← Apartemen 12B

Chapter Thirty One

Seratus Tiga Pertanyaan

POV: Danan


Dia memutuskannya di dapur rumah kontrakan yang catnya hijau, hari Sabtu ketiga, sambil memotong bawang bombai dengan claw grip yang sudah benar.

“Bongkar aja,” katanya.

Saya berhenti mengaduk.

“Apa?”

“Apartemen kamu.” Dia tidak mengangkat wajah dari talenan. “Bongkar. Rombak. Apa pun istilahnya.”

“Kiara—“

“Aku udah mikir tiga minggu, Danan. Aku nggak asal ngomong.”

Dia meletakkan pisaunya dan berbalik, dan bersandar ke konter dapur yang ubinnya sudah retak di dua tempat, dan menatap saya.

“Aku nggak mau kamu jual,” katanya. “Itu rumah kamu. Kamu ngerancang itu satu setengah tahun dan itu bagus, dan aku nggak akan pernah minta orang buang sesuatu yang bagus gara-gara aku nggak nyaman.”

“Tapi kamu tidak bisa masuk.”

“Iya. Karena semua yang ada di dalem situ dipilih sama satu orang, buat orang lain, delapan tahun lalu.” Dia mengangkat bahu. “Dan aku dateng ke sana tiga puluh satu kali sebagai orang yang dibayar.”

Dia menatap saya.

“Jadi kita ubah,” katanya. “Berdua.”


Saya perlu menjelaskan apa yang terjadi di dalam badan saya ketika dia mengucapkan kata berdua.

Sebelas tahun saya merancang rumah untuk orang lain. Prosesnya selalu sama: klien memberi brief, saya datang ke rumah lama mereka, saya melihat, saya menyimpulkan, saya menggambar, saya menyerahkan. Klien bilang ini kok kayak yang ada di kepala saya, ya.

Itu pujian, dan saya selalu menerimanya sebagai pujian, selama sebelas tahun.

Sekarang saya tahu apa isi kalimat itu.

Isinya adalah: saya tidak tahu apa yang saya mau, dan Anda mengisinya, dan hasilnya benar, dan saya tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa itu bukan milik saya.

Saya berdiri di dapur rumah kontrakan itu dengan sendok kayu di tangan dan menyadari bahwa saya belum pernah sekali pun, dalam sebelas tahun, merancang sesuatu bersama siapa pun.

“Baik,” kata saya.

“Danan.”

“Ya sudah,” saya membetulkan. “Kita rombak.”


Saya menyiapkannya semalaman.

Saya perlu menuliskan itu karena saya akan menyalahkan diri saya sendiri untuk bagian berikutnya, dan saya ingin jelas bahwa saya mengerjakannya dengan niat yang benar.

Saya membuat daftar keputusan.

Setiap keputusan yang harus diambil dalam perombakan unit 12B, dari yang besar sampai yang kecil, disusun berurutan dari yang paling berdampak ke yang paling tidak berdampak, dengan opsi-opsinya.

Seratus tiga butir.

Saya mencetaknya. Empat halaman, dua sisi.

Hari Minggu saya membawanya ke rumah kontrakan itu, dan saya menaruhnya di meja makan yang catnya mengelupas di satu sudut, dan saya bilang:

“Saya tidak akan memutuskan satu pun dari ini sendirian.”

Kiara membaca halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Lalu dia menaruhnya dan menatap saya dengan wajah yang saya baca sebagai terharu, dan saya duduk di sana merasa cukup puas dengan diri saya sendiri selama kira-kira empat detik.

“Danan,” katanya.

“Ya.”

“Ini lebih parah.”


“Lebih parah?”

“Kamu bikin aku ujian seratus tiga soal.” Dia mendorong kertas itu menjauh dengan dua jari. “Aku nggak bisa jawab satu pun.”

“Kamu tidak harus menjawab semuanya sekarang—“

“Danan. Nomor satu.” Dia menariknya kembali dan membacanya keras-keras. “Tata ruang: (a) pertahankan sumbu jendela, (b) putar sembilan puluh derajat, (c) buka sekat dapur.

Dia mengangkat wajah.

“Aku nggak tau apa artinya sumbu jendela.”

“Itu artinya—“

“Aku nggak nanya artinya!” Dia tertawa, dan tawanya patah di tengah. “Aku ngomong bahwa aku nggak punya pendapat, dan kamu ngasih aku empat halaman tempat aku harus punya pendapat seratus tiga kali.”

Saya duduk di kursi plastik itu dan tidak bisa mengatakan apa pun.

“Kamu ngerti nggak?” katanya, lebih pelan. “Kamu nggak lagi nanya aku. Kamu lagi ngasih aku formulir.”

Dan itu betul.

Itu betul sekali sehingga saya harus meletakkan kedua tangan di meja.

Saya sudah mengubah bentuknya. Saya berhenti mengisi jawabannya sendiri. Tapi saya masih menyusun seluruh pertanyaannya, saya masih menentukan urutannya, saya masih menentukan opsi mana yang boleh ada di dalam kotak.

Saya cuma memindahkan pekerjaan menebak ke pundak dia dan menyebutnya bertanya.

“Maaf,” kata saya.

“Kamu nggak salah.”

“Saya salah.”

“Ya, kamu salah,” katanya, “tapi kamu salahnya sambil bikin empat halaman semaleman, jadi aku nggak bisa marah dan itu nyebelin banget.”


Kami memulainya lagi hari Rabu.

Bukan dengan daftar.

Kiara yang mengusulkan caranya, dan caranya sangat tidak efisien, dan saya menyetujuinya karena saya sudah belajar sekitar tiga persen.

Satu benda per hari.

Satu.

Kami akan berdiri di depan satu benda di unit 12B, dan dia akan mengatakan apakah dia menyukainya, dan kalau dia tidak tahu, kami akan berhenti dan tidak melanjutkan sampai dia tahu.

“Ini bakal makan waktu setahun,” kata saya.

“Iya.”

“Kiara, ada dua ratus enam belas benda di unit itu. Saya sudah menghitungnya.”

“Tentu aja kamu udah ngitung.”

“Dua ratus enam belas hari itu—“

“Danan.” Dia menoleh. “Kamu buru-buru?”

Saya berhenti.

“Tidak,” kata saya.

“Ya udah.”


Hari pertama: bangku jendela.

Dia duduk di sana selama sekitar sepuluh menit tanpa mengatakan apa-apa.

“Ini seratus empat puluh senti,” katanya akhirnya.

“Ya.”

“Buat dua orang duduk sandaran berlawanan, kaki nyilang di tengah.”

“Ya.”

Dia menarik lututnya ke atas bangku, menyandarkan punggung ke satu sisi, dan meluruskan kaki.

Dan menatap saya.

“Duduk,” katanya.

Saya duduk di sisi seberang, dan menyandarkan punggung, dan kaki kami bersilang di tengah, dan itu pas — persis pas, seperti yang saya ukur delapan tahun lalu dengan bantal dan meteran di apartemen lama, dua kali, di malam yang berbeda.

Kami duduk seperti itu selama mungkin dua puluh menit tanpa mengatakan apa pun.

“Aku suka,” katanya akhirnya.

“Kamu yakin?”

“Danan, aku duduk di sini dua puluh menit sambil mikir. Aku yakin.”

Saya menuliskannya di buku catatan.

1. Bangku jendela — tetap. (K)

Huruf K di ujungnya. Itu penting. Saya membuat kolomnya semalam sebelumnya: setiap keputusan diberi tanda siapa yang memutuskan.

Hari kedua: rak sepatu.

“Ini dua kolom.”

“Ya.”

“Yang satu kosong dari kapan?”

Saya tidak menjawab.

Kiara berlutut di depan rak itu dan menyentuh kolom yang kosong dengan punggung jari.

“Ganti,” katanya.

“Ganti jadi satu kolom?”

“Ganti jadi tiga.”

Saya menoleh.

“Tiga?”

“Iya. Tiga.” Dia berdiri dan menepuk lututnya. “Dua itu artinya pas-pasan. Kalau tiga, artinya ada yang nginep, atau ada yang mampir, atau Mbah Sri dateng dan sepatunya nggak usah ditaruh di lantai.”

Saya menuliskannya.

2. Rak sepatu — ganti, 3 kolom. (K)

Dan saya menatap huruf K itu terlalu lama, dan Kiara memergoki saya, dan tidak mengatakan apa-apa tapi menepuk bahu saya sekali waktu lewat.


Hari kesembilan: cermin.

Tidak ada cermin di unit 12B. Cerminnya ada di apartemen yang lain, delapan tahun lalu, dalam cerita yang berbeda.

Kiara berdiri di lorong pendek antara ruang tengah dan kamar dan berkata, “Di sini kosong banget.”

“Ya.”

“Kenapa nggak dikasih apa-apa?”

Saya berdiri di ujung lorong itu.

“Karena saya pernah memasang cermin sepanjang lorong di tempat lain,” kata saya, “untuk seseorang yang bilang dia takut hilang.”

Kiara berbalik.

Saya belum pernah menceritakan yang ketiga kepadanya. Saya menceritakan dapur dan ruang kerja di mulut gang malam itu, dan berhenti.

Dia berjalan ke arah saya dan berdiri di depan saya dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

“Danan.”

“Ya.”

“Aku mau di sini ada foto.”

“Foto apa?”

“Nggak tau,” katanya. “Belum ada. Kita belum punya.”

Dan lalu dia berkata, dengan nada yang sepenuhnya biasa, sambil sudah berjalan lagi ke arah dapur:

“Nanti aja pas udah ada.”

Saya berdiri di lorong pendek itu selama kira-kira dua puluh detik setelah dia pergi.

Nanti aja pas udah ada.

Ada seseorang yang membicarakan masa depan di dalam rumah saya seolah masa depan itu benda biasa yang bisa ditunggu.


Hari keempat belas: meja makan.

Ini yang saya takutkan sejak awal.

Kami berdiri di depannya cukup lama. Jati bekas, dua meter sepuluh, dua kursi, delapan puluh sentimeter antarpinggiran.

“Kursi ini,” katanya.

“Ya.”

“Ini kursi aku.”

“Ya.”

“Tiga puluh satu kali.”

“Ya.”

Dia memegang sandarannya dengan kedua tangan.

“Buang,” katanya.

Saya menatapnya.

“Kursinya doang,” katanya cepat. “Mejanya jangan. Mejanya bagus, mejanya jati bekas, mejanya nggak salah apa-apa.”

Dia menarik napas.

“Tapi kursi ini aku duduk tiap Rabu jam tujuh sampe sembilan dan aku dibayar buat itu, dan aku nggak akan pernah bisa duduk di situ tanpa ngitung.”

“Baik,” kata saya.

Dan lalu, karena saya sedang belajar, dan karena saya sudah salah dua kali dalam sebulan terakhir dengan cara yang persis sama:

“Kamu mau gantinya kursi seperti apa?”

Kiara membuka mulut.

Dan menutupnya.

Dan berdiri di sana dengan kedua tangan di sandaran kursi itu selama sekitar sepuluh detik.

“Aku nggak tau,” katanya.

Saya menunggu.

Saya tidak mengatakan apa-apa. Saya tidak menyebutkan satu pun jenis kayu, satu pun tinggi dudukan, satu pun toko. Saya berdiri di ruang makan saya sendiri dengan mulut tertutup dan tangan di sisi badan, dan menunggu.

Dua puluh detik.

Tiga puluh.

“Danan, kamu boleh ngomong.”

“Tidak.”

“Aku serius, ini canggung banget.”

“Iya,” kata saya. “Sangat.”

Dan dia tertawa — dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa sampai bahunya bergetar, dan saya berdiri di sana dengan kedua tangan di sisi badan dan tidak mengisi apa pun.

“Yang ada tangannya,” katanya dari balik telapak tangan.

“Apa?”

“Kursinya. Yang ada sandaran tangannya.” Dia menurunkan tangan, dan matanya basah, dan dia tersenyum dengan cara yang membuat saya harus melihat ke arah lain sebentar. “Aku nggak pernah duduk di kursi yang ada sandaran tangannya kalau lagi kerja. Nggak pernah, Danan. Nggak sekali pun. Karena kalau ada sandaran tangan, kamu duduknya kayak orang yang emang tinggal di situ.”

Saya menuliskannya.

14. Kursi kedua — ganti. Bersandaran tangan. (K)


Malam itu dia pulang jam sebelas.

Saya mengantarnya ke bawah, ke lobi, dan satpam mengangguk seperti biasa, dan di depan pintu kaca dia berhenti.

“Danan.”

“Ya.”

“Aku ke sini lagi besok.”

“Baik.” Saya berhenti. “Ya sudah. Sampai besok.”

Dia sudah setengah keluar waktu dia berbalik.

“Eh.”

“Ya.”

Dan dia berkata — dengan nada yang benar-benar biasa, sambil membetulkan tali tasnya, sambil setengah berbalik, tanpa menyadari apa yang baru saja dia lakukan:

“Besok aku bawa baju. Kayaknya bakal lama. Nggak apa-apa kan kalau aku mandi di sini?”

“Tidak apa-apa.”

“Oke. Aku pulang dulu.”

Pintu kaca itu menutup.

Saya berdiri di lobi Menara Kalyana jam sebelas lewat malam, di lantai marmer yang memantulkan langkah terlalu keras, dan mengulang kalimat itu di kepala saya tiga kali.

Aku pulang dulu.

Dari sini.

Ke sana.

Saya naik lift ke lantai dua belas, dan masuk ke unit 12B, dan berdiri di ruang tengah yang sekarang punya rak sepatu tiga kolom dan satu kursi kosong yang menunggu diganti.

Dan saya membuka buku catatan, dan di halaman baru, di baris paling atas, saya menulis:

Tanyakan: dia mau taruh sikat giginya di mana.

Lalu saya menutup bukunya sebelum sempat menuliskan opsi (a), (b), dan (c).