← Apartemen 12B

Chapter Two

Denah Rasa

POV: Danan


Ada dua piring di rak pengering.

Aku berdiri di depannya cukup lama untuk menyadari bahwa aku sedang berdiri di depannya cukup lama.

Piring kedua itu kubeli bersamaan dengan yang pertama. Satu set enam, keramik putih tulang, buatan Bandung, pinggirannya sedikit tidak rata karena dibentuk tangan. Lima di antaranya masih di dalam kardus di gudang. Yang keluar cuma dua, dan selama tiga tahun cuma satu yang basah setiap malam.

Sekarang ada dua.

Aku mengangkatnya, mengeringkannya dengan lap, dan menaruhnya di rak atas. Lalu aku ke ruang tengah, membuka laptop, dan bekerja sampai jam satu pagi karena besok ada presentasi ke klien di Bintaro dan aku belum menyiapkan alternatif kedua untuk tata ruang lantai satu.

Itu saja yang terjadi malam itu. Aku tidak memikirkan apa-apa.

Setidaknya itu yang kucatat, kalau ada yang bertanya.


Pekerjaanku sebenarnya sederhana kalau dijelaskan dengan jujur: orang membayar aku untuk memberi tahu mereka siapa mereka.

Klien datang dengan referensi dari internet — semuanya sama, semuanya hangat, semuanya cokelat dan krem dengan tanaman gantung. Lalu aku datang ke rumah lama mereka. Aku tidak banyak bertanya. Aku cuma melihat.

Aku lihat ke arah mana sofanya menghadap. Aku lihat rak mana yang penuh dan rak mana yang jadi tempat menumpuk barang tanpa nama. Aku lihat foto siapa yang dipajang di ruang tamu dan foto siapa yang disimpan di kamar. Aku lihat sisi ranjang mana yang lebih kusut. Aku lihat apakah kursi makan yang keempat sudah lama tidak ditarik keluar.

Rumah tidak bisa berbohong. Manusia bisa. Rumah tidak.

Dalam dua jam biasanya aku sudah tahu lebih banyak tentang klienku daripada yang mau mereka akui, dan dalam tiga minggu aku menyerahkan gambar kerja yang membuat mereka bilang, ”Ini kok kayak yang ada di kepala saya, ya.”

Bimo, partnerku, menyebut itu bakat.

Aku tidak pernah menyebutnya apa-apa. Aku cuma tahu bahwa aku pernah membaca satu rumah dengan sangat teliti, sangat lama, sangat penuh perhatian —

dan aku salah total.


Kalau kamu berdiri di pintu unit 12B dan melihat lurus ke depan, kamu akan melihat jendela.

Itu bukan kebetulan. Aku memutar seluruh tata ruangnya supaya begitu. Kamar mandi digeser dua meter, jalur pipa jadi lebih mahal empat belas juta, dan kontraktornya menelepon dua kali untuk memastikan aku tidak salah baca gambar sendiri. Tapi aku ingin orang yang membuka pintu itu langsung melihat langit, bukan lorong.

Bangku jendelanya selebar seratus empat puluh sentimeter. Itu ukuran untuk dua orang duduk bersandar berlawanan arah, kaki saling bersilang di tengah, masing-masing pegang buku sendiri. Aku mengukurnya dengan bantal dan meteran di apartemen lamaku, dua kali, di malam yang berbeda.

Ada dua wastafel di kamar mandi. Aku tahu itu berlebihan untuk unit seluas ini. Aku tetap memasangnya, karena aku pernah membaca — di suatu tempat, entah di mana, dan tidak pernah kucari ulang — bahwa pertengkaran rumah tangga paling banyak terjadi di pagi hari, dan sebagian besar soal wastafel.

Meja dapurnya kayu jati bekas, panjang dua meter sepuluh. Dua kursi, berhadapan, jarak antarpinggiran kursi delapan puluh sentimeter. Aku mencoba enam puluh lima — terlalu dekat, lutut bertabrakan, orang jadi tegang. Aku mencoba sembilan puluh lima — terlalu jauh, orang jadi harus mengeraskan suara. Delapan puluh itu jarak di mana kamu bisa mengulurkan tangan tanpa berdiri.

Aku menghabiskan satu setengah tahun merancang tempat ini.

Tiga minggu setelah serah terima, hari Sabtu, calon istriku tidak datang.

Itu saja. Tidak ada yang lebih rumit dari itu, dan aku tidak berniat membuatnya terdengar lebih rumit dari itu.


Yang orang salah paham — Bimo salah paham, ibuku salah paham, dan aku curiga Kiara juga salah paham sejak detik dia masuk — adalah bahwa aku kesepian.

Aku tidak kesepian. Aku bekerja enam hari seminggu, aku punya empat orang yang akan datang kalau aku telepon jam tiga pagi, dan aku tidak keberatan diam.

Masalahnya bukan sepi. Masalahnya dapur.

Aku belajar masak umur dua puluh tiga, dari ibuku, dengan cara yang paling tidak sabar: dia menyuruhku mencatat, dan aku mencatat terlalu detail, dan dia marah karena masak itu katanya pakai perasaan. Aku tidak punya perasaan yang bisa diandalkan untuk itu. Yang kupunya cuma timbangan.

Jadi aku menulis resep seperti aku menulis gambar kerja.

Ada map di laci bawah lemari dapur. Isinya lembar-lembar A4, satu resep satu lembar, semuanya dengan format yang sama: bahan dalam gram, suhu dalam derajat, urutan bernomor, dan di bagian bawah ada kolom toleransi — berapa banyak penyimpangan yang masih menghasilkan sesuatu yang layak dimakan.

Ayam ungkep bumbu kuning: toleransi waktu ±4 menit. Kunyit ±0,5 gram, tapi itu batas atas; kurang lebih aman, lebih tidak.

Aku pernah menghitung ada seratus sembilan belas lembar di map itu.

Seratus sembilan belas resep, dan hampir semuanya untuk dua porsi.

Kamu bisa memasak dua porsi dan memakan keduanya. Aku sudah mencobanya. Rasanya seperti menyelesaikan pekerjaan orang lain.

Kamu bisa juga membagi resepnya jadi setengah, dan itu tidak berhasil, karena resep bukan aritmetika. Kuning telur tidak bisa dibelah. Panci berubah perilakunya kalau isinya terlalu sedikit. Bumbu yang ditumis dalam jumlah kecil gosong sebelum harum.

Jadi selama tiga tahun aku memasak untuk satu orang dengan resep yang aslinya untuk dua, lalu menyimpan sisanya di kulkas, lalu membuangnya hari Minggu.

Itu bukan kesepian. Itu pemborosan.

Aku tidak tahan pemborosan.


Ide itu datang dari Bimo, seperti semua ide buruk dalam hidupku.

Kami sedang lembur bulan Februari, dia sedang menunjukkan foto anaknya untuk ketujuh kali malam itu, lalu tiba-tiba bilang, “Nan, lo tuh mendingan bayar orang buat nemenin makan daripada kayak gini terus.”

Dia bercanda. Bimo selalu bercanda. Dua puluh menit kemudian dia sudah lupa dia mengatakannya.

Aku tidak lupa.

Aku mencarinya seperti aku mencari vendor. Aku membandingkan empat agensi, membaca syarat dan ketentuannya sampai habis, memperhatikan mana yang punya aturan perlindungan pekerja paling jelas — yang itu penting, dan aku tidak akan meminta maaf karena menganggapnya penting. Beranda punya lima halaman aturan dan nomor pengaduan yang benar-benar bisa dihubungi. Aku menelepon nomor itu sekali, hanya untuk memastikan ada yang mengangkat.

Ada yang mengangkat.

Lalu aku mengisi formulirnya.

Permintaan khusus.

Aku duduk di depan kolom itu selama sembilan menit. Aku tahu apa yang orang tulis di sana. Aku bisa membayangkan isinya, dan aku tidak menginginkan satu pun dari itu.

Aku juga tidak bisa menulis yang sebenarnya, karena yang sebenarnya adalah saya ingin ada orang yang memakan masakan saya sampai habis, lalu saya ingin duduk dan melihatnya, dan kalimat itu — kalau kutulis, kalau kubaca lagi keesokan harinya — akan membuatku membatalkan seluruhnya.

Jadi aku mengetik satu tanda hubung dan menekan kirim.

Hari yang kupilih: Rabu.

Bukan Sabtu, jelas. Bukan Jumat, karena Jumat terlalu penuh harapan. Aku memilih Rabu karena Rabu tidak punya apa-apa di dalamnya, dan alasan yang lebih panjang dari itu tidak perlu kutuliskan di sini.


Dia datang jam tujuh kurang dua.

Namanya Kiara. Umur dua puluh sembilan menurut profil. Aku memutuskan untuk tidak membaca ulasan klien sebelumnya, karena membaca ulasan tentang manusia rasanya keliru dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.

Yang kuingat dari malam itu ada tiga hal.

Pertama: dia berhenti setengah detik terlalu lama waktu aku menyebut menu. Aku mengira aku salah ucap. Aku mengulangi kalimat itu dalam kepala tiga kali setelah dia masuk, dan tidak menemukan yang salah.

Kedua: dia membaca ruanganku. Aku tahu bentuk orang yang sedang membaca ruangan, karena itu pekerjaanku. Matanya bergerak ke bangku jendela, ke rak sepatu, lalu berhenti di meja dapur dan tinggal di sana satu setengah detik lebih lama dari seharusnya.

Dan aku mendapati diriku ingin tahu apa kesimpulannya.

Aku tidak bertanya. Aku tidak bertanya karena bertanya berarti aku peduli pada jawabannya, dan aku sudah cukup lama tidak melakukan itu sehingga ototnya barangkali sudah hilang.

Ketiga — dan ini yang membuatku tidak bisa tidur sampai jam satu:

Piringnya bersih.

Bukan sopan-bersih. Bukan disisakan sedikit di pinggir dengan cara yang dilakukan orang supaya terlihat tidak rakus. Bersih. Buncisnya dia tinggalkan sampai terakhir, yang artinya dia menyimpannya, yang artinya dia menyukainya.

Aku duduk di kursi seberang selama dua puluh menit dan tidak melakukan apa pun kecuali itu.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan seperti apa rasanya tanpa terdengar menyedihkan, jadi aku akan menjelaskannya begini: selama tiga tahun aku membuat sesuatu yang tidak pernah sampai ke tujuannya. Malam itu sesuatu sampai.


Hari Minggu aku ke pasar.

Aku selalu ke pasar hari Minggu, jadi ini bukan hal khusus. Aku membeli kunyit, kemiri, ayam kampung dari Bu Nengsih yang selalu menyisihkan bagian dada kalau aku datang sebelum jam enam.

Di jalan pulang aku berhenti di depan kios sayur.

Aku sudah memutuskan menu Rabu depan sejak Kamis: ikan kembung bakar, oseng tempe kacang panjang, dan sup jagung. Semuanya sudah ada di kepalaku, lengkap dengan urutan dan suhu.

Tapi aku berdiri di depan tumpukan buncis itu terlalu lama.

Lalu aku membeli buncis, yang sama sekali tidak ada di menu, dan berjalan pulang sambil merasa agak bodoh.

Di dapur aku mengeluarkan map dari laci, mencari lembar ikan kembung, dan menuliskan sesuatu di kolom kosong di bawah:

Tambahan: tumis buncis. Porsi kecil.

Aku menatap tulisan itu.

Lalu aku menambahkan, dengan huruf yang lebih kecil, di sudut kanan bawah lembar itu — di tempat yang biasanya kupakai untuk mencatat kesalahan produksi:

Cek: apakah dia benar-benar suka, atau cuma sopan.

Aku menutup map. Memasukkannya ke laci. Mendorong lacinya sampai bunyi klik.

Empat hari lagi.