Chapter Five
Aku Masih Cinta Reno
POV: Ayana
Aku butuh dua hari untuk mengumpulkan keberanian.
Dua hari yang kuhabiskan dengan membuka Instagram Reno setiap tiga puluh menit, menutupnya lagi, membukanya lagi, memperbesar fotonya sampai pikselnya pecah, dan berbicara sendiri di depan cermin kamar mandi seperti orang yang sedang latihan pitching ke klien paling galak sedunia.
“Mas,” kataku ke cermin. “Aku mau jujur.”
Terlalu dramatis.
“Mas, ada yang perlu kita omongin.”
Terlalu seperti orang mau minta cerai.
“Mas, kamu tahu Reno, kan? Nah, jadi gini…”
Terlalu santai, seperti mau cerita gosip artis.
Perempuan di cermin, dengan rambut sebahu dan lesung pipi dan memar yang mulai memudar di pelipis, menatapku balik dengan tatapan yang sangat menghakimi. Seolah dia tahu sesuatu yang aku tidak tahu. Seolah dia bilang: kamu yakin?
“Diem,” kataku padanya. “Kamu nggak diajak.”
Hari kedua, siang, bel pintu berbunyi.
Bukan Ema kali ini. Yang berdiri di depan pintu adalah anak laki-laki kurus berkulit sawo matang, mungkin umur dua puluhan, dengan rambut cepak, kaus bertuliskan PERSIB JUARA yang sudah pudar, dan sebuah kantong plastik berisi kotak nasi di tangannya. Dia nyengir lebar sekali waktu melihatku, nyengir yang langsung membuat matanya hilang.
“Teteh!”
“Eh… iya?”
Cengirannya goyah sedikit. Lalu dia menegakkan badan, berdeham, dan mengulurkan tangan dengan gaya resmi yang lucu.
“Punten, Teh. Abdi Ujang. Murid magang di toko Akang. Tos dua taun.” Dia berhenti, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan: “Teteh nu sok mangmeulikeun abdi gorengan unggal Jumaah.”
(Permisi, Teh. Saya Ujang. Murid magang di toko Akang. Udah dua tahun. Teteh yang suka beliin saya gorengan tiap Jumat.)
Aku menyalami tangannya. “Maaf ya, Ujang. Aku… nggak inget.”
“Teu nanaon, Teh! Akang tos ngabejaan.” Cengirannya kembali, meskipun ada yang sedikit basah di sudut matanya. “Ieu, Akang nitip. Nasi timbel. Teteh resep nu ieu, ceunah. Sambelna dipisah.”
(Nggak apa-apa, Teh! Akang udah ngasih tahu. Ini, Akang nitip. Nasi timbel. Teteh suka yang ini, katanya. Sambalnya dipisah.)
Aku menerima kantong itu. Hangat. Dan entah bagaimana, sambal yang dipisah itu memang persis seperti yang kusuka.
“Ujang,” kataku. “Masuk dulu. Temenin aku makan.”
Ujang ternyata adalah sumber informasi terbaik yang pernah kutemukan, terutama karena dia tidak bisa menyimpan apa pun.
Dalam lima belas menit, sambil makan gorengan yang dia bawa sendiri di saku celananya (kenapa ada gorengan di saku celananya, aku tidak berani bertanya), dia sudah menceritakan bahwa toko jam itu umurnya lebih tua dari Ema, bahwa Akang bisa membongkar dan memasang lagi jam saku dengan mata tertutup, bahwa Akang pernah menolak membetulkan jam Rolex palsu seorang pejabat karena “jamna bohong, Teh, Akang teu resep ka nu bohong”, dan bahwa Akang tidak pernah, tidak pernah sekali pun, marah pada Ujang, bahkan waktu Ujang tidak sengaja menginjak jam antik pelanggan dari Belanda.
“Terus Akang ngapain?”
“Akang ngan ngomong, ‘Jang, suku manéh teu nanaon?’” Ujang menggeleng-geleng takjub. “Jamna ancur, Teh. Sukuna abdi nu ditanyakeun.”
(Akang cuma bilang, ‘Jang, kakimu nggak apa-apa?’ Jamnya hancur, Teh. Kaki saya yang ditanyain.)
Aku tertawa. “Dia emang kalem banget, ya?”
“Kalem pisan.” Ujang mengangguk-angguk dengan semangat. “Tapi mun ka Teteh mah béda.”
(Kalem banget. Tapi kalau ke Teteh mah beda.)
“Beda gimana?”
Ujang membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Wajahnya berubah, seperti orang yang baru sadar sedang berjalan di pinggir jurang.
“Euh. Béda wé, Teh.”
(Eh. Beda aja, Teh.)
“Beda gimana, Ujang?”
“Abdi kudu balik ka toko, Teh. Aya jam nu kudu dikumbah.” Dia berdiri, memasukkan sisa gorengan ke saku, lalu setengah berlari ke pintu.
“Ujang! Jam kok dikumbah?”
Dia berhenti di ambang pintu, berbalik, dan menatapku dengan wajah serius yang tiba-tiba sekali.
“Teh,” katanya. “Akang mah teu bisa bohong. Mun Teteh nanya naon waé, Akang bakal ngajawab jujur. Jadi Teteh tanya langsung wé ka Akang.”
(Teh. Akang mah nggak bisa bohong. Kalau Teteh nanya apa aja, Akang bakal jawab jujur. Jadi Teteh tanya langsung aja ke Akang.)
Lalu dia pergi, sandal jepitnya berbunyi plek-plek-plek di jalan kompleks.
Akang nggak bisa bohong.
Kalau begitu, pikirku sambil membereskan bungkus nasi, aku juga tidak boleh bohong padanya.
Sore itu, waktu mengambil air dingin di kulkas, aku melihat kalender.
Kalender meja dari toko bangunan, yang ditempel di pintu kulkas dengan magnet berbentuk jambu. Halaman bulan ini penuh coretan dengan tulisan bulat-bulat miring itu. Tulisanku.
Deadline sketsa Penerbit Kancil!! Bayar listrik. Gendis ultah — kado lilin aroma. Detik vaksin.
Dan satu kotak tanggal, di minggu yang sudah lewat, dilingkari spidol merah berkali-kali sampai kertasnya hampir sobek, dengan gambar hati kecil dan tulisan:
2 TAHUN!!! ♡♡♡ jgn lupa kado. JGN SAMPE KETAHUAN.
Aku menatap tulisan itu lama.
Dua tahun apa? Dua tahun kerja jadi ilustrator? Dua tahun tinggal di rumah ini?
Aku melirik Detik, yang sedang tidur di atas kulkas dengan perut menghadap langit-langit.
“Kamu umur dua tahun, ya?” tanyaku. “Itu ulang tahun kamu?”
Detik membuka satu mata, menatapku dengan jijik, lalu menutupnya lagi.
Mungkin iya. Mungkin aku tipe orang yang merayakan ulang tahun kucing dengan hati tiga dan spidol merah. Perempuan yang punya piyama satin dan menulis Jangan disentuh, Mas!!! di toples kopi pasti juga tipe orang yang merayakan ulang tahun kucing.
Tanggal itu sudah lewat. Aku melewatkannya di rumah sakit. Kadonya, apa pun itu, entah di mana sekarang.
“Maaf ya,” kataku pada Detik. “Aku lupa ulang tahun kamu.”
Detik mendengkur, tapi aku tidak yakin itu tanda memaafkan.
Putra pulang jam enam, seperti biasa, dan langsung ke dapur.
Aku sudah tahu polanya setelah seminggu di rumah ini. Dia pulang, cuci tangan sampai ke siku, ganti kaus, lalu masak. Dia tidak pernah bertanya mau makan apa. Dia cuma masak, dan entah bagaimana masakannya selalu tepat. Hari pertama sayur bening. Hari kedua ayam goreng. Hari ketiga, waktu aku mengeluh di telepon pada Mama bahwa aku kangen masakan Jakarta, dia masak soto Betawi. Aku tidak tahu dia dengar.
Malam itu dia masak sayur asem dan ikan asin dan tempe goreng dan sambal terasi, dan wangi terasi yang dibakar memenuhi seluruh rumah, dan perutku berbunyi keras sekali sampai Detik terbangun.
Aku duduk di meja makan. Dia menaruh piring di depanku, mengisi nasi, lalu duduk di seberangku.
Kami makan dalam diam. Seperti biasa. Suara sendok beradu dengan piring. Suara jangkrik dari halaman. Suara televisi tetangga sebelah, Bu Yayah, yang sedang menonton sinetron dengan volume maksimal.
“Kamu tega, Mas! Kamu tega ninggalin aku demi perempuan itu!” teriak perempuan di sinetron itu.
Aku tersedak sayur asem.
Putra mendorong gelas air ke arahku tanpa berkata apa-apa. Aku minum, terbatuk-batuk, dan meletakkan gelasnya dengan bunyi yang terlalu keras.
Sekarang, pikirku. Sekarang atau tidak sama sekali.
“Mas.”
Dia mengangkat kepala.
“Aku mau jujur.”
Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Sangat kecil. Bahunya, yang tadi santai, sedikit menegak. Tangannya yang memegang sendok berhenti di udara, lalu pelan-pelan diletakkan di pinggir piring.
Dia menunggu.
Semua kalimat yang kulatih di depan cermin hilang begitu saja. Kepalaku kosong. Yang tersisa cuma satu kalimat, kalimat paling sederhana, kalimat yang sejak dua hari ini berdebar di dadaku setiap kali aku membuka Instagram.
“Aku masih cinta Reno.”
Hening.
Di televisi Bu Yayah, sinetronnya sudah berganti iklan. Iklan mie instan dengan jingle yang ceria. Jangkrik masih bernyanyi. Detik menguap di atas kulkas.
Putra tidak bergerak.
Dia menatapku, dan aku menatapnya, dan aku tidak bisa membaca apa pun di wajahnya. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Seperti permukaan danau yang tidak ada anginnya.
“Maksudku,” kataku cepat, karena hening itu terlalu lama dan aku tidak tahan, “aku tahu ini aneh. Aku tahu kita udah nikah. Aku tahu ada buku nikahnya, dan Mama jadi saksinya, dan ada foto di tangga. Tapi buat aku, Mas, buat aku, aku baru putus sama dia dua minggu lalu. Dua minggu. Bukan tiga tahun. Aku masih inget suaranya. Aku masih inget baunya. Aku masih inget rasanya pas dia bilang aku nggak mau LDR, sakitnya masih di sini—” aku menekan dadaku, “—dan aku nggak bisa pura-pura sakitnya udah ilang cuma karena kalender bilang udah tiga tahun.”
Putra masih diam.
“Dan dia pulang,” kataku. Suaraku mengecil. “Aku liat di Instagram. Dia pulang ke Jakarta. Dan dia… dia masih sendiri.”
Aku menunduk menatap piringku. Sayur asemku sudah dingin.
“Aku nggak mau bohong sama kamu,” kataku ke piring. “Ujang bilang kamu nggak bisa bohong. Jadi aku juga nggak mau bohong sama kamu. Itu aja. Aku cuma… mau kamu tahu.”
Lama sekali tidak ada suara.
Lalu:
“Oke.”
Aku mengangkat kepala.
Putra masih duduk di tempat yang sama, dengan posisi yang sama. Tangannya masih di pinggir piring. Wajahnya masih tenang.
“Oke?” ulangku.
“Oke,” katanya lagi. “Makasih udah jujur.”
“Itu doang?”
Dia menatapku. Dan untuk sesaat, sangat sebentar, seperti cahaya yang melintas di permukaan air, aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang dalam sekali dan gelap sekali. Lalu hilang.
“Ayana,” katanya. Pelan. Pasti. Dengan cara yang sama seperti waktu dia bilang istriku itu kamu. “Aku suamimu, dan aku cinta kamu.”
Napasku tertahan.
“Tapi aku nggak mau kamu tinggal di sini karena terpaksa,” lanjutnya. “Karena buku nikah. Karena Mama. Karena kamu ngerasa harus. Aku nggak mau itu. Aku nggak mau kamu di sini karena kamu nggak punya pilihan.”
“Terus kamu mau apa?”
Dia diam sebentar.
“Aku mau kamu di sini karena kamu mau,” katanya. “Dan kalau kamu nggak mau, ya…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kumengerti waktu itu. Sesuatu yang baru kumengerti jauh, jauh kemudian.
Dia mengambil sendok nasi, mengambil nasi dari bakul, dan menambahkannya ke piringku. Satu sendok. Pelan-pelan. Persis di sebelah sayur asem yang sudah dingin.
“Makan dulu,” katanya. “Kamu masih kurus.”
Lalu dia kembali makan.
Aku menatap nasi di piringku. Nasi putih yang mengepul sedikit, karena dia mengambilnya dari bagian tengah bakul, bagian yang masih hangat.
“Kamu nggak marah?” tanyaku. Suaraku keluar lebih kecil dari yang kumau.
Putra mengunyah tempe gorengnya pelan-pelan, menelan, lalu menjawab tanpa mengangkat kepala.
“Marah sama siapa?”
“Sama aku.”
“Kamu nggak salah. Kamu lupa.”
“Sama Reno?”
“Dia nggak tahu apa-apa.”
“Sama… sama siapa kek. Sama motor yang nabrak aku.”
“Udah,” katanya. “Udah kemarin. Di kantor polisi. Udah selesai.”
Aku tidak tahu apakah dia bercanda. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan dia bercanda. Tapi di sudut bibirnya, sangat samar, ada sesuatu yang hampir seperti senyum.
Aku tertawa. Aku tidak mau tertawa, tapi aku tertawa, karena semuanya terlalu absurd. Aku baru saja bilang ke suamiku bahwa aku cinta laki-laki lain, dan suamiku menambahkan nasi ke piringku dan bilang dia sudah marah-marah ke tukang ojek di kantor polisi.
“Kamu aneh, Mas,” kataku.
“Kata kamu juga gitu,” katanya. “Dulu.”
Dulu. Lagi-lagi kata itu. Aku menunduk dan, karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku makan nasi yang dia tambahkan. Sampai habis. Sampai butir terakhir.
Rasanya enak sekali. Aku tidak tahu kenapa rasanya enak sekali.
Setelah makan, dia menyuruhku naik dan istirahat. Dia bilang dia yang cuci piring.
Aku naik ke atas, menggosok gigi, memakai piyama katun bergambar awan yang kutemukan di lemari (bukan yang satin, aku belum siap mental menghadapi yang satin), dan berbaring di ranjang.
Lega. Itu yang kurasakan. Aku sudah jujur. Aku sudah bilang. Dia tidak marah. Dia tidak membanting piring. Dia tidak menangis. Dia cuma bilang oke dan menambahkan nasi ke piringku.
Mungkin dia memang tidak terlalu peduli, pikirku. Mungkin pernikahan kami memang sudah biasa-biasa saja. Mungkin perempuan di foto itu dan laki-laki yang menatapnya seperti itu cuma ada di foto, dan dua tahun kemudian semuanya sudah jadi rutinitas, sudah jadi sayur asem dan ikan asin dan oke. Mungkin dia juga lega. Mungkin.
Pikiran itu seharusnya membuatku tenang.
Entah kenapa, tidak.
Dari bawah, aku mendengar suara keran air di dapur. Suara air mengalir ke bak cuci piring. Suara piring beradu pelan.
Aku memejamkan mata dan menunggu suara itu berhenti.
Suara itu tidak berhenti.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Air terus mengalir. Kami cuma makan berdua, dengan empat piring dan dua gelas dan satu wajan dan satu cobek. Tidak mungkin butuh lima belas menit.
Dua puluh menit.
Air masih mengalir.
Aku memandangi langit-langit kamar yang gelap dan mendengarkan suara air itu, terus dan terus, seperti hujan yang tidak berhenti.
Kupikir dia cuma orang yang sangat teliti kalau mencuci piring.
Waktu itu, aku sungguh-sungguh berpikir begitu.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno reading
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog