Chapter Forty Four
Istrimu Itu Aku
POV: Ayana
Sofa abu-abu itu laku dalam empat belas menit.
Aku memotretnya Jumat pagi, dengan cahaya dari jendela ruang tengah, dengan selimut rajut lipat di satu ujungnya dan bantal kecil di ujung lain. Aku menulis deskripsinya dengan hati-hati, lalu menghapusnya, lalu menulis lagi.
Dijual: sofa abu-abu, tiga dudukan, kondisi bagus. Agak pendek buat orang tinggi. Pernah ditiduri sembilan minggu oleh laki-laki baik yang nggak pernah ngeluh. Sekarang dia udah nggak butuh. Harga nego.
Gendis membacanya dari atas bahuku dan bilang, “Ay. Lo nggak bisa nulis kayak gitu di marketplace.”
“Kenapa?”
“Karena orang bakal nangis, terus nggak jadi beli.”
Aku menghapus kalimat ketiga dan keempat. Lalu memasangnya.
Empat belas menit kemudian, ada pesan masuk. Nomor yang kukenal.
Ema meser. Ulah dijual ka nu sanés. Sabaraha?
(Ema beli. Jangan dijual ke orang lain. Berapa?)
Aku menatap pesan itu. Lalu menelepon Ema.
“Ema, ini sofa doang. Ema kan udah punya sofa.”
“Sofa Ema mah sofa biasa,” kata Ema dari seberang. “Ieu mah sofa nu nyaksian. Kudu aya di imah Ema. Bilih incu Ema bandel deui, Ema tingalikeun sofana. Tah, ieu tempat Aki maneh baheula diusir ku pamajikanana.”
(Sofa Ema mah sofa biasa. Ini sofa yang jadi saksi. Harus ada di rumah Ema. Kalau cucu Ema bandel lagi, Ema tunjukin sofanya. Nah, ini tempat kakekmu dulu diusir istrinya.)
“Ema, Putra yang tidur di situ. Bukan Aki.”
“Sarua wae. Aki na mah engké. Incu Putra. Ema ngadoakeun.”
(Sama aja. Akinya nanti. Cucunya Putra. Ema doain.)
Aku tidak bisa membalas. Pipiku panas.
Ema membayar empat puluh tujuh ribu rupiah. Dia yang menentukan harganya. Dia bilang angka itu bawa untung.
Sore itu, Ujang dan dua temannya dari pangkalan ojek mengangkat sofa abu-abu keluar lewat pintu depan. Detik duduk di atasnya sampai detik terakhir, menolak turun, dan akhirnya ikut terangkat sampai pagar, dengan wajah sangat tersinggung, sebelum melompat dan lari ke atas kulkas.
Putra pulang dari toko jam setengah enam. Dia berdiri di ambang pintu ruang tengah dan menatap bagian kosong di dekat jendela, tempat sofa itu dulu ada. Bekas kaki sofanya masih terlihat di karpet. Empat lekukan kecil.
Dia tidak bilang apa-apa. Lama.
Lalu dia menoleh padaku.
“Laku berapa?”
“Empat puluh tujuh ribu.”
Dia menatapku. Lalu tertawa. Tertawa yang sekarang tidak susah lagi.
“Ke Ema, ya?”
“Kok tahu?”
“Cuma Ema yang nawar segitu,” katanya. Dia meletakkan tas kecilnya di lantai, berjalan ke arahku, dan memelukku dari belakang di depan bagian ruang tengah yang kosong itu. Dagunya di puncak kepalaku. “Makasih, Ay.”
“Buat apa? Itu cuma sofa.”
“Iya,” katanya pelan. “Cuma sofa.”
Syukurannya hari Minggu.
Bukan pesta. Mama yang bersikeras. “Kalian udah nikah. Masa nikah lagi? Nanti dikira cerai. Syukuran aja. Pengajian kecil. Doa. Makan. Udah.”
Jadi kami membuat syukuran kecil di halaman. Tenda biru pinjaman dari masjid kompleks. Tiga baris kursi plastik. Ustaz muda dari masjid yang sama, yang memimpin doa dan, kata Bu Yayah, sedang dicarikan jodoh oleh separuh ibu-ibu kompleks. Pohon jambu di pojok halaman dihias lampu kecil yang sama dengan pesta ulang tahun, karena Gendis bilang lampu itu “udah dua kali nyaksiin, sayang kalau dicopot”.
Undangannya kutulis sendiri. Kartu kecil warna krem dengan gambar dua cangkir teh di pojok kanan, yang satu sedikit miring ke arah yang lain.
Syukuran Pernikahan Kedua Ayana Kirana & Putra Adiwangsa (Iya, orangnya sama. Iya, nikahnya sama. Yang beda cuma: kali ini aku inget.)
Mama protes soal kalimat terakhir. Aku tidak menghapusnya.
Semua orang datang. Mama dari Bekasi dengan dua kotak kue lapis legit dan mata yang sudah sembab sejak di tol. Ema dengan kebaya ungu dan selendang batik, didorong Ujang di kursi roda yang tidak dia butuhkan tapi dia minta “biar kawas ratu”. Gendis dengan kacamata kuning dan, untuk pertama kalinya dalam sejarah persahabatan kami, rok. Tiara dengan Bang Fikri dan Bima yang sudah sebulan, montok, dengan pipi yang Ema cubit setiap kali lewat. Bu Yayah dan geng kompleks dengan kerudung warna senada, kali ini hijau tua dan cokelat, “biar matching sama tema”, padahal tidak ada temanya. dr. Hana dengan bungkusan kecil dan senyum yang tidak bisa disembunyikan, yang menyalamiku dan bilang, “Ini pertama kalinya saya dateng ke nikahan pasien. Jangan bilang-bilang rumah sakit.”
Dan Reno.
Dia datang tepat jam sepuluh, dengan kemeja batik cokelat dan bingkisan kecil yang dibungkus kertas biru. Dia berdiri di pagar sebentar. Ragu. Seperti orang yang tidak yakin apakah dia boleh masuk.
Putra yang menjemputnya. Berjalan dari bawah tenda ke pagar, membuka grendel, dan mengulurkan tangan.
Mereka berjabat tangan. Kali ini sebentar. Biasa. Seperti dua laki-laki yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk disampaikan lewat tangan.
“Duduk di depan,” kata Putra.
Reno menatapnya. “Di depan?”
“Barisan pertama,” kata Putra. “Ada kursi kosong. Di sebelah Gendis.”
Aku melihat wajah Gendis berubah warna dari bawah tenda. Dari normal ke merah tomat dalam satu detik.
Reno berjalan ke barisan depan. Dia duduk di kursi plastik di sebelah Gendis. Gendis menatap lurus ke depan dengan postur seperti tiang bendera.
“Hai,” kata Reno.
“Seblak lo masih utang,” kata Gendis tanpa menoleh.
“Iya. Minggu depan?”
“Liat nanti.”
“Rabu?”
“…Rabu bisa.”
Ujang, di belakangku, berbisik keras sekali ke Tiara: “Teh. Tilu bulan. Abdi meunang.”
(Teh. Tiga bulan. Saya menang.)
“Belum tiga bulan, Jang,” desis Tiara. “Baru tiga minggu.”
“Nya enggal-enggal atuh. Abdi peryogi artosna.”
(Ya makanya cepetan dong. Saya butuh duitnya.)
Ustaz muda itu memimpin doa. Panjang. Dengan suara yang bagus, sampai dua ibu dari geng Bu Yayah saling menyikut.
Aku duduk di barisan paling depan. Di kursi paling depan. Di sebelah Putra.
Tidak di pojok belakang. Tidak di dekat pintu. Tidak dengan ponsel di pangkuan.
Di depan. Di sebelahnya. Dengan tanganku di tangannya, di atas pangkuannya, dan cincin di jari manis kami berdua yang sesekali beradu dengan bunyi tik kecil yang hanya kami yang dengar.
Di tengah doa, aku meliriknya.
Dia memejamkan mata. Bibirnya bergerak pelan, mengikuti doa. Kemeja batik biru tua yang kupilihkan, karena aku tahu biru adalah warna yang selalu dia pilihkan untukku. Rambut yang kurapikan dengan tanganku sendiri tadi pagi, di depan cermin kamar, sambil dia mengeluh aku terlalu lama.
Kacamatanya sedikit melorot.
Aku mengulurkan tangan dan membetulkannya. Pelan. Dengan satu jari.
Dia membuka mata dan menatapku.
Aku tersenyum. Dia tersenyum. Ustaz muda itu melirik kami dari depan dan kehilangan satu kata di doanya.
Lalu Mama menyuruhku memberi sambutan.
Aku tidak siap. Aku tidak menyiapkan apa-apa. Mama menyerahkan mikrofon pinjaman masjid itu padaku dengan wajah yang tidak bisa ditolak, dan aku berdiri di depan tiga baris kursi plastik dengan tangan gemetar.
Semua orang menatapku. Mama. Ema. Gendis. Tiara dengan Bima. Ujang. Bu Yayah. dr. Hana. Reno, di barisan depan.
Dan Putra, yang menatapku seperti malam pertama aku membuka mata di rumah sakit. Waktu aku menatapnya dan bertanya, maaf, Mas siapa?
Aku menarik napas.
“Tiga bulan lalu,” kataku, “aku bangun di rumah sakit, dan aku nggak kenal laki-laki yang duduk di sebelah ranjangku.”
Hening.
“Aku pikir dia petugas rumah sakit. Terus dia bilang dia suamiku, dan aku bilang aku punya pacar.” Beberapa orang tertawa kecil. “Terus aku pulang ke rumahnya dan aku bilang ke dia, di meja makan, sambil makan sayur asem, aku masih cinta Reno.”
Aku tidak berani melirik Reno. Aku dengar dia batuk kecil.
“Dan dia bilang oke,” kataku. “Terus dia nambahin nasi ke piringku.”
Suaraku pecah.
“Habis itu, dia nganterin aku. Ke Jakarta. Lima Sabtu. Dia nunggu di mobil. Dia jahit payung. Dia benerin jam tangan yang aku kasih ke orang lain. Dia tidur di sofa sembilan minggu. Dia nggak pernah sekali pun bilang jangan pergi.”
Mama menangis. Ema menunduk. Di saku kemeja batik Putra, rantai perak baru jam saku Aki berkilat kena lampu tenda.
“Aku nggak inget empat tahun pernikahanku,” kataku. “Sampai sekarang belum. Dokter bilang mungkin nggak akan pernah.” Aku melirik dr. Hana. Dia mengangguk pelan. “Tapi aku nggak perlu inget. Karena selama tiga bulan ini, aku jatuh cinta dari nol. Sama orang yang sama. Lagi.”
Aku menatap Putra.
“Aku cinta suamiku,” kataku. Ke mikrofon. Ke semua orang. Ke tenda biru dan kursi plastik dan pohon jambu dengan lampu kecil. “Aku cinta suamiku, Putra Adiwangsa. Yang sekarang. Yang dulu. Yang nanti. Dicatat.”
Hening sebentar.
Lalu Ema, dari kursi rodanya, berteriak sangat keras: “DICATET!”
Lalu semua orang bertepuk tangan. Geng Bu Yayah berdiri. Gendis bersiul dengan dua jari. Bima menangis.
Putra tidak bertepuk tangan. Dia duduk di kursi plastik di barisan depan, dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Telinganya merah sekali.
Makanannya sayur asem.
Aku yang memilih menu. Mama protes, katanya syukuran harus nasi kuning. Aku bilang nasi kuning ada, di meja sebelah, buat yang mau. Tapi meja utama sayur asem. Ikan asin. Tempe goreng. Sambal terasi. Nasi putih hangat di bakul bambu.
Kami makan di meja makan di dalam rumah. Hanya keluarga. Mama, Ema, Gendis, Ujang. Yang lain di bawah tenda.
Putra duduk di seberangku. Di kursi yang sama. Meja yang sama.
Dia mengambil nasi. Sedikit. Seperti biasa. Dia selalu mengambil nasi sedikit, aku baru sadar belakangan, supaya bakulnya cukup untuk aku nambah.
Aku mengambil sendok nasi.
Aku mengambil nasi dari tengah bakul. Bagian yang paling hangat. Dan aku menambahkannya ke piringnya. Satu sendok. Pelan-pelan. Persis di sebelah sayur asem.
Dia menatap nasi itu.
Lalu menatapku.
Dia tahu. Aku melihat dia tahu. Matanya langsung berkaca-kaca.
“Makan,” kataku. “Habisin. Sampai butir terakhir.”
Dia makan. Sampai habis. Sampai butir terakhir.
Mama, di sebelahku, menatap kami berdua dengan wajah bingung. “Emang kenapa? Nasinya kenapa?”
“Nggak apa-apa, Ma,” kata Putra, dengan mulut penuh, mata basah, tersenyum. “Nasinya enak.”
Setelah makan, waktu Mama sibuk membagi-bagi lapis legit ke ibu-ibu kompleks dan Gendis pura-pura tidak memperhatikan Reno di bawah pohon jambu, aku menemukan Putra di dapur. Sendirian. Menuang teh manis ke gelas.
Aku berdiri di ambang pintu dapur. Ema di belakangku, di kursi roda, sedang meminta Ujang mengambilkan kerupuk.
“Mas,” panggilku.
Dia menoleh.
Aku tersenyum. Lesung pipi kiri. Aku berjalan ke arahnya, pelan, dan mengambil gelas teh dari tangannya.
“Teh manisnya,” kataku, cukup keras untuk didengar Ema dan Ujang dan Gendis yang baru masuk dari pintu belakang, “nanti malam aja ya.”
Dia membeku.
Teh manis nanti malam adalah kode yang kubisikkan pertama kali minggu lalu, di dapur yang sama, dengan tanganku di kancing kemejanya. Artinya bukan teh. Artinya sama sekali bukan teh.
Dia baru saja mengambil gelas lain dan menyeruputnya. Dan dia tersedak. Keras. Teh manis menyembur ke wastafel.
“Uhuk! Ay— uhuk!”
“Kenapa, Mas?” tanyaku dengan mata bulat. “Kepanasan?”
Ema mulai tertawa. Pelan dulu. Lalu keras. Lalu sangat keras, sampai dia harus berpegangan di lengan kursi roda dan Ujang panik mengira dia sesak napas.
“Ema terang!” Ema menunjukku dengan telunjuk gemetar. “Ema terang éta kode naon! Baheula Aki ogé kitu! Kopi ceunah! Kopi nanti malam!”
(Ema tahu! Ema tahu itu kode apa! Dulu Aki juga gitu! Kopi katanya! Kopi nanti malam!)
Ujang, yang tidak mengerti apa-apa, menatap kami bergantian. Gendis mengerti. Gendis menutup mulutnya dengan dua tangan dan menjerit pelan di balik telapak tangannya.
Putra berdiri di depan wastafel dengan wajah merah padam dari leher sampai ke dahi, gelas teh di tangan, teh manis di kemeja batiknya.
Aku mendekat. Dekat sekali. Pura-pura membersihkan teh di kerah batiknya dengan tisu.
Lalu aku berjinjit, dan bibirku sampai di telinganya.
“Istrimu itu aku,” bisikku. “Titik.”
Lalu aku menggigit pelan daun telinganya.
Dia mengeluarkan suara kecil yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Seperti jam weker yang diganjal kain flanel.
Ema tertawa sampai gigi palsunya benar-benar jatuh ke pangkuan.
Tamu terakhir pulang jam empat sore.
Reno pulang paling akhir. Dia berdiri di pagar, berjabat tangan dengan Putra sekali lagi, lalu menatapku.
“Ay,” katanya. “Bahagia, ya.”
“Udah,” kataku. “Kamu juga.”
Dia tersenyum. Senyum miring. Lalu matanya bergeser, tanpa sengaja, ke arah Gendis yang sedang pura-pura sibuk melipat kursi plastik di bawah tenda.
“Lagi diusahain,” katanya.
Dia pergi. Gendis berhenti melipat kursi dan menatap mobilnya sampai hilang di tikungan. Lalu sadar aku menatapnya, dan langsung melipat kursi dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Malam itu, rumah sunyi lagi.
Tenda sudah dibongkar. Kursi-kursi plastik sudah dikembalikan. Lampu kecil di pohon jambu masih menyala, karena tidak ada yang tega mencopotnya.
Kami duduk di lantai ruang tengah. Di tempat sofa itu dulu ada. Di atas karpet dengan empat lekukan kecil bekas kakinya. Punggung bersandar di dinding. Dua gelas teh manis di lantai di depan kami.
Bukan teh yang itu. Teh yang betulan.
Kepalaku di bahunya. Tangannya di pinggangku.
“Ay,” katanya.
“Hm?”
“Makasih.”
“Buat apa lagi?”
Dia diam lama. Jarinya bergerak pelan di pinggangku, menggambar lingkaran kecil.
“Buat dateng lagi,” katanya. “Padahal kamu nggak inget jalannya.”
Aku mengangkat kepala dari bahunya dan menatapnya.
Dalam cahaya lampu kecil dari jendela, wajahnya kelihatan lebih muda. Atau mungkin lebih ringan. Garis-garis di sudut matanya masih ada. Tapi sekarang garis-garis itu dari tertawa.
“Mas,” kataku. “Kamu inget nggak, malam-malam pertama aku di rumah ini? Aku nangis. Aku bilang kepalaku berisik. Aku minta nomor Reno jam satu pagi.”
Dia mengangguk pelan.
“Kamu nggak marah. Kamu nggak meluk aku. Kamu cuma bilang, pelan-pelan aja. Aku nggak ke mana-mana.” Aku tersenyum. “Aku nggak ngerti waktu itu. Aku pikir kamu aneh.”
Dia tertawa kecil.
“Sekarang aku ngerti,” kataku.
Aku memegang wajahnya dengan dua tangan. Seperti di malam ulang tahun yang diulang. Seperti di trotoar Braga di bawah hujan.
“Pelan-pelan aja, Mas,” bisikku. “Aku juga nggak ke mana-mana.”
Dia menatapku. Matanya basah. Lagi. Laki-laki ini menangis lebih banyak dalam tiga minggu terakhir daripada, kata Ema, dalam tiga puluh tahun sebelumnya.
Tapi kali ini dia tidak menunduk. Tidak menyembunyikannya. Tidak menyimpannya sendiri.
Dia membiarkanku melihat.
Lalu dia menciumku. Pelan. Lama. Di lantai ruang tengah, di tempat sofa itu dulu ada, dengan dua gelas teh manis yang perlahan mendingin di depan kami.
Dari atas kulkas, Detik turun. Berjalan melewati kami. Berhenti.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku pulang dari rumah sakit, dia naik ke pangkuanku. Bergelung. Dan mendengkur.
Aku menatap Putra. Putra menatap Detik.
“Dia suka aku,” bisikku. “Mas. Detik suka aku.”
“Dia selalu suka kamu,” kata Putra. “Dia cuma nunggu kamu pulang.”
Aku menunduk menatap kucing di pangkuanku. Lalu menatap laki-laki di sebelahku.
“Udah,” kataku. “Udah pulang.”
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku reading
- 45 Epilog