← Istrimu Itu Aku, Kan?

Chapter Twenty Two

Barisan Belakang

POV: Ayana

Reno menunggu sampai tangisku reda.

Dia tidak memelukku. Dia tidak menyentuh tanganku lagi. Dia cuma mendorong segulung tisu dari tempat tisu plastik di meja ke arahku, lalu duduk diam dengan tangan di pangkuan, menatap es kopi susunya yang esnya sudah mencair seluruhnya.

Es kopi susu yang mencair. Lagi.

Ibu penjaga warung, tanpa diminta, meletakkan segelas air putih di depanku dan sepiring kecil tempe mendoan yang masih mengepul. Lalu dia kembali ke penggorengan tanpa bilang apa-apa, dan mengecilkan volume televisi.

Aku menghabiskan setengah gulung tisu. Lalu aku menarik napas panjang, gemetar, dan mengangkat kepala.

“Ren,” kataku. Suaraku serak. “Aku nggak bisa.”

Dia tidak kaget. Dia mengangguk pelan. Seperti dia sudah tahu. Seperti dia sudah tahu dari tadi, mungkin dari pertama kali melihatku berjalan melewati deretan bus kecil, atau dari Sabtu lalu di restoran di Dago, atau dari Sabtu pertama di Kemang waktu dia melihat jari manisku yang kosong dengan garis pucat di kulitnya.

“Aku tahu,” katanya.

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Dia tersenyum. Senyum miring yang dulu membuatku jatuh cinta di perpustakaan kampus. Tapi senyumnya gemetar di ujung. “Aku yang harusnya minta maaf. Dari tadi. Dari pertama kamu DM aku.”

“Kenapa?”

Reno menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Jam perak yang berdetak. Dia menatapnya lama sekali.

Lalu dia melepasnya. Membuka gespernya pelan-pelan, mengangkatnya dari pergelangan, dan meletakkannya di atas meja di antara kami. Di sebelah tempe mendoan dan es kopi susu yang mencair.

“Waktu kamu DM aku,” katanya, “bilang kamu kecelakaan, bilang kamu lupa tiga tahun, bilang kamu pengen ketemu… aku seneng, Ay. Aku seneng banget. Itu yang bikin aku malu sampe sekarang. Aku seneng kamu lupa.”

Aku menatapnya.

“Aku pikir, ini kesempatan kedua. Kesempatan yang aku nggak layak dapet. Kamu nggak inget dia. Kamu cuma inget aku. Aku bisa… aku bisa pura-pura tiga tahun itu nggak pernah ada. Aku bisa pura-pura aku nggak pernah ninggalin kamu, dan kamu nggak pernah ketemu orang lain.”

Dia menggosok wajahnya dengan dua tangan.

“Tapi aku nggak bisa pura-pura,” katanya dari balik telapak tangannya. “Karena aku tahu. Aku tahu tiga tahun itu ada. Aku liat sendiri.”

“Liat apa?”

Reno menurunkan tangannya. Matanya merah.

“Aku dateng ke nikahan kamu, Ay.”


Dunia berhenti.

Bukan seperti di film, di mana semuanya jadi lambat dan musiknya berhenti. Dunia berhenti seperti jam yang kehabisan tenaga. Tidak dramatis. Diam saja. Televisi masih menyala. Mendoan masih mengepul. Calo-calo masih berteriak Jakarta! Jakarta! di luar. Tapi aku tidak mendengar apa-apa.

“Kamu… apa?”

“Dua tahun lalu. Aku pulang liburan dari Melbourne. Dua minggu. Aku ketemu Tiara di mal. Dia keceplosan. Dia bilang kamu mau nikah. Minggu depannya. Di Bandung. Sama tukang jam.” Reno tertawa kecil, pahit. “Tukang jam. Aku nggak percaya. Aku pikir Tiara bercanda. Aku minta liat undangannya. Dia nunjukin di HP-nya. Ada nama kamu. Ayana Kirana. Dan nama dia. Putra Adiwangsa.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Aku nggak diundang,” lanjut Reno. “Tentu aja nggak diundang. Tapi aku dateng. Aku naik travel ke Bandung pagi-pagi. Aku nyari alamatnya. Rumah nenek dia, di belakang toko jam di Braga. Akadnya di sana. Kecil. Cuma keluarga sama temen deket. Mungkin lima puluh orang.”

“Ren…”

“Aku berdiri di barisan paling belakang,” katanya. Pelan. Matanya menatap jam tangan di meja. “Di belakang kursi-kursi plastik. Di deket pintu. Biar bisa kabur kalau ada yang ngenalin.”

Biar bisa kabur. Aku memilih kursi paling belakang di kafe Kemang. Biar bisa kabur.

“Nggak ada yang ngenalin aku,” kata Reno. “Semua orang ngeliat ke depan. Ke kamu. Kamu pake kebaya putih. Rambut kamu pendek. Aku kaget banget waktu liat rambut kamu pendek. Kamu dulu bilang kamu nggak akan pernah potong rambut, inget?”

Aku tidak ingat. Aku tidak ingat apa-apa dari hari itu.

“Terus penghulunya nanya. Dia jawab. Dia jawab ijab kabulnya cuma sekali, Ay. Lancar. Nggak salah sedikit pun. Tapi suaranya gemeter. Aku bisa denger dari barisan belakang. Suaranya gemeter kayak orang yang lagi megang sesuatu yang dia takut jatuh.”

Reno berhenti. Menelan. Air mata turun di pipinya. Dia tidak mengusapnya.

“Terus semua orang bilang sah. Dan kamu noleh ke dia.”

Dia menatapku. Lurus. Matanya basah dan merah dan jujur.

“Aku liat cara kamu natap dia waktu akad, Ay,” katanya. Suaranya pecah. “Kamu nggak pernah natap aku kayak gitu. Tiga tahun pacaran, nggak pernah sekali pun.”


Aku tidak tahu berapa lama aku diam.

Di kepalaku, gambar-gambar berputar. Bukan ingatan. Aku tidak punya ingatan tentang hari itu. Tapi aku punya foto. Foto pernikahan di dinding samping tangga. Perempuan berkebaya putih dengan rambut sebahu yang tertawa lepas, kepala sedikit mendongak. Dan laki-laki berbeskap cokelat di sebelahnya, yang tidak melihat ke kamera. Yang melihat perempuan itu.

Aku selalu memperhatikan bagaimana laki-laki itu menatap perempuan itu.

Aku tidak pernah memperhatikan bagaimana perempuan itu menatap laki-laki itu.

Karena di foto itu, perempuan itu tidak sedang menatap laki-laki itu. Dia sedang tertawa. Matanya menyipit. Kepalanya mendongak.

Tapi Reno melihat yang terjadi sebelum foto itu diambil. Sebelum dia tertawa. Waktu semua orang bilang sah, dan dia menoleh.

“Aku pulang hari itu juga,” kata Reno. “Aku nggak nunggu resepsi. Aku nggak nunggu foto. Aku langsung ke pool travel. Ke pool travel ini, Ay.” Dia menunjuk ke luar jendela warung, ke lahan parkir yang penuh bus kecil. “Aku duduk di warung ini. Mungkin di meja ini. Aku pesen es kopi susu. Aku nggak minum. Aku nunggu travel tiga jam, karena aku nggak bisa mikir mau ngapain lagi.”

Dia mengambil jam tangan perak itu dari meja dan memegangnya di telapak tangan.

“Waktu kita ketemu Sabtu pertama, di Kemang, dan kamu bilang kamu nggak inget dia, aku pikir… mungkin cara kamu natap dia itu udah ilang. Bareng ingatan kamu. Mungkin kalau kamu nggak inget, kamu bakal natap aku lagi kayak dulu. Atau lebih. Mungkin kali ini aku bisa dapet tatapan itu.”

Dia menatapku.

“Tapi tadi,” katanya, “waktu aku mau nyium kamu, terus kamu mundur. Aku liat muka kamu. Kamu nggak lagi natap aku, Ay. Kamu natap ke tempat lain. Ke sesuatu yang nggak ada di sini. Dan muka kamu…”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Dia tidak perlu.


“Dia buka tutup belakang jam ini,” kata Reno setelah lama. Dia membalik jam tangan perak itu. “Kamu tahu?”

Aku menggeleng.

“Ada ukirannya. Dari kamu. Dulu. Pas kamu kasih jam ini ke aku.” Dia mengusap tutup belakang jam itu dengan ibu jari. “Untuk Reno. Biar nggak telat lagi. Tanda tangan kamu, Ay.”

Napasku tertahan.

“Dulu ukiran itu udah karatan. Di sela-sela hurufnya. Kena lembap di Melbourne.” Reno menatap jam itu. “Sekarang nggak ada karat sedikit pun. Bersih. Kayak baru diukir kemarin. Dia bersihin, Ay. Huruf per huruf. Ukiran yang kamu tulis buat laki-laki lain.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Aku nggak bisa,” kata Reno. Suaranya hampir tidak terdengar. “Aku nggak bisa saingan sama orang kayak gitu. Bukan karena aku nggak sayang kamu. Aku sayang kamu. Tapi aku ninggalin kamu di meja dengan es kopi susu yang mencair. Dan dia…”

Dia berhenti. Mengusap matanya dengan punggung tangan.

“Dia nganterin kamu ketemu aku. Lima Sabtu. Dan dia benerin jam aku.”

Travel tujuan Jakarta, keberangkatan pukul dua puluh tiga, harap segera naik.

Pengumuman dari pengeras suara. Keras dan sumbang.

Reno memasang kembali jam itu di pergelangan tangannya. Menutup gespernya. Berdiri. Mengambil ransel kecil dan jaket denimnya.

“Itu travel aku,” katanya.

Aku berdiri juga. Kakiku gemetar.

Kami berdiri berhadapan di warung kopi kecil itu. Dia tidak memelukku. Aku tidak memeluknya. Kami cuma berdiri di sana, dua orang yang dulu saling mencintai, tiga tahun lalu, atau enam minggu lalu, tergantung siapa yang menghitung.

“Pulang, Ay,” kata Reno. “Kue ulang taunnya belum dipotong, kan?”

Aku menatapnya.

“Aku denger suara pesta di belakang kamu waktu aku nelepon tadi,” katanya. Dia tersenyum. Gemetar. “Ada yang nyanyi Panjang Umurnya. Ada yang bilang Akang nangis. Aku tahu aku salah waktu. Aku tahu sejak aku nelepon. Tapi aku tetep minta kamu dateng. Karena aku pengecut. Lagi.”

Dia berjalan ke pintu warung. Lalu berhenti. Menoleh.

“Ay. Jam ini. Bilang makasih ke dia. Yang bener. Bukan dari aku. Dari kamu.”

Lalu dia pergi. Melewati calo-calo yang berteriak. Melewati bus-bus kecil. Ke bus travel berwarna putih yang mesinnya sudah menyala.

Aku tidak mengikutinya ke luar. Aku berdiri di warung kopi itu, dengan sisa teh manis yang terlalu manis di meja dan setumpuk tisu basah, dan menatap bus putih itu sampai dia keluar dari lahan parkir dan menghilang di tikungan Jalan Pasteur.

Lalu aku membayar. Ibu penjaga warung tidak mau menerima uang untuk tempe mendoannya.

“Wios, Neng,” katanya, menepuk tanganku. “Uih, nya. Geura uih.”

(Nggak apa-apa, Neng. Pulang, ya. Cepet pulang.)


Aku memesan taksi online dengan tangan gemetar.

Jam sebelas lewat dua belas. Jalanan Bandung sudah sepi. Lampu-lampu jalan kuning berderet seperti manik-manik. Sopir taksinya seorang bapak-bapak tua yang memutar lagu-lagu Sunda dengan volume pelan, dan tidak bertanya kenapa penumpangnya menangis di jok belakang sepanjang jalan.

Aku menatap jari manis kiriku. Kosong. Garis pucat di kulitnya.

Cincinku di saku kiri kemeja Putra. Aku menitipkannya di parkiran pool travel. Tanpa kata-kata. Sudah jadi kebiasaan. Lima Sabtu, dan sudah jadi kebiasaan, dan malam ini, di malam ulang tahunnya, aku melakukannya lagi.

Aku memeluk diriku sendiri dan menatap ke luar jendela.

Aku liat cara kamu natap dia waktu akad.

Aku tidak ingat. Aku tidak ingat akadnya. Aku tidak ingat tatapan itu. Aku tidak ingat apa yang kurasakan waktu laki-laki berbeskap cokelat itu menjawab ijab kabul dengan suara gemetar.

Tapi aku ingat sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru. Sesuatu dari enam minggu terakhir.

Aku ingat tangan yang mencari tangannya di Jalan Asia Afrika.

Aku ingat jempolku yang menekan namanya di tangga darurat Pasar Baru.

Aku ingat kepalaku yang miring ke bahunya di toko, dan sesuatu yang ringan sekali menyentuh puncak kepalaku.

Aku ingat payung yang lurus di tengah, di atas kami berdua.

Aku ingat teh manis. Dua sendok.

Dan aku ingat kursiku bergeser ke belakang di warung kopi itu, dengan bunyi derit keras, waktu bibir laki-laki lain tinggal lima senti.


Taksi berhenti di depan pagar rumah hijau pucat jam sebelas lewat empat puluh.

Lampu-lampu kecil masih menyala di jendela ruang tengah. Kelap-kelip. Kuning. Lampu yang kupinjam dari pohon jambu tadi siang.

Aku membuka pagar pelan-pelan. Membuka pintu depan pelan-pelan. Kuncinya tidak dikunci. Tentu saja tidak dikunci.

Rumah itu sunyi.

Aku berjalan ke ruang tengah, dan aku berhenti.

Balon-balon hijau tua dan cokelat masih menggantung di langit-langit. Beberapa sudah mulai kempis, merunduk lesu. Spanduk cat air masih terpasang. SELAMAT ULANG TAHUN, MAS TUKANG JAM. Jam dinding kecil di setiap ujungnya, dengan jarum yang tersenyum.

Di meja makan, kue cokelat dua lapis. Utuh. Hanya satu potongan kecil yang hilang di pinggir, dan bekas jari di krim keju. Dua lilin di atasnya. 3 dan 1. Belum dinyalakan. Sumbu lilinnya masih putih bersih.

Di sebelah kue, topi kerucut dari kertas karton yang miring. Dan bungkusan kecil berbentuk persegi, kertas cokelat dan tali rami. Hadiahku. Belum dibuka.

Dan di sofa.

Dia tidur di sana. Masih memakai kemeja flanel yang sama dengan tadi. Masih memakai jeans. Masih memakai kaus kaki abu-abu. Badannya miring, menghadap ke pintu depan, seperti dia sengaja berbaring menghadap pintu, supaya dia yang pertama melihat kalau pintu itu terbuka.

Satu tangannya terkulai dari sofa. Satu lagi di dadanya. Di saku kiri kemejanya.

Di atas saku itu, kainnya kusut. Kusut sekali. Dan di baliknya, aku bisa melihat bentuknya. Bundar dan kecil.

Cincinku.

Matanya terpejam. Tapi wajahnya tidak tenang. Alisnya sedikit berkerut, seperti orang yang bermimpi tidak enak. Dan di pipinya, di bawah mata, di dekat hidung, ada garis tipis yang sudah kering. Garis tipis yang berkilat samar kena lampu-lampu kecil di jendela.

Detik tidur di kakinya. Di ujung sofa. Bergelung seperti roti tawar raksasa. Dia membuka satu mata waktu aku masuk, menatapku lama, lalu menutupnya lagi. Tidak mendesis. Tidak bergerak.

Aku berdiri di tengah ruang tengah dengan tas masih di bahu.

Lalu kakiku tidak kuat lagi.

Aku duduk di lantai. Di karpet, di depan sofa, di bawah balon-balon yang kempis dan lampu-lampu kecil yang berkelip. Sejarak satu jengkal dari tangannya yang terkulai.

Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak membangunkannya.

Aku menutup mulutku dengan dua tangan, supaya tidak bersuara, supaya tidak membangunkannya, dan aku menangis.

Tanpa suara. Bahuku bergetar. Air mataku jatuh ke karpet, ke punggung tanganku, ke rok kuning mustard yang kupakai tadi siang waktu dia bilang kayak bunga matahari.

Aku menangis untuk kue yang belum dipotong. Untuk lilin yang belum dinyalakan. Untuk hadiah yang belum dibuka. Untuk janji aku pulang sebelum potong kue yang kuingkari. Untuk Ujang yang menyetir pulang sambil menangis. Untuk cincin di saku kirinya. Untuk lima Sabtu. Untuk jam tangan Reno yang dibersihkan huruf demi huruf. Untuk meja dua belas. Untuk nggak apa-apa dan oke dan iya dan aku antar dan pergi aja, nanti kemalaman.

Untuk semua hal yang dia telan, satu per satu, seperti butir-butir nasi kering, sementara aku tidak melihat.

Aku tidak tahu berapa lama aku menangis di lantai itu.

Aku cuma tahu bahwa di suatu titik, tangisku berubah. Bukan lagi menangis karena menyesal. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru. Sesuatu yang sudah tumbuh pelan-pelan di dadaku selama enam minggu, diam-diam, seperti jam yang diputar setiap pagi tanpa aku tahu siapa yang memutarnya.

Dan malam itu, di lantai ruang tengah, di bawah spanduk yang kugambar dengan tangan yang mengingat lebih banyak dari kepalaku, akhirnya aku tahu namanya.