← Apartemen 12B

Chapter Nine

Nasi Kuning untuk Enam Orang

POV: Kiara


Aku berdandan selama satu jam empat puluh menit untuk Rabu itu.

Biasanya empat puluh lima. Termasuk mandi.

Lensa kontak. Alas bedak dua lapis, yang biasanya kupakai untuk acara dengan foto. Bulu mata palsu — bulu mata palsu, untuk makan malam berdua di apartemen orang. Gaun biru tua yang kubeli tahun lalu dan cuma kupakai dua kali karena terlalu bagus untuk sebagian besar pekerjaan.

Nadia melihatku keluar kamar dan berhenti mengunyah.

“Lo ada acara di mana?”

“Kerja.”

“Kerja di mana?”

“Rabu.”

Nadia menaruh sendoknya.

“Ra.”

“Apa.”

“Itu Rabu yang makan malem doang, kan? Yang lo bilang dia bahkan nggak duduk deket-deket?”

“Iya.”

“Terus lo pake bulu mata.”

“Aku suka bulu mata.”

“Lo benci bulu mata. Lo bilang bulu mata itu ibarat pasang teralis di mata sendiri.”

Aku mengambil tas dan pergi tanpa menjawab, karena tidak ada jawaban, karena aku sendiri tahu persis apa yang sedang kulakukan dan tidak berniat mengakuinya kepada siapa pun.

Aku sedang memakai baju besi.

Laki-laki itu sudah melihatku dengan sandal jepit, hoodie almarhum Bapak, dan wajah yang isinya cuma kulit dan lelah. Dia sudah melihat isi keranjang belanjaku. Dia sudah tahu minus mata kiriku.

Jadi malam ini aku akan datang sebagai Kiara — Kiara yang lengkap, Kiara yang versi dibayar, Kiara yang tidak punya nenek dan tidak punya utang seratus sembilan puluh empat juta dan tidak pernah duduk tiga jam empat puluh menit di kursi besi di Cempaka Putih.

Dan semuanya akan kembali ke tempatnya.


Danan membuka pintu.

“Selamat malam. Menu malam ini nasi kuning, ayam goreng lengkuas, telur balado, orek tempe, dan semur daging.”

Lima. Dia menyebut lima.

“Silakan masuk,” katanya, dan mundur selangkah, dan matanya sempat turun setengah detik ke gaunku sebelum naik lagi ke wajahku, dan dia tidak mengatakan apa pun tentang itu.

Aku melangkah masuk.

Baunya luar biasa. Baunya seperti rumah orang yang sedang mengadakan sesuatu.

“Ada tamu lain?”

“Tidak.”

“Danan.” Aku berhenti di tengah ruangan. “Ini masakan hajatan.”

“Ini resep standar.”

“Resep standar nasi kuning empat lauk.”

“Ya.”

“Buat dua orang.”

“Ya,” katanya, dan berbalik ke dapur.

Dan begitulah cara aku tahu, dengan pasti, untuk pertama kalinya, bahwa laki-laki itu berbohong padaku.


Aku ingin menjelaskan kenapa itu penting, karena kalau tidak, ini kedengarannya seperti perempuan yang tersinggung soal porsi makanan.

Selama tiga tahun aku menerjemahkan laki-laki. Sebelum itu, tujuh tahun aku menerjemahkan kalimat. Sepuluh tahun total membaca sesuatu yang ditulis dalam satu bahasa dan mencari maksudnya di bahasa lain.

Danan adalah satu-satunya orang yang tidak bisa kubaca, dan alasannya bukan karena dia rumit. Alasannya karena dia tidak mengirim apa-apa. Semua yang dia ucapkan persis sama dengan yang dia maksud. Delapan gram kunyit berarti delapan gram kunyit. Rabu depan berarti Rabu depan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ada jarak antara yang dia ucapkan dan yang dia maksud.

Dan begitu ada jarak, aku bisa masuk.

Ini resep standar berarti aku tidak akan menjelaskan. Ini resep standar berarti aku sudah memutuskan sesuatu tentangmu dan aku tidak berencana memberitahumu. Ini resep standar berarti — dan ini bagian yang membuat tanganku dingin di pangkuan sepanjang dua puluh menit pertama —

aku melihat isi keranjangmu.

Dia tidak bertanya apa-apa di Mart. Tujuh menit jalan kaki dan dia tidak bertanya satu pun. Aku pulang malam itu dan berpikir dia sedang memberiku ruang, atau dia sedang tidak peduli, atau dia cuma laki-laki yang tidak tahu caranya bertanya.

Ternyata dia pulang dan memasak nasi kuning empat lauk.


Dan Rabu itu, sejujurnya, adalah malam paling canggung dalam hidupku.

Aku ingin mencatatnya dengan jujur karena semua yang terjadi setelahnya jauh lebih berat, dan aku tidak mau lupa bahwa ada satu malam di mana dua orang dewasa gagal total melakukan sesuatu yang seharusnya mudah.

Dimulai dari kursi.

Aku selalu duduk di kursi yang menghadap dapur. Lima Rabu berturut-turut. Malam itu aku menariknya keluar, dan Danan — yang sedang membawa piring — berhenti mendadak dan bilang, “Ah.”

“Apa?”

“Tidak. Silakan.”

“Kenapa ‘ah’?”

“Tidak apa-apa.”

Belakangan aku tahu dia sudah memutar piringnya untuk kursi yang satunya, karena kursi yang satunya lebih dekat ke jendela dan malam itu agak panas. Dia mengubah rencananya di detik terakhir dan tidak mengatakan apa-apa. Tentu saja.

Lalu piring.

Dia menyajikan semuanya sekaligus — lima wadah di meja jati sepanjang dua meter sepuluh itu, dan tiba-tiba meja yang selama ini terlalu kosong jadi terlalu penuh. Kami harus menggeser dua kali. Tanganku menabrak tangannya waktu kami sama-sama mengulurkan tangan ke wadah orek tempe.

Kami menarik tangan bersamaan. Dua-duanya minta maaf. Bersamaan.

Lalu diam selama sembilan detik.

“Silakan duluan,” kataku.

“Saya tidak makan.”

“Oh. Iya. Maaf.”

“Tidak apa-apa.”

Diam lagi.

Lalu aku, karena aku tidak bisa membiarkan keheningan lebih dari lima belas detik tanpa merasa harus menutupnya:

“Kamu potong rambut?”

Danan menyentuh belakang kepalanya. “Ya. Sabtu.”

“Bagus.”

“Terima kasih.”

“Sama tukang yang biasa?”

“Ya.”

Dan aku duduk di sana, dengan bulu mata palsu, mendengarkan diriku sendiri menanyakan tukang cukur seseorang, dan berpikir: tiga tahun. Tiga tahun aku dibayar untuk bisa mengobrol dengan siapa pun. Dan aku ada di sini bertanya soal tukang cukur.


Yang lebih parah, dia juga sedang berusaha.

Itu yang membuatku hampir tidak tahan.

Sekitar menit kedua puluh, di tengah keheningan yang lain, Danan meletakkan gelasnya dan berkata — dengan cara orang yang jelas-jelas sudah menyiapkannya lebih dulu, dengan nada yang sedikit terlalu rata bahkan untuk ukurannya:

“Bagaimana kabar Anda.”

Aku mengangkat wajah.

“Baik.”

“Baik.”

Dia mengangguk. Mengambil gelasnya lagi.

Lalu, kira-kira empat detik kemudian, dia meletakkannya lagi.

“Bagaimana kabar Anda,” ulangnya.

Aku menatapnya.

Dia menatap balik. Sepenuhnya serius. Tidak ada satu pun tanda di wajahnya bahwa dia sadar dia baru saja mengulang pertanyaan yang sama persis, dengan intonasi yang sama persis, empat detik setelah dijawab.

Dan aku tahu — dengan seluruh sisa kemampuan menerjemahkanku, dengan setiap serat dari sepuluh tahun membaca maksud orang —

bahwa seseorang telah menyuruhnya melakukan itu.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Anda—“

“Bentar.” Suaraku teredam telapak tangan. “Bentar, Danan. Bentar.”

“Apakah saya—“

“Kamu nggak salah.” Aku menurunkan tangan. Bulu mata palsuku hampir lepas sebelah dan aku tidak peduli. “Kamu nggak salah apa-apa. Aku cuma—“

Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimat itu.

Bagaimana kamu memberitahu seseorang bahwa dia baru saja bertanya dua kali karena ada orang yang menjelaskan padanya bahwa bertanya sekali itu tidak cukup, dan bahwa dia melakukannya dengan patuh dan harfiah dan sepenuhnya salah, dan bahwa itu adalah hal termanis yang pernah dilakukan seseorang untukmu di meja makan?

“Aku capek,” kataku.

Itu keluar sebelum aku memutuskan untuk mengatakannya.

Danan tidak bergerak.

“Kemarin,” lanjutku, dan suaraku aneh, terlalu datar, seperti membacakan sesuatu. “Kemarin aku dari kantor koperasi. Ada urusan keluarga. Lama. Terus kepalaku sakit. Itu aja.”

Hening.

Aku menunggu pertanyaan berikutnya. Aku sudah menyiapkan tembok untuk pertanyaan berikutnya; aku punya empat versi jawaban yang akan menutup topik itu dengan halus dan tidak menyinggung siapa pun.

Danan tidak bertanya.

Dia mengambil piring kecil, menyendok semur daging ke dalamnya, dan meletakkannya di depanku.

“Ini yang paling lama dimasak,” katanya. “Empat jam. Kalau Anda cuma mau makan satu, makan yang ini.”

Lalu dia diam lagi.

Dan aku makan semur daging itu, dan tembok yang sudah kususun empat versinya berdiri di sana tanpa ada yang menyerangnya, dan itu jauh lebih buruk.


Aku makan terlalu banyak malam itu. Jauh lebih banyak dari yang bisa kutampung.

Bukan karena dia memaksa. Dia tidak pernah memaksa. Cuma karena setiap kali aku menaruh sendok, ada wadah lain yang bergerak sedikit ke arahku di atas meja — didorong sekitar lima sentimeter, tanpa komentar, tanpa dilihat.

Jam sembilan kurang sepuluh aku menyerah dan bersandar di kursi.

“Aku nggak bisa lagi.”

“Baik.”

“Ini masih setengah, Danan.”

“Ya.”

“Kamu bakal buang?”

Dia berdiri, mulai mengumpulkan wadah, dan tidak menjawab.

Lalu dia membuka lemari atas, dan mengeluarkan kotak kaca dengan tutup plastik biru — kotak itu, yang kukembalikan semalam di mulut gang, yang sudah dicucinya lagi karena aku bisa lihat dari sini bahwa tidak ada satu pun bercak air di sudutnya —

dan mulai mengisinya tanpa bertanya.

“Danan.”

“Ya.”

“Aturan dua.”

“Ya.”

Dia terus mengisi.

“Kamu tahu aku nggak boleh.”

“Saya tahu.” Dia meratakan permukaannya dengan punggung sendok. “Saya juga tahu kalau saya menaruhnya di sini, dan Anda mengambilnya, itu keputusan Anda dan bukan keputusan saya.”

Klik. Klik.

Lalu dia mendorongnya sepuluh sentimeter di atas konter, ke arahku, dan berhenti, persis seperti Rabu lalu.

“Terserah Anda,” katanya.

Dan berbalik. Dan menyalakan keran.

Aku berdiri di sana dengan bulu mata palsu yang sudah lepas sebelah dan gaun biru tua yang terlalu bagus untuk sebagian besar pekerjaan, di dapur yang lampunya cuma satu, dan aku mengambil kotak itu.

Tentu saja aku mengambilnya.


Aku menulis laporan mingguan untuk Mbak Vera di taksi pulang. Itu wajib. Setiap pendamping, setiap sesi, tiga kolom: lokasi, durasi, catatan.

Lokasi: Menara Kalyana 12B. Durasi: 19.00–21.00. Sesuai. Catatan:

Aku menatap kolom ketiga cukup lama sampai layar ponselku redup.

Ada tiga hal yang seharusnya ada di sana.

Satu: klien dan pendamping bertemu di luar jadwal, hari Selasa, tidak disengaja. Aturan 4 mewajibkan pelaporan. Kalimatnya bahkan sudah ada di kepalaku: Termasuk pertemuan yang tidak disengaja. Laporkan.

Dua: klien mengantar pendamping berjalan kaki sekitar tujuh menit.

Tiga: pendamping menerima barang di luar tarif. Dua kali.

Aku mengetik:

Catatan: Tidak ada.

Dan aku menekan kirim.

Lalu aku memasukkan ponsel ke dalam tas, di sebelah kotak kaca yang masih hangat di dasar tas itu, dan aku menatap ke luar jendela taksi selama sisa perjalanan.

Tiga tahun aku tidak pernah berbohong ke Mbak Vera.

Bahkan bukan bohong yang besar. Bohong yang bisa dibela, bohong yang kalau ketahuan pun paling cuma dapat teguran, bohong yang kualasan dengan lagipula tidak ada yang dirugikan.

Yang membuatku tidak tidur malam itu bukan bohongnya.

Yang membuatku tidak tidur adalah betapa cepatnya aku memutuskan.