Chapter Twelve
Yang Biru
POV: Putra
Malam setelah Kemang, aku menulis di Kartu Servis dengan tangan yang tidak mau diam.
Sabtu 1.
Unit diantar ke Kemang. Cincin dititip.
Aku berhenti di situ lama. Lalu menambahkan:
Kusimpan di saku kiri, dekat jantung, biar nggak hilang.
Pulang 21.10. Teh manis, dua sendok.
Aku tidak menulis tentang tiga jam di bawah pohon ketapang. Tentang AC mobil yang kumatikan supaya mesinnya tidak panas, lalu kunyalakan lagi, lalu kumatikan lagi. Tentang bantal leher yang tidak kubuka karena aku tidak bisa tidur, dan tidak mau pura-pura bisa. Tentang termos teh yang tidak kuminum karena tenggorokanku seperti tersumbat sesuatu.
Tentang cincin di saku kiri, yang setiap lima menit kutekan dengan telapak tangan untuk memastikan masih ada. Dan setiap kali kutekan, aku merasakan bentuknya, bundar dan kecil dan dingin, dan setiap kali aku ingat hari aku memasangkannya di jarinya.
Tanganku gemetar waktu itu. Penghulu sampai bertanya apa aku sakit. Ayana tertawa kecil di balik selubung melati dan berbisik, Mas, pelan-pelan, aku nggak ke mana-mana kok.
Aku tidak menulis itu semua.
Kartu Servis itu catatan jam. Jam tidak perlu tahu bagaimana perasaan tukang jamnya.
Minggu itu berjalan seperti minggu-minggu sebelumnya.
Setiap pagi aku memutar jam tangannya. Dua puluh kali. Dia sekarang menaruhnya di meja makan lagi setiap malam, di samping cangkir kucing oranye, dengan secarik kertas kecil di bawahnya: Puterin ya Mas. Makasih. —A. Kertasnya sama setiap malam. Dia menulis ulang setiap malam. Aku menyimpan semuanya di laci meja kerja di toko.
Rabu, kami kencan lagi. Kencan kedua sesuai kontrak. Kali ini dia yang memilih tempat. Taman Lansia, katanya, karena dia melihat fotonya di galeri ponsel dan penasaran. Kami duduk di bangku di bawah pohon besar dan makan batagor, dan dia bercerita panjang tentang ilustrasi yang mulai ia coba lagi di loteng. Beruang. Dia mencoba menggambar beruang dari buku Beruang yang Takut Gelap, dan hasilnya, katanya, kayak kentang yang dikasih kuping.
Dia tertawa waktu bilang itu. Aku juga.
Dia tidak menyebut nama Reno sekali pun hari Rabu itu.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang, kalau aku tidak hati-hati, bisa jadi harapan.
Kamis pagi, Bu Yayah menghadangku di pagar.
Dia memakai daster bermotif bunga sepatu dengan rol rambut di kepala dan selang air di tangan, tapi dia sudah lupa sedang menyiram tanaman. Air dari selang itu membanjiri pot kembang sepatunya sampai meluap.
“Kang Putra!” bisiknya keras, bisikan yang bisa didengar sampai ujung kompleks. “Kang, sakedap!”
(Kang Putra! Kang, sebentar!)
“Pagi, Bu.”
“Kang, abdi mah teu rék ikut campur, nya.” Itu kalimat pembuka yang selalu dipakai Bu Yayah sebelum ikut campur. “Tapi Sabtu kamari, Teh Ayana dangdan geulis pisan. Lipstik beureum. Angkat isuk-isuk, uih peuting. Ka mana, Kang?”
(Kang, saya mah nggak mau ikut campur, ya. Tapi Sabtu kemarin, Teh Ayana dandan cantik banget. Lipstik merah. Pergi pagi-pagi, pulang malem. Ke mana, Kang?)
“Ke Jakarta, Bu.”
“Ka Jakarta? Naon di Jakarta?”
(Ke Jakarta? Ada apa di Jakarta?)
Aku diam sebentar. Bu Yayah mencondongkan badan lebih dekat. Air dari selangnya sekarang membanjiri sandalnya sendiri. Dia tidak sadar.
“Ketemu temen lama, Bu.”
“Temen lama?” Mata Bu Yayah menyipit. “Lalaki atanapi awéwé?”
(Temen lama? Laki-laki atau perempuan?)
“Bu,” kataku. “Kembang sepatunya tenggelam.”
Bu Yayah menunduk, melihat potnya, lalu sandalnya, lalu menjerit kecil dan buru-buru mematikan keran. Aku menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke mobil.
Dari kaca spion, aku melihat Bu Yayah berdiri di tengah halamannya yang banjir, menatap mobilku dengan tatapan detektif, dan langsung mengeluarkan ponsel dari saku dasternya.
Aku tahu dia menelepon siapa. Dia menelepon siapa saja yang mau mendengarkan. Dan dalam satu jam, setengah kompleks Sukaluyu akan tahu bahwa istri Kang Putra pergi ke Jakarta setiap Sabtu dengan lipstik merah, menemui temen lama.
Aku tidak peduli tentang setengah kompleks Sukaluyu.
Yang kupedulikan, aku baru sadar sambil menyetir ke Braga, adalah bahwa Bu Yayah punya nomor telepon Mama.
Mama datang Jumat siang.
Tanpa kabar. Tanpa telepon. Aku sedang di toko, sedang mengganti per jam saku, waktu Ujang masuk dari pintu belakang dengan wajah pucat.
“Kang. Kang, bahaya.”
(Kang. Kang, gawat.)
“Kenapa?”
“Ibu Teteh. Di bumi. Ngamuk.”
(Ibunya Teteh. Di rumah. Ngamuk.)
Aku meletakkan pinset dan menyetir pulang dalam dua belas menit.
Aku bisa mendengar suara Mama dari pagar. Suaranya keras dan bergetar dan pecah di ujung-ujung kalimat, seperti suara orang yang marah sekaligus menangis.
“…kamu tuh nggak ngerti, Yana! Kamu nggak ngerti apa yang kamu lakuin!”
“Aku ngerti, Ma! Aku cuma ketemu! Ngobrol! Nggak ngapa-ngapain!”
“Sama Reno! Sama Reno! Yang dulu bikin kamu nangis tiap malem! Yang dulu bikin kamu nggak mau makan dua minggu! Yang dulu—”
“Aku nggak inget dulu, Ma! Aku cuma inget dia baru putusin aku! Aku cuma mau tahu kenapa!”
Aku membuka pintu.
Mereka berdua berdiri di ruang tengah. Mama di dekat sofa, tas tangannya masih di bahu, wajahnya merah dan basah. Ayana di dekat tangga, dengan tangan terkepal di samping badan, matanya berkaca-kaca tapi dagunya terangkat tinggi. Detik bersembunyi di bawah meja makan, hanya ekornya yang kelihatan.
Mereka berdua menoleh waktu aku masuk.
“Putra!” Mama langsung berbalik ke arahku. “Putra, kamu tahu? Kamu tahu dia ke Jakarta ketemu Reno?”
“Tahu, Ma.”
“Tahu?” Mama menatapku seperti aku baru saja bilang langit berwarna hijau. “Terus kenapa kamu diem aja? Kenapa kamu nggak larang dia?”
Ayana menatapku dari dekat tangga. Matanya waspada. Seperti menunggu aku berpihak pada Mama. Seperti menunggu aku akhirnya bilang iya, Ma, harusnya aku larang dia.
“Aku yang anter, Ma,” kataku.
Ruangan itu jadi hening.
Mama membuka mulut. Menutupnya lagi. Air mata turun lebih deras di pipinya.
“Kamu yang anter,” ulangnya pelan.
“Iya.” Aku meletakkan kunci mobil di gantungan. “Aku yang izinin. Ada kontraknya. Ada tanda tanganku. Ayana nggak salah apa-apa, Ma. Dia nggak bohong. Dia nggak sembunyi-sembunyi. Dia bilang ke aku duluan, sebelum pergi.”
“Tapi, Put—”
“Dia nggak inget, Ma,” kataku. Lebih pelan. “Buat dia, dia baru putus seminggu. Mama juga pasti mau tahu kenapa, kalau Mama di posisi dia.”
Mama menatapku. Lama. Lalu menatap Ayana, yang sekarang menunduk, menatap lantai, dengan dagu yang tidak lagi terangkat.
Lalu Mama menutup wajahnya dengan dua tangan dan menangis. Bukan tangisan marah lagi. Tangisan lain.
Ayana bergerak pelan, dari tangga ke sofa, dan memeluk Mama dari samping. Mama membalas pelukannya. Mereka berdua menangis.
Aku pergi ke dapur dan merebus air.
Lima belas menit kemudian, waktu aku sedang menuang teh ke tiga cangkir, Mama masuk ke dapur sendirian.
Dia berdiri di ambang pintu, mengusap matanya dengan sapu tangan bersulam. Ayana sudah naik ke kamarnya. Aku mendengar pintu ditutup pelan di atas.
“Put,” kata Mama.
“Iya, Ma.”
Dia berjalan mendekat, lalu, tanpa peringatan, memukul lenganku. Pelan, tapi memukul.
“Kamu tuh,” katanya dengan suara bergetar, “terlalu baik. Kamu tuh terlalu baik, Put. Kamu tahu nggak? Terlalu baik itu bodoh.”
“Gendis juga bilang gitu.”
“Gendis bener!” Mama memukul lenganku lagi. Lalu dia berhenti, dan tangannya tetap di lenganku, dan dia menatapku dari bawah dengan mata yang merah. “Kamu sakit nggak, Nak?”
Aku menatap tiga cangkir teh di meja dapur.
Tidak ada yang pernah menanyakan itu sejak Ayana bangun. Ema tidak bertanya; Ema cuma membawa rantang lebih sering. Ujang tidak bertanya; Ujang cuma berhenti bercanda di toko. Gendis tidak bertanya; Gendis cuma bilang aku bodoh.
“Nggak, Ma,” kataku.
Mama menatapku lama sekali. Dia tidak percaya. Aku tahu dia tidak percaya. Tapi dia juga tahu aku tidak akan bilang hal lain.
“Dulu dia nangis gara-gara Reno,” kata Mama pelan. “Tiap malem. Mama denger dari telepon. Terus dia ke Bandung, dan dia ketemu kamu, dan dia berhenti nangis. Mama nggak tahu apa yang kamu lakuin, Put. Tapi kamu yang bikin anak Mama berhenti nangis.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Jangan sampai kamu yang nangis sekarang,” kata Mama. “Mama nggak sanggup liat dua-duanya.”
Dia menepuk lenganku dua kali, mengambil cangkir tehnya, dan keluar dari dapur.
Aku berdiri di depan meja dapur dengan dua cangkir teh yang tersisa dan tidak bergerak lama sekali.
Mama pulang ke Bekasi sore itu. Dia tidak mau menginap. Dia bilang dia butuh berpikir.
Malamnya, jam sepuluh, waktu aku sudah menyiapkan bantal di sofa, Ayana turun dari tangga dengan dua gaun di tangannya.
“Mas,” katanya. “Bantuin pilih.”
Aku tahu untuk apa. Aku tidak perlu bertanya. Besok Sabtu.
“Reno ngajak ketemu lagi,” katanya, seolah membaca pikiranku. Suaranya pelan, hati-hati. Dia menatapku seperti sedang memastikan aku tidak akan meledak. “Di Jakarta lagi. Kalau… kalau kamu nggak keberatan nganter. Kalau keberatan, aku naik travel aja. Serius. Nggak apa-apa.”
“Aku anter.”
Dia mengangguk. Lalu mengangkat dua gaun itu, satu di tangan kiri, satu di tangan kanan.
Yang kiri, gaun putih gading dengan bunga-bunga kecil berwarna kuning. Aku ingat gaun itu. Dia membelinya di distro di Jalan Riau, setahun lalu, karena warnanya kayak mentega.
Yang kanan, gaun biru.
Biru seperti langit Bandung di bulan Juli. Selutut, potongan sederhana, lengan pendek yang sedikit mengembang, dengan ritsleting panjang di punggung dan sabuk tipis dari kain yang sama.
Aku tahu gaun itu juga.
Aku yang membelinya.
Setahun yang lalu. Hari jadi kami yang pertama. Aku menghabiskan dua minggu berkeliling butik-butik di Dago, bertanya pada setiap penjaga toko dengan wajah yang pasti sangat bodoh, ada gaun yang warnanya kayak langit nggak? Ujang yang menemukannya akhirnya, di sebuah butik kecil di Jalan Progo. Aku membungkusnya sendiri dengan kertas cokelat dan tali rami, karena Ayana suka bungkusan yang kelihatan dibuat tangan.
Dia memakainya malam itu juga. Dia berputar di ruang tengah, di depan sofa ini, dengan rok yang mengembang, dan tertawa, dan bilang, Mas, aku kayak langit nggak?
Aku bilang iya. Dia memang seperti langit.
“Mas?” Ayana mengangkat dua gaun itu sedikit lebih tinggi. “Yang mana? Aku bingung. Yang putih kayaknya terlalu… gimana ya, terlalu manis. Kayak mau ke kondangan. Yang biru lebih santai, tapi aku nggak tahu cocok atau nggak. Aku nggak inget pernah pake. Kamu pernah liat aku pake yang biru?”
Aku menatap gaun biru itu.
Aku bisa bilang yang putih. Itu mudah. Satu kata. Dia akan percaya. Dia akan memakai gaun putih ke Jakarta, dan gaun biru akan tetap tergantung di lemari, dan setidaknya ada satu hal di dunia ini, satu saja, yang tetap milikku.
Dia menunggu jawabanku. Matanya jujur dan polos dan tidak tahu apa-apa.
Aturan nomor lima. Wajib jawab jujur.
“Yang biru,” kataku.
“Ya?”
“Yang biru.” Aku memalingkan pandangan ke jendela. “Kamu cantik pake biru.”
Dia tersenyum. Lebar. Lesung pipinya muncul.
“Oke. Yang biru.” Dia memeluk gaun itu ke dadanya, lalu berhenti, menatapku dengan kepala sedikit miring. “Kok kamu tahu aku cantik pake biru? Kamu pernah liat aku pake ini?”
“Pernah.”
“Kapan?”
Aku menatap jendela. Di luar, pohon jambu bergoyang pelan, siluetnya hitam di bawah lampu jalan.
“Nanti aja,” kataku.
Dia mendesah, tapi tidak memaksa. “Itu jatah kedua minggu ini, lho.”
“Iya.”
“Satu lagi, terus denda seblak level lima.”
“Iya.”
Dia tertawa kecil, lalu naik ke atas dengan gaun biru di pelukannya. Aku mendengar pintu kamar ditutup. Aku mendengar bunyi gantungan baju di lemari.
Lalu aku duduk di sofa, di depan tempat dia dulu berputar dengan rok mengembang, dan menatap karpet sampai lampu ruang tengah terasa terlalu terang.
Sabtu, jam sembilan pagi, dia turun dengan gaun biru.
Rambut sebahunya disisir rapi, dengan jepit kecil berbentuk bintang di sisi kiri. Lipstiknya kali ini warna merah muda, tidak merah menyala seperti minggu lalu. Dia memakai sepatu kets putih. Gaun itu jatuh sempurna di badannya, mengikuti lekuk pinggangnya, roknya bergerak lembut setiap kali dia melangkah.
Dia seperti langit.
Dia berhenti di anak tangga terakhir dan berputar sekali. Rok gaun itu mengembang. Seperti setahun yang lalu.
“Gimana?” tanyanya. “Oke?”
Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku tidak bisa.
“Mas?”
“Cantik,” kataku. Suaraku keluar serak. Aku berdeham. “Cantik banget.”
Dia tersenyum, puas, dan berjalan ke pintu.
Aku mengikutinya, membawa termos biru dan bantal leher. Di mobil, sebelum kami berangkat, dia melepas cincinnya dan mengulurkannya padaku tanpa bilang apa-apa. Kali ini dia tidak perlu bilang apa-apa. Sudah jadi kebiasaan. Seminggu, dan sudah jadi kebiasaan.
Aku memasukkannya ke saku kiri kemeja.
Lalu aku menyetir ke Jakarta dengan istriku di kursi sebelah, memakai gaun yang kubelikan untuk hari jadi kami, menuju laki-laki lain.
Malam itu, jam sebelas, setelah dia tidur, aku membuka Kartu Servis.
Sabtu 2.
Pulpenku menggantung di atas kertas lama sekali.
Unit pakai gaun biru.
Cantik.
Bukan buat aku.
Aku berhenti. Tanganku gemetar. Aku meletakkan pulpen, mengepalkan tangan di atas meja, membukanya lagi, mengepalkannya lagi.
Lalu aku mengambil pulpen itu kembali dan menulis dua baris terakhir. Tulisannya tidak serapi biasanya. Huruf-hurufnya agak miring ke bawah, seperti tulisan Ujang di aturan nomor delapan.
Nggak apa-apa.
Dicatat.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru reading
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog