Chapter Fifteen
Ibu Saya Datang Hari Rabu
POV: Danan
Ibu saya datang jam lima lewat sepuluh, hari Rabu, tanpa memberi tahu siapa pun.
Dia menekan bel tiga kali berturut-turut — itu caranya, sudah begitu sejak saya kecil, tiga kali cepat seperti orang yang membawa kabar buruk — lalu masuk sambil menyodorkan dua rantang.
“Ini opor. Ini sambel goreng ati.”
“Bu—“
“Ibu bikin banyak.”
Saya berdiri di pintu dengan dua rantang di tangan, memandangi punggung ibu saya yang sudah masuk ke ruang tengah dan sudah mulai membuka gorden.
Ibu saya berumur enam puluh dua tahun, tingginya seratus lima puluh empat sentimeter, dan telah membawakan saya makanan setiap kali berkunjung selama sebelas tahun terakhir, termasuk tiga tahun terakhir di mana saya secara harfiah memasak lebih baik daripada dia dan kami berdua tahu itu.
Saya tidak pernah mengatakannya. Dia juga tidak.
Rantang itu selalu saya habiskan.
“Kok rapi banget sih.”
“Saya tinggal sendiri, Bu.”
“Bukan rapi orang tinggal sendiri.” Dia menjalankan jarinya di atas rak. Memeriksa. Tidak menemukan apa-apa. “Rapi orang yang nggak tinggal di sini.”
Saya menaruh rantang di dapur dan tidak menjawab.
Ibu saya duduk di sofa, mengeluarkan ponselnya, dan mulai mencari sesuatu. Saya tahu apa yang akan terjadi berikutnya karena hal itu sudah terjadi enam kali dalam delapan bulan.
“Nan.”
“Ya.”
“Ini anaknya Bu Tatik. Yang dokter gigi itu.”
“Bu.”
“Umurnya dua puluh sembilan. Orangnya baik, Nan. Bukan yang macem-macem.” Dia menyodorkan ponselnya ke arah saya tanpa melihat apakah saya menerimanya. “Ibu udah cerita soal kamu.”
“Bu, saya lagi—“
“Kamu lagi apa? Kamu lagi apa, Nan?”
Saya berdiri di antara dapur dan ruang tengah dengan lap masih di tangan.
Ibu saya bukan orang jahat. Saya ingin mencatat itu sejelas mungkin. Dia tidak pernah sekali pun menyalahkan saya atas hari Sabtu itu. Dia yang berdiri di ujung ruangan dengan ponsel di telinga dan tangan menutupi mulut, dan dia juga yang ikut berdiri di depan seratus dua puluh orang, dan dia juga yang tiga bulan kemudian mengembalikan seluruh amplop yang sempat masuk, satu per satu, ke rumah masing-masing.
Yang dia tidak bisa lakukan adalah berhenti.
Dan yang tidak dia pahami adalah bahwa setiap kali dia menyodorkan ponsel itu, yang dia katakan bukan ayo lanjut hidup.
Yang dia katakan adalah sudah cukup lama, ganti saja.
Seperti orang yang menyuruh mengganti keramik yang retak. Padahal masalahnya bukan keramiknya.
“Bu,” kata saya. “Jam berapa sekarang?”
“Jam setengah enam. Kenapa?”
“Nanti jam tujuh saya ada tamu.”
Ibu saya mengangkat wajah dari ponselnya.
Dan saya melihat, dalam waktu nyata, seluruh mesin di dalam kepala perempuan itu menyala sekaligus.
“Tamu.”
“Ya.”
“Tamu apa?”
“Bu—“
“Tamu apa, Nan?”
“Makan malam.”
Ibu saya menaruh ponselnya di pangkuan.
Lalu dia bersandar ke sofa, melipat tangan, dan berkata dengan suara yang tenang sekali:
“Ibu nunggu.”
Saya punya waktu delapan puluh lima menit dan tiga pilihan.
Satu: mengatakan yang sebenarnya. Bu, saya membayar seorang perempuan lewat agensi untuk datang setiap Rabu dan memakan masakan saya selama dua jam.
Saya mempertimbangkannya selama mungkin empat detik. Bukan karena malu — saya sudah lama tidak punya kapasitas untuk malu — tapi karena saya bisa membayangkan dengan sangat jelas apa yang akan dilakukan ibu saya dengan informasi itu, dan sebagian besar dari yang saya bayangkan berakhir dengan seseorang menangis di dapur saya.
Dua: menyuruh ibu saya pulang.
Saya sudah mencoba itu tiga kali seumur hidup. Rekor saya nol dari tiga.
Tiga: menelepon Kiara dan membatalkan.
Saya mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi agensi dan menemukan tombol Batalkan Sesi dan meletakkan ibu jari di atasnya.
Dan tidak menekannya.
Saya berdiri di dapur saya sendiri selama mungkin dua puluh detik dengan ibu jari melayang di atas layar, dan alasan saya tidak menekannya bukan alasan yang bisa saya jelaskan kepada siapa pun, termasuk kepada diri saya sendiri.
Saya memasukkan ponsel ke saku dan mulai memotong bawang.
Bel berbunyi jam tujuh kurang dua.
Saya membuka pintu.
Kiara berdiri di sana dengan gaun warna krem, rambut tergerai, dan senyum yang sudah siap — dan saya melihat senyum itu berubah dalam waktu kurang dari setengah detik ketika matanya menangkap sesuatu di belakang bahu saya.
“Ada ibu saya,” kata saya pelan.
Saya sudah menyiapkan kalimat berikutnya. Maaf. Saya akan tetap membayar penuh. Anda boleh pulang.
Kiara melangkah masuk.
“Selamat malam, Tante,” katanya.
Dan dalam empat puluh detik berikutnya, saya menonton sesuatu yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya.
Dia menyapa ibu saya dengan dua tangan, sedikit menunduk, cukup dalam untuk sopan dan tidak cukup dalam untuk canggung.
Dia menyebutkan namanya, lalu langsung menyebutkan sesuatu tentang rantang di meja — ”wah ini opor ya, Tante? Baunya sampai depan” — yang membuat ibu saya, yang tadinya sedang menyipitkan mata seperti orang memeriksa timbangan pasar, langsung melunak sekitar tiga puluh persen.
Dia duduk di kursi yang lebih rendah. Bukan sofa. Kursi kayu di sisi, yang membuat posisinya sedikit di bawah ibu saya.
Dia bertanya, dan bertanya lagi, dan bertanya lagi. Semuanya pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan satu kata. Berapa lama masak oporny.a Kenapa pakai kemiri sangrai. Apakah resepnya dari orang tua ibu saya.
Ibu saya bicara selama dua puluh menit tanpa berhenti.
Saya berdiri di dapur, membalik ikan, dan menonton.
Dan yang membuat saya tidak bisa memalingkan wajah bukan karena dia melakukannya dengan baik.
Karena dia melakukannya dengan sempurna.
Tidak ada satu pun jeda yang salah. Tidak ada satu pun tawa yang keluar terlalu cepat atau terlalu keras. Ketika ibu saya menyebut sesuatu tentang almarhum ayah saya, Kiara diam persis tiga detik sebelum menjawab — tiga detik, jumlah yang tepat, jumlah yang membuat orang merasa didengarkan tanpa membuat suasana jadi berat.
Saya menghitung tiga detik itu dengan tangan saya sendiri masih memegang capit ikan.
Dan pikiran yang masuk ke kepala saya adalah:
Saya belum pernah melihat dia bekerja.
Sembilan Rabu. Satu Selasa. Satu Minggu di pasar. Satu malam Jumat di depan rak tepung.
Dan tidak sekali pun saya melihat dia melakukan hal yang sebenarnya dia dibayar untuk melakukannya.
“Kenal dari mana?” tanya ibu saya.
Saya menaruh piring di meja.
Kiara tidak menjawab. Dia menoleh ke arah saya — cepat, setengah detik, dengan mata yang sepenuhnya kosong dari ekspresi apa pun — dan menyerahkan pertanyaan itu kepada saya.
Karena itu bukan pertanyaannya. Itu pertanyaan saya.
“Teman,” kata saya.
Satu kata. Keluar tanpa jeda, tanpa gugup, dengan nada yang sama seperti saya menyebutkan suhu oven.
Ibu saya menatap saya.
Lalu dia menatap Kiara.
Lalu wajahnya berubah dengan cara yang membuat perut saya jatuh, karena wajahnya berubah menjadi lega — lega yang sangat besar, yang jelas-jelas sudah ditahan berbulan-bulan, yang membuat matanya berair sedikit sebelum dia menutupinya dengan pura-pura mencari sesuatu di tas.
“Oh,” katanya. “Teman.”
“Ya.”
“Ya. Teman.” Dia mengangguk-angguk. “Ya, ya.”
Dan dia tidak bertanya lagi.
Selama satu setengah jam berikutnya dia tidak sekali pun menyebut anaknya Bu Tatik, tidak sekali pun mengeluarkan ponselnya, dan tiga kali menyendokkan opor ke piring Kiara sambil bilang “ayo dimakan, jangan malu-malu” dengan nada yang selama tiga tahun terakhir tidak pernah saya dengar dari mulutnya.
Saya berbohong dengan satu kata dan mendapatkan satu setengah jam ketenangan.
Itu bagian yang tidak bisa saya lupakan.
Bukan bahwa saya berbohong. Bahwa itu semudah itu.
Ibu saya pulang jam sembilan kurang seperempat, setelah memeluk Kiara dua kali dan menyuruhnya membawa pulang rantang opornya.
Pintu tertutup.
Kami berdua berdiri di ruang tengah yang tiba-tiba jadi sangat sunyi.
Kiara masih memegang rantang itu.
“Maaf,” katanya.
Saya menoleh.
“Kenapa Anda minta maaf?”
“Aku ambil alih. Aku nggak nanya dulu.” Suaranya berbeda. Lebih cepat, lebih tajam, lebih rendah. Suara yang saya dengar di lorong bumbu dan di atap. “Aku masuk terus langsung jalan aja gitu, padahal itu ibu kamu. Itu bukan—“
“Anda melakukan pekerjaan Anda.”
Saya mengatakannya untuk membebaskannya.
Saya bersumpah, dan saya sudah memikirkan kalimat itu ribuan kali sejak malam itu, bahwa saya mengatakannya untuk membebaskannya. Untuk mengatakan: tidak ada yang perlu dimaafkan, tidak ada yang berutang, semuanya sudah dibayar dan tidak ada sisa.
Kiara berhenti bicara.
Wajahnya tidak berubah banyak. Saya perlu menekankan itu — dia terlalu terlatih untuk membuat wajahnya berubah banyak.
Yang berubah cuma tangannya. Pegangannya pada rantang itu berpindah, dari samping ke bawah, dan dia menariknya sedikit lebih dekat ke badannya.
“Iya,” katanya.
“Kiara—“
“Aku pulang ya.”
“Sesinya masih empat puluh menit.”
“Aku tau.” Dia sudah di pintu. “Aku pulang.”
Dan dia pulang, dengan rantang opor ibu saya di tangan, dan saya berdiri di ruang tengah dengan meja yang masih penuh.
Saya membereskannya sendiri malam itu.
Mencuci piring. Mengelap meja. Mematikan lampu sampai tinggal satu di atas konter.
Dan saya berdiri di depan wastafel yang sudah kosong selama waktu yang cukup lama, memikirkan bukan kalimat terakhir saya — meskipun saya tahu kalimat itu salah, saya tahu sejak dua detik setelah mengucapkannya —
tapi memikirkan tiga detik.
Tiga detik jeda sebelum menjawab. Jumlah yang tepat. Jumlah yang membuat orang merasa didengarkan.
Saya memikirkan malam Jumat di depan rak tepung. Saya memikirkan atap gedung dan setengah kota yang mati lampu dan seorang perempuan yang bercerita tentang ayahnya yang tidak pernah bisa bilang tidak.
Saya memikirkan tangan yang saya ulurkan di tangga darurat lantai lima belas, dan tiga anak tangga.
Dan saya memikirkan satu pertanyaan, yang datang tanpa saya undang, dan yang saya tolak untuk selesaikan sampai ke ujungnya:
Kalau dia sebaik itu, bagaimana saya bisa tahu—
Saya mematikan lampu terakhir.
Saya tidak menyelesaikan pertanyaan itu malam itu.
Saya menyelesaikannya lima minggu kemudian, jam enam pagi, dengan ibu jari di atas layar ponsel dan kolom keterangan transfer yang menunggu diisi.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu reading
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa