Chapter Two
Kartu Servis
POV: Putra
Dokter bilang namanya amnesia retrograd.
Aku tukang jam. Aku tidak mengerti otak, tapi aku mengerti mesin yang berhenti di satu titik. Ada jam yang mati karena per-nya putus. Ada jam yang mati karena kemasukan air. Ada jam yang mati karena jatuh, dan kalau jatuhnya cukup keras, ada gerigi kecil yang lepas dari tempatnya, dan seluruh mesin di belakangnya ikut diam.
Gerigi itu tidak hilang. Dia cuma lepas. Masih ada di dalam, terselip di antara bagian lain, menunggu ditemukan.
Itu yang kukatakan pada diriku sendiri malam itu, sambil duduk di koridor rumah sakit dengan kopi sachet yang sudah dingin. Geriginya tidak hilang. Dia cuma lepas.
Dan kalaupun hilang, aku bisa bikin yang baru.
Aku sudah mengulang kalimat itu kira-kira tiga ratus kali waktu seorang perawat muda berhenti di depanku.
“Masnya kakaknya Mbak Ayana, ya?”
Aku mengangkat kepala. “Bukan.”
“Oh.” Perawat itu mengangguk-angguk. “Sepupunya?”
“Suaminya.”
Perawat itu berhenti mengangguk. Dia menatapku, lalu menatap pintu kamar Ayana, lalu menatapku lagi. Dia pasti mendengar teriakan saya jomblo, Mas tadi siang. Seluruh lantai tiga pasti mendengarnya. Ayana tidak pernah bisa bicara pelan kalau sedang yakin pada sesuatu.
“Oh,” kata perawat itu lagi, kali ini dengan nada yang lain. “Yang sabar ya, Mas.”
“Iya.”
Dia pergi, lalu kembali lima menit kemudian membawa segelas teh manis hangat dari pantri perawat dan meletakkannya di sebelahku tanpa berkata apa-apa. Aku mengucapkan terima kasih. Dia menepuk bahuku dua kali, seperti orang menepuk bahu laki-laki yang baru saja kehilangan sesuatu.
Aku belum kehilangan apa-apa, pikirku. Dia masih di dalam. Dia masih bernapas. Dia masih galak.
Aku meminum teh itu. Terlalu manis. Ayana pasti suka.
Ayana yang dulu tidak suka teh manis. Ayana yang dulu minum kopi hitam tanpa gula dan tertawa melihatku meringis setiap kali mencicipinya. Tapi Ayana yang sekarang, yang menyebut tahun yang salah dan menyebut nama laki-laki lain dengan begitu yakin, mungkin suka teh manis. Aku tidak tahu.
Aku harus belajar lagi.
Lima hari sebelumnya, ponselku berdering pukul 21.58.
Aku masih di toko, sedang mengganti per sebuah jam saku milik pensiunan dosen dari Cimahi. Ujang sudah pulang. Lampu jalan di luar Braga berpendar kuning, dan hujan baru saja berhenti. Nomor tidak dikenal. Aku hampir tidak mengangkatnya.
“Dengan keluarga Ibu Ayana Kirana?”
Aku masih ingat bagaimana obeng kecil di tanganku jatuh ke meja kerja, berguling, dan jatuh ke lantai. Aku tidak memungutnya. Sampai sekarang obeng itu mungkin masih di sana, di bawah meja, di antara serbuk kuningan dan debu.
Aku tidak ingat menyetir ke rumah sakit. Aku cuma ingat lampu merah di Jalan Dago yang terasa seperti berlangsung satu jam, dan aku ingat berpikir, besok hari jadi kami yang kedua. Dia bilang mau beli sesuatu. Dia bilang jangan nanya. Dia bilang pulangnya agak malam.
Empat hari dia tidak bangun.
Hari kedua adalah hari jadi kami. Aku duduk di kursi yang sama dengan kursi yang sekarang ada di dalam kamarnya, memegang tangannya yang ditusuk jarum infus, dan berbisik dekat telinganya, pelan sekali supaya perawat tidak dengar.
Selamat dua tahun, Ay.
Dia tidak menjawab. Mesin di sebelahnya berbunyi teratur. Aku menunggu sampai tengah malam, sampai tanggalnya berganti, lalu pulang sebentar untuk mandi dan memberi makan Detik, yang mengeong di depan pintu kamar kami sepanjang malam, mencari majikannya.
Lalu hari kelima, dia bangun. Dan pertanyaan pertamanya padaku adalah: Mas siapa?
Aku tidak menyalahkannya. Sungguh. Aku cuma butuh waktu untuk menurunkan tanganku.
Pukul satu dini hari, aku mendengar suara dari dalam kamar.
Bukan teriakan. Lebih seperti napas yang tersengal-sengal. Aku masuk pelan-pelan dan melihat Ayana duduk di ranjang dengan lampu baca menyala, rambut sebahunya berantakan, ponsel di tangan, dan wajah yang pucat seperti kertas.
“Ayana?”
Dia tersentak, lalu menatapku dengan mata yang membelalak. Sesaat aku melihat ketakutan murni di sana. Ketakutan seorang perempuan yang terbangun di kamar asing dan mendapati laki-laki asing masuk ke kamarnya di tengah malam.
Aku berhenti di dekat tirai. Tidak maju selangkah pun.
“Maaf,” kataku. “Aku denger kamu napasnya kenceng. Kamu nggak apa-apa?”
“Aku…” Dia menatap ponsel di tangannya. “Aku mau nelepon Reno. Aku mau nanya, kita beneran putus atau nggak, atau… aku nggak ngerti. Aku nggak inget apa-apa. Tapi ponselnya dikunci. Aku nggak tahu kodenya. Aku nggak tahu kode ponselku sendiri.”
Suaranya bergetar di kalimat terakhir.
Aku tahu kodenya. Tentu saja aku tahu kodenya. Kode itu dia ganti di malam setelah kami menikah, sambil tertawa dan bilang, biar setiap kali buka HP aku inget hari itu.
Aku bisa mengucapkannya sekarang. Empat angka. Dia akan membuka ponselnya, mencari nomor laki-laki itu, dan meneleponnya jam satu pagi.
“Besok aja, ya,” kataku. “Udah malem. Kamu butuh tidur.”
“Aku nggak bisa tidur.” Dia meremas selimut. “Kepalaku berisik. Semuanya berisik. Aku tiba-tiba umur dua puluh tujuh, tinggal di Bandung, punya suami, rambutku pendek, aku nggak alergi kucing lagi, dan aku nggak tahu kenapa. Aku nggak tahu apa-apa. Rasanya kayak… kayak jatuh terus tapi nggak nyampe-nyampe ke bawah.”
Dia mulai menangis. Bukan tangisan keras, tapi tangisan tertahan, seperti orang yang berusaha keras supaya tidak menangis dan kalah.
Aku ingin memeluknya. Ya Tuhan, aku ingin memeluknya. Selama dua tahun, setiap kali dia menangis, entah karena film atau karena editor yang galak atau karena Detik muntah di gambar yang belum selesai, aku memeluknya. Itu refleks, seperti menarik tangan dari kompor panas.
Aku menahan tanganku di samping tubuh.
“Pelan-pelan aja,” kataku. “Aku nggak ke mana-mana.”
Dia berhenti menangis sebentar, cukup lama untuk menatapku dengan alis berkerut.
“Mas,” katanya, dengan sisa isak di suaranya, “justru itu yang serem. Orang asing bilang aku nggak ke mana-mana jam satu pagi.”
Aku tidak bisa menahan diri. Aku tertawa. Pelan, pendek, tapi tertawa.
Dan dia, di tengah tangisannya, ikut tertawa juga. Kecil sekali. Sudut bibirnya naik, lesung pipi kirinya muncul sesaat, lalu hilang lagi.
Lesung pipi itu masih ada. Itu yang kupikirkan. Semuanya boleh hilang, tapi lesung pipi itu masih ada.
“Aku duduk di luar, ya,” kataku. “Kalau butuh apa-apa, panggil.”
“Mas.”
Aku berhenti.
“Kursinya,” katanya pelan, menunjuk kursi di sebelah ranjang. “Duduk di situ aja. Aku… aku nggak mau sendirian. Tapi jangan ngomong apa-apa. Dan jangan deket-deket.”
Aku duduk di kursi itu. Tidak bicara. Tidak dekat-dekat.
Lima belas menit kemudian, napasnya mulai teratur. Dua puluh menit kemudian, ponsel jatuh dari tangannya ke atas selimut. Setengah jam kemudian, dalam tidurnya, tangannya bergerak di atas seprai, mencari-cari sesuatu, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam di rumah kami.
Tangannya menemukan tanganku di pinggir ranjang. Jari-jarinya menyelinap ke sela jariku dan menggenggam erat, persis seperti dulu.
Napasku berhenti.
Lalu dia bergumam, dengan suara orang yang sedang bermimpi:
“Ren…”
Aku tidak bergerak.
Aku duduk di sana dengan tangan digenggam istriku, yang sedang memimpikan laki-laki lain, dan aku tidak bergerak sama sekali. Aku tidak menarik tanganku. Aku tidak membangunkannya. Aku tidak berkata apa-apa.
Kalau tanganku bisa membuatnya tidur nyenyak malam ini, biar saja tanganku jadi tangan siapa pun yang dia butuhkan.
Aku duduk di sana sampai azan subuh terdengar dari masjid di belakang rumah sakit.
Di saku kemejaku ada sebuah buku kecil.
Sampulnya kulit cokelat yang sudah lusuh di sudut-sudutnya. Dulu milik Aki, kakekku, yang memakainya untuk mencatat setiap jam yang masuk ke tokonya: merek, kerusakan, tanggal masuk, tanggal selesai, nama pemilik. Di halaman pertama, dengan tulisan tangan Aki yang miring-miring, tertulis: KARTU SERVIS.
Setelah Aki meninggal, aku meneruskan buku itu. Lalu suatu hari, tiga tahun lalu, seorang perempuan masuk ke tokoku dengan mata sembap dan jam tangan yang kacanya retak, dan aku mencatatnya seperti mencatat pelanggan lain.
Unit: jam tangan perempuan, tali kulit, kaca retak. Pemilik: nangis. Katanya bukan karena jamnya.
Itu entri pertama. Setelah itu, entah sejak kapan, buku itu berhenti jadi catatan jam dan mulai jadi catatan tentang dia.
Halaman-halaman lama penuh dengan tulisan tanganku, angka-angka, tanggal-tanggal. Aku tidak membacanya malam itu. Aku tidak sanggup.
Aku membuka halaman kosong berikutnya, dengan satu tangan, karena tangan yang lain masih digenggam. Aku menulis pelan-pelan supaya tidak membangunkannya.
Hari ke-1 (lagi).
Unit bangun. Unit nggak kenal aku.
Unit punya pacar namanya Reno. Katanya baru putus seminggu. Masih proses balikan.
Unit takut sendirian, tapi nggak mau dideketin. Unit masih tidur sambil nyari tangan.
Unit masih cantik kalau marah.
Aku berhenti, lalu menambahkan satu baris lagi.
Kalau dia lupa, aku pacarin lagi dari awal.
Dicatat.
Setelah subuh, tangannya melepas tanganku sendiri. Dia berguling ke sisi lain, memeluk guling rumah sakit yang tipis, dan tidur lebih nyenyak. Aku menyelimutinya sampai ke bahu, mengambil jam tangannya yang tadi sore kuletakkan di meja, lalu keluar.
Toko jam di Braga cuma lima belas menit dari rumah sakit kalau subuh. Jalanan masih kosong, udara Bandung dingin menggigit, dan langit di timur mulai berwarna abu-abu kebiruan.
Rolling door toko masih setengah terbuka. Di bangku panjang di depan etalase, Ujang tidur meringkuk dalam sarung kotak-kotak, mulutnya terbuka, satu sandal jepitnya entah di mana.
Aku menyalakan lampu. Ujang terlonjak.
“Astagfirullah, Akang! Aya naon subuh-subuh?”
(Astagfirullah, Akang! Ada apa subuh-subuh?)
“Kamu nginep di sini, Jang?”
“Abdi jaga toko, Kang. Akang teu aya opat poé, sieun aya maling.” Ujang menggosok matanya, lalu tiba-tiba duduk tegak. “Teteh kumaha, Kang? Teteh tos gugah?”
(Saya jaga toko, Kang. Akang nggak ada empat hari, takut ada maling. Teteh gimana, Kang? Teteh udah bangun?)
“Udah.”
Wajah Ujang langsung bercahaya. “Alhamdulillah! Teteh nanyain abdi, teu?”
(Alhamdulillah! Teteh nanyain saya, nggak?)
Aku diam sebentar. “Teteh lupa, Jang.”
“Lupa naon, Kang?”
(Lupa apa, Kang?)
“Lupa semuanya. Tiga tahun terakhir.” Aku menarik kursi kerja dan duduk. “Lupa kamu. Lupa toko. Lupa aku.”
Ujang tidak bilang apa-apa. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, anak itu kehilangan kata-kata. Dia cuma duduk di bangkunya dengan sarung melorot, menatapku dengan mata yang pelan-pelan berkaca-kaca.
“Bikin teh, Jang,” kataku. “Manis.”
“Akang kan teu resep teh amis.”
(Akang kan nggak suka teh manis.)
“Bikin aja.”
Aku memasang loupe di mata kanan dan membuka jam tangan Ayana.
Jam ini dia beli di pasar loak Cihapit, setahun sebelum kami menikah, dengan harga yang terlalu mahal karena dia tidak tega menawar kakek penjualnya. Mesinnya mesin Jepang tua, manual, harus diputar setiap pagi. Ayana selalu lupa memutarnya, jadi setiap pagi aku yang memutar, sebelum dia bangun, sambil menunggu air mendidih.
Kacanya harus diganti. Itu gampang. Aku punya stok kaca mineral bundar ukuran yang sama di laci ketiga.
Yang susah adalah mesinnya. Benturan itu membuat roda keseimbangannya bergeser dari porosnya. Rambut per-nya, per halus seperti sehelai rambut yang membuat jam ini berdetak, sedikit tertekuk. Kalau salah sentuh, putus. Kalau putus, harus cari pengganti yang sama, dan mesin seperti ini sudah tidak diproduksi lagi.
Aku bekerja pelan-pelan.
Pinset. Kaca pembesar. Napas yang ditahan. Ujang meletakkan teh manis di sebelah sikuku dan duduk diam di bangku, menonton. Biasanya dia cerewet, bertanya ini itu, minta diajari. Pagi itu dia tidak bertanya apa-apa.
Rambut per itu kuluruskan sedikit demi sedikit, sepersekian milimeter setiap kali. Roda keseimbangannya kukembalikan ke porosnya. Kaca retaknya kulepas, kuganti yang baru. Tali kulitnya kuolesi minyak supaya goresannya tidak terlalu kelihatan.
Matahari sudah naik waktu aku menutup kembali bagian belakang jam itu.
Lalu aku memutar mahkotanya.
Jarum detik bergerak.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Detaknya kecil dan teratur, seperti jantung burung.
Jarum-jarumnya masih menunjuk 21.47. Aku bisa membiarkannya di situ. Ada pelanggan yang minta begitu, jam milik orang tua yang meninggal, dibetulkan mesinnya tapi jarumnya dibiarkan di jam terakhir, sebagai kenangan.
Aku menarik mahkota dan memutar jarumnya ke depan, melewati malam itu, melewati empat hari yang tidak dia ingat, sampai ke jam yang ditunjuk jam dinding toko.
Pukul 06.52.
Biar waktunya jalan lagi.
“Kang,” kata Ujang pelan dari bangkunya. “Teteh bakal inget deui, teu?”
(Kang, Teteh bakal inget lagi, nggak?)
Aku menatap jam kecil di telapak tanganku yang berdetak pelan.
“Nggak tahu, Jang.”
“Mun teu inget deui kumaha?”
(Kalau nggak inget lagi gimana?)
Aku meminum teh manis yang sudah dingin. Terlalu manis. Aku meringis.
“Ya udah,” kataku. “Kenalan lagi.”
Waktu aku kembali ke rumah sakit, Ayana sudah bangun dan sedang berdebat dengan Mama soal sarapan.
“Ma, aku nggak mau bubur. Bubur rumah sakit tuh rasanya kayak lem kertas.”
“Kamu baru bangun dari koma, Yana! Masa mau langsung makan seblak?”
“Aku nggak bilang seblak. Aku bilang roti bakar.”
Mereka berdua menoleh waktu aku masuk. Mama langsung tersenyum lebar. Ayana langsung memasang wajah waspada, seperti kucing yang melihat orang asing masuk ke rumah. Aku mengenali ekspresi itu. Ekspresi yang sama dengan yang dipasang Detik setiap kali tukang gas datang.
Aku berjalan ke ranjangnya, tidak terlalu dekat, dan mengulurkan tanganku.
Di telapak tanganku, jam tangan kecil itu berdetak.
Ayana menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatap jam itu lagi, lama sekali, dan aku melihat matanya bergerak mengikuti jarum detik yang berputar.
“Kok…” Dia mengambil jam itu, mendekatkannya ke telinga. Wajahnya berubah, pelan-pelan, dari waspada menjadi takjub. “Kok bisa jalan lagi? Semalem kan masih mati.”
“Kubenerin.”
“Kamu benerin? Semalem? Kamu?”
“Aku tukang jam.”
Ayana mengedip. Sekali. Dua kali.
“Oh,” katanya. Lalu, setelah jeda yang lama: “Pantesan.”
Pantesan apa, aku tidak tahu. Dia sendiri sepertinya juga tidak tahu. Tapi dia memasang jam itu di pergelangan tangan kirinya, mengencangkan talinya, lalu menatap jam itu lama sekali dengan alis berkerut, seperti sedang berusaha mengingat sesuatu yang sudah di ujung lidah.
Lalu dia menyerah dan mendongak padaku.
“Makasih, Mas,” katanya. Pelan. Hampir malu.
Mas. Dia memanggilku Mas. Dulu dia memanggilku Mas dengan nada yang lain, dengan nada yang membuat Ujang selalu pura-pura sibuk mencari obeng.
Tapi ini juga Mas. Ini permulaan.
“Sama-sama,” kataku.
Di belakangku, Mama mengeluarkan suara aneh, setengah isak dan setengah tawa, lalu buru-buru pura-pura batuk dan sibuk membuka rantang.
Malam itu, di halaman berikutnya Kartu Servis, aku menulis:
Hari ke-2.
Jam unit jalan lagi. Unit bilang makasih.
Unit nggak suka bubur. Unit mau roti bakar. Dicatat.
- 1 Tanggal di Ponsel
- 2 Kartu Servis reading
- 3 Istrimu Itu Aku, Kan?
- 4 Detik Nggak Suka Aku
- 5 Aku Masih Cinta Reno
- 6 Kopi Hitam
- 7 Audisi Sahabat
- 8 Proposal Pacaran
- 9 Kencan Pertama (Lagi)
- 10 Pukul 21.47
- 11 Cincin Titipan
- 12 Yang Biru
- 13 Tangan yang Masih Ingat
- 14 Pasar Baru
- 15 Jam Tangan Reno
- 16 Kotak Kado
- 17 Meja Biasa
- 18 Malam di Toko
- 19 Rabu di Braga
- 20 Ulang Tahun Putra
- 21 Teh Manis
- 22 Barisan Belakang
- 23 Kue Jam Dua Pagi
- 24 Ciuman Pertama (Buat Aku)
- 25 Belajar Jadi Dia
- 26 Operasi Sofa
- 27 Pertengkaran Pertama
- 28 Kata Ema
- 29 Gudang
- 30 Kepingan
- 31 Pulang ke Rumah Mama
- 32 Teras Rumah Mama
- 33 Rahasia Mama
- 34 Empat Puluh Tujuh
- 35 Halaman Baru
- 36 Kado yang Akhirnya Dibuka
- 37 Malam Ini Jangan di Sofa
- 38 Sabtu Pertama
- 39 Kursi Paling Depan
- 40 Yang Biru
- 41 Payung
- 42 Dicatat
- 43 Ulang Tahun yang Diulang
- 44 Istrimu Itu Aku
- 45 Epilog