Chapter Thirty Four
Empat Puluh Tujuh
POV: Ayana
Pak Udin ternyata adalah laki-laki paling tua yang pernah kulihat masih bekerja.
Umurnya mungkin delapan puluh. Mungkin lebih. Kulitnya cokelat gelap dan keriput seperti kertas yang diremas lalu diratakan lagi. Rambutnya tinggal beberapa helai putih di atas telinga. Dia duduk di bangku kayu kecil di bawah payung besar warna oranye pudar, di trotoar depan Pasar Baru Bekasi, di antara penjual sandal jepit dan penjual pulsa.
Di depannya, meja lipat kecil dengan kain beludru hijau yang sudah botak di beberapa tempat. Di atasnya, kotak kayu penuh alat-alat kecil. Obeng. Pinset. Kaca pembesar. Botol-botol minyak. Dan tumpukan jam tangan murah dengan label harga dari kertas.
Dia sedang mengganti baterai jam tangan plastik anak-anak bergambar kartun waktu aku berdiri di depannya.
“Pak,” kataku. “Bisa buka tutup belakang jam?”
Pak Udin mengangkat kepala pelan-pelan, seperti kura-kura yang mengeluarkan kepala dari tempurung. Dia menatapku dari balik kacamata tebal yang lensanya setebal pantat botol.
“Bisa, Neng. Jam apa?”
Aku mengulurkan jam itu. Tali kulit hitam. Permukaan biru tua.
Pak Udin menerimanya. Dia membaliknya. Dia menatap tutup belakangnya lama. Dia mendekatkannya ke telinga, mendengarkan detaknya.
“Wah,” katanya. “Jam bagus ini, Neng. Mesin Jepang. Otomatis. Mahal ini.”
“Iya, Pak.”
“Punya Neng?”
“Punya suami saya.”
Pak Udin mengangguk-angguk. “Suaminya rajin ngerawat, ya. Ini mesinnya bersih banget. Minyaknya baru. Kayak diservis tiap bulan.”
“Dia tukang jam, Pak.”
Pak Udin berhenti. Dia menatapku dari balik kacamata pantat botol.
“Tukang jam?”
“Iya. Di Bandung. Di Braga.”
“Braga…” Pak Udin menyipitkan mata. “Toko yang tua? Yang ada tulisan kuningan? Adiwangsa?”
Aku menatapnya. “Bapak tahu?”
“Tahu dong, Neng.” Pak Udin tertawa, memperlihatkan gigi yang tinggal tiga. “Saya belajar sama Pak Adiwangsa yang tua. Tahun tujuh puluhan. Tiga bulan. Terus saya pulang ke Bekasi, buka lapak di sini. Pak Adiwangsa yang tua itu jago banget. Tangannya kayak tangan dokter bedah.” Dia berhenti. “Udah meninggal, ya? Saya denger dari temen.”
“Udah, Pak. Empat tahun lalu.”
“Innalillahi.” Pak Udin menunduk sebentar. “Terus cucunya yang nerusin? Yang pendiem itu? Saya pernah liat dia sekali, waktu saya ke Braga beli onderdil, mungkin dua puluh tahun lalu. Masih kecil. Duduk di bangku tinggi di sebelah meja kerja.”
Aku tidak bisa bicara. Aku cuma mengangguk.
“Anak itu nggak ngomong sama sekali, Neng,” kata Pak Udin, menerawang. “Saya nanya namanya, dia diem. Saya kasih permen, dia diem. Pak Adiwangsa bilang, biarin, Din, bapak-ibunya baru pergi. Dia belum mau ngomong sama siapa-siapa.” Pak Udin tersenyum kecil. “Tapi tangannya, Neng. Tangannya nggak pernah diem. Dia lagi bongkar jam weker rusak. Sendirian. Pake obeng yang kegedean buat tangannya. Kakeknya nggak ngajarin, nggak nyuruh, cuma ngebiarin. Saya liatin dia sejam. Dia nggak nangis, nggak ngeluh, cuma bongkar, pasang, bongkar, pasang. Sampe jam weker itu bunyi lagi.”
Pak Udin menatap jam di tangannya.
“Waktu jam weker itu bunyi,” katanya, “anak itu senyum. Sekali. Kecil banget. Terus dia ngasih jam weker itu ke kakeknya, kayak ngasih hadiah.” Dia menggeleng pelan. “Saya inget sampe sekarang. Anak yang nggak bisa ngomong, tapi bisa bikin yang mati bunyi lagi.”
Aku menatap tanganku sendiri di pangkuan. Tanganku gemetar.
Pak Udin menatapku lama. Lalu dia menatap jam di tangannya. Lalu kembali padaku.
“Jadi Neng istrinya,” katanya pelan.
“Iya, Pak.”
Dia tersenyum. Lalu dia mengambil alat pembuka dari kotak kayunya. Alat kecil dari besi dengan tiga ujung runcing yang bisa digeser.
“Mau dibuka buat apa, Neng? Jamnya nggak rusak.”
“Mau liat dalemnya, Pak,” kataku. “Ada… ada yang mau saya liat.”
Pak Udin memasang ujung-ujung alat itu ke takik-takik kecil di pinggir tutup belakang. Dia memutarnya pelan. Tangannya gemetar, tangan orang tua, tapi gerakannya pasti. Seperti tangan yang sudah melakukan hal yang sama ribuan kali.
Tutup belakang itu berputar. Sekali. Dua kali. Lalu lepas.
Pak Udin mengangkatnya dan membaliknya ke arah cahaya. Dia menyipitkan mata di balik kacamata tebalnya.
“Ada tulisannya, Neng,” katanya. “Diukir.”
Jantungku berhenti.
“Bacain, Pak.”
Pak Udin mendekatkan tutup itu ke kacamatanya. Bibirnya bergerak tanpa suara, membaca. Lalu dia berhenti. Dia menatapku dari atas kacamata.
Lalu dia mengulurkan tutup belakang itu padaku.
“Neng aja yang baca,” katanya. “Kayaknya ini buat Neng.”
Aku menerimanya.
Baja polos, dingin, berkilat. Di bagian dalam, di tengah lingkaran, ada ukiran. Huruf-huruf kecil, diukir dengan mesin, sedikit miring. Tulisan yang sama dengan yang diukir di jam tangan Reno. Mungkin dari tukang ukir yang sama. Mungkin dariku yang sama.
Tapi kata-katanya berbeda.
Ke-47 kali. Akhirnya kamu bilang iya. —A.
Aku tidak ingat jatuh.
Yang kuingat, tiba-tiba aku sudah duduk di trotoar. Di depan meja lipat Pak Udin. Di antara penjual sandal jepit dan penjual pulsa. Dengan tutup belakang jam di telapak tanganku.
Dan kepalaku penuh cahaya.
Bukan seperti di Braga. Di Braga, kepingan itu datang seperti kilat, sedetik, lalu gelap. Ini lain. Ini datang pelan-pelan, seperti lampu yang dinyalakan dengan saklar putar, dari redup ke terang.
Meja dekat jendela. Taplak putih. Vas kecil berisi satu tangkai mawar kuning.
Meja dua belas.
Aku duduk di sana. Aku memakai gaun hijau. Tanganku di atas meja, dan tanganku dingin. Dingin sekali, seperti es. Ada tiga gelas air putih di depanku. Tiga. Dan semuanya sudah habis.
Dia duduk di depanku. Kemeja flanel kotak-kotak, dikancingkan sampai atas. Rambut disisir. Belahan samping. Dia kelihatan gugup. Dia menatap mawar kuning di vas, bukan menatapku.
Aku membuka mulut. Suaraku bergetar.
Mas. Ini yang keempat puluh tujuh. Aku udah nggak nangis soal dia. Udah lama. Aku nggak inget kapan terakhir aku mikirin dia. Aku ke Bandung bukan buat lari lagi. Aku ke Bandung buat kamu. Cuma buat kamu.
Aku menarik napas.
Mas mau nggak… jadi pacarku?
Hening.
Lalu dia mengangkat kepala, dan menatapku, dan bilang sesuatu.
Aku tidak mendengarnya. Jantungku berdebar terlalu keras. Telingaku berdenging.
Apa, Mas?
Dia bilang lagi. Lebih keras sedikit.
Aku masih tidak mendengarnya. Aku menatap bibirnya dan tidak bisa membaca kata-katanya.
Maaf, Mas. Aku nggak denger. Apa?
Dia tertawa. Pelan. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tertawa dengan seluruh wajahnya. Lalu dia mengulurkan tangan di atas meja dan memegang tanganku yang dingin seperti es. Tangannya hangat.
Iya, katanya. Keras. Jelas. Sampai pasangan di meja sebelah menoleh. Iya, Ayana. Mau.
Dan aku menangis. Dan tertawa. Dan menutup separuh wajahku dengan tangan yang tidak dia pegang. Dan dengan tangan yang lain, entah bagaimana, aku mengambil ponselku dan memotret wajahku sendiri. Buram. Basah. Tersenyum sangat lebar.
Biar aku nggak lupa, kataku padanya, ini yang keberapa.
Lalu lampunya meredup lagi. Pelan-pelan. Dari terang ke redup.
Lalu gelap.
“Neng? Neng!”
Pak Udin. Dia sudah berdiri dari bangku kayunya, membungkuk di atasku dengan wajah panik. Penjual sandal jepit di sebelah sudah berjongkok di sampingku dengan sebotol air mineral. Penjual pulsa memegang kipas plastik dan mengipasi wajahku dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
“Neng, Neng nggak apa-apa? Neng pingsan?”
“Nggak,” kataku. Suaraku serak. “Nggak pingsan, Pak. Cuma… inget sesuatu.”
Penjual sandal menyodorkan air mineral. Aku meminumnya. Tanganku gemetar sampai air tumpah ke daguku.
Aku menatap tutup belakang jam di telapak tanganku.
Ke-47 kali. Akhirnya kamu bilang iya.
Dia mengucapkannya tiga kali. Iya. Iya. Iya, Ayana. Mau. Karena aku tidak mendengar dua yang pertama.
Aku memotret wajahku sendiri. Folder 47. Biar aku nggak lupa ini yang keberapa.
Dan aku lupa.
Aku lupa, dan dia tidak. Dia ingat setiap detiknya. Dia memesan meja dua belas setiap bulan selama dua tahun. Dia menyimpan foto gaun hijau itu di paling atas kardus. Dia memakai jam dengan ukiran ini setiap hari, di pergelangan tangan kirinya, dekat nadi.
Dan waktu aku menitipkan cincin ke saku kirinya, lima Sabtu, dia memakai jam ini di tangan yang sama dengan tangan yang menerima cincinku.
Ke-47 kali. Akhirnya kamu bilang iya.
Lalu dia menitipkan jam ini padaku. Di keset Mama. Jam satu pagi.
Dulu kamu titip cincin ke aku lima Sabtu. Sekarang gantian.
Aku mulai menangis. Di trotoar depan Pasar Baru Bekasi. Di depan Pak Udin dan penjual sandal jepit dan penjual pulsa dan seorang ibu-ibu yang lewat membawa ayam potong.
Penjual pulsa berhenti mengipasi wajahku. Penjual sandal jepit memberiku sebungkus tisu. Pak Udin duduk kembali di bangku kayunya dan menunggu, diam, tidak bertanya apa-apa.
Seperti Aki. Seperti dulu Aki menunggu cucunya menangis di bangku tinggi di sebelah meja kerja.
Setelah lama, Pak Udin mengambil tutup belakang jam itu dari tanganku dengan lembut.
“Saya pasang lagi, ya, Neng,” katanya. “Biar nggak kemasukan debu.”
Dia memasangnya. Memutarnya dengan alat pembuka. Pelan, sampai kencang. Lalu dia membersihkan permukaan jam itu dengan kain beludru, dan menyerahkannya kembali padaku.
“Berapa, Pak?”
Pak Udin menggeleng.
“Nggak usah, Neng.”
“Pak—”
“Nggak usah.” Pak Udin tersenyum dengan gigi yang tinggal tiga. “Bilangin aja ke cucunya Pak Adiwangsa. Bilangin Udin dari Bekasi titip salam. Bilangin, Udin dulu belajar sama kakeknya, dan kakeknya pernah bilang ke Udin satu hal yang Udin inget sampe sekarang.”
“Apa, Pak?”
Pak Udin memandang ke jalan. Ke motor-motor dan angkot dan orang-orang yang lalu lalang di depan pasar.
“Pak Adiwangsa bilang, Din, jam itu nggak pernah bohong. Kalau jam berhenti, artinya ada yang perlu dibenerin. Bukan artinya waktunya udah habis.”
Aku menatapnya.
“Jam berhenti bukan artinya waktunya habis, Neng,” ulang Pak Udin. “Cuma ada yang perlu dibenerin.”
Aku berjalan pulang ke rumah Mama dengan dua jam tangan di genggaman. Satu di tangan kiri, satu di tangan kanan. Keduanya berdetak.
Aku memikirkan angka empat puluh tujuh.
Empat puluh tujuh ajakan.
Akad. Jam 9.47. Di Kartu Servis. Tulisan yang sedikit lebih besar, sedikit gemetar.
Jam tanganku yang berhenti di 21.47, di malam kecelakaan. Di malam sebelum hari jadi kedua kami. Di malam aku menyeberang jalan membawa tas belanja kertas berisi kado untuknya.
Empat puluh tujuh. Empat puluh tujuh. Empat puluh tujuh.
Kebetulan, pasti. Jam berhenti di menit yang kebetulan. Akad dimulai di menit yang kebetulan, atau mungkin dia memilih menit itu, diam-diam, tanpa bilang siapa-siapa, karena dia laki-laki yang mencatat semuanya.
Tapi berdiri di gang sempit di Bekasi itu, dengan dua jam tangan yang berdetak di genggamanku, rasanya tidak seperti kebetulan.
Rasanya seperti jam tanganku sendiri, di malam itu, waktu semua ingatanku jatuh dan berserakan di aspal Jalan Dago, memilih berhenti di satu angka. Satu-satunya angka yang dia harap aku ingat.
Seperti jam itu memanggil.
Kalau suatu hari aku lupa jalan pulang, jemput aku, ya. Kamu kan tukang jam. Kamu pasti tahu gimana caranya bikin yang berhenti jalan lagi.
Aku tidak tahu dari mana kalimat itu datang. Itu bukan kepingan ingatan. Itu bukan suara yang kukenal. Tapi kalimat itu muncul di kepalaku, dengan suaraku sendiri, lebih ringan, lebih manja, sedikit serak seperti baru bangun tidur.
Dia sudah menjemputku.
Di rumah sakit. Di koridor. Di balik pintu kamar. Di tangga darurat Pasar Baru. Di bawah pohon ketapang di Kemang, lima Sabtu. Di parkiran pool travel. Di sofa yang menghadap pintu. Di teras rumah Mama, tiga malam.
Dia sudah menjemputku berkali-kali.
Aku yang tidak pernah mau ikut pulang.
Mama menunggu di ambang pintu dengan tas belanja di tangan.
Tas belanja dari plastik, berisi kotak makanan. Aku mencium baunya dari jauh. Tempe goreng. Piring ketiga.
“Travel ke Bandung jam sebelas,” kata Mama, sebelum aku sempat bilang apa-apa. “Dari pool di Bekasi Barat. Mama udah pesenin. Kursi paling depan.”
Aku menatapnya.
“Mama tahu dari mana aku mau pulang?”
Mama menatap dua jam tangan di genggamanku. Lalu menatap wajahku. Lalu tersenyum, dengan mata yang merah dan bengkak dan bahagia.
“Mama ibu kamu, Yana,” katanya. “Mama kenal muka kamu kalau kamu udah mutusin sesuatu.”
Aku memeluknya. Di ambang pintu. Dengan dua jam tangan di tangan dan tas belanja berisi tempe goreng di antara kami.
“Kursi paling depan, Ma?” bisikku di bahunya.
“Paling depan,” kata Mama. “Biar nggak bisa kabur.”
Aku tertawa. Di bahu Mama. Dengan sisa air mata di pipi.
Lalu aku masuk, mengambil koper kecil dengan stiker bandara Ngurah Rai yang setengah mengelupas, dan memakai jam tanganku sendiri di pergelangan kiri. Tali kulit cokelat muda. Berdetak.
Jam miliknya kupegang di tangan. Tidak kupakai. Itu bukan milikku untuk dipakai.
Itu titipan.
Dan titipan harus dikembalikan.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh reading
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog