Chapter Thirteen
Tangan yang Masih Ingat
POV: Ayana
Beruangku masih kelihatan seperti kentang yang dikasih kuping.
Aku sudah mencoba tiga puluh dua kali. Aku menghitungnya. Tiga puluh dua lembar kertas cat air yang mahal, menurut label harga yang masih menempel di plastiknya, dan semuanya berakhir di tempat sampah di pojok loteng dengan nasib yang sama.
Beruang di buku Beruang yang Takut Gelap itu bulat dan lembut, dengan mata kecil yang kelihatan sedikit cemas dan pipi yang kemerahan. Beruang buatanku bentuknya lonjong, matanya terlalu jauh satu sama lain, dan pipinya kelihatan seperti dia baru saja ditampar.
“Kamu tuh beruang,” kataku pada gambar nomor tiga puluh dua. “Bukan korban KDRT.”
Detik, yang entah sejak kapan mulai ikut naik ke loteng dan tidur di atas tumpukan kain lap, membuka satu mata dan menatap gambarku. Lalu menutupnya lagi dengan ekspresi yang jelas-jelas menghina.
“Kamu juga nggak bisa gambar,” kataku padanya.
Dia mendengkur. Aku menganggapnya sebagai iya, tapi aku kucing.
Masalahnya, menurut Gendis, aku terlalu berpikir.
“Lo dulu nggak pernah mikir pas gambar,” katanya kemarin di telepon, sambil mengunyah sesuatu yang renyah. “Lo cuma… gambar. Kayak napas. Lo bilang tangan lo yang mikir, bukan kepala lo.”
“Tanganku nggak bisa mikir, Ndis. Tanganku cuma bisa megang pensil kayak megang sumpit.”
“Itu karena kepala lo yang megang. Biarin tangan lo yang megang.”
“Itu nggak masuk akal.”
“Gambar emang nggak masuk akal. Makanya lo jago.”
Aku menatap kertas kosong nomor tiga puluh tiga di meja gambar dan mencoba tidak berpikir.
Itu ternyata jauh lebih susah daripada berpikir.
Aku menyerah pada beruang dan, untuk mengalihkan diri, membuka ponsel.
Ada pesan dari Reno. Foto. Meja dekat jendela di kafe di Kemang, dengan dua gelas di atasnya, es kopi susu dan teh manis. Keterangannya: Tadi lewat sini. Inget kamu pesen teh manis. Kamu dulu nggak pernah pesen teh.
Aku tersenyum. Aku tidak bisa menahannya.
Lalu senyumku hilang pelan-pelan, karena aku sadar dia benar. Aku yang dulu, aku yang dua puluh empat tahun, tidak pernah pesan teh manis di kafe. Aku pesan caramel macchiato, karena itu yang dipesan orang-orang di agensi, dan aku ingin terlihat seperti orang-orang di agensi.
Kapan aku mulai suka teh manis?
Aku tidak tahu. Mungkin sejak bangun di rumah sakit. Mungkin sejak segelas teh manis disodorkan di meja makan oleh laki-laki yang tidak banyak bicara, pagi itu, setelah aku menyemburkan kopi hitam ke piyama awanku.
Aku membalas pesan Reno dengan emoji tertawa, lalu tanpa sadar membuka WhatsApp.
Chat paling atas. Mas Tukang Jam 🕰️❤️.
Sejak malam itu, malam aku mendengar voice note satin dan melempar ponselku ke kasur, aku belum berani membuka voice note lain. Tapi hari ini, di loteng yang tenang dan penuh cahaya, dengan Detik yang mendengkur dan kertas kosong yang menatapku, aku merasa sedikit lebih berani.
Aku mengecilkan volume sampai paling pelan. Aku menekan satu voice note acak, dari empat bulan yang lalu.
Suaraku. Bukan, suara dia. Ayana yang dulu.
“Mas, tadi Ujang laporan. Katanya kamu senyum-senyum sendiri pas baca chat aku yang tadi siang. Terus Ujang nanya kamu kenapa, kamu bilang ‘jamnya lucu’. JAMNYA LUCU, Mas? Jam apa yang lucu? Kamu tuh kalau bohong ketahuan banget, tahu nggak. Telinga kamu merah. Ujang fotoin. Aku udah liat. Nanti malem aku mau liat langsung telinga merahnya, ya. Jangan pulang telat.”
Aku menekan tombol berhenti.
Lalu aku menutup wajah dengan dua tangan, di tengah loteng, dan mengerang.
Itu aku. Itu aku. Perempuan yang menyuruh Ujang memotret telinga suaminya. Perempuan yang mengirim voice note genit di tengah hari kerja. Perempuan yang, sepertinya, tidak punya rasa malu sama sekali.
Aku membuka satu lagi. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku penasaran. Mungkin karena aku masokis.
“Maaas. Aku lagi gambar kamu lagi. Nggak usah ge-er. Ini buat latihan anatomi tangan. Tangan kamu tuh susah digambar, tahu nggak. Uratnya banyak. Tapi aku suka. Tangan kamu tuh… gimana ya. Tangan orang yang sabar. Aku pengen gambar tangan kamu sampe aku hafal. Sampe aku merem pun bisa gambar.”
Aku berhenti.
Lalu aku menatap tumpukan sketsa di sudut meja gambar. Sketsa yang sejak hari pertama kuhindari. Ratusan sketsa tangan laki-laki memegang obeng, menyiram tanaman, membalik koran, mengelus kucing.
Sampe aku merem pun bisa gambar.
Aku menarik kertas kosong nomor tiga puluh tiga ke depanku. Aku mengambil pensil 2B. Lalu, karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku memejamkan mata.
Dan aku membiarkan tanganku bergerak.
Aku tidak tahu berapa lama.
Mungkin lima menit. Mungkin setengah jam. Yang kuingat cuma bunyi pensil di atas kertas, srek-srek-srek, pelan dan berirama, dan rasa aneh di tanganku, seperti tanganku sedang berjalan di jalan yang sudah dikenalnya, sementara kepalaku tertinggal di belakang.
Waktu aku membuka mata, ada gambar di atas kertas.
Bukan beruang.
Tangan.
Tangan laki-laki, memegang obeng kecil. Jari-jari panjang. Buku jari yang sedikit menonjol. Urat-urat halus di punggung tangan. Bekas luka kecil, garis tipis, di jempol kiri.
Aku tidak pernah memperhatikan bekas luka itu dengan sengaja. Aku cuma melihatnya sekilas, di toko, waktu kencan pertama. Sekali. Sebentar.
Tapi tanganku ingat.
Aku menatap gambar itu lama sekali. Tanganku gemetar. Pensil 2B jatuh ke lantai dan berguling ke bawah meja.
“Detik,” bisikku. “Detik, liat.”
Detik membuka mata. Menatap gambar itu. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku pulang dari rumah sakit, dia bangkit dari tumpukan kain lap, berjalan ke arahku, melompat ke pangkuanku, dan mengendus-endus kertas itu.
Lalu dia menggosokkan kepalanya ke daguku. Sekali.
Lalu dia turun dan kembali tidur di kain lap seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku duduk di loteng itu, dengan gambar tangan suamiku di depanku dan bekas sentuhan kepala kucing di daguku, dan aku tidak tahu kenapa aku ingin menangis.
Siangnya, aku memutuskan pergi ke toko.
Alasannya praktis, kataku pada diriku sendiri. Aku perlu referensi. Aku perlu melihat tangan itu bekerja dari dekat, supaya gambarku lebih akurat. Ini latihan anatomi. Sesuai kata Ayana yang dulu.
Aku juga membawa rantang. Itu juga praktis. Aku sudah masak sayur sop dan perkedel dan sambal, kali ini dengan garam yang tepat, karena aku menonton tiga video YouTube berbeda dan mencatat takaran garamnya di buku. Sayang kalau tidak dimakan.
Ujang membukakan pintu toko dengan wajah yang langsung bercahaya seperti lampu neon.
“TETEH!” Lalu dia melihat rantang di tanganku, dan wajahnya bercahaya lebih terang lagi. “Teteh mawa dahar? Kanggo Akang? Atanapi kanggo abdi ogé?”
(TETEH! Teteh bawa makan? Buat Akang? Atau buat saya juga?)
“Buat kalian berdua.”
Ujang memegang dadanya dengan dramatis. “Ya Allah. Teteh nu baheula balik.”
(Ya Allah. Teteh yang dulu balik.)
Aku tidak tahu harus merasa senang atau tersinggung.
Putra ada di belakang meja kerjanya, dengan loupe di mata kanan, membungkuk di atas jam meja kuningan yang besar. Dia mendongak waktu lonceng pintu berbunyi. Dia melihatku. Loupe itu jatuh dari matanya dan menggantung di tali yang melingkar di lehernya.
“Ayana?”
“Aku bawa makan,” kataku. Lalu, cepat, sebelum dia bertanya: “Sama aku mau liat kamu kerja. Buat latihan gambar. Anatomi tangan.”
Dia menatapku. Lalu menatap buku sketsa di tanganku yang satunya. Lalu menatapku lagi.
Telinganya mulai merah.
Aku hampir tertawa. Kamu tuh kalau bohong ketahuan banget. Telinga kamu merah. Ternyata telinganya juga merah kalau dia tidak bohong.
“Duduk,” katanya, menunjuk bangku tinggi di sebelah meja kerja. Bangku yang sama. Bangku tempat Aki dulu mendudukkannya waktu kecil.
Kami makan bertiga di meja kecil di belakang toko. Ujang menghabiskan dua perkedel dan memuji sambalku dengan berlebihan sampai Putra menyuruhnya diam. Putra makan pelan-pelan, seperti biasa, dan tidak bilang apa-apa tentang rasanya.
“Enak nggak?” tanyaku akhirnya.
“Enak.”
“Garamnya?”
“Pas.”
“Jujur?”
Dia menatapku. “Pas, Ayana. Aku nggak bohong.”
Aku tersenyum. Kecil. Aku tidak tahu kenapa aku butuh dia bilang pas.
Setelah makan, dia kembali ke meja kerja, dan aku duduk di bangku tinggi dengan buku sketsa di pangkuan. Aku menggambar. Kali ini dengan mata terbuka.
Tangannya bergerak di atas jam kuningan itu. Membuka sekrup. Mengangkat gerigi. Membersihkan dengan kuas halus. Aku menggambar setiap gerakan. Jari telunjuk yang menekan pinset. Jempol yang menahan bingkai jam. Pergelangan tangan yang sedikit miring.
Gambarnya tidak sebagus gambar di loteng tadi, gambar yang dibuat dengan mata tertutup. Tapi lumayan. Jauh lebih bagus dari beruang kentang.
Toko itu tenang. Detak puluhan jam di dinding belakang terdengar seperti hujan yang sangat pelan. Wangi minyak mesin dan kayu tua. Cahaya sore yang masuk dari jendela besar berbingkai hijau, jatuh miring di atas meja kerja, membuat debu-debu kecil di udara kelihatan berkilauan seperti glitter.
Aku tidak tahu kapan aku mulai mengantuk.
Mungkin karena semalam aku tidak tidur nyenyak, memikirkan pesan dari Reno. Mungkin karena makan siangnya terlalu kenyang. Mungkin karena detak jam-jam itu, yang pelan dan teratur dan tidak pernah berhenti, seperti lagu nina bobo.
Pensilku melambat. Mataku memberat. Kepalaku miring pelan-pelan ke samping.
Ke samping kanan.
Ke bahu Putra.
Aku tidak sadar aku tertidur. Yang kutahu, tiba-tiba aku membuka mata, dan cahaya di jendela sudah berwarna jingga, bukan kuning lagi, dan pipiku menempel di sesuatu yang hangat dan agak keras. Kain flanel. Wangi sabun dan kayu.
Bahu.
Aku tidak bergerak.
Aku tidak bergerak karena aku tidak tahu harus bergerak ke mana. Kalau aku bangun mendadak, itu canggung. Kalau aku tetap di sini, itu… lebih canggung. Tapi juga hangat. Dan nyaman. Dan wangi seperti rumah.
Dari sudut mataku, aku melihat tangannya. Masih di atas meja kerja. Masih memegang pinset. Tapi tidak bergerak. Pinset itu menggantung di udara, di atas jam kuningan yang terbuka, tidak menyentuh apa-apa.
Berapa lama dia diam seperti itu?
Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: dia tidak bisa bekerja dengan aku bersandar di bahunya. Tangan kanannya, tangan yang memegang pinset, adalah sisi yang kutiduri. Kalau dia bergerak, aku akan bangun.
Dia tidak bergerak.
Dia tidak bergerak sama sekali.
Di seberang ruangan, di balik etalase, aku melihat Ujang. Dia sedang duduk di bangku panjang dengan ponsel di tangan, mengetik sesuatu dengan cepat. Wajahnya serius sekali. Lalu dia melirik ke arah kami, melihat mataku yang terbuka, dan membeku.
Ujang menahan napas. Aku bisa melihat dia menahan napas. Pipinya menggembung. Matanya membelalak. Dia menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, sssst, lalu, dengan gerakan sangat pelan, menyembunyikan ponselnya di balik punggung.
Aku memejamkan mata lagi.
Pura-pura tidur.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku cuma tahu bahwa kalau aku membuka mata sekarang, Putra akan bergerak, dan aku akan duduk tegak, dan kami berdua akan pura-pura ini tidak terjadi.
Dan untuk lima menit lagi, aku tidak mau pura-pura.
Lima menit itu panjang sekali.
Aku mendengar napas Putra, pelan dan dalam. Aku mendengar detak jam-jam di dinding. Aku mendengar Ujang mengetik di ponselnya, pelan-pelan sekali, seperti takut bunyi ketikan pun bisa membangunkanku. Aku mendengar jantungku sendiri, yang tidak mau pelan sama sekali.
Lalu aku merasakan sesuatu. Sangat ringan. Hampir tidak terasa.
Kepala Putra. Miring sedikit. Pipinya menyentuh puncak kepalaku. Sebentar. Sedetik. Seperti tidak sengaja.
Lalu menjauh lagi.
Aku tidak bergerak. Aku tidak bernapas.
Setelah itu, aku menghitung sampai seratus dalam hati, lalu menggeliat pelan, seperti orang yang baru bangun betulan, dan duduk tegak sambil mengucek mata.
“Eh,” kataku. “Aku ketiduran, ya?”
“Iya,” kata Putra. Dia langsung kembali bekerja. Pinsetnya bergerak lagi. Tapi telinganya merah. Merah sekali. Sampai ke leher.
“Lama?”
“Sejam.”
Sejam. Aku tidur di bahunya sejam, dan dia tidak bergerak sejam.
“Maaf,” kataku.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu jadi nggak bisa kerja.”
“Bisa.” Dia menunjuk jam kuningan di meja dengan dagu. “Ini udah selesai dari tadi.”
Aku melihat jam kuningan itu. Bagian belakangnya masih terbuka. Geriginya masih berserakan di atas kain beludru di sebelahnya. Jelas-jelas belum selesai.
Aku tidak bilang apa-apa.
Waktu aku pamit pulang, Ujang mengantarku sampai pintu. Dia menunggu sampai kami di luar, di trotoar Braga, jauh dari jangkauan pendengaran Putra.
“Teh,” bisiknya, dengan cengiran lebar yang membuat matanya hilang. “Teteh ngadamel abdi kaleungitan duit.”
(Teh. Teteh bikin saya kehilangan duit.)
“Hah?”
“Abdi taruhan sareng Teh Gendis. Iraha Teteh bakal ngalih kamar. Abdi pasang tilu bulan. Teh Gendis pasang dua bulan.” Dia menggeleng-geleng dengan ekspresi pedagang yang rugi. “Tapi ningali nu tadi, Teh Gendis meunang.”
(Saya taruhan sama Teh Gendis. Kapan Teteh bakal pindah kamar. Saya pasang tiga bulan. Teh Gendis pasang dua bulan. Tapi liat yang tadi, Teh Gendis menang.)
“Ujang!”
Dia sudah lari masuk ke toko, tertawa terbahak-bahak, sebelum aku bisa memukulnya dengan buku sketsa.
Aku berdiri di trotoar Braga, sendirian, dengan wajah yang panas dan rantang kosong di tangan.
Lalu aku membuka ponselku. Masih ada pesan dari Reno yang belum kubalas dengan benar. Foto meja di Kemang dengan teh manis dan es kopi susu. Kamu dulu nggak pernah pesen teh.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku memasukkan ponsel ke tas tanpa membalas, dan memesan taksi online, dan selama perjalanan pulang aku tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu yang ringan sekali, hampir tidak terasa, yang menyentuh puncak kepalaku sedetik, seperti tidak sengaja.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat reading
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog