Chapter Forty One
Payung
POV: Ayana
Reno mengirim pesan hari Rabu.
Ay, Sabtu aku ada kerjaan di Bandung. Seminar di ITB. Boleh aku mampir ke toko jam? Aku mau ketemu suami kamu. Sebentar aja. Ada yang mau aku omongin ke dia. Bukan ke kamu.
Aku membaca pesan itu tiga kali. Lalu aku memberikan ponselku ke Putra, yang sedang duduk di sebelahku di sofa abu-abu, membaca buku tentang mesin jam Swiss abad kesembilan belas dengan kacamata di hidung.
Dia membacanya. Lama.
Lalu dia menutup bukunya dan menatapku.
“Kamu mau?” tanyanya.
“Kamu mau?”
Dia diam sebentar. “Dia mau ketemu aku. Bukan kamu.” Dia mengembalikan ponselku. “Kalau dia mau ketemu aku, aku ada di toko. Kayak biasa. Jam sepuluh sampai jam lima.”
“Mas.”
“Hm?”
“Ini Sabtu,” kataku. “Sabtu punya kamu.”
Dia menatapku lama. Lalu sudut bibirnya bergerak.
“Iya,” katanya. “Makanya aku yang mutusin. Suruh dia dateng.”
Reno datang jam dua siang.
Aku sudah di toko sejak jam sebelas, duduk di bangku tinggi di sebelah meja kerja, menggambar beruang di buku sketsa. Beruangnya masih sedikit mirip kentang. Tapi kentangnya sekarang punya leher.
Lonceng di atas pintu berbunyi kling.
Reno berdiri di ambang pintu. Kemeja putih dengan lengan digulung. Tas laptop di bahu. Jam tangan perak di pergelangan kiri. Dia melihat sekeliling toko. Jam-jam di dinding. Etalase dengan bantalan beludru merah. Ujang di balik etalase yang langsung berdiri tegak seperti satpam. Dan aku, di bangku tinggi, dengan buku sketsa di pangkuan.
Lalu dia melihat Putra. Di balik meja kerja. Loupe di mata kanan.
Putra melepas loupe-nya dan berdiri.
Mereka saling menatap di seberang toko jam di Braga.
Aku tidak bisa bernapas.
“Mas,” kata Reno.
“Reno,” kata Putra.
Lalu Putra keluar dari balik meja kerja, berjalan melewati etalase, dan mengulurkan tangan.
Reno menatap tangan itu. Lalu menjabatnya. Lama. Lebih lama dari jabat tangan biasa.
“Makasih udah mau ketemu,” kata Reno.
“Duduk,” kata Putra. Dia menunjuk bangku panjang di depan etalase, bangku tempat Ujang biasa tidur di malam-malam Sabtu. “Ujang, bikin teh.”
“Manis, Kang?” tanya Ujang.
Putra menatap Reno.
“Kopi,” kata Reno. “Kalau ada.”
“Ada,” kata Putra. Dia berjalan ke meja kerja, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan sesuatu.
Toples kaca. Labelnya ditulis dengan tangan, huruf bulat-bulat miring.
KOPI AYANA. Jangan disentuh, Mas!!! ☕
Aku menatap toples itu. Aku belum pernah melihatnya sejak hari kedua di rumah itu, waktu aku menyemburkan kopi hitam ke piyama awanku. Aku pikir dia membuangnya.
Dia tidak membuangnya. Dia menyimpannya di sini. Di laci paling bawah meja kerja Aki.
Putra memberikan toples itu ke Ujang. Lalu menoleh padaku. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menatapku, sebentar, dengan mata yang lembut.
Aku tidak bisa bicara.
Mereka bicara lama.
Aku tidak ikut duduk di bangku panjang. Aku tetap di bangku tinggi di sebelah meja kerja, dengan buku sketsa di pangkuan, pura-pura menggambar. Ujang di balik etalase, pura-pura membersihkan jam yang sudah bersih.
Reno yang lebih banyak bicara. Pelan. Kadang menunduk. Kadang menatap cangkir kopinya.
Dia bilang dia minta maaf. Untuk Sabtu-Sabtu itu. Untuk malam ulang tahun. Untuk telepon yang dia tahu waktunya salah, tapi tetap dia lakukan. Untuk kita mulai lagi, Ay? di warung kopi di Pasteur.
Putra mendengarkan. Tidak memotong. Tidak bilang nggak apa-apa.
Lalu Reno bilang sesuatu yang membuatku berhenti menggambar.
“Payung itu,” katanya.
Putra diam.
“Sabtu keempat. Hujan.” Reno menatap cangkir kopinya. “Satpam kafe nyamperin aku waktu Ayana ke toilet. Dia bawa payung biru. Dia bilang, Mas, ini titipan dari Mas yang di mobil ijo di bawah pohon ketapang. Katanya buat Mbak yang pake rok krem. Jangan sampe kehujanan.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Aku tahu itu dari kamu,” kata Reno. Suaranya pecah. “Aku tahu. Aku liat jahitannya. Benang merah. Rapi banget. Kayak dijahit pake pinset.” Dia menggeleng. “Dan waktu Ayana nanya, kamu yang jahit ini?, aku nggak bilang iya. Tapi aku juga nggak bilang nggak. Aku cuma bilang, bawa aja.”
Dia mengangkat kepala dan menatap Putra.
“Aku pengecut, Mas,” katanya. “Lagi. Aku biarin dia mikir itu dari aku. Karena aku pengen. Sekali aja. Aku pengen dia mikir aku orang yang bawa payung.”
Hening.
Jam-jam di dinding berdetak. Ujang berhenti membersihkan jam.
Putra menatap Reno lama. Lalu dia bilang, pelan:
“Dia kering, kan?”
Reno mengedip. “Apa?”
“Hari itu. Dia nggak kehujanan, kan?”
Reno menatapnya. Lalu, pelan-pelan, wajahnya runtuh.
“Nggak,” bisiknya. “Dia nggak kehujanan.”
“Ya udah,” kata Putra. “Itu yang penting.”
Sebelum pergi, Reno berdiri di ambang pintu toko. Dia menatapku. Pertama kalinya sejak dia masuk, dia benar-benar menatapku.
Lalu dia menatap Putra lagi.
“Mas,” katanya. “Aku mau bilang satu hal lagi.”
“Apa?”
Reno tersenyum. Senyum miring yang dulu membuatku jatuh cinta di perpustakaan kampus. Kali ini senyumnya sampai ke mata.
“Dia natap kamu kayak gitu lagi,” katanya. “Kayak di akad. Dari tadi. Dari bangku itu. Tiap kali kamu ngomong, dia berhenti gambar.” Dia menggeleng pelan, tersenyum. “Selamat, Mas.”
Putra tidak bisa menjawab. Telinganya merah. Merah sekali. Sampai ke leher.
Reno mengangkat tangan kirinya. Jam tangan perak berdetak di pergelangannya.
“Oh. Satu lagi,” katanya. “Jam ini. Boleh aku bawa ke sini buat servis? Tiap tahun?”
Putra menatap jam itu. Lalu menatap Reno.
“Bawa aja,” katanya. “Tiap tahun.”
“Bayar?”
“Bayar,” kata Putra. “Mahal.”
Reno tertawa. Keras. Bebas. Lalu dia membuka pintu, dan lonceng di atasnya berbunyi kling.
Dan dia hampir menabrak seseorang yang sedang berlari masuk.
“AY! AYANA! MAS PUTRA! UJANG! TIARA MELAHIRKAN! TIARA MELAHIRKAN!”
Gendis. Rambut ikal mengembang yang berantakan. Kacamata kuning yang miring. Overall jeans yang dikancingkan salah satu. Ponsel di tangan, layarnya menyala dengan foto bayi merah yang keriput.
Dia menabrak Reno di ambang pintu. Dia tidak sadar. Dia melewatinya, menerjang ke arahku, menyodorkan ponselnya ke wajahku.
“COWOK! BIMA! TIGA KILO DUA! NANGISNYA KENCENG BANGET! TIARA NANGIS! BANG FIKRI PINGSAN! BENERAN PINGSAN, AY, DI RUANG BERSALIN, DOKTERNYA HARUS NGURUSIN DIA DULU!”
Aku menatap foto itu. Bayi kecil dengan wajah merah keriput dan mata terpejam dan mulut yang terbuka lebar, menangis. Di belakangnya, sebagian wajah Tiara yang basah dan bengkak dan tersenyum lebar sekali.
Aku mulai menangis. Lalu tertawa. Lalu menangis lagi.
Ujang melompat dari balik etalase dan ikut melihat. Dia langsung menangis juga. Ujang menangis untuk segala hal sekarang.
Putra berdiri di sebelahku, menatap foto itu dari atas bahuku. Dia tidak menangis. Tapi dia tersenyum, kecil, dan tangannya menemukan tanganku dan menggenggamnya.
Lalu Gendis sadar ada orang lain di ruangan itu.
Dia berbalik. Menatap laki-laki dengan kemeja putih dan tas laptop yang berdiri di ambang pintu, setengah keluar, setengah masuk, dengan wajah bingung.
Gendis menyipitkan mata di balik kacamata kuningnya.
“Lo siapa?”
“Eh… Reno.”
Gendis membeku.
“Reno?” Dia menatap Reno dari atas ke bawah. “Reno yang itu?”
“Reno yang… itu?” Reno menatapku dengan wajah meminta tolong.
Gendis berjalan ke arahnya. Pelan. Dengan aura yang biasanya dipakai harimau sebelum menerkam. Dia berhenti di depan Reno. Dia harus sedikit mendongak, karena Reno lebih tinggi. Tapi entah bagaimana, dia kelihatan lebih besar.
“Lo yang mutusin Ayana di Kemang,” katanya. “Lo yang bikin dia nangis dua minggu. Lo yang ngajak dia balikan pas dia amnesia. Lo yang nelepon dia di malam ulang taun Mas Putra.”
“Iya,” kata Reno. Pelan. Jujur. “Itu aku.”
Gendis menatapnya lama.
“Gue udah lama banget pengen nonjok lo,” katanya.
“Wajar,” kata Reno.
Gendis mengangkat tangan. Aku menahan napas. Ujang menahan napas. Bahkan Putra menegang di sebelahku.
Lalu Gendis membetulkan kacamatanya.
“Tapi lo dateng ke sini minta maaf,” katanya. “Gue denger dari luar. Gue nunggu di depan pintu dari tadi. Gue nggak berani masuk karena kalian lagi ngomong serius.”
Reno mengedip.
“Jadi gue tunda nonjoknya,” kata Gendis. Dia memasukkan tangannya ke saku overall. “Tapi lo utang gue satu traktiran. Seblak. Level lima. Di Cikawao.”
“Kenapa aku utang?”
“Karena gue udah nahan diri buat nggak nonjok lo,” kata Gendis, seolah itu hal paling logis di dunia. “Itu butuh tenaga. Tenaga butuh seblak.”
Reno menatapnya. Lalu, pelan-pelan, dia tersenyum. Senyum miring.
“Oke,” katanya. “Seblak. Level lima. Kapan?”
Gendis berkedip. Sepertinya dia tidak menyangka Reno akan bilang oke.
“Eh… nanti. Gue kabarin.”
“Nomor kamu?”
Gendis menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatap Reno lagi. Lalu, dengan wajah yang tiba-tiba sangat merah di balik kacamata kuning, dia merebut ponsel dari tangan Reno dan mengetik nomornya sendiri dengan kecepatan cahaya.
Ujang, di sebelahku, berbisik keras sekali, “Teh. Teh. Taruhan anyar. Abdi pasang tilu bulan.”
(Teh. Teh. Taruhan baru. Saya pasang tiga bulan.)
Reno pergi. Gendis pergi, dengan alasan harus ke rumah sakit menjenguk Tiara, dan dengan wajah yang masih merah.
Lalu, jam empat sore, langit Bandung menggelap.
Awan-awan abu-abu tebal menggulung dari arah Lembang. Angin mulai dingin. Daun-daun pohon di sepanjang Braga berputar-putar di trotoar.
Aku memandang langit lewat jendela toko. Lalu menatap Putra yang sedang membungkuk di atas jam meja di bawah lampu.
“Mas,” kataku. “Aku pulang duluan, ya. Mau masak.”
Dia mendongak. “Mau hujan, Ay. Tunggu aja. Nanti pulang bareng.”
“Nggak apa-apa. Aku bawa payung.”
Aku menunjukkan payung itu. Payung lipat biru tua. Gagang kayu. Jahitan benang merah di salah satu jarinya.
Dia menatap payung itu lama. Lalu menatapku.
“Hati-hati,” katanya.
Aku pergi. Tapi aku tidak pulang.
Aku menunggu di kafe sebelah toko selama satu jam, minum teh manis dan menggambar beruang. Hujan turun jam empat lewat lima belas. Deras. Dingin. Air mengalir di sepanjang trotoar Braga seperti sungai kecil.
Jam lima kurang lima, aku keluar dari kafe.
Aku membuka payung biru tua.
Aku menunggu di depan toko jam. Di trotoar. Di bawah payung. Di tempat yang sama dengan kepingan ingatan itu. Di tempat yang sama dengan ajakan ke-46.
Jam lima tepat, lampu di dalam toko padam. Pintu terbuka. Lonceng berbunyi kling.
Dia keluar. Kemeja flanel biru tua. Tas kecil di bahu. Dia berhenti di ambang pintu, menatap hujan, menatap langit.
Lalu dia melihatku.
Dia berhenti. Lama.
Aku berdiri di trotoar di depannya, dengan payung biru tua di tangan. Payung yang dia jahit dengan benang merah. Payung yang dia titipkan lewat satpam. Payung yang dulu dia bawa keluar dari toko ini, di bawah hujan, setelah menolakku yang keempat puluh enam kali.
“Jemput,” kataku.
Dia tidak bergerak.
“Dulu kamu keluar bawa payung,” kataku. “Habis nolak aku. Aku inget sekarang. Sepotong.” Aku menelan ludah. “Sekarang aku yang bawa payung. Aku yang jemput.”
Dia menatapku. Matanya basah. Atau mungkin itu hujan yang tertiup angin ke wajahnya.
Dia melangkah keluar dari ambang pintu. Ke trotoar. Ke bawah payung.
Aku mengangkat payung itu tinggi-tinggi, supaya muat untuk kepalanya. Dia terlalu tinggi. Aku harus berjinjit.
Lalu aku melakukan sesuatu yang sudah kurencanakan sejak di kafe sebelah.
Aku memiringkan payung itu. Ke arahnya. Ke bahunya. Sampai seluruh kepalanya, seluruh bahunya, seluruh badannya ada di bawah payung.
Dan aku, di luar payung, di bawah hujan.
Air dingin langsung membasahi rambutku. Mengalir ke dahiku, ke pipiku, ke leherku. Kardiganku basah dalam sepuluh detik. Gaunku basah dalam dua puluh.
“Ay!” Dia meraih gagang payung. “Ay, kamu kehujanan!”
Aku menahan gagang payung itu. Erat. Tetap miring ke arahnya.
“Biar kamu ngerasain,” kataku, di bawah hujan, dengan air mengalir di wajahku, “dijemput pake payung.”
Dia menatapku.
“Dulu bahu kamu yang basah,” kataku. “Di Rabu itu. Waktu kamu mayungin aku. Sekarang gantian.”
Dia diam. Hujan memukul-mukul kain payung di atas kepalanya. Hujan memukul-mukul kepalaku.
Lalu dia mengambil payung itu dari tanganku. Dengan lembut. Tapi pasti. Dan dia menutupnya.
Hujan langsung membasahi kami berdua.
Dia berdiri di trotoar Braga, di bawah hujan, basah kuyup dalam lima detik, dengan payung yang tertutup di tangan, dan dia tertawa. Keras. Lepas. Dengan kepala sedikit mendongak ke langit, seperti perempuan di foto pernikahan.
“Kalau gitu,” katanya, di sela tawanya, “basah bareng aja.”
Lalu dia menarikku ke dadanya dan menciumku. Di trotoar Braga. Di bawah hujan. Di depan toko jam Aki. Di depan Pak Engkos yang keluar dari pos satpam dengan pentungan, melihat kami, lalu pura-pura tidak melihat dan masuk lagi.
Kami pulang dengan mobil hijau tua. Basah kuyup. Air menetes dari rambut kami ke jok. Detik menyambut di pintu, melihat kami, mendesis, dan lari ke atas kulkas.
Aku berdiri di ruang tengah dan menggigil. Kardiganku menempel di kulit. Gaunku menempel di kulit. Rambutku menempel di wajah dan leher.
Putra mengambil handuk dari lemari kecil di samping kamar mandi bawah. Dia berjalan ke arahku dan mulai mengeringkan rambutku. Pelan. Hati-hati. Seperti mengeringkan jam yang kemasukan air.
Aku mengambil handuk itu dari tangannya.
“Kamu juga basah,” kataku.
Aku mengangkat handuk itu ke kepalanya. Dia harus menunduk. Aku mengeringkan rambutnya. Rambut hitam tebal yang menempel di dahi. Air menetes dari ujung-ujungnya ke pipiku. Aku mengusap wajahnya dengan handuk. Dahinya. Matanya yang terpejam. Pipinya. Rahangnya.
Dia membuka mata.
Kami berdiri sangat dekat. Handuk di tanganku, di lehernya. Napasnya hangat di wajahku yang dingin.
“Kamu duluan mandinya,” katanya. Suaranya serak. “Nanti masuk angin.”
Aku menatapnya.
Lalu aku tersenyum. Lesung pipi kiri.
“Bareng aja,” kataku. “Hemat air.”
Dia menatapku. Lama. Telinganya, yang tadi pucat karena dingin, pelan-pelan memerah.
Lalu dia mengambil handuk dari tanganku, dan menggandeng tanganku, dan menarikku ke arah tangga.
Dari atas kulkas, Detik menatap kami pergi dengan wajah sangat jijik.
Di lantai ruang tengah, payung biru tua tergeletak. Tertutup. Basah. Jahitan benang merahnya berkilat kena lampu.
Payung yang tidak dipakai siapa-siapa sore itu.
Karena kami memilih basah bareng.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung reading
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog