← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Seventeen

Meja Biasa

POV: Ayana

“Kali ini aku yang ke Bandung,” kata Reno di telepon hari Rabu malam. “Kamu udah empat kali ke Jakarta. Gantian.”

Aku duduk di ranjang dengan kaki bersila, ponsel di telinga, dan tersenyum ke tembok. “Kamu mau ke Bandung? Buat aku?”

“Buat kamu,” katanya. Lalu, cepat, seperti mengoreksi: “Sama sekalian liburan. Udah lama nggak ke Bandung.”

“Oke. Sabtu?”

“Sabtu. Kamu yang pilih tempat. Kamu kan sekarang orang Bandung.”

Aku tertawa. Orang Bandung. Aku belum merasa seperti orang Bandung. Aku masih tersesat setiap kali pulang dari Braga, masih tidak bisa membedakan Jalan Riau dari Jalan Martadinata, masih bilang nggak waktu Ema bilang teu.

Tapi aku tahu satu tempat.


Aku menemukannya di galeri ponsel, beberapa hari yang lalu.

Aku sedang menggulir ribuan foto, mencari referensi gambar beruang yang pernah kubuat. Lalu aku menemukan satu folder yang dinamai dengan emoji hati dan angka 47. Isinya cuma tiga foto.

Foto pertama: sebuah restoran di malam hari, dilihat dari luar. Bangunan tua bergaya kolonial dengan dinding putih dan jendela-jendela besar berbingkai kayu, lampu-lampu kuning hangat menyala di dalamnya. Pohon besar di halaman, dililit lampu-lampu kecil. Plang nama dari besi tempa: Rumah Makan Dago Pakar.

Foto kedua: meja di dekat jendela besar. Taplak putih. Vas kecil berisi satu tangkai mawar kuning. Dua piring, belum disentuh. Dan di sudut foto, sebagian lengan seseorang. Lengan laki-laki dengan kemeja flanel kotak-kotak. Tangan yang memegang gelas air, dengan bekas luka kecil di jempol kiri.

Foto ketiga: buram. Seperti diambil sambil tertawa, atau sambil tangan gemetar. Wajahku sendiri, dari dekat, dengan latar belakang lampu-lampu kuning. Aku memakai gaun hijau dan menutup separuh wajahku dengan tangan. Mataku basah. Tapi aku tersenyum. Tersenyum sangat lebar.

Aku tidak ingat foto-foto itu. Aku tidak ingat restoran itu. Tapi waktu melihat foto pertama, ada sesuatu di perutku yang hangat. Seperti di depan etalase toko jam waktu kencan pertama. Oh, di sini.

Aku tidak tahu kenapa folder itu dinamai 47. Mungkin nomor meja. Mungkin tanggal. Mungkin cuma iseng.

Tapi aku tahu aku ingin ke sana.


“Rumah Makan Dago Pakar,” kataku pada Putra di meja makan hari Jumat malam. “Reno ke Bandung besok. Aku mau ngajak dia ke sana.”

Sendok di tangan Putra berhenti di udara.

Lama.

Lalu dia meletakkannya pelan-pelan di pinggir piring.

“Kenapa di sana?” tanyanya. Suaranya datar. Tapi ada sesuatu di bawahnya. Seperti batu yang tenggelam di danau.

“Nggak tahu,” kataku jujur. “Aku nemu fotonya di galeri. Kayaknya aku pernah ke sana. Tempatnya bagus. Aku… entah kenapa aku suka. Kayak ada rasa kangen gitu, padahal aku nggak inget.”

Putra menatap piringnya.

“Kamu pernah ke sana?” tanyaku. “Sama aku?”

Dia tidak menjawab.

“Mas?”

“Pernah,” katanya.

“Enak nggak makanannya?”

“Enak.”

“Oke. Bagus.” Aku tersenyum. “Besok anterin, ya. Reno naik travel, turun di Pasteur. Kita jemput dia, terus langsung ke sana.”

Putra mengangkat kepalanya dan menatapku. Lama sekali. Aku menunggu dia bilang sesuatu. Apa saja. Jangan di sana, mungkin. Atau kenapa nggak di tempat lain.

Dia tidak bilang apa-apa.

Dia cuma mengangguk, sekali, dan kembali makan. Pelan sekali. Seperti setiap suapan nasi itu harus dia paksa masuk ke tenggorokan.

Aku tidak memperhatikannya. Aku sedang memikirkan baju apa yang akan kupakai besok.


Reno turun dari travel di Pasteur jam empat sore, dengan ransel kecil di punggung dan jaket denim di lengan. Dia melambai waktu melihat mobil hijau tua di tempat parkir. Lalu dia melihat siapa yang menyetir, dan lambaiannya melambat.

“Halo, Mas,” katanya, masuk ke jok belakang.

“Halo,” kata Putra.

Lalu hening.

Hening yang sangat panjang dan sangat tebal, sampai aku bisa merasakannya menekan bahuku. Aku duduk di depan, di sebelah Putra. Reno duduk di belakang, di belakangku. Tidak ada yang bicara. Radio tidak menyala. Yang terdengar cuma bunyi lampu sein dan klakson angkot dan napas kami bertiga.

“Jadi,” kataku, dengan semangat yang terlalu dipaksakan. “Ren, kamu udah pernah ke Dago Pakar?”

“Belum.”

“Bagus banget, katanya. Pemandangannya ke kota. Kalau malem, lampunya kayak bintang.”

“Oh, ya?”

“Iya. Mas, iya kan?”

“Iya,” kata Putra.

Hening lagi.

Aku menyerah dan menatap jalan.


Rumah makan itu persis seperti di foto.

Bangunan tua bergaya kolonial dengan dinding putih. Jendela-jendela besar berbingkai kayu. Pohon beringin besar di halaman, dililit lampu-lampu kecil yang baru mulai menyala karena matahari mulai tenggelam. Di kejauhan, di balik pagar kayu, Kota Bandung terhampar di lembah, lampu-lampunya mulai berkelip satu per satu.

Putra memarkir mobil di halaman parkir yang berbatu. Lalu dia turun, membukakan pintu untukku, dan berjalan di belakang kami sampai ke teras depan.

Di teras, seorang pelayan laki-laki dengan rompi hitam dan dasi kupu-kupu sedang menata menu di meja penerima tamu. Umurnya mungkin empat puluhan, dengan kumis tipis dan rambut yang mulai menipis di puncak kepala. Papan nama kecil di dadanya: Dedi.

Dia mendongak waktu kami naik ke teras. Lalu wajahnya bercahaya. Bercahaya sekali, seperti orang yang bertemu kerabat lama.

“Kang Putra! Teh Ayana!” serunya, merentangkan tangan. “Ya Allah, lami pisan teu ka dieu! Kamana waé? Teh Ayana, abdi nguping Teteh kacilakaan! Tos damang?”

(Kang Putra! Teh Ayana! Ya Allah, lama banget nggak ke sini! Ke mana aja? Teh Ayana, saya denger Teteh kecelakaan! Udah sehat?)

Aku membeku.

Dia kenal kami. Dia kenal kami. Berdua. Sebagai pasangan.

“Eh… udah, Kang,” kataku. “Udah sehat.”

“Alhamdulillah, alhamdulillah.” Kang Dedi menepuk dadanya. “Hayu, hayu, lebet. Méja biasa, nya? Abdi tos nyiapkeun. Méja dua belas, nu deukeut jandéla. Abdi mah apal pisan, Kang Putra sok mesen méja éta unggal bulan.”

(Ayo, ayo, masuk. Meja biasa, ya? Saya udah nyiapin. Meja dua belas, yang deket jendela. Saya mah hafal banget, Kang Putra suka pesen meja itu tiap bulan.)

Lalu matanya bergerak. Ke Reno, yang berdiri di sebelahku. Lalu ke Putra, yang berdiri di belakang, satu langkah lebih jauh dari kami berdua.

Senyum Kang Dedi goyah.

Aku melihatnya terjadi. Dia melihat posisi kami. Aku dan Reno di depan, bersebelahan. Putra di belakang, sendirian. Dia melihat jari manis kiriku. Kosong. Aku sudah melepas cincinku di mobil dan menitipkannya ke Putra, seperti biasa, seperti setiap Sabtu.

Kang Dedi menatap Putra. Wajahnya pelan-pelan berubah, dari bingung ke sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya kelihatan seperti orang yang baru saja menginjak sesuatu yang rapuh.

“Bukan, Kang,” kata Putra pelan. Sopan. Tenang. “Saya cuma nganter.”

Kang Dedi membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Oh,” katanya. “Oh. Muhun. Muhun, Kang.”

(Oh. Oh. Iya. Iya, Kang.)

Putra mengangguk padanya, lalu padaku, tanpa menatap mataku.

“Aku di parkiran,” katanya. “Kabarin kalau udah.”

Lalu dia berbalik dan turun dari teras. Kembali ke halaman parkir yang berbatu. Kembali ke mobil hijau tua.

Aku berdiri di teras itu, di bawah lampu-lampu kuning, dengan Reno di sebelahku, dan tidak tahu kenapa kakiku tiba-tiba berat sekali.

Kang Putra suka pesen meja itu tiap bulan.

Tiap bulan.

Dengan siapa?


Kang Dedi tetap mengantar kami ke meja dua belas. Meja di dekat jendela besar. Taplak putih. Vas kecil berisi satu tangkai mawar kuning.

Persis seperti di foto kedua di folder 47.

Aku duduk di kursi yang menghadap jendela. Reno duduk di depanku. Kang Dedi meletakkan menu, berdeham, dan pergi dengan langkah yang terlalu cepat.

“Ay,” kata Reno pelan. “Kamu yakin mau di sini?”

“Kenapa?”

Dia menatapku lama. Lalu menatap mawar kuning di vas. Lalu menatap ke luar jendela.

Aku mengikuti arah pandangnya.

Dari jendela besar itu, aku bisa melihat halaman parkir. Lampu-lampu kecil di pohon beringin menerangi batu-batu kerikil dan deretan mobil. Dan di ujung deretan itu, di bawah lampu jalan yang kuning redup, mobil hijau tua.

Putra tidak duduk di dalam mobil.

Dia duduk di atas kap mobil. Kakinya menjuntai ke bawah, tangannya di saku jaket. Dia tidak sedang melihat ponsel. Dia tidak sedang tidur. Dia tidak sedang melihat pemandangan kota yang lampunya berkelip seperti bintang.

Dia sedang menatap ke arah restoran.

Ke arah jendela besar ini.

Ke arah meja dua belas.

Aku menatapnya lewat kaca, dan sesuatu di dadaku tertarik kencang, seperti per jam yang diputar terlalu kuat.

Lalu dia sadar aku melihatnya. Aku tahu dia sadar, karena dia langsung menunduk, mengeluarkan ponsel dari saku, dan pura-pura sibuk dengan layarnya.

“Ay?” Reno memanggil. “Kamu mau pesen apa?”

Aku mengalihkan mata dari jendela. “Eh. Apa aja. Kamu aja yang pilih.”


Makanannya enak. Gurame bakar, karedok, nasi liwet, sambal dadak. Reno bercerita tentang pekerjaan barunya, tentang bosnya yang suka rapat jam tujuh pagi, tentang apartemennya di Tebet yang ternyata cuma tiga gang dari kos Bu Darsih yang dulu.

Aku tertawa di tempat yang tepat. Aku bertanya di tempat yang tepat.

Tapi setiap beberapa menit, mataku kembali ke jendela.

Dia masih di sana. Di atas kap mobil. Kadang menatap ponsel. Kadang menatap ke kota. Tapi setiap kali aku tidak sedang melihatnya, aku tahu, aku tahu, dia menatap ke jendela ini.

Waktu piring-piring sudah kosong, Kang Dedi datang lagi. Kali ini membawa sebuah piring kecil berisi pisang bakar dengan parutan keju dan susu kental manis cokelat di atasnya.

“Ieu, Teh,” katanya, meletakkan piring itu di depanku. “Pisang bakar keju. Siga biasa. Ti dapur, gratis, kanggo hari jadi—”

(Ini, Teh. Pisang bakar keju. Kayak biasa. Dari dapur, gratis, buat hari jadi—)

Dia berhenti mendadak. Matanya melirik Reno. Wajahnya memucat.

“Euh,” katanya. “Hapunten. Abdi… abdi lepat. Hapunten, Teh.”

(Eh. Maaf. Saya… saya salah. Maaf, Teh.)

Dia buru-buru pergi, hampir menabrak meja lain.

Aku menatap pisang bakar itu.

Hari jadi.

Reno menatap pisang bakar itu juga. Lalu menatapku. Lalu, pelan-pelan, menatap ke luar jendela, ke mobil hijau tua di ujung parkiran.

“Ay,” katanya. Suaranya serak. “Kamu nggak inget tempat ini, kan?”

“Nggak.”

“Tapi kamu yang milih.”

“Aku nemu fotonya di galeri.”

Reno menutup mata sebentar. Lama. Waktu dia membukanya lagi, ada sesuatu di sana yang belum pernah kulihat. Seperti malu. Seperti sedih. Seperti orang yang berdiri di tempat yang bukan tempatnya.

“Kita pulang aja, yuk,” katanya. “Travel terakhir ke Jakarta jam sembilan.”


Kami mengantar Reno ke pool travel di Pasteur. Dia turun dari mobil, mengucapkan terima kasih pada Putra dengan suara pelan, dan pergi tanpa menoleh.

Lalu tinggal kami berdua di mobil hijau tua.

Dan entah kenapa, setelah Reno pergi, sesuatu dalam diriku terlepas. Ketegangan yang sejak tadi siang menekan bahuku tiba-tiba hilang. Dan aku mulai bicara.

Aku cerita tentang Reno. Tentang bosnya yang rapat jam tujuh pagi dan selalu membawa bekal rebusan ubi. Tentang apartemennya di Tebet yang cuma tiga gang dari kos Bu Darsih, dan bagaimana dia pernah tidak sengaja masuk ke gang kos itu dan dikejar anjing Bu Darsih yang namanya Bleki. Tentang dia yang di Melbourne pernah memasak nasi goreng sembilan kali dan gagal semuanya, dan yang kesembilan sampai membuat alarm kebakaran apartemennya bunyi.

Aku tertawa. Aku tertawa keras, sampai perutku sakit, sampai aku harus memegang dasbor. Aku menceritakan semuanya dengan semangat, seperti anak kecil yang baru pulang dari karyawisata.

Putra mendengarkan. Dia menyetir pelan di jalanan Bandung yang mulai sepi, di bawah lampu-lampu jalan yang kuning.

Dan dia tersenyum.

Aku melihatnya dari sudut mataku. Dia tersenyum. Senyum kecil, tapi tulus, di sudut bibirnya. Matanya lembut menatap jalan. Seperti senyum orang yang sedang mendengar lagu yang disukainya.

Aku merasa senang. Lega. Dia nggak marah, pikirku. Dia seneng aku seneng. Mungkin semuanya memang baik-baik saja. Mungkin aku terlalu banyak berpikir soal Kang Dedi dan meja dua belas dan pisang bakar.

Aku terus bercerita sampai kami tiba di rumah. Sampai aku naik ke kamar. Sampai aku mandi dan berganti piyama dan berbaring di ranjang.

Aku tersenyum ke langit-langit, masih memikirkan alarm kebakaran di Melbourne.

Lalu, karena aku belum mengantuk, aku membuka ponsel lagi. Galeri. Folder dengan emoji hati dan angka 47.

Aku memperbesar foto ketiga. Foto buram itu. Wajahku dari dekat, gaun hijau, tangan yang menutupi separuh wajah. Mata basah. Senyum lebar.

Aku tidak pernah memperhatikan latar belakangnya sebelumnya. Di belakangku, di luar jendela, ada lampu-lampu kuning di pohon beringin. Ada vas kecil dengan mawar kuning di sudut meja.

Meja dua belas.

Aku memperbesar lagi. Di pojok kanan bawah foto, setengah terpotong, ada sebuah piring kecil. Pisang bakar dengan parutan keju dan susu kental manis cokelat.

Aku menatap foto itu sampai layar ponselku meredup sendiri.

Lalu aku mematikannya, dan membalikkannya ke bawah di atas meja, dan menarik selimut sampai ke dagu.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku bangun di rumah sakit, aku tidak memikirkan Reno sebelum tidur.

Aku memikirkan laki-laki yang duduk di atas kap mobil di ujung parkiran, menatap jendela.