Chapter Eight
Di Luar Jadwal
POV: Danan
Aku berjalan kaki empat kilometer pulang.
Ada tiga alasan yang bisa kuberikan. Satu, jam sebelas malam susah dapat kendaraan di daerah situ. Dua, aku cuma bawa dua kantong dan itu tidak berat. Tiga, aku memang suka berjalan.
Ketiganya benar. Tidak satu pun yang jujur.
Yang jujur adalah aku tidak bisa langsung duduk di dalam mobil orang lain dengan kepala seperti itu.
Sampai apartemen jam dua belas kurang seperempat. Aku menaruh dua kantong di konter dan mengeluarkan isinya satu per satu — tiga botol kecap, telur, tepung terigu protein sedang, dua bungkus garam kasar untuk mengungkep.
Dan kotak kaca dengan tutup plastik biru.
Kotaknya sudah bersih. Sangat bersih. Dicuci dengan sabun, dikeringkan sampai tidak ada bercak air sama sekali di sudut-sudutnya, dan aku tahu persis apa artinya itu karena aku sendiri melakukan hal yang sama pada barang pinjaman: mengembalikan sesuatu dalam keadaan lebih bersih daripada waktu menerimanya adalah cara orang mengatakan aku tidak berutang apa pun padamu.
Aku mencucinya lagi.
Aku sadar itu tidak masuk akal saat sedang melakukannya. Air panas, sabun, spons, satu setengah menit. Lalu kukeringkan, dan kubuka lemari atas.
Kotak makan yang lain ada di sana, ditumpuk berdasarkan ukuran. Enam buah. Semuanya sama.
Aku tidak menaruh yang ini bersama mereka.
Aku menaruhnya sendirian di rak sebelah, di samping timbangan digital, dan menutup lemarinya, dan berdiri di depan lemari yang sudah tertutup itu selama beberapa detik seperti orang bodoh.
Masalahnya begini, dan aku akan menjelaskannya dengan cara yang paling masuk akal yang aku bisa.
Aku bekerja dengan volume. Itu istilah teknis. Setiap ruang punya volume, dan volume itu punya batas, dan batas itulah yang membuat ruang bisa dipakai. Rumah tanpa dinding bukan rumah yang luas — rumah tanpa dinding itu lapangan.
Hari Rabu adalah sebuah volume.
Jam tujuh sampai jam sembilan. Dua jam. Di dalam batas itu ada seorang perempuan yang makan masakanku, dan ada aku yang duduk di kursi seberang, dan tidak ada yang perlu dijelaskan kepada siapa pun karena semuanya sudah dibayar dan tercatat dan berakhir tepat waktu.
Aku merancang volume itu sama hati-hatinya seperti aku merancang tinggi meja.
Lalu hari Selasa terjadi, dan hari Selasa tidak punya dinding.
Rabu pagi aku bangun jam empat lewat, satu jam lebih awal dari biasanya, dan mengeluarkan map dari laci.
Prosedurnya jelas. Setiap kejadian dicatat. Aku sudah melakukannya selama sebelas tahun, sejak resep pertama, dan tidak ada satu pun yang pernah kulewatkan.
Aku mengambil lembar paling depan. Yang di bagian atasnya tertulis RABU.
Aku menaruh ujung pulpen di kertas.
Dan tidak ada yang bisa kutulis.
Karena apa yang harus dicatat? Tidak ada masakan. Tidak ada takaran, tidak ada suhu, tidak ada hasil. Yang ada cuma keranjang berisi tiga barang dan seorang perempuan dengan kacamata minus dua setengah yang tertawa di lorong bumbu dengan cara yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku mengambil lembar kosong baru.
Di kolom NAMA MASAKAN aku menulis:
SELASA
Aku menatapnya selama mungkin sepuluh detik.
Lalu aku mencoretnya. Keras. Dua kali, sampai tinta pulpennya menekan bekas ke kertas di bawahnya.
Itu satu-satunya coretan di seluruh map itu. Seratus dua puluh lembar, sebelas tahun, dan cuma ada satu coretan.
Aku meremas kertasnya dan membuangnya, lalu mengambil kertas itu lagi dari tempat sampah sepuluh menit kemudian, meluruskannya, dan memasukkannya ke bagian belakang map.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu. Aku tetap melakukannya.
Pukul lima pagi aku membuka aplikasi agensi.
Antarmukanya sederhana. Jadwal saya. Riwayat. Pembayaran. Dan di bawah, tombol abu-abu: Tambah Jadwal.
Aku menekannya.
Formulirnya muncul. Hari, jam, durasi.
Aku memilih Selasa. Aku memilih pukul sembilan belas. Dua jam.
Lalu layar bergulir turun, dan di bawahnya ada kolom yang harus diisi karena bertanda merah:
Alasan penambahan jadwal (wajib diisi — untuk keamanan pendamping)
Aku duduk di meja jati itu, jam lima pagi, dengan ibu jari melayang di atas layar.
Aku bisa mengetik: tidak ada. Itu yang kulakukan tiga bulan lalu di kolom permintaan khusus. Satu tanda hubung dan selesai.
Tapi kolom ini bukan kolom itu. Kolom ini bertanda merah, dan di sebelahnya ada tulisan kecil yang menjelaskan kenapa: untuk keamanan pendamping. Yang artinya seseorang di kantor Beranda akan membacanya. Yang artinya alasan itu adalah dokumen yang akan dipakai untuk menilai apakah perempuan ini aman atau tidak dengan menambah satu hari lagi bersamaku.
Aku mencoba menyusun kalimatnya di kepala.
Saya melihat isi keranjang belanjanya dan di dalamnya tidak ada makanan.
Aku membaca kalimat itu di kepalaku, sekali, dari sudut pandang seorang perempuan berumur empat puluhan yang bekerja di lantai tiga sebuah ruko dan tugasnya adalah melindungi orang.
Kalimat itu terdengar seperti kalimat orang yang mengawasi.
Aku menutup aplikasinya.
Bukan karena aku tidak ingin. Karena aku sadar, untuk pertama kalinya dengan cukup jelas, bahwa apa pun yang ingin kulakukan malam Selasa itu tidak punya bentuk yang bisa dituliskan di formulir mana pun.
Dan aku tidak percaya pada hal-hal yang tidak punya bentuk.
Bimo datang ke ruanganku jam sepuluh pagi dengan dua gelas kopi dan wajah orang yang sedang mengumpulkan bukti.
“Lo nggak tidur.”
“Tidur.”
“Berapa jam.”
“Cukup.”
“Nan.” Dia menaruh kopi di mejaku dan duduk di kursi klien tanpa diundang, seperti biasa. “Gambar potongan yang lo kirim semalem itu skalanya satu banding lima puluh.”
“Iya.”
“Lo tulis satu banding dua puluh.”
Aku menarik layar ke arahku.
Dia benar.
Aku memperbaikinya sambil merasakan sesuatu yang tidak enak di belakang leher. Aku tidak salah skala sejak tahun pertama.
“Ada apa sih?” tanya Bimo.
“Nggak ada.”
“Nan.”
“Nggak ada, Bim.”
Dia menghela napas dan menyandarkan punggung. Meminum kopinya. Menunggu.
Bimo punya satu teknik dan cuma satu, dan teknik itu adalah diam lebih lama dari orang lain sanggup. Dia sudah memakainya padaku sejak semester dua.
Aku bertahan sekitar empat puluh detik.
“Bim.”
“Hm.”
“Pertanyaan.”
“Nah.” Dia duduk tegak.
“Misal ada orang,” kataku, dan aku mengatur kalimatnya sehati-hati mungkin. “Orang ini kelihatan capek sekali. Bukan capek biasa. Kelihatan seperti ada sesuatu yang berat hari itu.”
“Oke.”
“Lalu lo tanya, dan orang itu bilang tidak apa-apa.”
“Oke.”
“Selesai, kan?”
Bimo menatapku.
“Nggak,” katanya.
“Kenapa nggak? Gua nanya, dia jawab.”
“Ya lo tanya lagi.”
Aku mengerutkan kening. “Buat apa gua nanya lagi kalau gua udah dapet jawabannya?”
“Nan.” Bimo menaruh gelasnya. “Orang bohong.”
“Kalau dia bohong berarti dia nggak mau ngomong. Kalau dia nggak mau ngomong, gua nanya lagi itu namanya maksa.”
“Bukan maksa. Itu namanya nanya lagi.”
“Bedanya di mana?”
Bimo membuka mulut. Lalu menutupnya.
Lalu dia menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya selama dua belas tahun berteman — semacam kaget yang pelan, seperti orang yang baru menyadari lantai di bawah kakinya sudah lama miring.
“Anjir,” katanya pelan.
“Apa.”
“Nggak.” Dia mengambil gelasnya lagi. “Nggak, nggak apa-apa.”
“Bim.”
“Nanya lagi tuh artinya lo bilang ke orangnya bahwa lo mau tau,” katanya. “Bukan buat maksa jawaban. Buat ngasih tau dia bahwa pintunya kebuka kalau dia mau.”
Aku memikirkan itu.
“Itu tidak efisien,” kataku akhirnya.
Bimo menutup mata dan memijat pangkal hidungnya seperti orang yang sedang menahan sesuatu.
“Iya,” katanya. “Iya, Nan. Emang nggak efisien.”
Aku pulang jam lima.
Rabu itu aku memasak nasi kuning dengan empat lauk: ayam goreng lengkuas, telur balado, orek tempe kering, dan semur daging.
Itu terlalu banyak. Aku tahu itu terlalu banyak sejak aku menuliskannya di daftar belanja hari Minggu.
Nasi kuning empat lauk itu makanan hajatan. Itu porsi untuk enam orang, minimal, dan aku sudah menghitungnya turun ke titik terendah yang masih mungkin dan tetap keluar di angka yang terlalu besar untuk dua.
Aku tetap membuatnya.
Alasannya sederhana kalau ditulis di atas kertas: seseorang yang keranjang belanjanya cuma berisi obat sakit kepala, roti tawar, dan kopi sachet sedang mengalami defisit. Defisit itu ada angkanya. Kalau ada defisit, kamu menutupnya. Kamu tidak berdiskusi dengan defisit; kamu menghitung selisihnya lalu kamu isi.
Itu yang kulakukan seumur hidupku. Ada yang kurang, aku lengkapi. Ada yang rusak, aku ganti. Ada yang tidak nyaman, aku ukur ulang dan pindahkan dua meter dan bayar empat belas juta lebih mahal untuk pipa.
Aku berdiri di dapur jam enam lewat empat puluh, dengan empat panci di kompor dan satu wajan menunggu, dan lengan kemeja sudah tergulung sampai siku.
Dan satu kalimat lewat di kepalaku, cepat, seperti sesuatu yang jatuh dari rak.
Kenapa lo nggak tanya aja.
Aku menyingkirkannya, dan menyalakan api di bawah wajan.
Bel berbunyi jam tujuh kurang dua.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal reading
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa