Chapter Twenty One
Enam Belas Karakter
POV: Kiara
Notifikasi pertama masuk jam enam lewat dua.
BCA — Dana masuk Rp [ ] dari DANAN PRAKOSO. Ket: penyesuaian layanan
Notifikasi kedua masuk jam enam lewat empat.
Beranda — Sesi Rabu, 19.00 telah dibatalkan oleh klien.
Pesan dari klien: Saya rasa Anda butuh jarak. Terima kasih untuk semuanya.
Aku membaca keduanya sambil setengah duduk di kasur, dengan mata yang baru satu jam terpejam, dan otak yang butuh waktu sekitar delapan detik untuk menyusun apa yang barusan terjadi.
Lalu aku mengerti.
Lalu aku pergi ke kamar mandi dan muntah.
Aku tahu persis apa yang terjadi, karena aku sudah tiga tahun bekerja di pekerjaan ini dan aku tahu bentuk-bentuknya.
Seseorang melakukan sesuatu kepada orang lain tanpa izin.
Orang yang menerimanya tidak mau meributkannya, tidak mau melaporkannya, tidak mau membuat siapa pun kehilangan pekerjaan.
Jadi dia menyelesaikannya dengan cara yang paling bersih, paling sopan, paling tidak menyisakan jejak: dia membayar penuh, dia menutup jadwalnya, dan dia menulis satu kalimat yang menyalahkan situasi dan bukan orangnya.
Saya rasa Anda butuh jarak.
Bahkan di kalimat itu dia melindungiku. Bahkan di sana. Dia menulis seolah akulah yang membutuhkan sesuatu, supaya tidak ada satu pun kata yang bisa dipakai untuk menuduhku apa pun kalau seseorang di kantor Beranda membacanya.
Dan enam belas karakter itu.
penyesuaian layanan.
Aku duduk di lantai kamar mandi dengan punggung ke dinding dan membaca dua kata itu berulang-ulang.
Aku menciumnya di menit ke seratus tujuh dari seratus dua puluh menit yang sudah dia bayar.
Dan dia menghitung selisihnya, dan dia menutupnya, dan dia menyebutnya penyesuaian layanan.
Nadia menemukanku jam tujuh.
“Ra—“
“Jangan.”
“Lo di lantai.”
“Aku tau aku di lantai.”
Dia duduk di depanku, di ambang pintu kamar mandi, dan tidak menyentuhku, karena Nadia tahu.
Aku menyodorkan ponsel.
Dia membacanya. Dua kali. Aku bisa melihat matanya bergerak turun lalu naik lagi.
“Berapa?” tanyanya.
“Sembilan sesi. Plus.”
“Plus berapa?”
Aku menyebutkan angkanya.
Nadia diam.
“Itu lebih dari sembilan sesi, Ra.”
“Iya.”
“Itu jauh lebih dari sembilan sesi.”
“Iya.”
Nadia menaruh ponselku di lantai, pelan, layar menghadap ke bawah.
“Gua nggak ngerti,” katanya.
“Aku ngerti.”
“Ra—“
“Aku nyium dia, Nad.”
Suaraku keluar rata. Itu yang membuatku sadar aku sedang tidak baik-baik saja, karena suaraku rata dengan cara yang persis sama seperti suara Danan waktu menceritakan hari Sabtu itu.
“Aku nyium dia di jam kerja. Aku nggak nanya. Dia lagi cerita soal hal paling ancur di idupnya dan aku berdiri, aku muterin meja, dan aku nyium dia.”
Nadia tidak bergerak.
“Dan dia ngangkat tangannya,” kataku, “dan dia berhenti.”
“Ra.”
“Kamu tau apa artinya orang ngangkat tangan terus berhenti, Nad?”
“Ra, dengerin—“
“Aku ngelakuin ke dia,” kataku, “hal yang bikin aku ngunci diri di kamar mandi hotel di Kuningan jam dua pagi empat tahun lalu.”
Dan lalu aku menangis.
Aku tidak keluar kamar selama dua hari.
Mbah Sri mengira aku sakit. Aku membiarkannya mengira begitu. Dia membuatkan wedang jahe dua kali sehari dan menaruhnya di depan pintu dan mengetuk sekali lalu pergi, karena perempuan itu tahu kapan orang butuh ditinggal.
Hari ketiga aku membuka aplikasi Beranda dan melihat riwayat.
Klien: Danan Prakoso. Status: Tidak aktif.
Aku menatap dua kata itu cukup lama.
Lalu aku menggulung ke bawah, ke riwayat sesi, dan menghitung.
Tiga puluh satu.
Tiga puluh satu Rabu, dari Rabu pertama waktu aku duduk di kursi menghadap dapur dan berpikir ah, ini aku paham, ini bahasa yang aku bisa.
Aku menutup aplikasinya.
Dan aku tidak menangis lagi setelah itu, sampai berminggu-minggu kemudian, dan ketika akhirnya menangis itu untuk alasan yang berbeda.
Mbak Vera menelepon hari Senin.
“Ke kantor.”
“Mbak, aku lagi—“
“Kiara.” Suaranya bukan suara yang biasa. “Ke kantor.”
Kantor Beranda hari Senin siang. Kursi tunggu yang salah satu kakinya lebih pendek. Pot lidah mertua yang selalu terlihat baru disiram.
Mbak Vera tidak menyuruhku masuk ke ruangan belakang. Dia duduk di kursi tunggu di sebelahku, yang belum pernah dia lakukan selama tiga tahun, dan menaruh map di pangkuannya tanpa membukanya.
“Ada transfer langsung ke rekening kamu,” katanya. “Dari klien. Di luar sistem.”
Aku menutup mata.
Tentu saja.
Aku lupa. Aku betul-betul lupa, selama lima hari, bahwa Beranda mewajibkan seluruh pendamping mendaftarkan rekening dan bahwa sistem menandai transfer masuk dari nama yang cocok dengan daftar klien.
Aturan dua. Bukan cuma aturan di dinding. Ada mekanismenya.
“Berapa lama kamu nggak lapor?” tanyanya.
“Lima hari.”
“Dan sebelum itu?”
Aku membuka mata.
“Mbak—“
“Kiara.” Dia masih menatap lurus ke depan, ke dinding, ke bingkai plastik dengan empat aturan dan sepuluh sentimeter ruang putih di bawahnya. “Aku dua belas tahun di HRD. Kamu tau berapa banyak laporan mingguan yang aku baca dalam dua belas tahun?”
Aku tidak menjawab.
“Kolom catatan kamu isinya ‘tidak ada’ selama sebelas minggu berturut-turut,” katanya. “Sebelas minggu, Ra. Kamu tiga tahun di sini dan kolom catatan kamu itu paling detail dari semua orang. Kamu pernah nulis tiga paragraf gara-gara klien nawarin taksi.”
Ada sesuatu yang naik ke tenggorokanku.
“Aku tau dari minggu keempat,” katanya.
“Terus kenapa Mbak diem?”
“Karena kamu dewasa,” katanya. “Dan karena selama nggak ada yang bahaya, itu urusan kamu.”
Dia menoleh untuk pertama kalinya.
“Sekarang ada yang bahaya.”
Aku menceritakan semuanya.
Aku tidak berencana. Aku duduk di kursi tunggu yang kakinya lebih pendek dan aku menceritakan seluruhnya kepada perempuan berumur empat puluh satu tahun dengan pensil di sanggulnya, dan itu memakan waktu sekitar empat puluh menit.
Kotak makan. Lorong bumbu. Pasar jam lima pagi. Halte, hujan, jaket yang tidak dia berikan karena aturan dua. Tepung. Atap gedung dan setengah kota yang mati lampu. Ibunya. Anda melakukan pekerjaan Anda. Tangan di atas tanganku di talenan. Rabu ketiga puluh satu. Empat menit. Sebelas panggilan. Tiga kata.
Menit ke seratus tujuh.
Mbak Vera mendengarkan tanpa memotong satu kali pun.
Ketika aku selesai, dia diam sekitar sepuluh detik.
Lalu dia berkata:
“Kamu pikir kamu ngelecehin dia.”
Aku mengangguk.
“Kamu pikir dia bayar kamu biar urusannya kelar tanpa harus lapor.”
Aku mengangguk lagi.
Mbak Vera menghela napas panjang. Lalu dia melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan: dia menaruh tangannya di lengan atasku, sebentar, lalu menariknya lagi.
“Ra,” katanya. “Aku mau kamu denger ini dari orang yang kerjanya baca laporan.”
“Iya.”
“Orang yang ngerasa dilecehin nggak nransfer uang lebih.”
Aku mengangkat wajah.
“Mereka nransfer sisa haknya, kalau mereka orang baik,” katanya. “Atau mereka nggak nransfer apa-apa, kalau mereka orang biasa. Atau mereka lapor, kalau mereka marah.”
Dia mengetuk map di pangkuannya.
“Nggak ada satu pun dari tiga itu yang bentuknya sembilan sesi plus tambahan yang jumlahnya kira-kira sama dengan dua bulan pemasukan kamu.”
Aku menatapnya.
“Itu bukan orang yang lagi nutup masalah, Ra,” katanya. “Itu orang yang lagi mastiin kamu nggak kelaparan.”
Aku berjalan pulang.
Bukan naik angkot. Berjalan, dari Tebet, entah berapa kilometer, dengan matahari jam dua siang di leher dan sandal yang salah untuk itu.
Karena kalau Mbak Vera benar, maka semuanya jadi lebih buruk.
Kalau dia marah, aku bisa menanggungnya. Kalau dia jijik, aku bisa menanggungnya. Aku sudah punya kerangka untuk itu; aku sudah tiga tahun punya kerangka untuk semua bentuk penolakan yang mungkin.
Tapi kalau Mbak Vera benar, maka yang terjadi adalah ini:
Laki-laki itu tidak marah.
Laki-laki itu duduk sendirian entah berapa jam, seperti dia selalu duduk sendirian, dan menghitung sesuatu, dan sampai pada kesimpulan bahwa cara paling benar untuk menangani seorang perempuan yang menciumnya adalah memastikan perempuan itu tidak kekurangan uang, lalu menyingkir.
Bukan karena dia tidak mau.
Karena dia tidak tahu caranya bertanya.
Aku berhenti di trotoar di suatu tempat di Menteng dan berdiri di sana cukup lama sampai ada tukang parkir bertanya apakah aku baik-baik saja.
Kenapa dia nggak nanya aja?
Sebelas panggilan telepon. Tiga kata. Tiga tahun tanpa satu pun pertanyaan.
Kalau seseorang berpikir saya pantas tahu alasannya, dia akan memberi tahu.
Dia mengatakan itu di meja jati dua meter sepuluh, dengan nada orang menyebutkan spesifikasi material, dan aku sudah tahu jawabannya sejak saat itu dan aku terlalu pengecut untuk mengucapkannya.
Dia tidak menganggap dirinya berhak bertanya.
Dan aku — aku yang menciumnya lalu lari tanpa satu kata pun, aku yang menutup pintu sebelum dia sempat meletakkan piringnya —
aku baru saja memberinya bukti kedua.
Aku pulang jam lima sore dengan kaki melepuh.
Aku duduk di kursi plastik yang catnya mengelupas, membuka aplikasi bank, dan menatap saldo yang jumlahnya lebih besar dari yang pernah kulihat di sana selama dua tahun terakhir.
Sembilan sesi. Plus dua bulan.
Rumah nenekku akan dilelang dalam lima puluh sembilan hari, dan uang itu adalah selisih antara punya kemungkinan dan tidak punya kemungkinan sama sekali.
Aku menatapnya sampai layarnya redup.
Lalu aku membuka menu transfer.
Aku mengetikkan nomor rekening yang ada di riwayat, memasukkan jumlahnya — seluruhnya, sampai rupiah terakhir — dan sampai di kolom keterangan.
Dua puluh empat karakter.
Aku duduk di dapur yang lampunya mati sebelah dengan ibu jari melayang di atas layar, dan aku mengerti — untuk pertama kalinya, dengan sangat jelas, dengan seluruh sisa kemampuan menerjemahkanku —
persis seperti apa rasanya duduk di depan kolom ini.
Aku menghapus jumlahnya.
Aku menutup aplikasinya.
Uang itu tidak akan kukirim lewat transfer. Kalau kukirim lewat transfer, dia akan menerimanya dan mencatatnya dan menutup arsipnya, dan itulah persis yang akan dia lakukan, karena itulah yang selalu dia lakukan.
Aku akan mengembalikannya sendiri.
Ke tangannya. Di depan pintunya. Sambil berdiri di sana dan memaksanya berdiri di sana juga, dan mengucapkan setiap kalimat yang seharusnya kuucapkan malam itu sebelum aku lari.
Aku menyusunnya selama tiga hari.
Aku menulisnya di kertas, mencoretnya, menulisnya lagi, sampai ada tujuh halaman di buku catatan bekas terjemahan yang isinya kalimat-kalimat yang tidak akan pernah kuucapkan satu pun.
Hari Rabu berikutnya, jam delapan malam, aku berdiri di koridor lantai dua belas.
Enam pintu. Jarak antarpintu jauh.
12A punya keset bergambar kucing dan sepasang sandal anak di luar. 12C punya kotak paket yang belum diambil sejak entah kapan.
12B tidak punya apa-apa.
Aku berdiri di depannya dengan amplop di tangan dan tujuh halaman kalimat di kepala, dan aku mengangkat tangan ke bel.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter reading
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa