← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Thirty Six

Kado yang Akhirnya Dibuka

POV: Putra

Aku bangun jam lima, seperti biasa.

Tapi bukan di sofa.

Langit-langit di atasku bukan langit-langit ruang tengah dengan noda bocor berbentuk pulau di pojok. Ini langit-langit kamar. Kamar kami. Dengan lampu gantung rotan yang dibeli Ayana di Pasar Seni Jelekong dan retakan kecil di plafon yang sudah lama ingin kuperbaiki.

Dan ada sesuatu di dadaku.

Berat. Hangat. Bernapas pelan.

Kepalanya. Rambut sebahu yang berantakan menyebar di kemejaku. Pipinya menempel tepat di atas saku kiri, di atas cincinnya. Satu tangannya terlipat di bawah dagu. Tangan yang lain di perutku, jari-jarinya sedikit mencengkeram kain kemeja, seperti takut aku pergi waktu dia tidur.

Detik tidur di kaki kami berdua.

Aku tidak bergerak.

Sembilan minggu aku bangun jam lima di sofa yang terlalu pendek, dengan leher sakit dan Detik di perut. Sembilan minggu aku merebus air, menyiapkan dua cangkir, dan memutar jam tangan yang tergeletak di meja makan di atas kertas kecil. Sembilan minggu aku bangun lebih dulu dan melipat selimut rajut kuning sebelum dia turun, supaya dia tidak melihat bahwa aku tidur di sana.

Pagi ini aku tidak mau bangun lebih dulu.

Pagi ini aku mau jadi orang yang dibangunkan.

Aku menatap langit-langit dan mendengarkan napasnya. Pelan. Teratur. Kadang tersendat sedikit, sisa tangis semalam. Kelopak matanya masih bengkak. Ada bekas air mata kering di pipinya.

Jam di pergelangan tangan kiriku berdetak.

Jamku. Yang dia pasangkan kemarin di sofa rotan Ema, di atas garis pucat di kulitku. Titipan. Aku balikin.

Aku tidak sadar aku tersenyum ke langit-langit sampai pipiku pegal.


Dia bangun jam enam lewat sepuluh.

Aku merasakannya sebelum melihatnya. Napasnya berubah. Jari-jarinya di perutku bergerak sedikit. Lalu dia menggeliat, pelan, seperti kucing, dan mengangkat kepala dari dadaku.

Dia menatapku dari jarak sejengkal. Matanya masih setengah tertutup. Rambutnya menempel di satu sisi wajah.

“Mas,” katanya. Serak.

“Pagi, Ay.”

Dia mengedip. Sekali. Dua kali. Lalu, seperti baru sadar di mana dia berada dan di atas siapa dia tidur, wajahnya pelan-pelan memerah. Dari pipi. Ke telinga. Ke leher.

“Aku… aku tidur di atas kamu semaleman?”

“Iya.”

“Kamu nggak bisa gerak?”

“Nggak mau gerak,” kataku.

Dia menatapku. Lalu dia menutupi wajahnya dengan dua tangan dan mengerang ke dadaku.

Detik, di kaki kami, membuka satu mata dan mengeong protes.


Aku membuatkan teh. Dua cangkir. Kucing oranye dan putih retak. Dua sendok gula di cangkirnya. Aku membawanya ke kamar, di atas nampan, dan dia duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut sampai pinggang, menerima cangkirnya dengan dua tangan.

Pertama kalinya dalam empat hari, ada yang meminum teh dari cangkir kucing oranye.

Dia menyesapnya. Dia memejamkan mata.

“Dua sendok,” katanya.

“Dua sendok.”

Lalu dia meletakkan cangkir itu di meja samping ranjang. Dia meletakkan cangkirnya. Seperti meletakkan sendok sebelum mengatakan sesuatu yang penting.

“Mas,” katanya. “Kado itu.”

Aku diam.

“Kado hari jadi. Yang di lemari.” Dia menatapku. “Sekarang boleh dibuka?”

Aku menatap lemari di seberang ranjang. Pintu kanan. Rak paling atas. Di belakang tumpukan sweter yang tidak pernah kupakai.

“Itu dari dia,” kataku. Pelan. Kebiasaan.

“Iya,” kata Ayana. “Dari dia.”

Dia mengulurkan tangan dan memegang tanganku di atas selimut.

“Dan sekarang juga dari aku,” katanya. “Aku yang bawa dari rumah sakit. Aku yang taruh di meja makan. Aku yang nanya kamu mau buka atau nggak.” Dia meremas tanganku. “Kita buka bareng. Dia dan aku. Dua-duanya.”


Aku mengambil kotak itu dari rak paling atas.

Kotak kecil, seukuran telapak tangan. Kertas cokelat polos. Tali rami dengan simpul pita yang rapi. Satu sudutnya penyok. Tali raminya sedikit kendur. Di bawah tali rami, kartu putih kecil dengan gambar jam dinding cat air, biru dan emas, dengan jarum yang tersenyum.

Untuk Mas Putra. 2 tahun ♡ (jgn nangis ya. eh, nangis aja deh.)

Dan di pinggir kertas cokelat itu, bercak cokelat kehitaman. Kering. Kaku.

Aku sudah tahu bercak itu apa sejak hari pertama dia membawa kotak ini pulang dari rumah sakit. Aku sudah melihatnya setiap kali membuka lemari untuk mengambil sweter yang tidak pernah kupakai. Aku tidak pernah berani menyentuhnya.

Aku duduk di pinggir ranjang. Ayana bergeser ke sebelahku. Lututnya menempel di lututku.

Detik melompat ke pangkuan Ayana, mengendus-endus kotak itu, lalu, karena dia kucing, mencoba duduk di atasnya.

“Detik,” kata Ayana, mengangkatnya. “Bukan buat kamu.”

Detik mengeong tersinggung dan pindah ke bantal.

Aku menarik ujung tali rami. Simpul pita itu lepas.

Tanganku gemetar. Ayana melihatnya. Dia tidak bilang apa-apa. Dia meletakkan tangannya di atas tanganku, dan bersama-sama, kami membuka kertas cokelat itu.


Kotak kayu kecil. Kayu jati yang sudah tua, sudut-sudutnya halus karena sering dipegang. Ada engsel kuningan kecil di satu sisi.

Aku membukanya.

Di dalam, di atas kain beludru biru tua yang sudah pudar, ada sebuah jam saku.

Perak. Bulat. Tutupnya diukir motif sulur-sulur halus yang sudah aus di beberapa tempat. Rantainya pendek, ujungnya patah. Di bagian atas, mahkota pemutar yang bentuknya seperti bawang kecil.

Aku berhenti bernapas.

Aku kenal jam ini.

Aku kenal setiap goresan di tutupnya. Goresan panjang di sisi kiri, dari waktu Aki menjatuhkannya di tangga toko waktu aku umur sembilan. Penyok kecil di dekat engsel, dari waktu aku umur dua belas dan diam-diam meminjamnya untuk dibawa ke sekolah dan jam ini jatuh dari saku seragamku. Aki tidak marah. Aki cuma bilang jam teh kudu dipaké, Put. Lain ngan ukur dipajang. Jam harus dipakai. Bukan cuma dipajang.

Jam saku Aki.

Yang dia pakai setiap hari selama lima puluh tahun. Di saku rompinya. Di toko. Di masjid. Di pernikahanku dulu, kalau Aki masih hidup.

Yang kujual empat tahun lalu.


Aku tidak bisa bicara.

Ayana menatapku. Lalu menatap jam itu. Lalu menatapku lagi.

“Mas?” bisiknya. “Ini apa?”

“Jam Aki,” kataku. Suaraku keluar aneh. Seperti suara orang lain. “Jam saku Aki.”

Aku mengambilnya dari kotak kayu. Berat. Lebih berat dari ingatanku. Dingin di telapak tanganku.

“Aki sakit,” kataku. “Empat tahun lalu. Kanker. Rumah sakit mahal. Asuransi nggak nanggung semua. Ema nggak tahu. Aku nggak mau Ema tahu.” Aku menelan ludah. “Aku jual jam ini. Ke kolektor dari Semarang. Buat bayar rumah sakit. Aku pikir nanti aku beli lagi. Setelah Aki sembuh.”

“Aki nggak sembuh,” kata Ayana pelan.

“Aki nggak sembuh.” Aku menatap jam itu. “Aku nyari kolektornya, setahun kemudian. Dia udah pindah. Jamnya udah dijual lagi ke orang lain. Aku nggak tahu ke siapa. Aku nyerah.”

Aku membalik jam itu. Di bagian belakang, di antara sulur-sulur yang aus, ada ukiran kecil. Huruf-huruf miring yang dipahat dengan tangan, bukan mesin.

Ulah telat balik. —E. 1965.

Jangan telat pulang. Dari Ema. Tahun 1965. Waktu Aki dan Ema menikah.

Aku tidak tahu ukiran itu ada. Aku tidak pernah membalik jam ini. Lima puluh tahun Aki memakainya, dan aku tidak pernah tahu ada pesan dari Ema di baliknya.

Unit lukis jam dinding senyum di kartu ulang tahunku. Kata dia, jam ini jam yang nggak pernah telat pulang.

Ayana tahu. Ayana yang dulu. Dia pasti membalik jam ini waktu menemukannya. Dia pasti membaca ukiran itu. Dan dia melukis jam dinding yang tersenyum di setiap kartu yang dia berikan padaku, dan dia bilang itu jam yang tidak pernah telat pulang.

Di dasar kotak kayu, di bawah kain beludru, ada selembar kertas kecil yang terlipat. Aku mengambilnya. Tulisan bulat-bulat miring.

Mas,

Aku nemu Aki.

Setahun nyarinya. Kolektor di Semarang, terus pindah ke Solo, terus ke Jogja, terus ke pasar loak di Malang. Aku telepon 23 orang. Aku ke Malang naik kereta waktu kamu kira aku ke Jakarta ketemu editor. Maaf bohong. Ini satu-satunya bohong aku ke kamu.

Mesinnya mati. Aku sengaja nggak benerin. Biar kamu yang benerin. Biar tangan kamu yang pertama nyentuh dalemnya, kayak Aki dulu.

Selamat dua tahun, Mas. Jangan telat pulang ya.

Ay.


Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.

Aku cuma tahu bahwa tiba-tiba jam saku itu buram di telapak tanganku. Dan bahuku bergetar. Dan ada bunyi yang keluar dari tenggorokanku, bunyi yang belum pernah kudengar dari diriku sendiri, bunyi yang tidak pelan dan tidak tertahan.

Setahun dia mencarinya.

Dua puluh tiga orang. Semarang. Solo. Jogja. Malang. Naik kereta. Bohong padaku. Satu-satunya bohong.

Dan dia menemukannya. Dan dia membungkusnya dengan kertas cokelat dan tali rami. Dan dia menulis udah ketemu!!! Mas pasti nangis liatnya enam belas menit sebelum jam tangannya berhenti.

Dan dia tidak pernah melihatku membukanya.

Dia tidak pernah melihatku menangis karena ini. Seperti yang dia tahu aku akan menangis. Seperti yang dia tulis di kartu, jgn nangis ya, eh, nangis aja deh.

Perempuan itu. Perempuan yang tertawa paling keras se-Braga. Yang potong rambut sendiri jam dua pagi. Yang mengadopsi Detik supaya rumah ini ada detaknya. Yang naik kereta ke Malang diam-diam untuk mencari jam kakekku.

Perempuan itu tidak akan pernah tahu dia berhasil.

Aku menangis untuknya. Untuk dia. Untuk istriku yang hilang di malam sebelum hari jadi kedua kami, di Jalan Dago, dengan tas belanja kertas di tangannya.

Aku menangis untuk pertama kalinya di depan seseorang.


Ayana tidak bilang apa-apa.

Dia melingkarkan lengannya di bahuku dari samping, dan menarikku ke arahnya, dan aku membiarkannya. Aku menunduk ke bahunya. Ke rambutnya yang wangi sampo melati. Dan aku menangis di sana, dengan jam saku Aki di genggamanku, seperti anak umur tujuh tahun di bangku tinggi di sebelah meja kerja.

Dia mengusap punggungku. Pelan. Berirama.

Lalu dia bilang, sangat pelan, di dekat telingaku:

“Kamu boleh kangen dia.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kamu boleh kangen dia, Mas,” ulangnya. Suaranya bergetar. “Kamu boleh nangis buat dia. Kamu boleh nyimpen fotonya di gudang dan buka kardusnya tengah malem. Kamu boleh.”

Dia menarik napas.

“Aku juga kangen dia,” bisiknya.

Aku mengangkat kepala.

Dia menatapku. Matanya basah. Dia tersenyum, kecil, gemetar.

“Aku nggak kenal dia,” katanya. “Tapi aku baca Kartu Servis kamu. Aku denger voice note-nya. Aku liat fotonya. Aku baca surat ini.” Dia menyentuh kertas kecil di tanganku. “Dia orang yang baik banget, Mas. Dia lucu. Dia berani. Dia nyari jam ini setahun. Dan dia… dia sayang kamu banget.”

Air mata turun di pipinya.

“Aku kangen dia,” katanya. “Aku kangen orang yang nggak pernah aku kenal. Aku kangen diriku sendiri. Kedengarannya gila, ya?”

“Nggak,” kataku. Suaraku serak. “Nggak gila.”

Dia mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Seperti aku mengusap bekas maskara di pipinya di malam kue jam dua pagi.

“Jadi kita kangen dia bareng-bareng aja,” katanya. “Kamu nggak usah kangen sendirian lagi. Di gudang. Di toko. Di mobil.”

Di mobil.

Aku menatapnya. Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Ujang.

Dia menatapku balik. Lama. Lalu dia bertanya, sangat pelan, dengan suara yang hampir tidak terdengar:

“Mas. Sabtu-Sabtu itu… sakit, ya?”


Sembilan minggu.

Sembilan minggu aku bilang nggak apa-apa. Oke. Iya. Aku tidur kok tadi. Pergi aja, nanti kemalaman. Sembilan minggu aku menelan semuanya, satu per satu, seperti butir-butir nasi kering. Sembilan minggu aku bersiul di dapur supaya dia mengira aku baik-baik saja. Sembilan minggu aku tidak membiarkan dia melihat.

Karena kalau dia melihat, dia akan merasa bersalah. Dan aku tidak mau dia merasa bersalah. Aku mau dia bahagia. Bahkan kalau bahagianya bukan denganku.

Tapi dia sudah melihat. Ujang yang menunjukkan. Kartu Servis yang menunjukkan. Tinta yang luntur di huruf n dan huruf g.

Dan dia bertanya.

Aturan nomor lima. Ayana boleh nanya apa aja, Mas Putra wajib jawab jujur.

Aku membuka mulut. Kebiasaan sembilan minggu ada di ujung lidahku. Nggak apa-apa.

Aku menelannya.

Kali ini, aku menelan yang lain.

“Sakit, Ay,” kataku.

Suaraku pecah di tengah.

“Sakit banget.”

Lalu aku tidak bisa bicara lagi. Lalu aku menangis lagi. Kali ini bukan untuk dia, perempuan yang mencari jam saku Aki di pasar loak Malang. Kali ini untuk diriku sendiri. Untuk tiga jam di bawah pohon ketapang di Kemang. Untuk gaun biru yang kubelikan dan bukan untukku. Untuk jam tangan Reno dan ukiran —Ay yang kubersihkan huruf demi huruf. Untuk meja dua belas dari atas kap mobil. Untuk setir yang dingin di parkiran pool travel. Untuk kue yang tidak kunyalakan lilinnya. Untuk sofa yang terlalu pendek.

Untuk sembilan minggu bilang nggak apa-apa.

Dan dia memelukku. Dengan dua lengan. Erat sekali. Kepalaku di bahunya, tangannya di punggungku, di tengkukku, di rambutku. Seperti aku memeluknya di tangga darurat Pasar Baru. Seperti aku memeluknya di malam kue jam dua pagi.

Kali ini gantian.


“Maaf,” bisiknya di rambutku. Berulang-ulang. “Maaf, Mas. Maaf. Maaf.”

Aku tidak menjawab nggak usah. Untuk pertama kalinya, aku tidak memotongnya.

Aku membiarkannya minta maaf.

Dan dia minta maaf untuk semuanya. Untuk Mas siapa?. Untuk aku masih cinta Reno. Untuk cincin yang dititipkan. Untuk gaun biru. Untuk jam tangan Reno. Untuk meja dua belas. Untuk malam ulang tahun. Untuk kamu nunggu dia. Untuk surat dan jam yang dia suruh berhenti diputar. Dia minta maaf untuk semua itu, satu per satu, dengan suara yang pecah, ke rambutku, ke bahuku, ke telingaku.

Lalu dia berhenti. Dia menarik diri sedikit. Dia memegang wajahku dengan dua tangan, dan menatapku dari jarak yang tidak ada jaraknya lagi.

“Aku cinta kamu,” katanya.

Jantungku berhenti.

Bukan sayang. Cinta. Kata yang belum pernah dia ucapkan. Kata yang bahkan tidak dia tulis di surat perpisahannya.

“Yang ini,” katanya. Air mata turun di pipinya, dan dia tidak mengusapnya. “Yang lupa. Yang bangun di rumah sakit dan nanya Mas siapa. Yang kemarin ngejar orang lain. Yang nyakitin kamu lima Sabtu. Yang ini, Mas. Yang ini cinta kamu.”

Dia menarik napas.

“Aku cinta kamu,” ulangnya. “Bukan karena utang. Bukan karena kasihan. Bukan karena Ujang cerita. Aku udah cinta kamu sebelum Ujang cerita. Sebelum aku baca Kartu Servis. Sebelum Mama cerita. Aku cuma… aku cuma takut ngomong. Karena aku takut kamu mikir aku ngomong buat bayar sesuatu.”

“Aku tahu,” kataku. Suaraku nyaris tidak keluar.

“Kamu tahu?”

“Aku liat,” kataku. “Jam dua pagi. Waktu Detik bangunin aku dan kamu duduk di lantai di bawah tanganku.” Aku menatapnya. “Mata kamu bengkak. Tapi cara kamu natap aku waktu bilang lilinnya belum ditiup…” Aku berhenti. “Aku pernah liat tatapan kayak gitu. Sekali. Di akad. Dari jarak dua jengkal.”

Dia menatapku. Matanya membelalak.

“Aku nggak berani percaya,” kataku. “Tapi aku tahu itu bukan tatapan orang yang nyesel doang.”

Dia menutup mulutnya dengan tangan.

“Dan waktu kamu bilang aku nunggu dia,” kataku pelan, “di meja makan, dan aku nggak bisa selesaiin kalimatnya…”

Aku menatap jam saku Aki di pangkuanku.

“Aku nggak nunggu dia, Ay,” kataku. “Aku nunggu kamu. Aku nunggu kamu milih. Itu aja. Aku nggak bisa ngomong itu waktu itu, karena kalau aku ngomong, kedengerannya kayak aku maksa. Kayak aku nagih.”

“Dan foto itu?” bisiknya. “Waktu aku nanya kamu cium siapa, kamu ngelirik foto itu.”

Aku diam lama.

“Kalau aku bilang kamu,” kataku akhirnya, “artinya aku bilang dia udah nggak ada. Artinya aku harus ngubur dia. Di dapur. Pagi-pagi. Sambil kamu masih nempel di bibirku.” Aku menelan ludah. “Aku belum bisa ngubur dia, Ay. Bukan karena aku milih dia. Karena aku belum selesai kangen.”

Dia menatapku lama sekali.

Lalu dia mengambil jam saku Aki dari pangkuanku. Dia membaliknya. Dia membaca ukiran Ema. Ulah telat balik.

“Kita nggak usah ngubur dia,” katanya. “Kita simpen aja. Kayak Ema nyimpen Aki. Di jam ini. Di Kartu Servis. Di gudang.” Dia tersenyum. “Tapi fotonya pasang lagi, ya. Di dinding. Aku nggak mau dia di kardus air mineral.”

“Ay…”

“Dan Mas,” katanya. Dia menutup jam saku itu di tanganku, jari-jarinya di atas jari-jariku. “Aku maafin kamu juga.”

“Aku?”

“Kamu nyembunyiin sakit kamu sembilan minggu.” Matanya basah lagi. “Kamu nggak ngasih aku kesempatan buat liat. Itu juga salah. Itu juga bikin aku salah paham. Jadi aku maafin kamu.”

Aku menatapnya.

Lalu aku tertawa. Basah. Pecah. Tapi tertawa.

“Iya,” kataku. “Dimaafin.”

“Dan kamu maafin aku?”

Aku memegang wajahnya dengan tangan yang di gambar. Tangan dengan bekas luka di jempol kiri. Aku mengusap air mata di pipinya.

“Iya, Ay,” kataku. “Aku maafin.”


Ponselku berdering di meja samping ranjang. Kami berdua terlonjak. Detik terbang dari bantal.

Ema.

Aku mengangkatnya. Belum sempat aku bilang halo, suara Ema meledak dari speaker.

“PUTRA! GEUS AKUR, TEU? ÉMA TEU BISA SARÉ TI TADI PEUTING! UJANG OGÉ! UJANG CEURIK DI DIEU, DI TERAS ÉMA, NANYAKEUN TERUS!”

(PUTRA! UDAH BAIKAN, BELUM? EMA NGGAK BISA TIDUR DARI SEMALEM! UJANG JUGA! UJANG NANGIS DI SINI, DI TERAS EMA, NANYA TERUS!)

Ayana merebut ponsel dari tanganku.

“Ema,” katanya, dengan suara yang masih serak tapi tersenyum. “Udah akur, Ema.”

Hening di ujung telepon. Lalu bunyi aneh. Seperti seseorang menjatuhkan sendok sayur. Lalu suara Ema, pelan dan bergetar:

“Alhamdulillah.”

Lalu, di belakangnya, suara Ujang meraung seperti anak sapi.

Ayana tertawa. Aku tertawa. Detik, dari lantai, menatap kami berdua dengan jijik.

Dan di pangkuanku, jam saku Aki diam. Mesinnya mati. Sengaja tidak diperbaiki, oleh perempuan yang mencarinya setahun.

Biar kamu yang benerin. Biar tangan kamu yang pertama nyentuh dalemnya.

Nanti, pikirku. Pelan-pelan.

Aku tidak ke mana-mana.