Chapter Thirty Nine
Kursi Paling Depan
POV: Putra
“Aku yang nyetir,” kata Ayana.
Sabtu kedua. Jam delapan pagi. Dia berdiri di depan mobil hijau tua dengan kunci di tangan, kunci yang dia ambil dari gantungan di dekat pintu sebelum aku sempat mengambilnya. Dia memakai kemeja putih dengan lengan digulung, celana jeans, dan sepatu kets. Rambutnya diikat ke belakang. Ada kacamata hitam di atas kepalanya, kacamata yang dulu dia beli di Pangandaran dan tidak pernah dia pakai karena bikin muka aku kayak lalat.
“Ay,” kataku.
“Aku punya SIM. Masih berlaku. Aku cek di dompet.”
“Ay, kamu belum nyetir sejak…”
“Sejak kecelakaan. Aku tahu.” Dia menggenggam kunci itu lebih erat. “Makanya aku mau nyetir. Hari ini. Ke Jakarta.”
“Ke Jakarta?”
“Ke Kemang.” Dia menatapku. Lurus. “Kafe yang sama.”
Aku tidak bisa bicara.
“Sabtu punya kamu,” katanya. “Hari ini, kamu yang duduk di kursi penumpang. Kamu yang dianter. Kamu yang nggak usah ngapa-ngapain.” Dia membuka pintu belakang dan menunjuk ke dalam. “Liat.”
Di jok belakang, ada termos biru. Ada jaket abu-abu terlipat rapi. Ada kantong plastik berisi roti dan pisang.
Dan bantal leher berbentuk huruf U. Plastiknya sudah dibuka.
“Termosnya isi teh manis,” kata Ayana. “Dua sendok. Buat kamu. Bantal lehernya buat kamu. Kalau ngantuk.”
Aku menatap bantal leher itu lama sekali.
Lalu aku berjalan ke pintu penumpang depan, membukanya, dan duduk.
Dia menyetir seperti orang yang sedang menjinakkan bom.
Dua tangan di setir. Jam sepuluh dan jam dua, persis seperti yang diajarkan Aki padaku, persis seperti yang kuajarkan padanya dua tahun lalu, waktu dia baru dapat SIM dan menabrak tiang listrik di kompleks dalam percobaan pertama. Punggung tegak, tidak menyentuh sandaran. Dagu maju. Mata melotot ke jalan.
Tangannya gemetar.
Aku melihatnya. Di jari-jarinya yang mencengkeram setir terlalu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Di bahunya yang naik setiap kali ada motor yang lewat di sebelah kanan. Di napasnya yang pendek-pendek setiap kali lampu lalu lintas berubah kuning.
Aku tidak bilang apa-apa. Aku menggenggam tanganku sendiri di pangkuan supaya tidak mengulurkannya ke setir.
Di Jalan Pasteur, sebuah angkot berhenti mendadak di depan kami. Ayana menginjak rem keras sekali. Mobil tua itu tersentak. Termos di jok belakang berguling.
“ANGKOT!” teriak Ayana ke kaca depan. “KALAU BERHENTI KASIH SEIN!”
Sopir angkot itu mengeluarkan tangan dari jendela dan melambai. Tidak minta maaf. Cuma melambai.
Ayana mengerang.
“Napas, Ay,” kataku pelan.
“Aku napas.”
“Kamu nahan napas dari lampu merah tadi.”
Dia menarik napas panjang. Gemetar. “Oke. Oke. Napas.”
“Satu, dua, tiga, empat,” kataku.
Dia menatapku sekilas. Lalu kembali ke jalan. Lalu, pelan-pelan, bahunya turun sedikit.
“Tahan,” kataku. “Buang.”
Di lampu merah berikutnya, di persimpangan sebelum gerbang tol, dia menghentikan mobil dengan lebih halus. Lalu, tanpa menoleh, dia melepas tangan kirinya dari setir dan meraih tanganku di pangkuan.
Dia mengangkatnya. Ke bibirnya. Dan mencium punggung tanganku.
Aku berhenti bernapas.
“Dulu,” katanya, masih menatap lampu merah, “di Jalan Asia Afrika, aku yang megang tangan kamu waktu nyeberang. Karena aku takut.”
Lampu masih merah. Dia masih memegang tanganku di dekat bibirnya.
“Sekarang aku yang nyetirin kamu,” katanya. “Padahal aku masih takut.”
Lampu berubah hijau. Dia melepas tanganku, menaruhnya kembali di pangkuanku dengan hati-hati, dan kembali memegang setir. Jam sepuluh dan jam dua. Gemetar.
Mobil di belakang membunyikan klakson. Ayana tidak berteriak kali ini. Dia cuma memasukkan gigi dan maju.
Aku menatap punggung tanganku. Masih terasa hangat di tempat bibirnya tadi.
Di setiap lampu merah sepanjang perjalanan, dia melakukannya lagi.
Lampu merah di tol dalam kota, karena macet. Lampu merah di Cawang. Lampu merah di Pancoran. Lampu merah di Mampang. Setiap kali mobil berhenti, tangan kirinya melepas setir, meraih tanganku, mengangkatnya ke bibir, dan menciumnya. Sekali. Pelan. Tanpa menoleh. Lalu menaruhnya kembali di pangkuanku.
Di lampu merah keempat, aku menyerah. Aku tidak menaruh tanganku di pangkuan lagi. Aku menaruhnya di atas konsol tengah, di antara kami, telapak menghadap ke atas, menunggu.
Dia melihatnya. Dia tersenyum. Lesung pipi kiri.
Di lampu merah kelima, dia tidak mengangkat tanganku ke bibirnya. Dia cuma menaruh tangannya di atas tanganku. Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku. Menggenggam. Erat. Sampai lampu berubah hijau.
Dia sudah tidak gemetar.
Aku tidak tahu kapan berhentinya. Mungkin di lampu merah ketiga. Mungkin di keempat. Yang kutahu, waktu kami masuk ke Kemang, tangannya di setir sudah tenang, dan bahunya sudah tidak naik setiap kali ada motor lewat, dan dia bersenandung. Lagu Payung Teduh. Sumbang.
Aku menatap jendela dan tidak bisa berhenti tersenyum.
Dia memarkir mobil di depan kafe.
Bukan di bawah pohon ketapang, lima puluh meter jauhnya. Persis di depan. Di tempat parkir yang ada garis kuningnya. Butuh empat kali maju mundur dan satu kali menyenggol pot tanaman, tapi akhirnya mobil hijau tua itu terparkir. Agak miring.
“Sempurna,” kata Ayana, mematikan mesin.
Aku menatap mobil yang miring empat puluh lima derajat. Aku menatap pot tanaman yang bergoyang.
“Sempurna,” kataku.
Dia tertawa. Lalu dia keluar dari mobil, berjalan memutar ke sisi penumpang, dan membukakan pintu untukku.
Aku duduk di sana, menatapnya. Dia berdiri di depan pintu yang terbuka dengan satu tangan di atas pintu, seperti sopir hotel. Matanya berbinar di balik kacamata hitam lalat yang sekarang akhirnya dia pakai.
“Silakan, Mas,” katanya.
Aku keluar dari mobil. Dia menutup pintunya. Lalu, tanpa bertanya, tanpa minta izin, tanpa aturan nomor satu kontrak cap jempol kecap yang entah sekarang di mana, dia menggandeng tanganku.
Dan kami masuk ke kafe itu.
Dingin. AC-nya terlalu kencang. Wangi kopi dan kayu manis. Musik akustik pelan dari speaker di langit-langit.
Aku belum pernah masuk ke sini. Lima Sabtu, aku cuma melihatnya dari luar. Dari bawah pohon ketapang. Dari balik kaca depan mobil. Dinding putih. Jendela besar. Meja dekat jendela di lantai bawah.
Meja tempat laki-laki itu bilang aku nggak mau LDR. Meja tempat istriku menangis tiga tahun lalu, sebulan sebelum dia masuk ke tokoku dengan mata bengkak.
Ayana berdiri di ambang pintu dan melihat sekeliling. Ke meja-meja. Ke kursi-kursi. Ke pojok paling belakang, di dekat pintu dapur, setengah tersembunyi di balik rak buku.
Kursi paling belakang. Biar bisa kabur.
Dia menatap kursi itu sebentar.
Lalu dia berjalan ke arah yang berlawanan. Ke depan. Ke meja dekat jendela. Meja yang sama. Taplak yang sama, mungkin. Kursi yang sama.
Dia menarik kursi itu. Menghadap jendela. Menghadap jalan. Menghadap mobil hijau tua yang terparkir miring di depan.
Dan dia duduk.
“Sini, Mas,” katanya, menepuk kursi di seberangnya. “Kursi paling depan.”
Aku duduk.
Seorang barista muda dengan celemek hitam dan rambut dicat ungu datang membawa menu. Dia melihat Ayana, lalu matanya menyipit sedikit. Seperti mengenali.
“Mbak yang sering ke sini Sabtu-Sabtu kemarin, ya?” tanyanya ramah. “Yang pesen teh manis? Sama Mas yang…”
Dia berhenti. Dia menatapku. Dia jelas bingung. Aku bukan laki-laki yang dia ingat.
Ayana tersenyum. Lebar. Lesung pipi.
“Iya, Mas. Saya yang sering ke sini,” katanya. Lalu dia mengulurkan tangan di atas meja dan menggenggam tanganku. Erat. Terang-terangan. Di depan barista berambut ungu. “Ini suami saya.”
Barista itu mengedip.
“Oh,” katanya. “Oh! Halo, Mas!”
“Halo,” kataku. Telingaku panas.
“Suami saya tukang jam,” lanjut Ayana, dengan nada yang biasanya dipakai orang untuk bilang suami saya astronot. “Di Bandung. Di Braga. Paling jago se-Indonesia. Tiga tukang jam di Jakarta bilang jam nggak bisa dibenerin, dia benerin dalam semalem. Bikin poros sendiri. Pake mesin bubut kakeknya.”
“Ay,” bisikku.
“Apa? Bener, kok.”
Barista berambut ungu itu menatap kami berdua bergantian. Lalu dia tersenyum lebar.
“Keren, Mas,” katanya padaku. Lalu pada Ayana: “Pesen apa, Mbak?”
“Teh manis,” kata Ayana. “Dua. Panas. Dua sendok gula.”
“Dua-duanya teh manis?”
“Dua-duanya.” Ayana menatapku. “Suami saya suka teh manis kalau saya yang pesenin.”
Barista itu pergi. Ayana masih menggenggam tanganku di atas meja.
Aku menatap tangan kami. Lalu menatap jendela. Lalu menatap meja di depanku, taplak putih dengan noda kopi samar di pojok.
Lima Sabtu. Lima Sabtu aku duduk di bawah pohon ketapang di luar sana dan menatap kafe ini dan membayangkan dia duduk di dalam. Tertawa. Bersama laki-laki lain. Lima Sabtu cincinnya di saku kiriku dan termos teh di konsol tengah yang tidak kuminum.
Dan sekarang aku di dalam. Di meja dekat jendela. Di kursi paling depan.
Dan dia menggenggam tanganku. Di depan barista. Di depan dunia.
Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan kebahagiaan sebesar ini.
Aku tidak pernah belajar. Aki mengajariku memperbaiki jam yang rusak, tapi Aki tidak pernah mengajariku apa yang harus dilakukan kalau jam yang rusak itu tiba-tiba berbalik dan memperbaiki tukang jamnya.
Dadaku sesak. Bukan sakit. Sesak yang lain. Seperti ruangan yang terlalu penuh cahaya. Seperti per jam yang diputar sampai batas, sampai tidak bisa diputar lagi, sampai seluruh mesinnya bergetar menahan tenaga.
“Mas?” Ayana menatapku. “Kamu kenapa?”
Aku menggeleng. Aku tidak bisa bicara.
Dia menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, wajahnya melembut. Dia mengerti. Entah bagaimana, dia selalu mengerti.
“Nggak usah ngomong apa-apa,” katanya. “Minum teh aja.”
Barista berambut ungu datang membawa dua cangkir teh manis. Ayana mengambil satu, meniupnya, dan menyodorkannya padaku.
Aku menerimanya. Aku meminumnya. Manis. Dua sendok.
Lalu, karena dia adalah dia, karena dia sudah bukan perempuan yang dulu memilih kursi paling belakang biar bisa kabur, dia berdiri dari kursinya, berjalan memutar meja, dan duduk di pangkuanku.
Di kafe. Di siang hari. Di depan barista berambut ungu yang menjatuhkan lap.
“Ay,” bisikku, dengan wajah yang pasti sudah semerah taplak meja kalau taplaknya merah.
“Apa?” Dia melingkarkan lengannya di leherku. “Aku duduk di pangkuan suami aku sendiri. Kenapa?”
“Ini tempat umum.”
“Terus?”
“Orang-orang liatin.”
Dia melihat sekeliling. Seorang perempuan berkerudung di meja sebelah menatap kami dengan mulut terbuka. Dua mahasiswa di pojok menyembunyikan tawa di balik laptop. Barista berambut ungu memungut lapnya pelan-pelan, matanya tidak lepas dari kami.
Ayana tersenyum pada mereka semua. Lalu dia mencium pipiku. Keras. Bunyinya terdengar sampai ke dapur.
“Biarin,” katanya. “Biar mereka tahu.”
“Tahu apa?”
Dia menatapku dari jarak sejengkal. Matanya berkilat. Tidak ada air mata kali ini. Cuma cahaya.
“Biar mereka tahu,” katanya, “kursi paling depan di kafe ini sekarang punya kita.”
Dia menyetir pulang juga.
Tidak gemetar lagi. Satu tangan di setir, satu tangan menggenggam tanganku di atas konsol tengah. Bersenandung sumbang. Menyumpahi angkot dengan kata-kata yang tidak akan diulang di depan Ema.
Di tol Cipularang, di antara bukit-bukit hijau yang mulai menggelap, aku menyesap teh dari termos biru. Masih hangat. Manis. Dua sendok.
Aku menghabiskannya. Sampai tetes terakhir.
Lalu aku memakai bantal leher berbentuk huruf U, dan menyandarkan kepala ke jendela, dan menatapnya menyetir dengan matahari terbenam di belakang wajahnya. Jingga dan ungu dan keemasan, seperti cat air di loteng yang meleleh di pinggir-pinggirnya.
Aku tidak berniat tidur. Aku cuma mau menatapnya.
Tapi aku tertidur.
Aku tidak tahu kapan. Yang kutahu, aku bangun di depan pagar rumah hijau pucat, dengan bantal leher yang miring dan bekas air liur di pipi, dan dia sedang memotretku dengan ponselnya.
“Ay,” kataku serak.
“Kamu tidur di mobil,” katanya, tersenyum. “Sabtu pertama aku liat kamu tidur di mobil.”
Aku menatapnya.
“Dulu kamu bilang kamu tidur,” katanya pelan. “Waktu nunggu aku tiga jam di Kemang. Kamu bilang aku tidur kok tadi.” Dia menyimpan ponselnya. “Kamu bohong. Bantal lehernya masih diplastikin.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Sekarang kamu beneran tidur,” katanya. Dia mengusap bekas air liur di pipiku dengan ibu jari, lalu tertawa. “Dan ngiler.”
Malam itu, setelah dia tidur, dengan kepala di dadaku dan Detik di kaki kami, aku membuka Kartu Servis.
Satu tangan. Pelan. Supaya tidak membangunkannya.
Aku membalik ke halaman terakhir yang kutulis. Halaman Sabtu 5, dengan tiga baris yang sama. Aku seneng. Aku seneng. Aku seneng. Tanpa dicatat.
Aku membuka halaman berikutnya. Halaman kosong.
Sabtu 2 (yang baru).
Unit nyetir. Pertama kali sejak kecelakaan. Tangannya gemeter dari Pasteur sampe Cawang. Di Pancoran udah nggak.
Unit cium tanganku di tiap lampu merah. Lima kali.
Unit duduk di kursi paling depan. Unit bilang ke barista: “Ini suami saya.” Unit bilang aku tukang jam paling jago se-Indonesia. (Nggak bener. Aki lebih jago.)
Unit duduk di pangkuanku. Di kafe. Siang-siang. Barista jatuhin lap.
Termos kuminum sampe abis. Bantal leher kupake. Aku ketiduran. Ngiler. Unit fotoin.
Aku berhenti. Aku menatap kepalanya di dadaku. Rambut yang berantakan. Napas yang pelan dan teratur.
Lalu aku menulis baris terakhir. Tanganku tidak gemetar sama sekali.
Aku seneng.
Dicatat.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan reading
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog