Chapter Twenty Three
Enam Kali
POV: Danan
Dia masuk dan berhenti tiga langkah dari pintu.
Saya tahu apa yang dia lihat. Saya sudah tahu sebelum dia berhenti.
Meja jati dua meter sepuluh. Dua kursi. Satu piring ayam woku yang sudah dingin di depan kursi kosong, dan satu tempat di sisi seberang yang tidak ada piringnya sama sekali.
Renjani menatapnya sekitar empat detik.
“Kamu lagi makan?”
“Tidak.”
Dia tidak bertanya lagi.
Itu hal pertama yang saya sadari tentang dia malam itu — bahwa dia tidak bertanya lagi, dan bahwa dulu dia selalu begitu, dan bahwa saya dulu menganggap itu sebagai bentuk pengertian.
Dia duduk di sofa. Bukan di kursi meja makan.
Saya membuatkan teh, karena itu yang dilakukan orang, dan karena tangan saya butuh sesuatu untuk dikerjakan.
Dia memegang cangkirnya dengan dua tangan dan tidak meminumnya.
“Bapak meninggal,” katanya. “Tiga bulan lalu.”
Saya menaruh cangkir saya sendiri.
“Saya turut berduka.”
“Makasih.”
Hening.
“Kamu ke pemakamannya?” tanyanya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Saya tidak diberi tahu.”
Renjani mengangguk pelan. “Iya. Ya. Maaf.”
Lalu dia menaruh kunci itu di meja.
Bunyinya kecil sekali. Logam ke kayu. Gantungan kulit cokelat yang saya belikan di Yogyakarta empat tahun lalu, di toko kecil di dekat Prawirotaman, sudah menghitam di bagian yang sering dipegang.
“Aku bawa ini tiga tahun,” katanya. “Di tas yang beda-beda. Pindah-pindah. Nggak pernah kebuang.”
“Kuncinya sudah saya ganti.”
“Aku tau.” Dia tersenyum sedikit, tanpa ada apa-apa di dalamnya. “Aku tetep bawa.”
“Nan,” katanya. “Aku ke sini buat minta maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Saya mengatakannya secara refleks, dengan nada yang sama seperti saya menyebutkan suhu oven.
Dan Renjani menaruh cangkirnya di meja dengan bunyi yang lebih keras dari yang perlu.
“Nah,” katanya. “Itu.”
“Apa?”
“Itu, Nan.” Suaranya bergetar sedikit, sekali, lalu kembali stabil. “Aku kabur di hari pernikahan kita. Aku ninggalin kamu berdiri di depan seratus dua puluh orang. Aku ngirim tiga kata terus matiin ponsel selama enam hari.”
Dia menatap saya.
“Dan tiga tahun kemudian aku dateng ke sini, dan kamu bilang tidak apa-apa.”
“Renjani—“
“Itu apa apa, Nan. Itu apa-apa banget.”
Saya akan menuliskan yang berikutnya seakurat mungkin, karena saya sudah memutarnya ratusan kali sejak malam itu dan saya tidak ingin memperhalus satu kata pun.
“Aku pengecut,” katanya. “Itu dulu. Sebelum yang lain. Yang aku lakuin hari Sabtu itu pengecut dan nggak ada pembelaannya dan aku nggak ke sini buat cari pembelaan.”
“Baik.”
“Aku harusnya ngomong di depan kamu. Semalem sebelumnya, seminggu sebelumnya, tiga bulan sebelumnya. Aku punya seribu kesempatan dan aku milih yang paling ngerusak buat semua orang, terutama kamu, terutama ibu kamu.”
Saya tidak mengatakan apa-apa.
“Tapi Nan.” Dia menarik napas. “Aku juga mau kamu tau kenapa.”
“Anda tidak perlu—“
“Kamu manggil aku ‘Anda’.”
Saya berhenti.
Saya tidak menyadarinya.
Renjani menatap saya cukup lama, dan sesuatu di wajahnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk daripada marah.
“Aku mau kamu tau kenapa,” ulangnya, pelan. “Karena aku tiga tahun mikirin ini dan aku sadar aku nggak cuma kabur dari kamu. Aku ninggalin kamu sama pertanyaan yang nggak ada jawabannya, dan kamu bukan orang yang bisa hidup sama pertanyaan tanpa jawaban.”
“Aku nyoba ngomong enam kali,” katanya.
Saya mengerutkan kening.
“Anda—“ Saya berhenti. Mengulang. “Kamu tidak pernah bilang mau membatalkan.”
“Aku tau.” Dia mengangguk. “Aku emang nggak pernah bilang gitu. Aku nggak nyalahin kamu buat itu.”
“Terus—“
“Aku nyoba ngomong enam kali, Nan. Dan enam-enamnya kamu denger. Kamu inget semuanya, aku yakin, karena kamu inget semuanya.”
Dan dia mulai menghitung dengan jari.
Satu.
“Bulan Juni. Kita di sini, waktu masih setengah jadi, dan aku bilang aku nggak yakin sama dapurnya.”
Saya ingat.
“Kamu jawab apa?”
“Saya tanya bagian mananya.”
“Terus?”
“Kamu bilang tidak tahu. Kamu bilang cuma terasa tidak enak.”
“Terus kamu ngapain, Nan?”
Saya diam.
“Kamu rombak dapurnya,” katanya. “Seluruhnya. Kamu ganti tata letaknya, kamu geser kompornya, kamu ganti materialnya. Dua bulan. Aku nggak tau berapa biayanya dan aku nggak pernah berani nanya.”
Dua.
“Agustus. Aku bilang rumah ini terasa bukan aku.”
Saya ingat itu juga.
“Kamu bikin ruang kerja,” katanya. “Buat aku. Di sudut barat, dengan jendela, dengan rak sampai ke atas. Kamu bilang itu ruang yang seratus persen punya aku dan kamu nggak akan pernah naruh apa pun di situ.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Nan, aku nggak butuh ruangan.”
Tiga.
“Oktober. Aku bilang aku takut hilang.”
Saya merasakan sesuatu yang dingin di belakang leher.
“Kamu pasang cermin,” katanya. “Sepanjang lorong. Dari pintu depan sampai kamar.”
“Itu untuk membuat lorongnya terasa lebih lebar.”
“Aku tau itu alasan teknisnya.” Suaranya sangat pelan sekarang. “Tapi aku bilang aku takut hilang, dan tiga minggu kemudian ada cermin sepanjang lorong, dan setiap pagi aku jalan lewat situ dan liat diri aku sendiri berkali-kali sampai ke pintu.”
Empat.
“Desember. Aku bilang kita nggak pernah ngobrol lagi.”
Saya menatap meja jati dua meter sepuluh itu.
“Iya,” kata Renjani. “Itu.”
Lima.
“Januari. Aku bilang aku capek.”
“Saya menyewa orang untuk membersihkan rumah dua kali seminggu.”
“Iya.”
“Kamu bilang capek.”
“Aku bilang capek,” katanya. “Bukan capek beres-beres.”
Enam.
Renjani berhenti.
Dia meletakkan tangannya di pangkuan dan menatap cangkir tehnya yang belum disentuh sama sekali.
“Yang keenam tanggal dua puluh empat Februari,” katanya. “Hari Rabu. Tiga minggu sebelum hari H.”
Saya sudah tahu apa yang akan dia katakan.
“Kita duduk di meja itu.” Dia menunjuk dengan dagunya, tanpa menoleh. “Kamu masak. Kamu selalu masak hari Rabu, karena Rabu itu satu-satunya hari yang aku nggak pernah batalin selama sebelas bulan.”
“Renjani.”
“Dan aku bilang—“ Suaranya pecah sekali, dan dia berhenti, dan menunggu sampai stabil. “Aku bilang, Nan, aku nggak tau aku siap apa nggak.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Kamu inget kamu jawab apa?”
“Ya.”
“Bilang.”
Saya menutup mata.
“Saya berdiri,” kata saya. “Saya mengambil map dari ruang kerja. Saya kembali ke meja dan saya membuka daftar tamu.”
“Terus?”
“Saya bilang kalau tekanannya dari acaranya, itu bisa saya kecilkan. Saya potong daftar tamu dari tiga ratus jadi seratus dua puluh malam itu juga. Saya ambil alih seluruh koordinasi vendor supaya kamu tidak perlu memegang apa-apa lagi.”
“Berapa lama kamu ngomong, Nan?”
“Empat puluh menit.”
“Empat puluh dua,” katanya. “Aku liat jam.”
Saya duduk di sofa saya sendiri, di apartemen yang saya rancang sendiri, dan tidak bisa mengangkat wajah.
“Aku bilang aku nggak tau aku siap apa nggak,” kata Renjani, “dan kamu ngasih aku solusi buat masalah yang bukan masalahnya.”
“Saya—“
“Kamu nggak nanya sekali pun.” Suaranya tidak keras. Itu yang membuatnya tidak bisa dibantah. “Enam kali, Nan. Enam kali aku buka pintu, dan enam kali kamu masuk bawa palu.”
“Kamu tidak pernah bilang jangan.”
Saya mengatakannya, dan saya langsung tahu bahwa itu kalimat orang yang sedang tenggelam.
Renjani menatap saya.
“Nan,” katanya. “Aku bilang. Aku bilang enam kali. Kamu denger enam-enamnya, kamu inget enam-enamnya sampai ke bulannya.”
Dia mengangkat bahu sedikit, lelah.
“Kamu cuma nerjemahin ke bahasa yang kamu bisa.”
Ada perempuan lain yang pernah memakai kata itu di apartemen ini.
Dia mengatakannya di atap gedung ini, malam listrik padam, sambil memegang kotak makan di pangkuannya. Aku kerjanya baca ruangan, Danan. Sama kayak kamu.
Dan dia salah. Dia mengira kami sama.
Bedanya begini: dia membaca orang lalu memberi orang itu apa yang orang itu inginkan.
Saya membaca orang lalu memberi orang itu apa yang saya simpulkan dia butuhkan.
Selisih di antara keduanya adalah satu pertanyaan yang tidak pernah saya ajukan seumur hidup saya.
“Kenapa kamu kabur?” tanya saya.
Renjani mengangkat wajahnya cepat.
Dan menatap saya dengan ekspresi yang tidak saya duga sama sekali — bukan lega, bukan menang. Sesuatu yang lebih mirip patah.
“Kamu nanya,” katanya.
“Ya.”
“Kamu baru aja nanya.”
“Ya,” kata saya. “Tiga tahun tujuh bulan. Saya baru bertanya.”
Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan menahannya di sana beberapa detik.
“Karena aku sadar,” katanya akhirnya, “malam sebelumnya, waktu aku jalan lewat lorong itu dan liat diri aku sendiri di cermin sampai ke pintu — aku sadar nggak ada satu benda pun di rumah ini yang aku pilih.”
Saya tidak bergerak.
“Bukan karena kamu nggak nanyain aku. Kamu nanyain aku terus, Nan, kamu nanyain warna, kamu nanyain material, kamu nanyain aku suka kayu apa keramik.” Dia menggeleng. “Tapi setiap kali aku jawab ‘aku nggak tau’, kamu isi sendiri. Dan aku sering jawab ‘aku nggak tau’, karena aku emang nggak tau, karena aku belum pernah punya rumah sendiri.”
Dia menarik napas.
“Dan tiap kali kamu isi sendiri, kamu isinya bener.” Suaranya bergetar. “Itu yang paling nggak bisa aku lawan, Nan. Kamu selalu bener. Kamu tau tinggi meja yang pas buat aku, kamu tau aku nggak suka lampu kuning, kamu tau aku bangun malem buat minum. Kamu tau semuanya.”
“Terus kenapa—“
“Karena aku masuk ke rumah itu tiga minggu sebelum nikah,” katanya, “dan aku sadar aku bakal tinggal sepuluh tahun, dua puluh tahun, di dalem sesuatu yang sempurna yang seluruhnya dibikin sama orang yang lebih tau tentang aku daripada aku sendiri.”
Dia menatap saya.
“Dan aku panik. Dan aku kabur. Dan itu salah, dan itu tetep salah, dan aku minta maaf sampai kapan pun.”
Saya duduk di sana entah berapa lama.
“Nan?”
“Saya masak setiap Rabu,” kata saya.
Renjani berkedip.
“Sekarang?”
“Selama tiga tahun.” Saya menatap piring yang sudah dingin di meja jati itu. “Setiap Rabu, jam tujuh. Tidak pernah terlewat.”
“Kenapa Rabu?”
Dan di sinilah saya harus jujur, karena saya sudah tiga bulan mengatakan sesuatu kepada diri saya sendiri yang tidak benar.
Kalau ada yang bertanya kenapa Rabu, saya punya jawaban yang sudah rapi: Rabu adalah hari yang paling jauh dari Sabtu ke dua arah. Hari yang tidak punya kenangan apa-apa. Saya memilihnya sengaja, dengan ketelitian yang sama seperti saya memilih tinggi meja dapur.
Saya sudah mengatakan itu kepada diri saya sendiri berkali-kali dan saya hampir memercayainya.
Itu bohong.
Rabu bukan hari yang kosong. Rabu adalah satu-satunya hari yang tidak pernah dia batalkan selama sebelas bulan. Rabu adalah hari saya memasak untuk dua orang. Rabu adalah hari kami duduk di meja jati dua meter sepuluh, delapan puluh sentimeter, jarak di mana Anda bisa mengulurkan tangan tanpa berdiri.
Rabu tanggal dua puluh empat Februari adalah hari terakhir seseorang membuka pintu untuk saya, dan saya berdiri, dan saya mengambil map dari ruang kerja, dan saya bicara empat puluh dua menit.
Saya tidak memilih Rabu karena Rabu kosong.
Saya memilih Rabu karena itu satu-satunya hari yang saya masih tahu caranya.
“Nan?” kata Renjani.
“Tidak,” kata saya. “Bukan apa-apa.”
“Kamu masak buat siapa?”
Saya tidak menjawab.
“Nan.”
“Tidak ada.”
Renjani melihat ke meja. Ke satu piring ayam woku yang dingin di depan kursi yang kosong. Ke kursi yang satunya, yang tidak ada piringnya.
Lalu dia melihat sesuatu yang lain, dan saya melihatnya melihat, dan saya tidak sempat mencegahnya.
Di ujung meja, di sisi kanan, ada sebuah tempat garam keramik kecil.
Saya membelinya sebelas hari lalu. Hari Sabtu, di toko peralatan dapur di Mayestik, tiga hari setelah jam enam lewat dua pagi.
Saya tidak tahu kenapa saya membelinya. Saya sudah tidak punya siapa pun untuk menaruhnya di depan mereka. Saya membelinya dan menaruhnya di meja dan tidak pernah memindahkannya lagi.
Renjani menatap benda itu cukup lama.
“Ada garem di meja,” katanya.
“Ya.”
“Dulu nggak pernah ada.”
“Tidak.”
Dia mengangkat wajahnya, dan matanya berair, dan dia tersenyum — betul-betul tersenyum, untuk pertama kalinya sejak masuk.
“Bagus,” katanya.
Bel berbunyi jam delapan.
Saya berdiri terlalu cepat untuk kedua kalinya malam itu.
Renjani mengangkat wajahnya. Melihat saya. Melihat wajah saya — dan saya tidak tahu apa yang ada di wajah saya, karena saya tidak punya kendali atasnya sama sekali selama satu setengah detik itu.
Dia berdiri juga.
“Nan.”
“Sebentar—“
“Nan,” katanya lagi, dan ada sesuatu yang lembut dan sangat sedih di suaranya. “Kamu berdiri lebih cepet dari waktu aku dateng.”
Saya berhenti di tengah ruangan.
Bel berbunyi lagi.
Dan Renjani — yang sudah tahu, yang jelas-jelas sudah tahu, dan yang untuk alasan yang tidak akan pernah saya pahami sepenuhnya memutuskan bahwa ini adalah miliknya untuk dilakukan —
berjalan melewati saya dan membuka pintu.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali reading
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa