Chapter Twenty Four
Ciuman Pertama (Buat Aku)
POV: Ayana
Aku bangun di sofa dengan selimut rajut kuning sampai ke dagu dan kucing gendut di atas kakiku.
Sendirian.
Cahaya pagi masuk dari jendela besar, putih dan terang, menembus lampu-lampu kecil yang sudah dimatikan. Balon-balon di langit-langit sudah kempis seluruhnya, menggantung seperti kulit buah yang ditinggal. Spanduk SELAMAT ULANG TAHUN, MAS TUKANG JAM miring di satu sisi, selotipnya lepas.
Dan di bawah pipiku, di bantal sofa, ada sesuatu yang hangat. Bekas hangat. Seperti seseorang baru saja bangun dari sini, pelan-pelan sekali, supaya tidak membangunkanku, dan menyelipkan bantal di bawah kepalaku sebagai ganti dadanya.
Aku memejamkan mata lagi.
Semalam aku tidur di dadanya.
Aku ingat. Aku ingat semuanya. Lilin yang jatuh ke kue. Lagu yang kunyanyikan dengan suara serak. Bingkai kayu dengan gambar tangannya. Tangannya di pipiku. Ibu jarinya yang mengusap bekas maskara di bawah mataku. Dadanya di bawah telingaku, dan detak jantungnya yang keras, lebih keras dari jantungku, seperti jam weker Bu Ratna sebelum diganjal kain flanel.
Dan cincinku di saku kirinya. Yang tidak mau kuambil.
Aku menarik selimut sampai menutupi wajah dan mengerang pelan.
Detik, di atas kakiku, mengeong. Bukan mendesis. Mengeong. Mengeong pagi yang malas, seperti bilang diem, aku masih ngantuk.
Wangi teh.
Itu yang membuatku akhirnya keluar dari balik selimut. Wangi teh melati yang diseduh, manis, hangat, dari arah dapur. Dan bunyi sendok yang mengaduk di cangkir keramik. Ting-ting-ting. Pelan. Berirama.
Aku duduk. Rambutku pasti berantakan. Wajahku pasti bengkak. Rok kuning mustardku kusut seperti kertas diremas. Aku tidak peduli.
Aku berjalan ke dapur dengan kaki telanjang.
Dia berdiri di depan meja dapur, membelakangiku. Kaus abu-abu. Celana training. Rambut basah habis mandi, menetes sedikit ke tengkuk. Di depannya, dua cangkir. Cangkir kucing oranye, punyaku. Dan cangkir polos putih yang sedikit retak di bibirnya, punyanya. Dia sedang mengaduk cangkirku. Dua sendok gula. Aku tahu dua, karena toples gulanya terbuka dan sendoknya tergeletak di sebelah, dan aku tahu dia tidak pernah lebih dari dua.
Dia tidak tahu aku di sini.
Aku berdiri di ambang pintu dapur dan menatap punggungnya.
Laki-laki ini.
Laki-laki yang semalam berlari satu setengah kilometer ke Pasar Baru, dua minggu yang lalu. Yang memayungiku sampai bahunya basah kuyup. Yang memperbaiki jam tangan mantanku semalaman dan membersihkan ukiran namaku di tutup belakangnya, huruf demi huruf. Yang mengantarku ke laki-laki lain lima Sabtu, dan di malam ulang tahunnya sendiri, dan bilang pergi aja, nanti kemalaman.
Yang menunggu di sofa menghadap pintu.
Yang tidak membiarkanku minta maaf.
Yang menyimpan cincinku di dekat jantungnya.
Aku tidak tahu kapan aku mulai berjalan. Aku cuma tahu bahwa tiba-tiba aku sudah di belakangnya. Dekat. Sangat dekat. Dan dia berhenti mengaduk, karena dia mendengar langkahku, atau merasakan bayanganku, atau entah apa.
Dia berbalik.
“Ayana. Udah ba—”
Aku berjinjit.
Tanganku meraih kerah kausnya. Menariknya ke bawah. Dia tinggi sekali, dan aku harus berjinjit sampai betisku pegal, dan dia tidak menolak, dia membungkuk mengikuti tarikanku, mungkin karena kaget, mungkin karena refleks.
Lalu aku menciumnya.
Bibirnya hangat. Dan rasanya seperti teh manis.
Itu yang pertama kupikirkan. Bodoh, aku tahu. Tapi itu yang pertama kupikirkan. Dia pasti sudah mencicipi tehku, mengecek manisnya, dan bibirnya masih menyimpan rasa itu. Manis. Melati. Hangat.
Dia membeku.
Seluruh badannya membeku. Seperti patung. Tangannya menggantung di udara, satu masih memegang sendok teh. Napasnya berhenti. Aku bisa merasakan dia tidak bernapas.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu sendok itu jatuh ke lantai dengan bunyi ting kecil.
Dan dia membalas.
Pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang menyentuh sesuatu yang dia takut akan pecah. Bibirnya bergerak di bibirku, lembut, hati-hati, ragu-ragu, seperti bertanya boleh? tanpa suara. Tangannya, yang tadi menggantung di udara, turun. Ke pinggangku. Menyentuh. Tidak menarik. Cuma menyentuh, ujung-ujung jarinya di kain rok kuning mustard, seperti memastikan aku nyata.
Aku menarik kerah kausnya lebih kuat.
Dan dia berhenti ragu-ragu.
Tangannya di pinggangku menarikku mendekat. Satu tangan lagi naik ke punggungku, ke tengkukku, jari-jarinya masuk ke rambutku yang sebahu. Dia menciumku balik dengan sesuatu yang sudah lama sekali dia tahan. Sesuatu yang bukan ragu-ragu lagi. Sesuatu yang dalam dan panjang dan membuat lututku lemas dan membuatku harus berpegangan di bahunya supaya tidak jatuh.
Dunia hilang.
Dapur hilang. Cahaya pagi hilang. Bunyi kendaraan dari jalan depan hilang. Yang ada cuma bibirnya dan tangannya dan wangi sabun dan kayu dan teh melati, dan jantungnya yang berdebar di bawah telapak tanganku, dan jantungku sendiri yang berdebar di telingaku.
Aku tidak tahu berapa lama.
Lama.
Lama sekali.
Waktu akhirnya aku menarik diri, kami berdua terengah-engah.
Dahinya menempel di dahiku. Napasnya berat. Matanya terpejam. Tangannya masih di pinggangku, masih di tengkukku. Dia tidak melepaskanku. Dia tidak bergerak. Seperti takut kalau dia membuka mata, semua ini hilang.
Aku menatap wajahnya dari jarak sedekat itu. Bulu matanya yang panjang. Kerutan kecil di antara alisnya. Bibirnya yang sedikit terbuka, sedikit bengkak.
Dan sesuatu yang dingin merayap pelan-pelan dari perutku ke dadaku.
Dia menciumku seperti… seperti dia sudah sering menciumku. Seperti dia tahu persis di mana harus menaruh tangannya. Seperti dia tahu persis bagaimana aku suka dicium. Seperti tangannya, sama seperti tanganku yang menggambar bekas lukanya dengan mata tertutup, ingat.
Tentu saja dia ingat.
Dia sudah menciumku ratusan kali. Ribuan kali. Selama tiga tahun.
Bukan aku.
Dia.
Perempuan di foto pernikahan. Perempuan yang minum kopi hitam dan memakai piyama satin dan mengirim voice note manja jam tiga sore. Perempuan yang tangannya dia pegang di pelaminan. Perempuan yang dia tunggu di sofa menghadap pintu.
Dia baru saja menciumku dengan semua ingatan tentang dia.
“Mas,” bisikku.
Dia membuka mata. Pelan.
Matanya. Ya Tuhan, matanya. Basah dan gelap dan penuh sesuatu yang membuat dadaku sakit.
“Tadi,” kataku. Suaraku bergetar. “Tadi kamu cium aku atau dia?”
Wajahnya berubah.
Aku melihatnya. Sangat cepat. Seperti cahaya yang melintas di permukaan danau. Tapi aku melihatnya. Kaget. Lalu sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti luka.
Dan matanya bergerak.
Sebentar sekali. Sepersekian detik. Matanya melirik ke balik bahuku, ke ambang pintu dapur, ke ruang tengah, ke dinding di samping tangga.
Ke foto pernikahan.
Lalu matanya kembali padaku.
“Aku cium istriku,” katanya.
Pelan. Serak.
Istriku.
Bukan kamu. Bukan Ayana. Bukan aku cium kamu, bukan dia.
Istriku.
Dan istrinya itu siapa? Perempuan yang dia nikahi dua tahun lalu, yang tertawa lepas di foto itu? Atau aku? Perempuan yang bangun di rumah sakit dan bertanya Mas siapa? Perempuan yang menitipkan cincin itu lima Sabtu berturut-turut dan pergi di malam ulang tahunnya?
Aku melepas kerah kausnya. Pelan-pelan. Tanganku turun ke dadanya, ke saku kiri, ke bentuk bundar kecil di baliknya.
“Istrimu,” kataku. Suaraku nyaris tidak terdengar. “Istrimu itu aku, kan?”
Dia menatapku.
Satu detik. Satu detik penuh.
Lalu: “Iya.”
Tapi ada satu detik itu. Satu detik antara pertanyaanku dan jawabannya. Satu detik di mana matanya, sekali lagi, sepersekian detik, melirik ke dinding di samping tangga.
Aku melihatnya.
Aku melihatnya, dan aku tidak bisa berhenti melihatnya.
Bel pintu berbunyi.
Bukan sekali. Berkali-kali. Ting-tong-ting-tong-ting-tong. Diikuti gedoran. Diikuti suara perempuan yang sangat kukenal, keras dan marah dan sedikit serak.
“AYANA KIRANA! BUKA PINTU! GUE DATENG BUAT NONJOK LO! GUE UDAH JANJI SAMA DIRI GUE SENDIRI SEMALEM! BUKA!”
Gendis.
Putra memejamkan mata. Lalu, pelan-pelan, dia melepaskan tangannya dari pinggangku. Dari tengkukku. Dia mundur satu langkah. Dua langkah. Dia membungkuk dan memungut sendok teh dari lantai.
Telinganya merah. Merah sekali. Sampai ke leher. Sampai ke tengkuk.
“Aku… buka pintu,” katanya. Suaranya aneh.
“Iya.”
Dia berjalan ke pintu depan. Aku berdiri di dapur, sendirian, dengan bibir yang masih terasa seperti teh melati dan jantung yang masih berdebar dan sesuatu yang dingin di dadaku yang tidak mau pergi.
Aku mendengar pintu depan dibuka.
“MANA DIA? MANA—” Suara Gendis berhenti. Mendadak. Hening. Lalu, dengan suara yang sangat berbeda, pelan dan curiga: “Mas Putra. Kenapa telinga lo merah banget?”
“Nggak apa-apa.”
“Kenapa bibir lo…” Hening lagi. Lalu suara Gendis naik satu oktaf. “Kenapa bibir lo ada bekas lipbalm stroberi?”
Aku menutup wajah dengan dua tangan.
Lipbalm. Aku memakai lipbalm semalam, sebelum tidur di sofa. Lipbalm stroberi, merah muda, yang kutemukan di laci kamar mandi. Lipbalm dia.
“AYANA!” Gendis menerobos masuk ke dapur. Dia berdiri di ambang pintu dengan tas di bahu, rambut ikal mengembang berantakan, kacamata kuning melorot. Dia menatapku. Menatap wajahku yang pasti merah. Menatap bibirku. Lalu menatap Putra yang berdiri di belakangnya dengan telinga merah dan sendok teh di tangan.
Mulut Gendis terbuka. Tertutup. Terbuka lagi.
Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku overall-nya dengan kecepatan cahaya, dan menempelkannya ke telinga.
“Jang,” katanya ke ponsel. “Jang, bangun. Iya, gue tahu ini jam tujuh pagi. Bangun. Lo utang gue seratus ribu sekarang. Iya. Seratus. Taruhan yang kedua. Yang soal ciuman.”
Aku tertawa.
Aku tidak mau tertawa. Ada sesuatu yang dingin di dadaku, sesuatu yang sedang tumbuh, sesuatu yang belum punya nama. Tapi aku tertawa, karena Gendis memakai overall yang dikancingkan salah satu, dan karena dia membawa ponsel ke telinga seperti menelepon pemadam kebakaran, dan karena Putra di belakangnya menutupi wajahnya dengan tangan yang memegang sendok teh.
Dan Putra juga tertawa. Di balik tangannya. Bahunya bergetar.
Lalu dia menurunkan tangannya, dan menatapku lewat atas bahu Gendis.
Matanya. Matanya tidak sedang melirik ke dinding di samping tangga sekarang. Matanya menatapku. Lurus. Lembut. Dan ada sesuatu di sana, sesuatu yang hangat, sesuatu yang membuat dadaku hampir lupa pada rasa dingin tadi.
Hampir.
Siangnya, kami membereskan sisa pesta bertiga. Gendis menurunkan balon-balon dengan sapu, menusuknya satu per satu dengan peniti sambil berteriak DOR! setiap kali ada yang meletus. Aku melepas spanduk cat air dan menggulungnya hati-hati. Aku tidak mau membuangnya. Putra mencuci piring.
Di tengah-tengah, waktu aku sedang melipat taplak meja di teras, Putra keluar membawa dua gelas teh.
Dia berdiri di sebelahku. Menatap jalan buntu di depan pagar. Menatap mobil hijau tua yang diparkir di sana.
“Hari ini Sabtu,” katanya pelan.
Aku tahu maksudnya. Enam minggu, setiap Sabtu jam sembilan pagi, mobil itu menyala di depan pagar, dengan termos teh dan bantal leher di jok belakang.
“Iya,” kataku. “Sabtu.”
Dia tidak bertanya. Dia cuma berdiri di sana dengan dua gelas teh di tangan, menunggu.
Aku mengambil satu gelas dari tangannya.
“Aku nggak ke mana-mana,” kataku.
Dia tidak menjawab. Tapi aku melihat tangannya, yang memegang gelas teh satunya lagi, gemetar sedikit. Cukup untuk membuat permukaan tehnya beriak.
“Eeeh, Teh Ayana! Kang Putra!” Suara Bu Yayah dari balik pagar sebelah. Dia berdiri di halamannya dengan daster bunga sepatu dan selang air, dan, seperti biasa, sudah lupa sedang menyiram tanaman. “Sabtu ieu teu ka Jakarta, Teh?”
(Sabtu ini nggak ke Jakarta, Teh?)
Aku menoleh padanya. Lalu menoleh pada Putra. Lalu, entah kenapa, aku melingkarkan tanganku di lengannya.
“Nggak, Bu,” kataku, cukup keras untuk didengar sampai ujung kompleks. “Sabtu ini di rumah. Sama suami.”
Bu Yayah menjatuhkan selangnya. Air menyembur ke mana-mana, membasahi kakinya, membasahi pot kembang sepatunya, membasahi kucing tetangga yang kebetulan lewat dan langsung kabur sambil mengeong marah.
Di sebelahku, Putra tersedak teh.
Malamnya, setelah Gendis pulang (setelah dia memaksaku menceritakan semuanya, setelah dia menangis, lalu memukul lenganku, lalu menangis lagi, lalu memelukku, lalu bilang lo bego, Ay, tapi lo bego yang akhirnya pinter), aku berdiri di depan foto pernikahan di dinding samping tangga.
Lampu ruang tengah sudah dimatikan. Cuma lampu baca kecil di samping sofa yang menyala. Putra sudah tidur. Di sofa. Seperti biasa. Aturan nomor dua: tidur di sofa sampai Ayana bilang boleh pindah. Aku belum bilang.
Aku menatap perempuan di foto itu.
Kebaya putih. Rambut sebahu, disanggul kecil dengan melati. Kepala sedikit mendongak. Tertawa. Tertawa lepas.
Dan laki-laki di sebelahnya yang menatapnya.
Aku menatap perempuan itu lama sekali. Wajahnya wajahku. Lesung pipinya lesung pipiku. Tahi lalat di bawah telinga kirinya tahi lalatku.
Tapi dia bukan aku.
Dia perempuan yang dicium laki-laki itu ratusan kali. Ribuan kali. Dia perempuan yang membuat laki-laki itu tahu persis di mana harus menaruh tangannya. Dia perempuan yang, waktu aku bertanya kamu cium aku atau dia, membuat laki-laki itu melirik ke dinding ini. Sepersekian detik. Tapi melirik.
Dia perempuan yang membuat Reno bilang kamu nggak pernah natap aku kayak gitu.
Dia perempuan yang dicintai sebesar itu.
Dan aku, yang berdiri di depan fotonya dengan bibir yang masih ingat rasa teh melati, sadar akan sesuatu yang sangat bodoh dan sangat menyakitkan.
Aku cemburu.
Aku cemburu pada perempuan di foto itu.
Dan perempuan di foto itu adalah aku.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku) reading
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog