← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Twenty Three

Kue Jam Dua Pagi

POV: Putra

Yang membangunkanku adalah Detik.

Dia berjalan di atas dadaku dengan langkah berat, seperti gajah kecil yang sedang memeriksa medan, lalu duduk tepat di atas perutku dan mengeong. Sekali. Keras. Mengeong yang biasanya dia pakai kalau mangkuk makanannya kosong, atau kalau ada kucing lain di halaman, atau kalau ada sesuatu yang menurutnya harus segera kuurus.

Aku membuka mata.

Ruang tengah gelap, kecuali lampu-lampu kecil di jendela yang berkelip-kelip kuning. Balon-balon di langit-langit sudah setengah kempis, menggantung lesu seperti buah yang terlalu matang. Jam dinding di atas televisi menunjukkan pukul dua kurang sepuluh.

Detik mengeong lagi. Lalu dia turun dari perutku, ke lantai, dan duduk di sana. Di karpet. Di depan sofa.

Di sebelah seseorang.

Ayana duduk di lantai. Punggungnya bersandar ke sofa, ke bagian depan bantalan, tepat di bawah tanganku yang terkulai. Lututnya ditekuk ke dada. Tangannya memeluk lutut. Kepalanya bersandar di atas lengannya. Dia masih memakai rok kuning mustard yang tadi siang. Kardigan rajutnya sudah dilepas dan terlipat di sebelahnya.

Dia tidak tidur. Aku tahu dia tidak tidur, karena bahunya naik turun dengan napas yang tidak teratur. Napas orang yang sudah lama menangis dan baru saja berhenti.

Aku tidak bergerak.

Aku tidak tahu kapan dia pulang. Aku tidak dengar pintu terbuka. Aku berbaring menghadap pintu depan, berniat tidak tidur, berniat jadi yang pertama melihat. Dan aku tertidur, dan dia pulang, dan dia duduk di lantai di bawah tanganku, entah sudah berapa lama.

“Ayana,” kataku. Pelan.

Dia mengangkat kepala.

Wajahnya bengkak. Matanya merah dan sembap, kelopak matanya tebal, hidungnya merah. Ada bekas maskara luntur di bawah matanya, garis-garis hitam tipis yang sudah kering. Rambutnya berantakan.

Dia menatapku lama.

“Lilinnya,” katanya. Suaranya serak sekali, seperti kertas amplas. “Lilinnya belum ditiup.”


Aku duduk. Kakiku kesemutan. Detik naik ke sofa, ke tempat yang barusan kutinggalkan, berputar tiga kali, dan berbaring di bekas hangat badanku.

“Kamu pulang jam berapa?” tanyaku.

“Sebelas empat puluh.”

Lebih dari dua jam yang lalu. Dia duduk di lantai lebih dari dua jam.

“Kenapa nggak bangunin aku?”

Dia tidak menjawab. Dia menunduk, menatap tangannya sendiri. Jari manis kirinya yang kosong.

Aku ingin bertanya. Aku ingin bertanya gimana tadi, dia ngomong apa, kamu baik-baik aja, kamu mau balik ke dia. Semua pertanyaan itu berbaris di belakang gigiku, berdesakan, seperti penumpang yang menunggu pintu kereta terbuka.

Aku menelan semuanya.

“Mau tiup lilin sekarang?” tanyaku.

Dia mengangkat kepala lagi. Matanya basah lagi.

“Boleh?” katanya. “Jam dua pagi?”

“Ulang tahunku udah lewat dua jam,” kataku. “Jadi nggak ada aturan lagi. Bebas.”

Sudut bibirnya bergerak. Hampir senyum. Hampir.


Kue itu masih di meja makan. Utuh, kecuali potongan kecil yang kuambil untuk Ujang tadi. Krim kejunya sudah sedikit mengeras di pinggir. Taburan kacang kenarinya masih rapi. Dua lilin, 3 dan 1, masih berdiri tegak, sumbunya putih.

Ayana berdiri di depan kue itu. Aku mengambil korek api dari laci dapur.

Korek api itu kosong.

Aku membuka kotaknya, mengocoknya. Satu batang. Satu batang terakhir, dan kepalanya sudah patah setengah.

“Ujang,” kataku. “Ujang pake buat nyalain obat nyamuk tadi.”

Ayana menatap kotak korek kosong itu. Lalu menatapku. Lalu, entah dari mana, keluar bunyi dari tenggorokannya. Tawa. Kecil, serak, pecah, tapi tawa.

“Kompor,” katanya.

Kami pergi ke dapur. Aku menyalakan kompor gas. Api biru menyala. Ayana mencabut lilin angka 3 dari kue dan mendekatkannya ke api kompor, hati-hati, dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Sumbunya menyala. Api kecil kuning, bergoyang.

Lalu lilin angka 1. Menyala juga.

Dia membawa dua lilin itu kembali ke meja makan, satu di tiap tangan, berjalan pelan-pelan supaya apinya tidak padam, seperti orang yang membawa sesuatu yang sangat berharga. Lalu dia menancapkannya kembali ke kue. Lilin angka 3 sedikit miring. Dia membetulkannya. Lilin itu miring lagi, lalu, pelan-pelan, rebah ke samping dan jatuh ke krim keju dengan bunyi plok kecil.

Kami berdua menatap lilin angka 3 yang tergeletak di atas krim keju, apinya masih menyala, menjilat-jilat taburan kacang kenari.

“Umurmu sekarang satu,” kata Ayana.

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar dari dadaku seperti sesuatu yang sudah lama terkurung, keras dan tiba-tiba, dan Ayana menatapku dengan mata membelalak, lalu dia juga tertawa, dan kami berdua tertawa di depan kue ulang tahun jam dua pagi dengan lilin yang jatuh, di bawah balon-balon yang kempis.

Detik, dari sofa, mengeong protes.

Ayana mengangkat lilin angka 3 dari krim keju, menancapkannya kembali, kali ini lebih dalam, menahannya dengan jari sampai lilinnya berdiri tegak.

Lalu dia menatapku. Di atas cahaya dua lilin kecil.

Dan dia mulai bernyanyi.


Suaranya pelan. Serak bekas menangis. Dan sumbang.

Sumbang sekali.

Selamat ulang tahun, kami ucapkan…

Nadanya meleset di setiap baris. Naik di tempat yang seharusnya turun. Turun di tempat yang seharusnya naik. Persis seperti suara di voice note yang kuputar di toko seminggu yang lalu, yang menyanyikan lagu Payung Teduh dengan nada yang salah semua.

Sumbangnya sama.

Dua orang yang berbeda, satu yang ingat dan satu yang lupa, dan sumbangnya sama persis.

Aku berdiri di depan kue itu dan mendengarkan dia menyanyi, dan tenggorokanku tersumbat.

Selamat panjang umur, kita kan doakan…

Dia menyelesaikan lagunya. Lalu menatapku dengan mata basah.

“Tiup, Mas,” katanya. “Make a wish dulu.”

Aku menatap dua api kecil itu. 3 dan 1.

Aku tidak tahu harus berharap apa. Aku sudah lama berhenti berharap untuk diriku sendiri. Selama enam minggu, setiap malam, aku cuma berharap satu hal, dan harapan itu bukan untukku.

Semoga dia bahagia.

Aku memejamkan mata. Lalu, untuk pertama kalinya dalam enam minggu, aku berharap sesuatu yang lain. Sesuatu yang egois. Sesuatu yang kecil sekali, sampai aku malu memikirkannya.

Semoga dia pulang.

Lalu aku meniup lilinnya.


Dia memotong kuenya. Dua potong. Satu untukku, satu untuknya. Kami makan berdiri, di depan meja makan, dengan sendok kecil, langsung dari piring. Krim kejunya sedikit keras. Kuenya sedikit kering di pinggir.

Enak sekali.

“Gagal dua kali,” katanya, menunjuk kue itu dengan sendok. “Yang pertama bantat. Yang kedua gosong. Ini yang ketiga.”

“Enak.”

“Jujur?”

“Enak, Ayana. Aku nggak bohong.”

Dia mengangguk. Lalu dia meletakkan sendoknya.

Dia selalu meletakkan sendok sebelum mengatakan sesuatu yang penting.

“Mas,” katanya. “Aku minta ma—”

“Nggak usah.”

Dia berhenti.

“Nggak usah minta maaf,” kataku. Pelan. Aku menatap kue di piringku. “Kamu nggak salah apa-apa.”

“Aku janji pulang sebelum potong kue. Aku ingkar.”

“Kamu pulang. Kuenya dipotong. Jam dua pagi. Tapi dipotong.” Aku menyendok krim keju. “Janjinya nggak ada jamnya.”

“Mas…”

“Nggak usah, Ayana.”

Dia menatapku lama. Matanya basah lagi. Dia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi. Lalu dia menyerah, dan menunduk.

Aku tahu dia mau mengatakan lebih banyak. Aku tahu permintaan maafnya masih di sana, di tenggorokannya, berbaris seperti pertanyaan-pertanyaanku tadi. Tapi aku tidak sanggup mendengarnya. Kalau dia minta maaf, aku harus bilang iya, aku maafin. Dan untuk bilang aku maafin, aku harus mengakui ada yang perlu dimaafkan. Aku harus mengakui ada yang sakit.

Aku belum bisa.


“Ini,” katanya tiba-tiba, mengambil bungkusan kecil dari sebelah kue. Kertas cokelat. Tali rami. “Kado. Dari aku.”

Dia menekankan kata aku. Pelan, tapi jelas.

Aku menerimanya. Ringan. Persegi. Seperti bingkai foto.

Aku membuka tali raminya. Simpulnya rapi, pita kecil di tengah. Simpul yang sama dengan simpul di kotak kado yang tersimpan di lemari kamar atas. Tangannya ingat cara mengikat simpul itu. Tangannya ingat.

Aku membuka kertas cokelatnya.

Bingkai kayu sederhana, warna kayu alami. Di baliknya, di balik kaca, selembar kertas cat air dengan gambar pensil.

Tangan.

Tangan laki-laki, memegang obeng kecil. Jari-jari panjang. Buku jari yang sedikit menonjol. Urat-urat halus. Dan di jempol kiri, garis tipis. Bekas luka. Luka yang kudapat waktu umur enam belas, waktu pisau bubut Aki tergelincir.

Aku menatap gambar itu lama sekali.

“Aku gambar pake mata merem,” kata Ayana. Suaranya kecil. “Di loteng. Aku nggak niat gambar tangan kamu. Aku niatnya gambar beruang. Tapi tanganku… tanganku gambar ini sendiri. Aku nggak tahu dari mana tanganku tahu ada bekas luka di jempol kamu. Aku cuma liat sekali, sekilas, waktu kencan pertama. Tapi tanganku tahu.”

Aku tidak bisa bicara.

“Itu satu-satunya yang aku punya,” katanya, “yang bener-bener dari aku. Bukan dari… bukan dari perempuan di foto. Dari aku yang sekarang. Yang nggak inget apa-apa. Tapi tangannya inget kamu.”

Aku menatap gambar itu. Lalu menatapnya.

Lalu, tanpa berpikir, tanpa meminta izin, tanpa ingat aturan nomor satu di kontrak cap jempol kecap, aku mengulurkan tangan. Tangan yang ada di gambar itu. Dan aku menyentuh pipinya. Pelan. Ibu jariku mengusap bekas maskara yang luntur di bawah matanya.

Dia tidak menghindar.

Dia memejamkan mata. Dan dia menyandarkan pipinya ke telapak tanganku.

Kami berdiri seperti itu lama sekali, di depan kue ulang tahun jam dua pagi, dengan bingkai kayu di tangan kiriku dan pipinya di tangan kananku.

Lalu, pelan-pelan, dia melangkah maju, dan menyandarkan kepalanya di dadaku.

Aku membeku.

Kepalanya di dadaku. Pipinya menempel di kemeja flanel, tepat di atas saku kiri. Tepat di atas cincinnya. Aku tahu dia bisa merasakannya, bentuk bundar kecil di balik kain.

Dia tidak bilang apa-apa. Aku juga tidak.

Aku meletakkan bingkai itu di meja, hati-hati, dan melingkarkan lenganku di punggungnya. Pelan. Seperti di tangga darurat Pasar Baru. Tapi kali ini dia tidak gemetar. Kali ini dia tidak sedang tenggelam.

Kali ini dia cuma bersandar.


“Mas,” katanya setelah lama, dengan suara yang teredam kemejaku.

“Hm.”

“Aku nggak balik ke dia.”

Aku tidak bernapas.

“Reno,” katanya. “Aku nggak balik ke dia. Dia nanya. Aku bilang nggak bisa.”

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan kalimat itu. Aku memegangnya di kepalaku seperti memegang gerigi kecil yang baru ditemukan setelah lama hilang. Hati-hati. Takut jatuh lagi.

Aku tidak bertanya kenapa.

Aku tidak berani.

“Oke,” kataku.

Dia tertawa kecil di dadaku. Tawa yang basah. “Oke doang?”

“Oke,” ulangku. Suaraku pecah di tengah. Aku berdeham. “Oke, Ayana.”

Dia mengangkat kepala sedikit, cukup untuk menatapku dari bawah. Lalu dia melihat ke dadaku. Ke saku kiri kemeja. Ke bentuk bundar kecil di baliknya.

“Cincinku,” katanya pelan.

Aku merogoh saku itu dan mengeluarkan cincinnya. Aku menaruhnya di telapak tangan, mengulurkannya padanya, seperti setiap Sabtu malam aku menaruhnya di piring kecil di samping ranjangnya.

Dia menatap cincin itu. Lama.

Lalu dia menggeleng. Pelan.

“Simpen dulu, Mas,” katanya.

Aku menatapnya.

“Aku…” Dia menggigit bibir. Matanya basah lagi. “Aku belum pantes pake. Belum. Habis semua yang aku… Sabtu-Sabtu itu. Malam ini. Aku belum pantes.”

“Ayana, itu cincinmu.”

“Aku tahu.” Dia menutup jari-jariku di atas cincin itu dengan tangannya sendiri. Tangannya dingin. “Makanya simpen dulu. Sampai aku pantes. Nanti aku minta. Aku janji. Kali ini janji yang beneran.”

Aku menatap tangan kami. Tangannya di atas tanganku. Cincin di antara keduanya.

Lalu aku memasukkan cincin itu kembali ke saku kiri. Dekat jantung.

“Iya,” kataku. “Kusimpen.”


Dia tertidur di sofa jam tiga lewat. Kepalanya di dadaku. Badannya meringkuk di sebelahku, di bawah selimut rajut kuning. Detik tidur di kaki kami berdua.

Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bergerak.

Tapi tangan kananku bebas. Dan Kartu Servis ada di saku kemeja, di sebelah cincinnya.

Aku mengeluarkan buku itu pelan-pelan. Membukanya dengan satu tangan. Membalik halaman-halaman yang sudah kutulis sejak dia bangun di rumah sakit. Hari ke-2: Unit nggak suka bubur. Unit mau roti bakar. Hari ke-8: Unit bikinin aku roti bakar. Gosong dikit. Hari ke-20: Unit tidur di lantai, nyender ke pintu. Aku juga. Sabtu 1 sampai Sabtu 5. Kemarin malam: Nunggu unit pulang, dengan tinta yang luntur di dua tempat.

Halaman demi halaman. Enam minggu. Setiap hari. Tentang dia. Tentang dia yang ini. Yang tidak suka kopi hitam dan bernyanyi sumbang dan menggambar tanganku dengan mata tertutup.

Aku membuka halaman kosong berikutnya, dan menulis dengan tangan kanan, di atas pahaku, pelan-pelan supaya pulpennya tidak bersuara.

Sabtu, 02.07.

Unit pulang jam 23.40. Detik yang kasih tahu.

Unit duduk di lantai dua jam. Nggak bangunin aku.

Korek habis. Lilin dinyalain pake kompor. Lilin angka 3 jatuh ke kue. Kata unit, umurku sekarang satu.

Unit nyanyi. Sumbang. Sama persis kayak dulu.

Unit kasih kado. Gambar tanganku. Matanya merem waktu gambar. Tangannya inget bekas luka di jempol kiriku.

Unit bilang nggak balik ke dia.

Unit nggak mau pake cincin dulu. Katanya belum pantes. Kusimpen.

Aku berhenti. Aku menatap kepalanya di dadaku. Rambut sebahu yang berantakan. Bekas maskara di pipinya. Napasnya yang pelan dan teratur.

Unit tidur di dadaku.

Aku menatap kalimat itu lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Sabtu kedua, tanganku tidak gemetar waktu menulis dua kata terakhir.

Dicatat.