← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Eight

Proposal Pacaran

POV: Ayana

Sabtu pagi, aku memutuskan kami harus bicara serius.

Aku sudah dua minggu di rumah ini. Dua minggu tidur di ranjang orang asing, memakai piyama orang asing, minum teh yang dibuatkan orang asing setiap pagi dalam cangkir yang ternyata cangkirku (bergambar kucing oranye, Gendis bilang aku memesannya khusus). Dua minggu menatap cincin di jariku setiap malam dan bertanya-tanya kapan aku harus melepasnya untuk selamanya.

Ini tidak bisa terus begini.

Putra sedang menggoreng telur waktu aku turun. Dia tidak ke toko di hari Sabtu pagi. Toko buka jam sepuluh, katanya, karena orang Bandung tidak membetulkan jam sebelum jam sepuluh di hari Sabtu. Dia memakai kaus putih polos dan celana training, dan rambutnya masih basah.

Aku duduk di meja makan dan menunggu sampai dia menaruh piring di depanku. Nasi goreng, telur mata sapi setengah matang, kerupuk. Dan teh manis.

“Mas,” kataku. “Duduk.”

Dia duduk. Dengan sikap siswa ujian lisan lagi, tangan di atas meja, punggung tegak. Aku mulai curiga dia selalu duduk begitu setiap kali aku bilang Mas dengan nada serius.

“Kita harus ngomongin ini.”

“Ini apa?”

“Ini.” Aku menunjuk diriku, lalu dia, lalu ruangan di sekeliling kami, lalu cincin di jariku. “Kita. Pernikahan ini. Aku tinggal di sini. Kamu tidur di sofa. Aku nggak kenal kamu. Kamu kenal aku, tapi bukan aku yang ini, aku yang lain. Ini nggak bisa terus-terusan kayak gini, Mas.”

Dia mengangguk pelan. “Terus maunya gimana?”

“Aku nggak tahu.” Aku memainkan sendok. “Aku mikir semalaman. Aku nggak bisa jadi istri orang asing, Mas. Aku nggak bisa. Rasanya kayak… kayak pake baju orang lain. Bajunya bagus, pas di badan, tapi tetep aja bukan bajuku.”

Dia diam, mendengarkan.

“Mungkin,” kataku pelan, “mungkin aku harus pulang ke Mama dulu. Ke Bekasi. Sampai aku inget. Atau sampai aku tahu harus ngapain.”

Aku memberanikan diri menatapnya.

Wajahnya tidak berubah. Masih tenang. Masih seperti permukaan danau. Tapi tangannya, yang tadi tergeletak di meja, pelan-pelan mengepal. Sangat pelan. Hampir tidak kelihatan.

“Boleh,” katanya. “Kalau itu yang kamu mau.”

“Kamu nggak keberatan?”

“Aku keberatan,” katanya. Jujur. Datar. Seperti melaporkan cuaca. “Tapi itu bukan alasan buat kamu nggak pergi.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku makan nasi goreng. Enak sekali, sialan.

Lalu dia bilang, tiba-tiba:

“Atau…”

Aku mengangkat kepala.

“Atau,” ulangnya, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dua minggu yang lalu, dia kelihatan gugup. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja. Matanya melirik ke jendela, ke kulkas, ke Detik, ke mana-mana kecuali padaku. “Atau kita pacaran.”

Aku tersedak kerupuk.


“Pacaran?”

“Iya.”

“Mas. Kita udah nikah.”

“Kamu nggak inget kita udah nikah.”

“Ya tapi kan tetep udah nikah!”

“Iya. Tapi buat kamu, aku orang asing. Kamu bilang sendiri.” Dia menegakkan duduknya, seperti mengumpulkan keberanian. “Kamu nggak bisa jadi istri orang asing. Oke. Aku ngerti. Jadi jangan jadi istri dulu. Jadi pacar aja. Kenalan lagi. Dari awal.”

Aku menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

“Selama kamu mikir,” lanjutnya, lebih pelan, “selama kamu nyari tahu maumu apa, izinin aku pacarin kamu.”

Aku tidak bisa bicara.

“Reno punya masa lalumu,” katanya. “Aku nggak bisa ngelawan itu. Tiga tahun kalian, aku nggak ada di situ. Tapi masa sekarang…” Dia berhenti, menelan ludah. “Aku cuma minta masa sekarang.”

Hening.

Di luar, burung-burung berkicau di pohon jambu. Di televisi Bu Yayah, yang sepertinya tidak pernah dimatikan, seseorang sedang menjual panci anti lengket.

Aku menatap laki-laki di depanku. Laki-laki yang kemarin dibilang Gendis bodoh yang paling baik yang pernah gue kenal. Laki-laki yang bilang ya udah di koridor rumah sakit kalau aku tidak memilihnya.

Dan sekarang dia minta jadi pacarku.

Pacar istrinya sendiri.

“Mas,” kataku, dan suaraku keluar aneh, setengah tertawa, setengah sesuatu yang lain. “Ini proposal paling aneh yang pernah aku denger.”

“Kamu dulu bilang hal yang sama.”

“Dulu? Waktu kamu nembak aku?”

Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Nanti aja.”

“Mas!”


Tepat waktu itu, pintu depan terbuka dan Ujang masuk dengan napas terengah-engah, membawa kunci inggris sebesar lengan.

“Punten, Kang, Teh! Abdi rék nginjeum kunci nu leutik, nu ieu kagedéan, keran di kosan bocor deui—” Dia berhenti. Menatap kami berdua di meja makan. Menatap wajahku yang merah, lalu wajah Putra yang… juga sedikit merah di bagian telinga. “Eh. Aya naon ieu?”

(Permisi, Kang, Teh! Saya mau pinjam kunci yang kecil, yang ini kegedean, keran di kosan bocor lagi— Eh. Ada apa ini?)

“Ujang,” kataku, dengan semangat orang yang baru saja menemukan penyelamat. “Duduk. Ambil pulpen. Kamu jadi notulen.”

“Notulen naon, Teh?”

(Notulen apa, Teh?)

“Mas Putra baru aja nembak aku.”

Ujang menjatuhkan kunci inggrisnya. Ke lantai. Dengan bunyi KLANG yang keras sekali sampai Detik terbang dari atas kulkas.


Lima belas menit kemudian, Ujang duduk di ujung meja makan dengan buku tulis bergaris dan pulpen di tangan, wajahnya serius seperti juru tulis pengadilan. Putra duduk di seberangku. Aku duduk dengan tangan terlipat di dada, seperti negosiator kontrak.

Kalau aku mau pacaran dengan suamiku sendiri, pikirku, harus ada aturannya. Aku account executive. Semua kerja sama harus ada kontraknya.

“Oke,” kataku. “Aturan pertama.”

“Satu,” kata Ujang, menulis.

“Nggak boleh sentuh-sentuh tanpa izin.”

Ujang berhenti menulis dan melirik Putra. Putra mengangguk tanpa protes.

“Setuju,” katanya.

“Aturan kedua. Mas tetep tidur di sofa. Sampai aku bilang boleh pindah.”

“Setuju.” Dia berpikir sebentar. “Tapi boleh tambah satu bantal?”

“Kenapa?”

“Leherku sakit.”

Aku menatapnya. Dia menatapku dengan wajah datar. Ujang menahan tawa sampai bahunya bergetar.

“Oke. Tambah satu bantal.” Aku mengetuk meja. “Aturan ketiga. Kencan seminggu sekali. Hari apa?”

“Rabu,” kata Putra langsung. “Toko tutup setengah hari tiap Rabu.”

“Kenapa toko tutup setengah hari tiap Rabu?”

Dia diam sebentar. “Kamu yang minta. Dulu.”

Lagi-lagi dulu. Aku memutuskan untuk tidak bertanya. “Oke. Rabu. Aturan keempat. Jam malam.”

“Jam malam buat siapa?” tanya Ujang.

“Buat Mas Putra.”

Ujang dan Putra serempak menatapku.

“Teh,” kata Ujang hati-hati, “nu biasana boga jam malam téh awéwéna, sanés lalakina.”

(Teh, yang biasanya punya jam malam tuh ceweknya, bukan cowoknya.)

“Aku nggak peduli. Dia pulangnya kemaleman terus. Kemarin jam sembilan lewat. Jam malam jam sembilan. Kalau telat, harus kabarin.”

Putra menatapku lama. Ada sesuatu di sudut bibirnya.

“Setuju,” katanya. Lalu, sangat pelan, hampir tidak terdengar: “Dulu kamu juga gitu.”

Aku pura-pura tidak dengar.

“Aturan kelima.” Ini aturan yang sudah kupikirkan sejak semalam. “Aku boleh nanya apa aja, dan Mas wajib jawab jujur.”

“Setuju.”

“Dan nggak boleh jawab nanti aja.”

Putra diam.

“Mas?”

“Tiga kali seminggu,” katanya.

“Apa?”

“Boleh jawab nanti aja. Maksimal tiga kali seminggu.”

“Satu.”

“Tiga.”

“Dua.”

“Tiga,” katanya lagi. Keras kepala. Tenang. Seperti tembok bata.

Ujang menatap kami bergantian seperti menonton pertandingan bulu tangkis.

“Oke, tiga,” aku mengalah. “Tapi dicatat. Ujang, catat. Mas Putra punya jatah nanti aja tiga kali seminggu. Lebih dari itu, denda.”

“Dendana naon, Teh?”

(Dendanya apa, Teh?)

Aku berpikir. “Masak seblak level lima.”

“Akang teu bisa dahar lada, Teh,” bisik Ujang dengan nada prihatin.

(Akang nggak bisa makan pedes, Teh.)

“Bukan buat dimakan Akang. Buat dimakan aku.”

“Kan Teteh nyarios Teteh ngan level dua…”

(Kan Teteh bilang Teteh cuma level dua…)

“Ujang. Catat aja.”

Ujang mencatat.


Tepat di tengah perundingan aturan keenam (nggak boleh ngebahas “dulu” kecuali aku yang nanya, usulanku, yang disetujui Putra dengan anggukan yang entah kenapa terlihat agak sedih), ponsel Putra berbunyi.

Ema. Dia mengangkatnya dan menaruhnya di meja dengan speaker menyala.

“Putra! Ema rék nanya, isukan arék dahar di imah Ema, teu? Ema rék nyieun—”

(Putra! Ema mau nanya, besok mau makan di rumah Ema, nggak? Ema mau bikin—)

“Ema,” kata Putra. “Lagi rapat.”

“Rapat naon? Isuk-isuk kieu?”

(Rapat apa? Pagi-pagi gini?)

“Rapat pacaran, Ema!” seru Ujang, dengan semangat yang tidak perlu. “Akang nembak Teteh!”

Hening di ujung telepon. Lalu suara tawa Ema meledak, serak dan keras sekali, sampai speaker ponsel berderak.

“Hahahaha! Ari maranéh! Geus kawin dua taun, ayeuna kakara bobogohan! Hahaha! Ema baheula ogé teu kitu jeung Aki!”

(Hahahaha! Kalian ini! Udah nikah dua tahun, sekarang baru pacaran! Hahaha! Ema dulu juga nggak gitu sama Aki!)

“Ema—”

“Tambahan aturan ti Ema!” Ema masih tertawa. “Unggal Minggu kudu dahar di imah Ema! Duaan! Lamun teu datang, Ema ngambek!”

(Tambahan aturan dari Ema! Tiap Minggu harus makan di rumah Ema! Berdua! Kalau nggak datang, Ema ngambek!)

Aku menatap ponsel itu. Lalu menatap Putra. Putra menatapku dengan wajah orang yang sudah menyerah pada takdir.

“Catat, Jang,” kataku.

“Aturan katujuh,” Ujang menulis dengan gembira. “Unggal Minggu dahar di imah Ema.”

(Aturan ketujuh. Tiap Minggu makan di rumah Ema.)

Ema menutup telepon, masih tertawa.


“Satu lagi,” kataku.

Ujang sudah menulis tujuh aturan dengan tulisan yang makin lama makin miring karena dia terlalu bersemangat. Putra sudah menyetujui semuanya. Dia tidak protes satu pun, kecuali soal jatah nanti aja.

Aku menarik napas.

Aturan ini aku pikirkan semalaman. Aturan yang membuatku tidak bisa tidur. Aturan yang membuatku merasa jahat, tapi juga merasa harus.

“Aturan kedelapan,” kataku. “Aku boleh ketemu siapa aja.”

Pulpen Ujang berhenti bergerak.

Hening. Bukan hening yang lucu seperti tadi. Hening yang berat.

Ujang tidak menulis. Dia melirik Putra, dengan mata yang tiba-tiba sangat bulat dan sangat sedih, seperti anak anjing yang melihat majikannya ditinggal.

Aku tidak menyebut namanya. Aku tidak perlu menyebut namanya. Kami bertiga tahu siapa yang kumaksud.

Putra menatapku. Lama.

Aku menunggu dia bilang tidak. Aku menunggu dia marah. Aku menunggu dia bilang aku suamimu, Ayana, aku punya hak, atau jangan, seperti Tiara, atau itu hal bodoh tingkat dewa, seperti Gendis.

Dia tidak bilang apa-apa dari semua itu.

“Boleh,” katanya.

Satu kata. Tenang. Pasti.

“Tulis, Jang.”

Ujang tidak bergerak.

“Jang,” ulang Putra. Lebih pelan.

Ujang menunduk, dan menulis. Pelan sekali. Huruf demi huruf. Waktu dia selesai, dia meletakkan pulpen di atas buku, berdiri, mengambil kunci inggrisnya, dan bilang, tanpa menatap siapa-siapa:

“Abdi kudu ngomean keran. Punten.”

(Saya harus benerin keran. Permisi.)

Lalu dia pergi, tanpa meminjam kunci kecil yang tadi dia cari.


Kami menandatangani kontrak itu di meja makan.

Ujang lupa membawa tinta, jadi aku mengusulkan cap jempol pakai kecap. Putra menatapku dengan alis terangkat, tapi dia mencelupkan jempolnya ke kecap manis dan menekannya di bawah tanda tangannya tanpa protes. Aku juga. Hasilnya dua cap jempol cokelat lengket yang wangi gula aren.

Aku membawa kertas itu ke kamar dan menempelkannya di cermin lemari dengan selotip.

KONTRAK PACARAN Antara Ayana Kirana dan Putra Adiwangsa (suami, tapi sementara pacar dulu)

1. Nggak boleh sentuh-sentuh tanpa izin. 2. Mas Putra tidur di sofa sampai Ayana bilang boleh pindah. (Boleh tambah satu bantal.) 3. Kencan tiap hari Rabu. 4. Jam malam Mas Putra: jam 9. Telat = kabarin. 5. Ayana boleh nanya apa aja, Mas Putra wajib jawab jujur. Jatah “nanti aja” maksimal 3x seminggu. Lebih = denda seblak level 5. 6. Nggak boleh bahas “dulu” kecuali Ayana yang nanya. 7. Tiap Minggu makan di rumah Ema. (Aturan Ema. Nggak bisa ditawar.) 8. Ayana boleh ketemu siapa aja.

Aku berdiri di depan cermin dan membaca aturan kedelapan berkali-kali.

Tulisan Ujang di baris itu lebih kecil dari baris-baris lain. Lebih pelan. Huruf-hurufnya miring ke bawah, seperti orang yang menulis sambil menunduk.

Dan di bawahnya, tanda tangan Putra. Rapi. Tegak. Huruf P besar dengan garis panjang di bawahnya. Di sebelahnya, cap jempol kecap yang bentuknya sempurna, tidak meleset sedikit pun.

Tangannya sama sekali tidak gemetar waktu menandatangani.

Aku tidak tahu kenapa, tapi itu membuatku kesal.

Seharusnya aku lega. Dia setuju. Dia tidak melarang. Aku bebas. Aku boleh menemui Reno, kapan pun aku mau, dan suamiku sudah tanda tangan dengan cap jempol kecap bahwa dia mengizinkan.

Jadi kenapa dadaku terasa sempit?

Aku menatap perempuan di cermin, perempuan dengan rambut sebahu, yang berdiri di belakang selembar kontrak bertanda tangan suaminya.

Kamu kesel karena dia nggak ngelarang? tanyaku padanya. Kamu maunya dia ngelarang?

Perempuan di cermin tidak menjawab.

Dari bawah, aku mendengar Putra bersiul pelan sambil mencuci piring. Lagu yang tidak kukenal. Siulan yang tenang dan riang, seperti tidak ada apa-apa.

Aku mendengarkan siulan itu lama sekali, berusaha meyakinkan diriku bahwa memang tidak ada apa-apa.