Chapter Eighteen
Data
POV: Danan
Ada pola.
Saya menemukannya hari Sabtu pagi, di meja kerja, dengan buku catatan proyek terbuka di halaman kosong dan kopi yang sudah dingin di sebelah kiri.
Saya menuliskannya seperti saya menuliskan temuan survei lapangan, karena itu satu-satunya cara saya tahu untuk berpikir jernih tentang sesuatu.
Pengamatan — 6 minggu terakhir
- Pakaian berubah. Lebih formal, lebih baru. Tiga dari enam Rabu memakai sesuatu yang jelas belum pernah dipakai (lipatan setrika masih ada di dua kesempatan).
- Posisi duduk berubah. Menggeser kursi 30 cm, satu kali. Tidak kembali ke posisi semula minggu berikutnya, tapi tidak menggeser lagi.
- Frekuensi komunikasi di luar jadwal meningkat. Dari 0 menjadi rata-rata 2x/minggu.
- Mulai mengajukan pertanyaan hipotetis. (“Kalau aku bukan pekerjaan...”)
- Meminta diajari keterampilan baru.
- Menolak dua kali ketika ditawari makanan tambahan, lalu tetap mengambil.
- Datang lebih awal. Rata-rata 6 menit sebelum jadwal, dari sebelumnya 2 menit.
Saya menatap daftar itu cukup lama.
Lalu saya menuliskan kesimpulannya, dan saya menuliskannya dengan yakin, karena saya sudah melihat pola ini sebelumnya — bukan sekali, tapi belasan kali, selama sebelas tahun bekerja dengan klien.
Kesimpulan: Dia akan mengakhiri kontrak.
Saya akan menjelaskan kenapa itu masuk akal, karena kalau tidak, saya akan terdengar seperti orang yang sengaja bodoh.
Ketika sebuah klien akan memutus kontrak dengan firma, mereka tidak mengumumkannya. Mereka melakukan tujuh hal lebih dulu.
Mereka jadi lebih ramah. Mereka mulai berpakaian lebih rapi untuk pertemuan yang biasanya santai. Mereka mengirim pesan di luar jam kerja, hal-hal kecil, membangun sesuatu yang enak sebelum menyampaikan sesuatu yang tidak enak. Mereka mengajukan pertanyaan hipotetis — kalau misalnya proyeknya ditunda, gimana ya — untuk mengukur reaksi Anda sebelum menyampaikan yang sebenarnya.
Mereka datang lebih awal, karena orang yang membawa kabar buruk selalu datang lebih awal.
Saya sudah kehilangan empat klien dalam sebelas tahun. Semuanya menunjukkan minimal lima dari tujuh gejala di daftar itu.
Kiara menunjukkan tujuh dari tujuh.
Dia akan berhenti.
Yang tidak saya tulis di buku catatan itu, karena tidak ada kolomnya, adalah bahwa saya duduk di meja kerja itu selama empat puluh menit setelah menuliskan kesimpulannya dan tidak melakukan apa-apa.
Empat puluh menit. Kopi dingin. Halaman terbuka.
Saya sudah kehilangan empat klien dalam sebelas tahun dan tidak satu pun dari itu membuat saya duduk seperti itu.
“Naikin bayarannya,” kata Bimo.
Ini hari Senin, di ruangan saya, dengan pintu tertutup. Saya menceritakan daftar itu kepadanya — tidak semuanya, tujuh butirnya saja, dan kesimpulannya.
“Itu yang gua pikirin.”
“Gua nggak lagi ngasih saran.” Bimo bersandar. “Gua lagi nebak apa yang lo pikirin. Dan gua bener, kan?”
Saya tidak menjawab.
“Nan.”
“Ada dua opsi.” Saya membuka laptop. “Satu, naikkan tarif dua puluh persen lewat agensi. Dua, perpanjang kontrak ke enam bulan di muka, dengan tarif yang sama tapi kepastian lebih panjang. Yang kedua lebih menguntungkan buat dia dari sisi arus kas.”
“Nan.”
“Yang kedua lebih baik. Dia punya beban finansial.” Saya sudah mengetik. “Enam bulan di muka itu—“
“NAN.”
Saya mengangkat wajah.
Bimo sedang menatap saya dengan wajah yang saya kenal betul, karena dia sudah memakainya tiga kali dalam tiga bulan terakhir, dan setiap kali dia memakainya saya berakhir dengan tidak bisa tidur.
“Lo denger nggak sih diri lo sendiri?”
“Gua lagi nyari solusi.”
“Lo lagi nyari harga,” katanya. “Ada bedanya.”
“Bim—“
“Perempuan itu ganti baju tiap minggu, geser kursi, ngirim pesen jam sembilan malem, minta diajarin masak, dan nanya ke lo kalau aku bukan pekerjaan kamu bakal ngapain—“
“Gua nggak pernah bilang dia nanya itu.”
“Lo nulis di daftar lo, Nan. Butir empat. Lo kasih liat gua tadi.”
Saya menutup laptop.
Ruangan itu sangat hening selama beberapa saat. Di luar ada suara printer dan seseorang tertawa di pantry.
“Nan,” kata Bimo, lebih pelan. “Ada kemungkinan lain.”
“Gua tau kemungkinan lain.”
Dia berhenti.
“Lo tau?”
“Gua tau,” kata saya.
Dan saya melihat wajah Bimo berubah — bukan lega, tapi sesuatu yang lebih hati-hati, seperti orang yang baru sadar dia sedang berdiri di lantai yang mungkin bolong.
“Terus kenapa lo nggak—“
“Karena gua pernah salah baca.”
Kalimat itu keluar lebih rata daripada yang saya rencanakan.
“Gua baca satu orang selama tiga tahun,” kata saya. “Gua baca rumahnya, gua baca cara dia naruh sepatu, gua baca sisi ranjang mana yang lebih kusut. Gua ngukur bangku jendela pakai bantal, dua kali, malem yang beda, karena gua pikir gua tau persis gimana caranya dia duduk.”
Bimo tidak bergerak.
“Gua yakin banget, Bim. Gua nggak pernah seyakin itu soal apa pun seumur hidup gua.”
“Nan—“
“Dan gua salah.” Saya membuka laptop lagi. “Bukan salah dikit. Salah dari awal sampe akhir, selama satu setengah taun, tanpa gua sadar sekali pun.”
Saya mulai mengetik.
“Jadi enggak,” kata saya. “Gua nggak nebak lagi.”
“Terus kalo dia emang—“
“Kalau memang begitu, dia akan bilang.”
“Gimana kalo dia nggak bisa bilang?”
Saya berhenti mengetik.
“Kenapa dia nggak bisa bilang?” tanya saya.
Bimo membuka mulut. Menutupnya. Menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan, dari dahi sampai dagu.
“Karena dia dibayar, Nan,” katanya. “Karena lo yang bayar. Karena kalo dia salah baca lo, dia yang kehilangan kerjaan, bukan lo.”
Saya duduk di kursi saya sendiri, di ruangan saya sendiri, dan tidak punya jawaban untuk itu.
Tapi tidak punya jawaban bukan berarti berubah pikiran. Saya sudah lama tahu bedanya.
“Gua nggak akan nebak,” kata saya. “Kalau dia mau bilang sesuatu, gua bakal denger. Sampai itu terjadi, gua nggak akan ngasumsikan apa pun tentang orang lain lagi.”
Bimo berdiri.
Di pintu dia berhenti.
“Lo tau nggak, Nan, kadang gua mikir,” katanya, tanpa menoleh. “Ren nggak ninggalin lo karena lo salah baca dia.”
Saya mengangkat wajah.
“Terus?”
Bimo membuka pintu.
“Nggak,” katanya. “Lupain. Gua ngomong asal.”
Dia keluar.
Saya tidak jadi mengirim pengajuan perpanjangan kontrak.
Saya menutup formulirnya hari Selasa malam, setelah membacanya ulang untuk keempat kalinya, dan alasannya sederhana: kalau dia memang akan berhenti, menaruh uang enam bulan di depannya adalah cara paling buruk untuk membiarkan seseorang pergi.
Itu bukan menawarkan. Itu memasang harga di pintu keluar.
Saya sudah cukup sering melakukan hal seperti itu tanpa sadar. Saya mulai mengenali bentuknya.
Jadi yang saya putuskan adalah ini: saya tidak akan menawarkan apa-apa, tidak akan menaikkan apa-apa, tidak akan bertanya apa-apa.
Saya akan membayar utang saya, dan kemudian saya akan menunggu.
Utang saya adalah dua kata.
Lain kali.
Saya mengucapkannya di atap gedung ini, malam listrik padam, setelah berhenti di tengah kalimat dengan kata Sabtu menggantung di udara. Dia menunggu dua puluh detik dan tidak memaksa dan tidak bertanya lagi, dan lalu — untuk membayar sesuatu yang tidak dia utang sama sekali — dia bercerita tentang ayahnya yang meninggal di warung sambil ngopi dan tanda tangan untuk teman SD yang lalu menghilang.
Dia memberi sesuatu yang tidak ada di dalam kontrak, dan saya membalasnya dengan kata lain kali.
Saya tidak suka punya utang.
Rabu ini yang ketiga puluh satu. Saya menghitungnya, karena saya menghitung semuanya.
Menunya sudah saya tentukan sejak Minggu: nasi liwet, ayam suwir, dan sambal cabai hijau. Bukan masakan berat. Sengaja. Saya tidak ingin dia harus berkonsentrasi pada makanan.
Saya akan menceritakannya setelah dia selesai makan, bukan sebelum, supaya kalau dia ingin pulang lebih cepat setelah mendengarnya, dia bisa pulang lebih cepat.
Saya sudah menyusun urutannya. Saya bahkan sudah mengukur panjangnya di kepala — sekitar empat menit kalau disampaikan tanpa jeda yang tidak perlu.
Bangun jam empat. Setelan abu-abu di pintu lemari. Ibu saya dengan ponsel di telinga. Sebelas panggilan. Tiga kata. Empat puluh menit di ruang tunggu pengantin. Sambungan wallpaper yang tidak rata dua milimeter di sudut kanan atas.
Seratus dua puluh orang.
Makanannya sudah tersedia di belakang. Silakan dinikmati.
Empat menit. Selesai. Utang lunas.
Saya sudah memikirkan semuanya, dan yang saya pikirkan semuanya salah — bukan isinya, isinya benar semua — melainkan satu hal kecil yang tidak masuk ke dalam perhitungan mana pun.
Saya tidak pernah memperhitungkan bagaimana rasanya bagi orang yang mendengarkan.
Saya sudah tiga tahun menceritakan hari itu kepada diri saya sendiri, dan bagi saya itu sudah jadi daftar. Fakta berurutan. Sesuatu yang bisa dibacakan.
Saya lupa bahwa bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya, itu bukan daftar.
Rabu, pukul sembilan belas. Saya menggulung lengan kemeja sampai siku, tiga lipatan, lebarnya sama.
Bel berbunyi jam tujuh kurang enam.
Enam menit lebih awal. Butir tujuh.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data reading
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa