baca. Teteh udah baca halaman yang dulu. Akang yang bilang. Teteh nulis di surat.)
“Iya.”
Ujang mengambil buku itu dari meja. Dia memegangnya dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang suci. Lalu dia berjalan ke arahku dan mengulurkannya.
“Teteh can maca nu anyar,” katanya. Suaranya pecah. “Maca nu anyar, Teh. Punten. Akang teu nitah. Abdi nu masihan. Mun Akang ngambek, abdi nu tanggung.”
(Teteh belum baca yang baru. Baca yang baru, Teh. Maaf. Akang nggak nyuruh. Saya yang ngasih. Kalau Akang marah, saya yang tanggung.)
Aku duduk di bangku tinggi di sebelah meja kerja.
Bangku yang sama. Bangku tempat Aki mendudukkan cucunya yang tidak mau bicara. Bangku tempat aku tertidur di bahunya selama sejam dan dia tidak bergerak sama sekali.
Aku membuka Kartu Servis.
Aku melewati halaman-halaman Aki. Melewati halaman pemilik: nangis. Melewati empat puluh enam penolakan dan satu aku bilang iya. Melewati akad, jam 9.47. Melewati selamanya yang ini. Melewati hari jadi ke-2 besok, aku nggak nanya, aku seneng.
Lalu halaman berikutnya. Halaman yang tidak sempat kubaca di gudang.
Hari ke-1 (lagi).
Unit bangun. Unit nggak kenal aku.
Unit punya pacar namanya Reno. Katanya baru putus seminggu. Masih proses balikan.
Unit takut sendirian, tapi nggak mau dideketin. Unit masih tidur sambil nyari tangan.
Unit masih cantik kalau marah.
Kalau dia lupa, aku pacarin lagi dari awal.
Dicatat.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Halaman berikutnya.
Hari ke-2.
Jam unit jalan lagi. Unit bilang makasih.
Unit nggak suka bubur. Unit mau roti bakar. Dicatat.
Halaman berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya.
Hari ke-3. Unit pulang. Unit tanya “istrimu itu aku, kan?” Iya. Kamu.
Hari ke-4. Detik desis ke unit. Unit sedih. Besok coba ayam rebus.
Hari ke-6. Unit bilang masih cinta Reno. Oke.
Satu baris. Oke. Tidak ada yang lain di halaman itu. Cuma oke, dan sedikit noda di pojok kertas, seperti bekas air.
Hari ke-8. Unit nggak suka kopi hitam. Teh manis, dua sendok. Roti bakar pakai margarin, bukan mentega. Selai srikaya. Unit bikinin aku roti bakar. Gosong dikit. Nggak protes. Dicatat.
Hari ke-14. Kontrak pacaran. Cap jempol kecap. Aturan 8: unit boleh ketemu siapa aja. Aku tanda tangan. Tanganku nggak gemeter. Aku latihan semalem biar nggak gemeter.
Aku berhenti. Aku membaca kalimat itu lagi.
Aku latihan semalem biar nggak gemeter.
Tanda tangan yang tegak dan rapi di bawah aturan nomor delapan. Yang membuatku kesal di depan cermin karena tangannya sama sekali tidak gemetar.
Dia berlatih. Semalaman. Supaya tidak gemetar.
Aku terus membaca. Tanganku gemetar sampai halaman-halamannya bergetar.
Hari ke-18. Kencan pertama (lagi). Unit liat aku kerja tiga jam. Bu Ratna dateng. Unit kesel. Kayaknya. Telinganya merah.
Unit pegang tanganku di Asia Afrika. Unit takut. Unit lepasin cepet-cepet. Tanganku masih kerasa sampe sekarang. Jam 11 malem. Masih kerasa.
Hari ke-20. Unit mimpi buruk. Unit tidur di lantai, nyender ke pintu. Aku juga. Sabtu: antar unit ke Kemang. Jam dua. Bawa termos teh. Bawa jaket. Bawa bantal leher, siapa tahu nunggunya lama.
Lalu halaman yang berbeda. Judulnya ditulis di atas, dengan huruf yang sedikit lebih besar.
Sabtu 1.
Aku tahu ini apa. Aku tahu sebelum membacanya. Tapi aku membacanya keras-keras. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku tidak sanggup membacanya di kepalaku saja. Mungkin karena aku perlu mendengarnya.
“Unit diantar ke Kemang. Cincin dititip. Kusimpan di saku kiri, dekat jantung, biar nggak hilang. Pulang 21.10. Teh manis, dua sendok.”
Ujang, di depan etalase, berbalik membelakangiku.
“Sabtu 2. Unit pakai gaun biru.” Suaraku mulai goyah. “Cantik. Bukan buat aku. Nggak apa-apa. Dicatat.”
Gaun biru. Hadiah hari jadi pertama. Yang biru. Kamu cantik pake biru.
“Sabtu 3. Jam tangan Reno selesai. Poros roda keseimbangan patah. Bikin baru. Tiga kali. Yang ketiga jadi. Ada ukiran di tutup belakang. Ukirannya kubersihin juga. Mesinnya bagus. Orangnya juga kayaknya baik.”
Aku berhenti. Aku tidak bisa melanjutkan. Kalimat berikutnya ada di sana, dengan huruf yang paling rapi di seluruh halaman.
Aku membacanya pelan sekali.
“Semoga dia jaga unit ini lebih baik dari aku.”
Air mataku jatuh ke kertas. Aku buru-buru menyekanya dengan lengan kardigan, takut tintanya luntur.
“Sabtu 4. Hujan. Unit lupa bawa payung. Payung kutitip ke Reno lewat satpam. Unit nggak perlu tahu.”
Payung.
Payung biru tua. Gagang kayu. Jari-jari yang dijahit dengan benang merah. Yang masih ada di dalam tasku. Yang kubawa ke Bekasi dan kembali lagi.
Kamu yang jahit ini? Rapi banget.
Bawa aja, Ay.
Bukan Reno yang menjahitnya. Reno tidak pernah bilang iya.
Aku mengeluarkan payung itu dari tas dengan tangan gemetar dan menatap jahitan benang merahnya. Kecil-kecil. Rata. Seperti dijahit oleh seseorang yang terbiasa bekerja dengan benda-benda yang sangat kecil.
Seperti dijahit oleh seseorang dengan tangan yang di gambar dengan mata tertutup.
“Sabtu 5,” kataku. Suaraku nyaris tidak keluar. “Unit ketawa di mobil waktu pulang. Cerita soal Reno. Sudah lama nggak dengar dia ketawa. Aku seneng.”
Aku berhenti.
“Aku seneng.”
Suaraku patah.
“Aku seneng.”
Tidak ada dicatat. Halaman itu berakhir di situ. Tiga baris yang sama. Seperti orang yang mengulang kalimat supaya percaya.
Aku memeluk Kartu Servis itu ke dadaku dan menangis di bangku tinggi di sebelah meja kerja.
Aku tidak tahu berapa lama. Ujang tidak menoleh. Jam-jam di dinding terus berdetak.
Lalu aku membuka halaman berikutnya.
Jumat. Umur 31.
Unit bikin pesta. Unit manggang kue sendiri, gagal dua kali. Unit gambar spanduk. Ada jam dinding yang senyum, kayak di kartu kado. Tangannya inget.
Unit pergi jam 21.03.
Kuenya enak kata Ujang. Aku belum nyobain.
Nunggu unit pulang.
Baris terakhir itu miring. Tintanya luntur di dua tempat. Di huruf n dan huruf g. Bulatan-bulatan kecil di mana tintanya menyebar, seperti ada yang jatuh ke atasnya.
Aku menatap bulatan-bulatan itu lama sekali.
“Jang,” kataku. Suaraku keluar seperti bisikan. “Ini kenapa luntur?”
Ujang tidak menjawab.
“Jang.”
Dia berbalik. Wajahnya basah. Hidungnya merah. Kaus PERSIB JUARA-nya basah di bagian kerah.
“Teh,” katanya. “Akang nitah abdi ulah nyarita.”
(Teh. Akang nyuruh saya jangan cerita.)
“Cerita apa, Jang?”
Ujang menggigit bibir. Keras. Sampai bibirnya memutih.
Lalu dia bilang, dalam bahasa Indonesia, pelan, terbata-bata, seperti anak kecil yang mengaku sudah memecahkan vas bunga:
“Teh, Akang nangis di mobil.”
Napasku berhenti.
“Di pool travel. Malem ulang taun Akang. Habis Teteh masuk ke warung kopi itu.” Ujang menyeka hidungnya dengan lengan kaus. “Akang nggak bisa nyalain mobil. Akang nunduk ke setir. Lama banget, Teh. Akang nggak bersuara. Akang cuma… cuma bahunya gerak-gerak. Tangannya di sini.” Ujang menekan dadanya sendiri, di kiri. “Di saku. Di cincin Teteh.”
Yang di kursi pengemudi menunduk. Rendah sekali. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang jatuh di bawah setir.
Mungkin kuncinya jatuh.
“Saya yang nyetir pulang, Teh,” kata Ujang. “Saya baru dapet SIM tiga bulan. Saya takut banget. Saya ngerem kedalaman terus. Akang nggak marah. Akang nggak ngomong apa-apa sepanjang jalan. Terus pas nyampe rumah, Akang potong kue buat saya. Sepotong kecil. Terus Akang duduk di sofa nulis itu.” Dia menunjuk Kartu Servis di pelukanku. “Terus Akang SMS saya. Jang. Jangan cerita ke Teteh.”
Ujang menangis lebih keras.
“Maaf, Teh,” katanya. “Saya nggak kuat. Akang bilang jangan cerita biar Teteh nggak pulang karena kasihan. Tapi saya nggak kuat, Teh. Saya nggak kuat liat Akang nyetir ke Bekasi tiga malem. Saya nggak kuat liat Akang tidur di sofa Ema yang pendek banget. Saya nggak kuat.”
Aku menatap Ujang. Lalu menatap bulatan-bulatan tinta yang luntur di huruf n dan huruf g.
Di malam itu, aku duduk di warung kopi di Pasteur, menyesap teh yang terlalu manis, membiarkan laki-laki lain memegang tanganku di atas meja.
Dan di ujung lahan parkir, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, dia menangis di balik setir.
Dengan tangan di atas cincinku.
Aku tidak menoleh.
Aku tidak ingat berlari.
Aku cuma ingat pintu belakang toko. Ruang kecil yang bau oli. Mesin bubut tua di bawah kain putih. Halaman sempit penuh tanaman. Gang yang hanya muat satu motor. Teras kecil dengan pot-pot anggrek yang menggantung.
Pintu rumah Ema terbuka. Ema berdiri di ambang pintu dengan kebaya kutubaru cokelat dan sendok sayur di tangan. Dia melihatku. Dia melihat Kartu Servis di pelukanku. Dia melihat wajahku.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menyingkir dari ambang pintu, dan menunjuk ke ruang tengah dengan sendok sayur.
Dia di sana.
Di sofa rotan tua Ema. Sofa dengan bantalan tipis yang lebih pendek dari sofa abu-abu di rumah. Kakinya menjuntai jauh di ujung, telapak kakinya yang memakai kaus kaki abu-abu menyentuh lantai. Satu tangan di dada. Satu tangan terkulai ke lantai.
Di pergelangan tangan kirinya, tidak ada jam.
Pergelangan itu kelihatan telanjang. Ada garis pucat di kulitnya, bekas tali jam yang dipakai bertahun-tahun.
Seperti garis pucat di jari manisku.
Wajahnya tidak tenang. Bahkan dalam tidur, alisnya berkerut. Lingkaran hitam di bawah matanya gelap seperti memar. Rahangnya ditumbuhi bayangan janggut tiga hari. Kemeja flanelnya kusut, kemeja yang sama dengan yang dia pakai di teras rumah Mama.
Aku berlutut di samping sofa itu. Di lantai. Di depan tangannya yang terkulai.
Aku mengambil tangannya. Tangan yang di gambar. Tangan dengan bekas luka di jempol kiri. Tangan yang memperbaiki jam tangan Reno semalaman. Yang menjahit payung dengan benang merah. Yang mencatat setiap hari selama sembilan minggu, unit, unit, unit, tentang aku. Tentang aku yang ini.
Dari hari kedua.
Aku mengeluarkan jam tangan miliknya dari saku kardigan. Tali kulit hitam. Permukaan biru tua. Masih berdetak.
Aku memasangkannya di pergelangan tangan kirinya. Di atas garis pucat itu. Pelan. Hati-hati. Mengencangkan gespernya di lubang yang sudah usang, lubang yang dia pakai bertahun-tahun.
Dia bergerak.
Matanya terbuka. Pelan. Tidak langsung seperti di rumah sakit. Pelan, berat, seperti orang yang bangun dari tidur yang sangat dalam.
Dia melihatku.
Dia tidak bergerak. Dia tidak bicara. Dia cuma menatapku, berlutut di samping sofa rotan Ema, dengan Kartu Servis di lantai di sebelahku dan jamnya yang baru saja kupasang di pergelangan tangannya.
“Ay?” bisiknya. Seperti tidak percaya.
“Titipan,” kataku. Suaraku pecah. “Aku balikin.”
Dia menatap jam di pergelangan tangannya. Lalu menatapku.
Lalu matanya jatuh ke Kartu Servis di lantai. Terbuka. Di halaman Nunggu unit pulang, dengan tinta yang luntur di dua tempat.
Wajahnya berubah. Aku melihat dinding pasir itu mulai runtuh, dan aku melihat dia mencoba membangunnya lagi, cepat, seperti kebiasaan.
Aku tidak membiarkannya.
Aku naik ke sofa rotan yang terlalu pendek. Aku membenamkan wajahku di dadanya. Di kemeja flanel yang kusut. Di atas saku kiri. Di atas cincinku.
Dan aku mengatakannya.
“Aku sayang kamu.”
Dia membeku di bawahku.
“Aku sayang kamu,” ulangku. Lebih keras. Ke dadanya. Ke jantungnya yang tiba-tiba berdebar sangat keras di bawah pipiku. “Aku sayang kamu. Aku sayang kamu. Maaf. Aku sayang kamu. Maafin aku. Aku sayang kamu.”
Aku tidak bisa berhenti. Kata-kata itu, yang sejak malam ulang tahunnya tersangkut di tenggorokanku, yang di malam tepi ranjang berubah jadi ciuman karena aku takut, yang di surat perpisahan kutulis karena itu satu-satunya cara aku bisa mengatakannya, sekarang keluar semua. Berulang-ulang. Bercampur isak. Bercampur maaf.
Dan dia, setelah lama, melingkarkan lengannya di punggungku.
Erat. Sangat erat. Seperti di tangga darurat Pasar Baru. Seperti orang yang menarik seseorang keluar dari air.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia tidak perlu. Aku merasakan dadanya bergetar di bawah pipiku. Aku merasakan sesuatu yang hangat dan basah jatuh di puncak kepalaku. Lalu lagi. Lalu lagi.
Dari ambang pintu, aku mendengar Ema menutup pintu pelan-pelan. Dan dari balik pintu itu, aku mendengar Ema dan Ujang menangis bersama-sama.
Kami pulang ke rumah jam enam sore.
Detik menyambut di depan pintu.
Dia tidak duduk diam di atas keset seperti waktu aku pergi. Dia berlari. Kucing gendut seperti roti tawar raksasa itu berlari dari dalam rumah ke pintu depan, dengan langkah berat yang membuat lantai kayu berderit, dan menabrak kakiku. Lalu dia menggosok-gosokkan badannya ke betisku. Kiri. Kanan. Kiri. Kanan. Sambil mengeong tanpa henti, mengeong yang marah dan lega dan protes sekaligus.
Aku mengangkatnya dan memeluknya. Dia mendengkur keras seperti motor tua di telingaku.
“Maaf, Detik,” bisikku ke bulunya. “Aku pulang.”
Di meja makan, dua cangkir.
Cangkir kucing oranye. Cangkir putih yang retak. Bersih. Kering. Tertelungkup di atas tatakan, siap dipakai.
“Tiap pagi,” kata Putra pelan di belakangku, “aku bikin dua. Kebiasaan.”
Aku menatapnya.
“Yang punya kamu nggak ada yang minum,” katanya. “Jadi tiap pagi aku minum dua-duanya.”
Aku tertawa. Basah. Lalu menangis lagi. Lalu tertawa lagi.
Malam itu, aku tidak naik ke kamar sendirian.
Aku mengambil tangannya di anak tangga terakhir, tempat dia biasanya menciumku dan bilang selamat tidur, Ay. Dan aku menariknya naik. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Dia mengikuti, pelan, tanpa bertanya.
Di kamar, aku membuka selimut di sisi kanan. Sisi yang sembilan minggu tidak pernah dipakai.
“Tidur di sini,” kataku. “Cuma tidur. Aku… aku capek banget, Mas. Aku cuma mau tidur di sebelah kamu.”
Dia menatap sisi ranjang yang terbuka itu lama. Lalu menatapku.
“Ini bilang dengan bener?” tanyanya pelan. Sudut bibirnya bergerak.
“Belum,” kataku. “Ini cuma… ini cuma minta. Yang bener nanti.”
Dia tersenyum. Lalu dia berbaring. Di sisi kanan. Di atas bantal yang sembilan minggu tidak pernah dipakai.
Aku berbaring di sisi kiri. Lalu bergeser. Sampai kepalaku di dadanya. Sampai telingaku tepat di atas jantungnya.
Dia melingkarkan lengannya di bahuku.
Aku mulai menangis lagi. Aku tidak tahu kenapa. Aku sudah menangis seharian. Di travel. Di toko. Di sofa rotan Ema. Aku pikir air mataku sudah habis.
Ternyata belum.
Aku menangis di dadanya, pelan, tanpa suara, dengan Kartu Servis di meja samping ranjang dan payung biru tua bersandar di lemari dan dua jam tangan yang berdetak di pergelangan tangan kami berdua. Dia tidak menyuruhku berhenti. Dia cuma mengusap rambutku. Pelan. Berirama. Seperti detak jam.
Hal terakhir yang kuingat sebelum tertidur adalah jantungnya. Berdebar di bawah telingaku. Tidak keras lagi. Tidak cepat lagi.
Pelan. Teratur. Tenang.
Seperti jam yang akhirnya, setelah lama sekali, diputar dengan benar.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru reading
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog