← Apartemen 12B

Chapter Thirty Five

Tambahin Sesukamu

POV: Danan


Dia berangkat hari Minggu pagi, kereta jam tujuh.

Jadi malam Sabtu itu adalah malam terakhir, dan saya menghabiskan tiga hari memutuskan apa yang akan saya masak, yang mana adalah waktu terlama yang pernah saya habiskan untuk satu menu seumur hidup saya.

Saya membuang enam belas kandidat.

Yang saya pilih adalah ini:

Ayam bakar bumbu kuning. Tumis buncis. Sup bening bayam.

Menu Rabu pertama. Tiga belas bulan lalu.


Dia datang jam tujuh kurang dua.

Saya perlu mencatat itu karena saya tidak memberitahunya jam berapa, dan dia tidak bertanya, dan dia datang jam tujuh kurang dua seperti dia datang tiga puluh satu kali sebelumnya.

Saya membuka pintu.

Kiara berdiri di koridor lantai dua belas dengan hoodie abu-abu, kacamata, rambut diikat asal, dan sandal.

Dan di tangannya ada kunci.

“Aku bawa,” katanya, mengangkatnya. “Tapi aku nggak enak makenya kalau kamu ada di dalem.”

“Kenapa?”

“Nggak tau. Kayaknya aneh.”

“Kiara, itu gunanya kunci.”

“Iya, tapi kalau kamu ada di dalem terus aku masuk sendiri, kamu bakal kaget.”

“Saya sudah tahu kamu datang.”

“Ya kan tapi—“

“Kiara,” kata saya. “Minggu depan kamu di Yogyakarta. Kalau kamu tidak memakainya malam ini, kunci itu tidak akan dipakai selama satu tahun.”

Dia menatap saya.

Lalu dia mendorong pintu itu sampai tertutup — di depan wajah saya, dari luar — dan saya berdiri di ruang tengah unit 12B mendengar bunyi kunci masuk ke lubangnya dari sisi yang lain.

Bunyinya pelan sekali. Logam ke logam.

Pintu terbuka.

“Aku pulang,” katanya.

Saya harus berpegangan sebentar ke sandaran kursi.


Makan malamnya berlangsung seperti Rabu pertama dan sama sekali tidak seperti Rabu pertama.

Meja jati dua meter sepuluh. Dua piring keramik putih tulang. Delapan puluh sentimeter.

Kursi yang menghadap dapur sudah diganti — kursi baru, bersandaran tangan, kayu jati muda yang warnanya belum matang.

Dan di sisi seberang, ada piring untuk saya.

Itu perbedaan yang paling besar dan saya tidak menyebutkannya, karena kalau saya menyebutkannya saya akan tidak bisa melanjutkan makan.

“Ini menu pertama,” katanya di suapan kedua.

“Ya.”

“Kamu inget?”

“Saya ingat semua.”

Dia menaruh sendoknya.

“Danan.”

“Ya.”

“Aku waktu itu mikir kamu klien teraneh yang pernah aku dapet.”

“Saya tahu.”

“Kamu tau?”

“Kamu berhenti setengah detik terlalu lama waktu saya menyebutkan menu,” kata saya. “Saya mengulang kalimat itu di kepala saya tiga kali setelah kamu masuk, dan tidak menemukan yang salah.”

Kiara menutup mulutnya dengan punggung tangan.

“Ya Tuhan,” katanya. “Kamu mikirin itu?”

“Selama sekitar dua hari.”


Saya menunggu sampai piringnya kosong.

Sampai dia bersandar. Sampai dia meletakkan sendoknya di posisi jam empat, yang selalu dia lakukan, yang saya perhatikan sejak Rabu kelima dan tidak pernah saya sebutkan.

Lalu saya berdiri.

“Sebentar,” kata saya.

Saya ke dapur. Membuka lemari atas. Mengambil sesuatu dari rak paling atas, di sebelah timbangan digital.

Dan kembali ke meja.

Saya meletakkannya di depannya. Sekitar sepuluh sentimeter dari piringnya.

Sebuah tempat garam keramik kecil, warna krem, dengan sendok kayu kecil di dalamnya.

Kiara menatapnya.

“Ini—“ Dia mengangkat wajah. “Ini yang di ujung meja itu, kan? Yang Renjani bilang.”

“Ya.”

“Kamu simpen di lemari?”

“Saya memindahkannya bulan lalu,” kata saya. “Karena saya menyadari kalau saya membiarkannya di ujung meja, itu bukan menyediakan. Itu memajang.”

Saya duduk.

“Menyediakan itu artinya saya menaruhnya di depan kamu,” kata saya. “Dan mengatakan sesuatu.”


Dan saya mengatakannya.

“Tambahin sesukamu.”

Tiga kata.

Saya sudah menyusun kalimatnya selama sebelas hari — versi panjang, versi yang menjelaskan, versi yang menyebutkan Rabu kedua dan apa yang saya katakan waktu itu dan kenapa itu salah.

Saya membuang semuanya kemarin malam.

Kiara duduk di kursi barunya yang bersandaran tangan dan menatap tempat garam itu, dan tidak bergerak sama sekali selama mungkin sepuluh detik.

“Danan.”

“Ya.”

“Kamu inget kamu bilang apa waktu aku nanya garem?”

“Ya.”

“Bilang.”

Saya menelan.

Karena kalau saya sudah menghitungnya dengan benar, tidak ada yang perlu ditambahkan.

Dia mengangguk pelan.

“Dan itu salah,” kata saya.

“Kenapa salah?”

Dan ini bagian yang saya latih, dan saya tetap mengucapkannya dengan suara yang tidak rata.

“Karena masakan yang sudah benar itu benar menurut saya,” kata saya. “Saya menghitung takarannya sendiri, saya mencicipinya sendiri, saya memutuskan sendiri kapan sesuatu sudah cukup.”

Saya menatap tempat garam itu.

“Dan lalu saya menaruhnya di depan seseorang dan menyebutnya sempurna, dan tidak menyediakan satu pun cara bagi orang itu untuk mengubah apa pun.”

Saya mengangkat wajah.

“Garam di meja bukan artinya saya gagal,” kata saya. “Garam di meja artinya makanannya sudah bukan punya saya lagi.”


Kiara menangis dengan cara yang paling jelek yang pernah saya lihat, dan saya tidak akan menjelaskannya lebih jauh dari itu karena dia akan membaca ini suatu hari.

Dia mengambil sendok kayu kecil itu.

Dan dia menaburkan garam ke atas supnya yang sudah habis setengah, dan sup itu memang sudah pas takarannya, dan garam tambahan itu membuatnya terlalu asin.

Dia memakannya sampai habis.

Saya duduk di kursi seberang, delapan puluh sentimeter, dan menonton seseorang memakan sesuatu yang saya buat dalam keadaan yang saya tidak lagi kendalikan.

Saya tidak tahu ada rasa seperti itu.


Kami mencuci piring jam sembilan.

Dia yang mencuci, saya yang mengeringkan, dan saya tidak memegang gelas dari dalam, dan dia memergoki saya berhati-hati soal itu dan tidak berkomentar tapi tersenyum ke arah wastafel.

Jam sembilan lewat dua puluh dia menutup keran.

Dan tidak mengambil lap.

Dan tidak bergerak.

Saya berdiri di sebelahnya dengan gelas terakhir di tangan.

“Danan.”

“Ya.”

“Aku nggak mau pulang malem ini.”

Gelas itu hampir jatuh dari tangan saya dan saya menangkapnya dengan tangan yang lain.

“Baik,” kata saya.

Dan dia tertawa — sekali, patah, dengan tangan masih basah — dan berkata, “Kamu bilang ‘baik’ lagi,” dan saya berkata, “Saya tahu, saya minta maaf, saya betul-betul tidak tahu harus bilang apa.”

Dia berbalik menghadap saya.

Dan meletakkan kedua tangannya yang masih basah di dada saya, di depan kemeja, dan menempelkan dahinya di sana.

“Aku juga nggak tau,” katanya.


Saya akan menuliskan sisanya sesingkat yang jujur, karena ada hal-hal yang tidak boleh dijelaskan sampai habis, dan karena setiap kali saya menjelaskan sesuatu sampai habis saya biasanya sedang merusaknya.

Tapi saya akan menuliskan tiga hal.

Yang pertama adalah bahwa saya bertanya.

Tiga kali. Empat kali. Setiap kali sesuatu berubah, saya berhenti, dan saya bertanya, dan saya menunggu jawabannya sampai selesai.

Dan di suatu titik dia menarik wajah saya dengan kedua tangan dan berkata, “Danan, aku bakal ngomong kalau aku nggak mau, sumpah, kamu boleh berhenti nanya—“ dan saya bilang tidak, dan dia bilang kenapa, dan saya bilang:

“Karena saya suka bertanya.”

Dan dia menangis lagi di situ, dan lalu tertawa, dan lalu keduanya sekaligus.

Yang kedua adalah bahwa dia bertanya balik.

Itu yang tidak saya siapkan.

“Kamu mau apa?”

Saya berbaring di sana dan tidak bisa menjawab.

Bukan karena saya tidak tahu. Karena saya tidak pernah — dalam tiga puluh tiga tahun, dalam sebelas tahun bekerja, dalam satu setengah tahun merancang sebuah rumah untuk dua orang — saya tidak pernah sekali pun mengucapkan keinginan saya sendiri dengan suara.

Saya membangunnya. Saya menggambarnya. Saya membayarnya empat belas juta lebih mahal untuk pipa.

Saya tidak pernah mengucapkannya.

“Danan.”

“Sebentar.”

“Nggak apa-apa kalau kamu—“

“Sebentar,” kata saya. “Saya sedang mencoba.”

Dia menunggu.

Dia menunggu, di kegelapan, dengan tangannya di tengkuk saya, dan tidak mengisi satu detik pun — dan saya berbaring di sana dan merasakan persis apa yang selama ini saya minta orang lain lakukan, dan menyadari betapa lamanya rasanya dari sisi ini.

“Saya mau kamu tetap di sini,” kata saya akhirnya.

Suaranya hampir tidak keluar.

“Saya tahu kamu akan pergi. Saya tidak sedang meminta kamu tinggal, dan saya akan mengantar kamu besok pagi dan saya tidak akan mengatakan satu kata pun tentang ini di stasiun.”

Saya menelan.

“Tapi kamu bertanya saya mau apa,” kata saya. “Dan itu yang saya mau.”

Kiara tidak menjawab dengan kata-kata.

Yang ketiga adalah bahwa di suatu titik menjelang jam dua, saya menyadari bahwa saya sudah berhenti menghitung.

Saya tidak tahu jam berapa. Saya tidak tahu sudah berapa lama. Saya tidak tahu berapa kali napasnya berubah atau berapa detik jeda di antaranya.

Untuk pertama kalinya sejak saya berumur dua puluh tiga tahun, ada rentang waktu dalam hidup saya yang tidak ada angkanya.

Saya berbaring di kegelapan dengan seseorang tidur di lengan kanan saya yang sudah mati rasa sejak empat puluh menit lalu, dan saya berpikir: ini yang tidak pernah ada di dalam map.

Tidak ada kolom untuk ini. Tidak ada toleransi. Tidak ada suhu.

Saya menangis jam dua lewat, dengan sangat pelan, menghadap langit-langit, sambil berusaha keras tidak menggerakkan lengan kanan.

Saya belum pernah melakukan itu sebelumnya. Saya sudah mencoba sekali, tiga tahun lalu, di kamar mandi, dan tidak ada yang keluar.

Ternyata bisa.


Pagi itu kami di kamar mandi bersamaan.

Dia di wastafel kiri. Saya di wastafel kanan.

Dua wastafel yang berlebihan untuk unit seluas ini, yang saya pasang delapan tahun lalu karena saya pernah membaca di suatu tempat — entah di mana, dan tidak pernah saya cari ulang — bahwa pertengkaran rumah tangga paling banyak terjadi di pagi hari, dan sebagian besar soal wastafel.

Kiara menyikat gigi dengan sikat gigi yang dia beli sendiri hari Kamis dan taruh di gelas sebelah kanan, karena saya bertanya dan dia menjawab kanan.

Saya bercukur.

Dia menoleh ke arah saya lewat cermin, dengan mulut penuh busa, dan mengangkat alisnya.

Saya menoleh balik.

Dan kami berdua berdiri di kamar mandi itu jam setengah enam pagi, di depan dua wastafel, dan tidak mengatakan apa-apa selama mungkin dua menit.

Lalu dia meludah, berkumur, dan berkata:

“Ini konyol banget.”

“Ya.”

“Kamu beneran mikirin ini delapan taun lalu.”

“Ya.”

“Kamu mikirin pertengkaran rumah tangga sebelum kamu pernah punya rumah tangga.”

“Ya.”

Kiara menaruh sikat giginya kembali ke gelas sebelah kanan.

Dan lalu, sambil sudah berjalan keluar, sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk saya:

“Nanti kalau aku balik, kita berantem di sini ya. Biar kepake.”


Kereta jam tujuh.

Saya mengantarnya ke Stasiun Gambir dan saya tidak mengatakan satu kata pun tentang apa yang saya ucapkan jam satu pagi, seperti yang saya janjikan.

Di peron dia menaruh tasnya, berbalik, dan mengulurkan tangan — telapak terbuka menghadap ke atas, di udara, sekitar dua puluh sentimeter dari saya.

Menunggu.

Sampai saya yang memutuskan.

Saya memegangnya.

“Danan.”

“Ya.”

“Aku bakal nelfon.”

“Baik.”

“Tiap hari?”

“Kamu maunya berapa kali?”

Kiara tertawa dan menangis di peron Stasiun Gambir jam tujuh kurang sepuluh pagi, dengan tangan saya di tangannya, dan menjawab:

“Tiap hari.”