Chapter Ten
Pukul 21.47
POV: Putra
Tangan kananku masih terasa aneh dua hari kemudian.
Aku tahu itu konyol. Aku sudah memegang tangan Ayana ribuan kali. Di pelaminan. Di bioskop. Di bawah selimut. Di ruang tunggu dokter gigi waktu dia mau cabut gigi bungsu dan menangis sebelum disuntik. Aku tahu bentuk jari-jarinya, tahu di mana kulitnya agak kasar karena memegang pensil, tahu cincin di jari manisnya selalu sedikit miring ke kiri.
Tapi hari Rabu itu, di tengah Jalan Asia Afrika, tangan itu meraihku seperti orang tenggelam meraih kayu. Dia tidak tahu tangan siapa yang ia raih. Dia cuma butuh tangan.
Dan tangan yang ia temukan adalah tanganku.
Ujang bilang aku senyum-senyum sendiri sepanjang hari Kamis. Aku bilang dia salah lihat. Dia bilang dia tidak salah lihat, dia bahkan sempat memotret wajahku pakai ponselnya buat bukti. Aku menyita ponselnya sampai jam pulang.
Lalu hari Jumat datang.
Jumat malam, Ayana masak.
Itu pertama kalinya sejak dia pulang dari rumah sakit. Dia sudah turun ke dapur sejak jam lima sore, dan waktu aku pulang jam setengah tujuh, rumah itu wangi bawang putih dan sesuatu yang gosong. Dia berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar kucing, rambutnya diikat asal-asalan di puncak kepala, pipinya merah kena uap.
“Jangan masuk dapur!” serunya tanpa menoleh. “Duduk aja di meja! Ini kejutan!”
Aku duduk di meja.
Kejutannya adalah tumis kangkung, tempe mendoan yang pinggirnya kehitaman, dan sambal tomat yang terlalu banyak garam. Dia menaruh piring-piring itu di meja dengan wajah bangga sekaligus cemas, seperti anak kecil yang menunjukkan gambar pertamanya ke orang tua.
“Aku nggak inget cara masak,” katanya, duduk di seberangku. “Aku nonton YouTube. Tempenya agak gosong. Sambelnya… cobain dulu, jangan langsung protes.”
Aku mencobanya. Keasinan.
“Enak,” kataku.
“Bohong.”
“Kangkungnya enak.”
“Sambelnya?”
Aku diam sebentar. Aturan nomor lima: wajib jawab jujur.
“Asin.”
Dia tertawa. Dia menutup wajahnya dengan dua tangan dan tertawa sampai bahunya bergetar.
“Oke, oke. Sambelnya gagal. Dicatat.” Dia menurunkan tangannya. Lesung pipinya muncul. “Itu kata kamu, kan? Dicatat. Kamu suka banget bilang gitu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku makan tempe gosong itu. Aku makan semuanya. Pinggirnya pahit, tengahnya mentah sedikit, dan itu tempe paling enak yang pernah kumakan dalam dua minggu terakhir.
Lalu, waktu piringku hampir habis, dia meletakkan sendoknya.
Aku tahu. Bahkan sebelum dia membuka mulut, aku tahu. Ayana selalu meletakkan sendok sebelum mengatakan sesuatu yang penting. Dia melakukannya waktu bilang mau keluar dari agensi. Dia melakukannya waktu bilang mau mengadopsi Detik dari penampungan. Dia melakukannya dua minggu yang lalu, di meja yang sama, sebelum bilang dia masih cinta laki-laki lain.
Masakan ini. Kejutan ini. Tempe gosong ini.
Dia sedang minta maaf. Duluan. Sebelum mengatakannya.
“Mas,” katanya.
“Hm.”
“Aku udah DM Reno.”
Aku meletakkan sendokku juga.
“Kemarin malem,” lanjutnya, cepat, seperti takut kalau berhenti dia tidak akan bisa melanjutkan. “Aku cuma bilang aku kecelakaan, aku lupa tiga tahun terakhir, dan aku pengen ketemu. Ngobrol. Itu aja. Aku nggak tahu dia bakal bales atau nggak. Tapi dia bales tadi siang. Dia bilang… dia bilang dia kaget. Dia bilang dia mau ketemu.”
Dia menatap piringnya.
“Sabtu,” katanya. “Besok. Di Jakarta. Kafe di Kemang. Jam dua siang.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Di televisi Bu Yayah, iklan sabun cuci piring sedang diputar. Seorang ibu-ibu tersenyum lebar sambil mengangkat piring yang berkilauan. Jangkrik di halaman berbunyi. Detik, di bawah meja, menggosok-gosokkan badannya ke kakiku.
Aku berpikir tentang semua hal yang bisa kukatakan.
Jangan.
Aku suamimu.
Kamu nggak tahu apa yang kamu lakuin.
Dulu kamu nangis di depan etalase tokoku gara-gara dia.
Dulu kamu ngajak aku empat puluh tujuh kali.
Dulu kamu bilang aku rumahmu.
Aku menelan semuanya. Satu per satu. Seperti menelan butir-butir nasi kering.
Aturan nomor delapan. Ayana boleh ketemu siapa aja. Tanda tanganku ada di bawahnya. Cap jempol kecapku ada di sebelahnya. Aku yang bilang boleh. Aku yang bilang aku tidak mau dia di sini karena terpaksa.
Kalau aku melarangnya sekarang, aku menjadikannya tahanan. Dan aku lebih baik kehilangan dia daripada menjadikannya tahanan.
“Naik apa?” tanyaku.
Dia mengangkat kepala, kaget. Sepertinya dia tidak menyangka itu pertanyaanku.
“Eh… travel? Atau kereta? Aku belum ngecek. Mungkin kereta, biar cepet.”
“Aku antar.”
Hening.
“Hah?”
“Aku antar,” ulangku. “Ke Jakarta. Ke Kemang.”
“Mas, nggak usah. Serius. Aku bisa sendiri. Aku udah dewasa. Aku—”
“Kamu baru keluar rumah sakit dua minggu lebih,” kataku. “Kamu belum boleh nyetir. Dokter bilang kamu belum boleh capek. Dan kamu…” Aku berhenti. “Kamu takut nyeberang jalan.”
Dia diam. Pipinya memerah. Dia tahu aku bicara tentang hari Rabu. Tentang tangannya yang mencari tanganku di tengah Jalan Asia Afrika.
“Kereta penuh,” lanjutku. “Stasiun ramai. Jakarta ramai. Kemang macet, banyak motor.”
“Tapi—”
“Aku antar. Aku tunggu di mobil. Kamu ngobrol sama dia selama yang kamu mau. Terus aku antar pulang.”
Dia menatapku lama. Matanya bergerak di wajahku, mencari sesuatu. Mungkin mencari kemarahan. Mungkin mencari kecemburuan. Mungkin mencari tanda bahwa aku sedang bercanda, atau sedang menguji, atau sedang merencanakan sesuatu.
Aku tidak tahu apa yang ia temukan. Yang kutahu, aku sudah membuat wajahku sedatar mungkin. Setenang danau. Karena kalau tidak, dia akan melihat semuanya, dan semuanya terlalu banyak.
“Kamu aneh banget, Mas,” katanya akhirnya. Pelan.
“Udah sering denger.”
“Kamu nganter istrimu ketemu mantannya.”
“Kamu bukan istriku. Sementara. Kamu pacarku. Sesuai kontrak.”
Dia tertawa, kecil, pendek, sumbang. Lalu tawanya berhenti, dan dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
“Makasih,” katanya.
Aku mengangguk. Aku berdiri dan mulai membereskan piring, karena aku harus melakukan sesuatu dengan tanganku, dan karena kalau aku duduk satu detik lagi di depannya, aku tidak yakin wajahku masih bisa setenang danau.
“Mas,” panggilnya dari belakangku. “Sambelnya beneran keasinan, ya?”
“Banget.”
“Kok tetep diabisin?”
Aku membuka keran air. Air mengalir ke bak cuci piring. Aku tidak menjawab.
Jam sebelas malam, aku belum tidur.
Sofa itu terasa lebih pendek dari biasanya. Bantal tambahan yang dijanjikan kontrak sudah ada di bawah kepalaku, tapi leherku tetap sakit. Detik tidur di kakiku, berat seperti karung beras. Di luar, angin menggoyang pohon jambu, dan sesekali buahnya jatuh ke rumput dengan bunyi tuk kecil.
Aku menatap langit-langit dan berpikir tentang kafe di Kemang.
Aku tahu kafe mana. Ayana pernah menceritakannya, dulu, di malam ketujuh setelah kami jadian, waktu kami duduk di teras dengan dua gelas teh dan dia bercerita tentang laki-laki yang pernah ia cintai sebelum aku. Kafe kecil, meja dekat jendela, es kopi susu yang mencair.
Aku nggak pernah ke sana lagi, katanya waktu itu. Aku nggak mau. Tempat itu punya dia.
Besok dia akan ke sana lagi. Dan aku yang akan mengantarnya.
Jam setengah dua belas, aku mendengar suara dari atas.
Bukan suara langkah. Bukan suara pintu. Suara napas. Napas yang tersengal-sengal, cepat, seperti orang yang berlari. Lalu sebuah jeritan pendek, tertahan, seperti dibekap bantal.
Aku sudah di tangga sebelum aku sadar sudah berdiri.
Pintu kamar tertutup. Aku memegang gagangnya. Terkunci.
Dia menguncinya. Sejak malam pertama dia pulang, dia selalu mengunci pintu kamar. Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku mengerti. Dia tidur sendirian di rumah orang asing, dengan laki-laki asing di sofa bawah. Aku juga akan mengunci pintu kalau jadi dia.
Tapi sekarang dia menangis di balik pintu itu, dan aku tidak bisa masuk.
Aku mengetuk. Pelan. “Ayana?”
Tangisnya berhenti sebentar. Lalu napas yang tersengal-sengal lagi.
“Ayana. Ini aku. Kamu nggak apa-apa?”
Lama tidak ada jawaban. Lalu suaranya, dekat sekali, seperti dia duduk di lantai, bersandar di balik pintu:
“Mimpi.”
“Mimpi apa?”
“Lampu.” Suaranya bergetar. “Lampu terang banget. Terus bunyi. Terus aku jatuh. Jatuh terus, nggak nyampe-nyampe.”
Aku menyandarkan dahiku ke pintu. Kayunya dingin.
“Kamu udah nggak jatuh,” kataku. “Kamu di rumah. Di kamar. Di lantai, kayaknya.”
Hening. Lalu tawa kecil, basah. “Kok tahu aku di lantai?”
“Suaramu dari bawah.”
Aku duduk juga. Di lantai, di luar pintu, punggungku menempel ke kayu. Kalau tebakanku benar, punggungnya juga menempel ke kayu yang sama, di sisi lain. Sejarak tiga senti papan jati.
“Mas,” katanya. “Jamku mati.”
“Jam tangan?”
“Iya. Aku bangun, aku liat jam di meja, jarumnya nggak gerak. Aku pikir…” Napasnya tersengal lagi. “Aku pikir berhentinya di jam yang sama. Di 21.47. Kayak waktu itu. Aku panik. Aku pikir ada yang salah. Aku pikir aku bakal…”
“Jam berapa berhentinya?”
Jeda. Aku mendengar dia bergerak, mungkin mengambil jam di meja.
“Jam… setengah sebelas. Lewat dikit.”
“Bukan 21.47.”
“Bukan.”
“Itu jam manual, Ayana,” kataku. “Bukan otomatis. Bukan baterai. Harus diputer tiap pagi, biar per-nya kenceng lagi. Kalau nggak diputer, tenaganya habis kira-kira empat puluh jam. Terus berhenti.”
Hening.
“Aku nggak pernah muter,” katanya pelan. “Selama aku pulang, aku nggak pernah muter. Aku nggak tahu harus diputer.”
“Iya.”
“Terus kok baru mati sekarang? Aku pulang udah dua minggu lebih.”
Aku menatap gelap di ujung tangga.
Karena setiap pagi, sejak kamu pulang, aku muter jam itu. Kamu taruh jam itu di meja makan setiap malam sebelum naik, karena kamu nggak mau tidur pake jam. Dan setiap pagi, sebelum kamu bangun, sebelum air mendidih, aku muter mahkotanya dua puluh kali. Persis kayak dua tahun terakhir.
Tapi kemarin malam kamu nggak menaruhnya di meja makan. Kamu bawa ke kamar. Karena kamu lagi DM Reno sampai tengah malam, dan kamu lupa.
“Kebetulan aja,” kataku.
Dia tidak menjawab. Lalu aku mendengar bunyi kecil. Bunyi gesekan di lantai kayu. Aku menunduk.
Di celah bawah pintu, di antara lantai dan kayu, sesuatu didorong keluar pelan-pelan. Tali kulit cokelat muda. Lalu permukaan putih kecil dengan angka romawi.
Jam tangannya.
“Puterin,” katanya dari balik pintu. “Tolong.”
Aku memungut jam itu. Masih hangat dari tangannya.
Aku memutar mahkotanya. Dua puluh kali. Pelan, rata, tidak terlalu kencang. Lalu aku menyetel jarumnya ke jam yang benar, 23.52, dan mendekatkannya ke telinga. Tik. Tik. Tik. Jantung burung kecil yang berdetak lagi.
Aku mendorongnya kembali lewat celah pintu.
Dari sisi lain, aku mendengar dia memungutnya. Lalu hening, lama, seperti dia sedang mendengarkan detaknya.
“Mas,” katanya. “Boleh minta tolong satu lagi?”
“Boleh.”
“Tiap pagi. Puterin, ya. Aku pasti lupa.”
Aku menutup mata.
“Iya,” kataku. “Tiap pagi.”
Dia tidak kembali ke ranjangnya. Aku tahu, karena suaranya masih terdengar dari bawah, dari lantai, dari balik pintu yang sama.
“Mas, ngomong sesuatu,” katanya. “Apa aja. Biar aku nggak mikirin lampu.”
Jadi aku ngomong.
Aku cerita tentang Detik yang pernah terjebak di dalam mesin cuci, waktu umurnya masih enam bulan, dan keluar dengan bulu yang wangi pelembut pakaian dan wajah penuh dendam. Aku cerita tentang Bu Ratna dari Antapani yang pernah datang membawa jam weker merah muda sambil memakai gaun pengantin, karena dia baru pulang dari pernikahan keponakannya dan “teu sempet ganti”, nggak sempat ganti baju. Aku cerita tentang Aki yang bisa tahu jam mana yang palsu hanya dengan mendengar detaknya, dan tentang bagaimana dia selalu bilang jam palsu itu batuk.
Aku cerita tentang gerigi yang lepas dari porosnya tapi tidak hilang.
Aku tidak cerita tentang kafe di Kemang. Aku tidak cerita tentang tangan yang mencari tanganku di Jalan Asia Afrika. Aku tidak cerita tentang empat puluh tujuh ajakan. Itu semua ada di belakang gigiku, dan aku menjaganya di sana.
Suaranya dari balik pintu makin lama makin pelan. Makin jarang menimpali. Makin berat.
Lalu, waktu aku sedang bercerita tentang Ujang yang pernah membersihkan jam antik dengan sabun cuci piring, dia memotong:
“Mas…”
“Hm?”
“Kamu masih di situ?”
Aku menatap pintu kayu di depanku. Di balik pintu ini, istriku duduk di lantai dengan jam tangan berdetak di genggamannya, setengah tertidur, dan besok aku akan mengantarnya menemui laki-laki yang ia cintai.
“Masih,” kataku. “Pelan-pelan aja. Aku nggak ke mana-mana.”
Dia tidak menjawab lagi.
Lima menit kemudian, aku mendengar napasnya. Panjang, pelan, teratur. Napas orang yang tertidur. Di lantai. Bersandar di pintu. Sejarak tiga senti papan jati dari punggungku.
Aku tidak bergerak.
Aku tetap duduk di sana, punggung di pintu, sampai lampu jalan di luar padam dan langit berubah abu-abu. Sampai aku yakin dia tidak akan bermimpi lagi. Sampai kakiku kesemutan dan Detik naik dari bawah dan tidur di pangkuanku dengan wajah protes.
Waktu subuh, aku turun. Merebus air. Menyiapkan dua cangkir.
Lalu aku duduk di meja makan dan membuka Kartu Servis.
Hari ke-20.
Unit mimpi buruk. Lampu. Bunyi. Jatuh.
Jam unit mati, karena kemarin malam nggak ditaruh di meja makan. Unit kira itu tanda buruk. Bukan. Cuma lupa diputer.
Unit minta diputerin tiap pagi. Iya. Tiap pagi.
Unit tidur di lantai, nyender ke pintu. Aku juga.
Aku berhenti. Penaku menggantung di atas kertas, lama sekali.
Lalu aku menulis baris terakhir.
Sabtu: antar unit ke Kemang. Jam dua.
Bawa termos teh. Bawa jaket. Bawa bantal leher, siapa tahu nunggunya lama.
Aku tidak menulis dicatat. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak bisa menulis kata itu.
Aku menutup buku itu, dan menunggu air mendidih.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47 reading
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog