Chapter Four
Detik Nggak Suka Aku
POV: Ayana
Hari ketiga di rumah itu, aku memutuskan untuk berdamai dengan kucing.
Strateginya sederhana. Aku account executive. Klien yang paling susah pun bisa ditaklukkan dengan dua hal: perhatian dan makanan gratis. Detik jelas klien yang susah. Jadi aku membuka sekaleng tuna yang kutemukan di lemari, menuangnya ke piring, dan meletakkan piring itu di lantai dapur dengan gaya presentasi terbaikku.
“Detik,” panggilku manis. “Detiiik. Sini, Sayang. Liat apa yang Mama bawa.”
Detik, yang sedang duduk di atas kulkas seperti patung singa penjaga, membuka satu mata.
“Tuna,” kataku. “Tuna asli. Bukan yang kering-kering itu. Yang basah. Yang wangi.”
Detik menutup matanya lagi.
Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Aku duduk bersila di lantai dapur, di sebelah piring tuna, dan menatap kucing di atas kulkas. Kucing di atas kulkas tidak menatapku.
Lalu, pelan-pelan, dengan keanggunan yang sama sekali tidak cocok dengan bentuk badannya, Detik turun. Dari kulkas ke meja, dari meja ke kursi, dari kursi ke lantai. Dia berjalan ke arah piring. Melewati aku.
Dia mengendus tuna itu.
Lalu dia mengangkat kepala, menatapku tepat di mata, dan dengan sengaja, dengan sengaja, menendang piring itu dengan kaki belakangnya sampai tunanya tumpah ke ubin.
“SSSHHH.”
Lalu dia pergi.
Aku duduk di lantai dapur dengan tuna di mana-mana dan harga diri yang hancur berkeping-keping.
“Dia nggak suka tuna kaleng,” kata suara dari ambang pintu.
Aku menoleh. Putra berdiri di sana dengan rambut basah habis mandi, kaus abu-abu, dan handuk kecil di bahu. Dia menatap tuna di lantai, lalu menatapku, dan aku melihat sudut bibirnya berkedut.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
“Kamu nggak nanya.”
“Terus dia suka apa?”
“Ayam rebus. Dagingnya dipotong kecil-kecil, airnya jangan dibuang.” Dia mengambil lap dari gantungan dan berjongkok di sebelahku, mulai membersihkan tuna dari lantai. “Kamu yang ngajarin dia manja kayak gitu.”
“Aku?”
“Kamu bilang kucing juga butuh comfort food.”
Aku menatap tangannya yang menyeka lantai dengan telaten. “Kedengarannya aku agak nggak waras.”
“Agak,” katanya.
Aku memukul lengannya pelan. Refleks. Seperti aku sudah sering melakukannya.
Kami berdua membeku.
Putra menatap lengannya, di tempat aku memukulnya. Aku menatap tanganku sendiri, seolah tanganku baru saja melakukan sesuatu tanpa izin. Detik, yang entah dari mana sudah kembali ke atas kulkas, menatap kami berdua dengan pandangan menghakimi.
“Maaf,” kataku.
“Nggak apa-apa,” katanya. Lalu dia berdiri dan pergi mencuci lap, dan aku melihat telinganya agak merah.
Tepat waktu itulah bel pintu berbunyi, diikuti suara gedoran, diikuti suara perempuan tua yang nyaring sekali.
“PUTRAAA! Buka panto, Ema mawa rantang! Beurat ieu!”
(PUTRAAA! Buka pintu, Ema bawa rantang! Berat ini!)
Putra memejamkan mata sebentar, seperti orang yang mempersiapkan diri menghadapi badai.
“Ema,” katanya padaku. “Nenekku.”
“Nenekmu?”
“Iya. Dia… kamu siap-siap aja.”
“Siap-siap apa?”
Dia tidak menjawab. Dia pergi membuka pintu.
Yang masuk adalah perempuan paling kecil yang pernah kulihat. Tingginya mungkin cuma sedada Putra, badannya kurus seperti ranting, rambutnya putih semua disanggul kecil di belakang, dan dia memakai kebaya kutubaru ungu dengan sarung batik. Di kedua tangannya ada rantang susun empat yang kelihatannya lebih berat dari dia.
Dia menyerahkan rantang itu ke Putra tanpa melihatnya, lalu berjalan lurus ke arahku.
Lalu dia berhenti, tepat di depanku, dan mendongak menatap wajahku dari jarak sepuluh senti.
Lama.
Aku tidak berani bergerak.
“Hmm,” katanya. Dia memegang daguku dengan jari-jarinya yang keriput dan dingin, memutar wajahku ke kiri, ke kanan, seperti memeriksa melon di pasar. “Masih geulis.”
(Masih cantik.)
“Eh… makasih, Ema?”
“Ngan rada kuru. Teu dahar di rumah sakit, nya? Dahareun rumah sakit mah teu ngareunah. Ema mawa sayur lodeh, pepes peda, sambel goreng ati. Kudu béak.”
(Cuma agak kurus. Nggak makan di rumah sakit, ya? Makanan rumah sakit mah nggak enak. Ema bawa sayur lodeh, pepes peda, sambal goreng ati. Harus habis.)
“Ema,” kata Putra pelan dari belakang. “Ayana… lupa.”
“Ema geus apal. Indung manéh geus nelepon.” Ema melepaskan daguku dan menepuk pipiku dua kali, cukup keras sampai aku berkedip. “Teu nanaon. Lupa mah lupa wé. Nu penting mah hirup kénéh.”
(Ema udah tahu. Ibumu udah nelepon. Nggak apa-apa. Lupa ya lupa aja. Yang penting masih hidup.)
Indung manéh. Ibumu. Maksudnya Mama? Mama dan nenek Putra saling telepon? Sejak kapan?
Aku tidak sempat bertanya, karena Ema sudah duduk di sofa, menepuk tempat di sebelahnya, dan menyuruhku duduk dengan gerakan tangan yang tidak bisa ditolak.
Satu jam kemudian, aku sudah makan dua piring nasi dengan sayur lodeh, dan sudah diceritakan tentang seluruh silsilah keluarga Adiwangsa yang tidak kutanyakan.
Ema bicara campur-campur, setengah Indonesia setengah Sunda, dan kadang aku cuma bisa mengangguk-angguk dan berharap anggukanku tepat. Tapi beberapa hal kutangkap. Aki, suaminya, kakek Putra, meninggal empat tahun lalu. Orang tua Putra bercerai waktu Putra kecil. Ayahnya ke Kalimantan dan jarang pulang, ibunya menikah lagi dan pindah ke Surabaya. Putra dibesarkan Ema dan Aki di rumah di belakang toko jam di Braga.
“Si Putra mah ti leutik geus pendiem,” kata Ema, menunjuk Putra yang sedang mencuci rantang di dapur. “Teu bisa ngomong. Bisana ngan ngoprek jam. Ema sok sieun, saha nu daek ka budak kitu.”
(Si Putra mah dari kecil udah pendiam. Nggak bisa ngomong. Bisanya cuma ngoprek jam. Ema suka takut, siapa yang mau sama anak kayak gitu.)
“Ema,” kata Putra dari dapur.
“Naon? Bener kitu.” Ema menoleh padaku, dan matanya yang kecil berbinar. “Untung aya manéh. Baheula mah manéh nu ngudag-ngudag si Putra, nepi ka—”
(Apa? Bener kok. Untung ada kamu. Dulu kan kamu yang ngejar-ngejar si Putra, sampai—)
“Ema.” Putra sudah berdiri di ambang pintu dapur, tangan masih basah. Suaranya tidak keras, tapi ada sesuatu di situ. “Teh-nya mau, Ma? Kubikinin.”
Ema menatap cucunya. Cucunya menatap Ema. Ada percakapan tanpa suara di antara mereka, percakapan yang tidak kumengerti, dan Ema yang kalah. Dia mendengus dan mengibaskan tangan.
“Heueuh, heueuh. Teh, tong amis teuing.”
(Iya, iya. Teh, jangan terlalu manis.)
Aku menatap Ema. Lalu menatap Putra yang sudah kembali ke dapur.
“Ema,” bisikku, mendekat. “Tadi Ema mau bilang apa? Aku ngejar-ngejar siapa?”
Ema menatapku dengan wajah polos yang tiba-tiba sangat mencurigakan.
“Ngudag naon? Ema teu ngomong nanaon. Ema geus kolot, sok poho.” Dia mengetuk keningnya sendiri. “Sarua jeung manéh ayeuna. Urang dua mah tim poho.”
(Ngejar apa? Ema nggak ngomong apa-apa. Ema udah tua, suka lupa. Sama kayak kamu sekarang. Kita berdua mah tim lupa.)
Lalu dia tertawa, keras dan serak, dan menepuk-nepuk lututku.
Aku tidak tahu harus tertawa atau tersinggung, jadi aku ikut tertawa.
Tapi kata-katanya tertinggal di kepalaku. Kamu yang ngejar-ngejar. Ngejar-ngejar si Putra?
Tidak mungkin. Ema pasti salah. Ema sudah tua. Ema sendiri bilang dia sering lupa.
Siangnya, setelah Ema pulang diantar Putra dan Putra pergi ke toko, aku memberanikan diri naik ke loteng.
Tangganya sempit dan curam, tangga kayu yang berderit di setiap anak tangga. Di ujungnya ada pintu kayu kecil yang dicat kuning, dengan tulisan di kertas yang ditempel pakai selotip:
STUDIO. Ketuk dulu, Mas. Aku serius. Kecuali bawa kopi.
Tulisan bulat-bulat miring itu lagi. Tulisanku.
Aku membuka pintunya.
Cahaya.
Itu yang pertama kuingat. Loteng itu penuh cahaya, dari jendela bulat besar di ujung dan dari jendela atap yang dipasang miring. Lantainya kayu, dindingnya putih. Di tengah ruangan ada meja gambar besar yang dimiringkan, penuh kertas, cat air, kuas-kuas dalam gelas bekas selai, pensil-pensil yang ujungnya runcing semua.
Dan di dinding, di mana-mana, ada gambar.
Gambar anak perempuan berambut kepang yang naik balon udara. Gambar beruang yang memakai syal. Gambar kota kecil di atas awan dengan menara jam di tengahnya. Gambar-gambar itu berwarna lembut, cat air yang meleleh di pinggir-pinggirnya, garis-garis tipis yang hidup, dan aku berdiri di tengah ruangan menatapnya dengan mulut terbuka.
Aku yang menggambar ini?
Aku, yang dapat nilai enam di pelajaran seni rupa?
Di rak kecil di sebelah meja gambar ada beberapa buku anak bersampul keras. Aku mengambil salah satunya. Beruang yang Takut Gelap. Di sampulnya, di bawah judul, ada nama: Ilustrasi oleh Ayana K.
Aku duduk di lantai loteng dan membuka buku itu halaman demi halaman. Beruang kecil itu takut gelap, lalu bertemu kunang-kunang yang mengajarinya bahwa gelap cuma tempat cahaya-cahaya kecil bersembunyi. Ceritanya sederhana. Gambarnya indah sekali. Aku tidak ingat menggambar satu garis pun.
Di halaman terakhir ada halaman persembahan, ditulis tangan sebelum dicetak:
Untuk yang selalu nyalain lampu duluan sebelum aku pulang.
Aku menutup buku itu cepat-cepat.
Lalu aku melihat tumpukan sketsa di sudut meja, terpisah dari yang lain. Sketsa pensil. Bukan beruang, bukan balon udara.
Laki-laki.
Laki-laki yang menunduk di meja kerja dengan loupe di mata kanan. Laki-laki yang tertidur di sofa dengan kucing di dadanya. Laki-laki yang sedang menyiram pohon jambu dengan kaus belel. Tangan laki-laki yang memegang obeng kecil, digambar dengan detail sampai ke urat-uratnya, seperti si penggambar menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap tangan itu.
Puluhan sketsa. Mungkin ratusan.
Semua Putra.
Aku meletakkan sketsa-sketsa itu kembali ke tempatnya dengan tangan yang entah kenapa gemetar, lalu turun dari loteng tanpa menoleh.
Malamnya aku menyerah soal ponsel.
Aku sudah mencoba semua kode yang mungkin. Tanggal lahirku. Tanggal lahir Mama. Tanggal jadian dengan Reno. Tanggal lahir Reno. 123456. 000000. Ponsel itu sudah mengunciku dua kali, masing-masing lima menit dan lima belas menit, dan kalau salah lagi mungkin aku dikunci selamanya.
Putra sedang membaca koran di sofa, kacamata di hidung kali ini, bukan di kepala.
“Mas,” kataku. Aku berdiri di depannya dengan ponsel terulur. “Tahu kode HP aku, nggak?”
Dia menurunkan korannya. Menatap ponsel di tanganku. Lalu menatapku.
Ada sesuatu di matanya, sekilas, seperti waktu di rumah sakit. Seperti mobil yang lewat di jalan tol.
“Tahu,” katanya.
“Boleh tolong bukain?”
Dia mengambil ponsel itu. Jempolnya bergerak di layar, empat kali, tanpa ragu sama sekali, tanpa perlu berpikir. Seperti dia sudah mengetik kode itu ratusan kali.
0-6-1-1.
Ponselnya terbuka. Dia mengembalikannya padaku tanpa berkata apa-apa, lalu mengangkat korannya lagi.
“Kode apa itu?” tanyaku. “Nol enam satu satu?”
“Kamu yang bikin.”
“Tapi itu kode apa? Tanggal apa?”
Dia membalik halaman koran. “Nanti aja.”
Aku memutar bola mataku. Nanti aja. Laki-laki ini sepertinya punya stok nanti aja yang tidak ada habisnya. Mungkin itu angka acak. Mungkin aku cuma iseng. Aku memutuskan untuk tidak peduli, dan membawa ponselku naik ke kamar.
Ponsel itu adalah museum hidup seorang perempuan yang tidak kukenal.
Galeri foto: ribuan. Kebanyakan gambar-gambar cat air yang belum selesai. Foto Detik dalam berbagai posisi tidur yang memalukan. Foto pohon jambu. Foto langit Bandung. Foto teh dan kopi di meja teras. Dan foto Putra. Putra tidur, Putra kerja, Putra makan, Putra bete karena difoto, Putra memandang kamera dengan alis terangkat seperti bilang apa sih.
WhatsApp: grup-grup yang tidak kukenal. Ilustrator Bandung Raya. Arisan Kompleks Sukaluyu Blok C. Gendis & Ayana Bestie Selamanya 💕. Siapa Gendis?
Dan di paling atas, pin pertama, ada satu kontak:
Mas Tukang Jam 🕰️❤️
Aku membukanya.
Chat terakhir hampir dua minggu yang lalu. Malam kecelakaan. Pesanku: Mas jgn nunggu ya, aku pulang agak malem, ada yg mau dicari dulu. Rahasia. Jgn kepo!!! Lalu balasannya: Iya. Hati-hati. Bawa payung. Lalu pesanku lagi, pukul 21.31: udah ketemu!!! Mas pasti nangis liatnya 😭😭😭
Itu pesan terakhirku. Enam belas menit sebelum jam tanganku berhenti.
Setelah itu, pesan-pesan dari dia. Centang satu semua, karena ponselku mati di malam itu:
Ay, udah di mana?
Ay?
Ay, angkat.
Ay.
Aku berhenti membaca.
Jariku menggulir ke atas, menjauh dari pesan-pesan itu, cepat-cepat, dan tanpa sengaja menyentuh salah satu bulatan hijau dengan segitiga putih di tengahnya. Voice note. Dari aku. Tertanggal sebulan lalu.
Suaraku sendiri keluar dari speaker ponsel. Tapi bukan suaraku. Suaraku tidak pernah serendah itu, selambat itu, semanja itu:
“Maaas. Pulangnya jangan kemaleman, ya. Aku udah mandi. Udah pake piyama yang kamu suka. Yang satin itu. Yang tali—”
Aku melempar ponsel ke kasur seperti ponsel itu tiba-tiba berubah jadi kecoa.
Ponselnya terus bicara dari balik bantal. “—kalau kamu telat lima menit aja, aku kunci pintu kamar, terus kamu tidur sama Detik—”
Aku menekan tombol volume sampai bisu, lalu membenamkan wajah ke bantal dan berteriak tanpa suara.
Itu aku. Itu aku. Aku yang bicara begitu ke laki-laki di bawah sana yang sedang membaca koran dengan kacamata. Aku yang punya piyama satin. Aku yang mengancam akan mengunci pintu kamar. Aku, yang dulu butuh tiga bulan pacaran sebelum berani menggandeng tangan Reno di tempat umum.
Ada ratusan voice note di chat itu. Ratusan. Aku tidak berani membuka satu pun lagi.
Sudah hampir tengah malam waktu aku membuka Instagram.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku butuh sesuatu yang kukenal. Sesuatu dari duniaku, dunia yang kuingat, dunia di mana aku umur dua puluh empat dan tinggal di kos Bu Darsih dan baru seminggu diputus.
Aku mengetik namanya di kolom pencarian.
Reno Aditama.
Akunnya masih ada. Foto profilnya sudah berganti. Dulu fotonya foto kami berdua di Ancol, cropped sehingga hanya wajahnya yang kelihatan dan setengah rambutku di pinggir. Sekarang fotonya foto dia sendiri, memakai kemeja putih dan toga, di depan gedung batu bata merah yang sangat bukan Indonesia.
Dia lulus. Dari Melbourne.
Jariku bergerak sendiri, menggulir ke bawah. Foto-foto Melbourne. Kopi. Trem. Perpustakaan. Pantai. Foto wisuda dengan teman-teman berbagai warna kulit. Tidak ada foto perempuan. Tidak ada satu pun foto dia dengan perempuan, kecuali foto rombongan.
Lalu postingan terbarunya. Tiga minggu yang lalu.
Foto jendela pesawat, dengan sayap pesawat dan awan dan, di kejauhan, garis pantai yang aku kenal. Pantai utara Jawa. Teluk Jakarta.
Home. Finally.
Dan di kolom komentar, di antara ucapan welcome back bro dan emoji tepuk tangan, sebuah komentar dari akun yang sangat kukenal:
tiaraaputri: welcome home Ren 🤍 jangan lupa mampir
Tiara. Sahabatku sejak kuliah. Yang tahu semuanya tentang Reno. Yang menemaniku menangis seminggu penuh di kos Bu Darsih.
Aku membuka profil Reno sekali lagi. Membaca bionya. Pekerjaan baru di sebuah lembaga konsultan di Jakarta. Kota: Jakarta. Status: tidak ada. Tidak ada nama perempuan, tidak ada cincin di jarinya di foto mana pun, tidak ada tanda-tanda siapa pun.
Dia pulang.
Dan dia masih sendiri.
Aku duduk di tengah ranjang besar itu, di kamar yang katanya kamarku, dengan cincin di jariku yang katanya cincinku, di rumah yang katanya rumahku, dan menatap wajah Reno di layar sampai mataku perih.
Jantungku berdebar keras sekali. Debar yang kukenal. Debar umur dua puluh empat. Debar yang sama dengan waktu dia pertama kali menggandeng tanganku di Ancol.
Di bawah, di ruang tengah, aku mendengar suara sofa berderit, lalu sunyi lagi. Lalu suara dengkuran kecil Detik, seperti motor tua yang menyala pelan di kegelapan.
Aku mematikan layar ponsel. Kamar langsung gelap.
Tapi wajah Reno masih ada di belakang kelopak mataku, lama sekali, sampai aku tertidur.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku reading
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog