Chapter Six
Porsi Untuk Dua Orang
POV: Kiara
Rabu kelima, Danan membuat rendang.
Aku tahu itu rendang sejak pintu lift terbuka di lantai dua belas. Baunya sudah ada di koridor — bukan bau tajam, tapi bau yang berat dan pelan, yang menempel di dinding dan tidak buru-buru pergi.
Aku berdiri di depan pintu 12B lebih lama dari yang diperlukan untuk menekan bel.
Ada perempuan-perempuan yang punya reaksi khusus terhadap parfum tertentu. Aku bukan salah satunya. Aku punya reaksi terhadap bau masakan yang sudah dimasak lebih dari empat jam, dan aku baru menyadarinya di usia dua puluh sembilan, di koridor lantai dua belas sebuah apartemen yang bukan punyaku.
“Selamat malam. Menu malam ini rendang daging, sayur nangka, dan sambal ijo. Silakan masuk.”
“Danan.”
“Ya.”
“Ini masak dari jam berapa?”
“Setengah dua.”
“Siang?”
“Ya.”
Aku menatapnya. “Kamu ambil cuti setengah hari buat masak rendang?”
“Saya kerja dari rumah hari Rabu,” katanya, seolah itu menjawab pertanyaan, dan berbalik ke dapur.
Aku berdiri di ruang tengah agak lama.
Kamu kerja dari rumah setiap Rabu, pikirku. Sejak kapan.
Aku tidak bertanya. Ada semacam kesepakatan yang tidak pernah kami buat, di mana aku boleh bertanya soal makanan sebanyak apa pun dan tidak boleh bertanya soal apa pun yang lain. Aku sudah menabraknya sekali, di Rabu kedua, waktu aku bertanya soal siapa yang mendesain apartemennya.
Dia menjawab, “Saya,” dan tidak menambahkan satu kata pun selama sembilan menit berikutnya.
Aku belajar cepat. Itu keahlianku.
Rendangnya membuatku diam sekitar satu menit penuh.
Aku bukan orang yang gampang terkesan sama makanan. Aku pernah dibawa ke tempat-tempat yang tagihannya lebih besar dari kontrakan sebulan, dan aku pernah duduk di depan piring yang isinya empat suap dan disebut pengalaman.
Ini bukan itu. Ini cuma rendang, di piring keramik putih tulang, dengan nasi yang ditakar.
Tapi dagingnya hancur di ujung sendok sebelum aku sempat menekannya, dan bumbunya kering di permukaan tapi tidak kering di dalam, dan ada rasa manis di paling akhir yang bukan dari gula.
“Kelapanya disangrai sendiri?”
Danan mengangkat wajah dari gelasnya.
“Ya,” katanya, dan ada jeda pendek yang tidak biasa, dan lalu — “bagaimana Anda tahu?”
“Kalau pakai yang instan rasanya rata. Ini nggak rata.” Aku menyendok lagi. “Nenekku juga sangrai sendiri. Katanya kalau nggak, itu namanya bukan rendang, itu namanya kalio yang sombong.”
Sesuatu terjadi di wajah Danan.
Bukan senyum. Aku ingin mengatakan itu senyum karena akan lebih mudah menceritakannya begitu, tapi bukan. Sudut matanya menyempit sedikit, dan bahunya turun satu sentimeter — gerakan yang sudah kuhafal, gerakan yang dia lakukan setiap kali suapan pertamaku masuk.
“Nenek Anda benar,” katanya.
Dan dia melihat ke arah lain, ke jendela, terlalu cepat.
Aku menunduk ke piringku dan menyadari bahwa aku baru saja menyebut nenekku ke seorang klien.
Aku tidak pernah melakukan itu. Tiga tahun. Tidak pernah.
Aturan yang tidak ditulis Mbak Vera di dinding mana pun: kamu boleh berbohong sebanyak apa pun tentang dirimu, tapi jangan pernah menaruh orang yang kamu sayangi ke dalam ruangan itu. Sekali mereka masuk, mereka ikut kena.
Aku sudah memasukkan Mbah Sri ke unit 12B tanpa berpikir dua kali.
Itu cuma soal kelapa, kataku pada diriku sendiri, dan menghabiskan makanku.
Masalahnya dimulai di wastafel.
Aku sudah punya pekerjaan tetap di sana sekarang — mengeringkan gelas, tidak boleh piring — dan itu terjadi tanpa pernah dibicarakan. Rabu ketiga dia menyodorkan lap tanpa aku minta. Rabu keempat lapnya sudah ada di konter, terlipat, di sisi yang dekat denganku.
Malam itu aku sedang mengeringkan gelas kedua waktu aku melihat panci rendangnya.
Masih setengah.
“Danan.”
“Ya.”
“Ini sisanya banyak banget.”
“Ya.”
“Kamu makan berapa lama?”
Dia menutup keran. Mengelap tangan. Dan mengatakannya dengan nada yang sama seperti dia menyebutkan suhu:
“Biasanya sampai Minggu. Kalau lebih dari itu saya buang.”
Aku meletakkan gelasnya.
“Kamu buang?”
“Rendang tidak boleh dipanaskan lebih dari empat kali. Setelah itu—“
“Bukan itu maksudku.” Aku menoleh penuh. “Kamu masak rendang tujuh jam terus kamu buang setengahnya?”
Danan diam.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu yang mirip dengan tidak nyaman lewat di wajahnya. Cepat sekali. Setengah detik. Kalau aku tidak sedang menatapnya aku akan melewatkannya.
“Tidak setiap minggu,” katanya.
Yang artinya iya, hampir setiap minggu.
Lalu dia berbalik, membuka lemari atas, mengambil sesuatu, dan meletakkannya di konter di antara kami.
Kotak makan. Kaca, dengan tutup plastik biru. Bersih. Kering. Jelas belum pernah dipakai.
“Ini,” katanya.
Aku menatap kotak itu selama tiga detik penuh, dan di dalam tiga detik itu aku menjalankan seluruh isi kepalaku.
Aturan 2. Tidak menerima apa pun di luar tarif. Tidak uang, tidak barang, tidak jasa.
Aturan itu bukan basa-basi. Aturan itu ada karena barang menciptakan hubungan. Uang bisa dihitung, dibagi, dilaporkan, ditutup di akhir bulan. Barang tidak bisa. Barang tinggal di rumahmu dan mengingatkanmu setiap kali kamu membuka kulkas.
Aku sudah menolak jam tangan, dua ponsel, satu tawaran sewa apartemen, dan sekali — ini yang paling sulit — bantuan biaya rumah sakit dari seorang klien yang benar-benar tulus dan benar-benar tidak menginginkan apa pun sebagai balasan.
Aku menolak semuanya tanpa berkedip.
“Aku nggak bisa,” kataku.
Danan mengangkat alis.
“Aturan agensi. Aku nggak boleh nerima apa pun di luar tarif.”
“Ah.” Dia mengangguk pelan. “Saya baca itu. Halaman tiga.”
“Kamu baca aturannya?”
“Saya baca semua yang saya tanda tangani.”
Tentu saja.
Dia menatap kotak itu, lalu menatapku, dan aku bersiap untuk apa yang selalu terjadi setelah ini: bujukan. Ah, nggak apa-apa. Nggak usah dilaporin. Ini kan cuma makanan. Aku punya empat versi jawaban yang sudah kuhafal, semuanya sopan, semuanya tegas, semuanya berhasil.
Danan tidak membujuk.
Dia mengambil kotak itu, membukanya, dan mulai mengisinya dengan rendang.
“Danan—“
“Resepnya memang porsi dua orang,” katanya.
Sendok besar. Sekali, dua kali. Dia meratakan permukaannya dengan punggung sendok, rapi, sampai ke sudut.
“Saya tidak bisa membaginya jadi setengah,” lanjutnya, masih menunduk ke kotak. “Bumbunya gosong kalau terlalu sedikit di wajan. Santannya pecah. Jadi setiap resep di rumah ini takarannya untuk dua orang. Selalu.”
Dia menutup kotaknya. Klik. Klik.
“Setengah ini bukan milik saya,” katanya. “Saya tidak pernah memasaknya untuk saya.”
Lalu dia mendorong kotak itu di konter, ke arahku, sekitar sepuluh sentimeter. Dan berhenti.
“Terserah Anda,” katanya, dan kembali ke wastafel, dan menyalakan keran lagi.
Aku berdiri di sana dengan lap masih di tangan.
Ada air mengalir. Ada bunyi piring. Ada lampu konter yang cuma satu.
Dan ada laki-laki yang baru saja mengatakan hal paling menghancurkan yang pernah kudengar dari seorang klien, dan dia mengatakannya sambil menyebut soal santan pecah, dan dia sepenuhnya, seratus persen, tidak tahu apa yang baru saja dia ucapkan.
Saya tidak pernah memasaknya untuk saya.
Selama tiga tahun aku menerjemahkan laki-laki. Aku bisa membaca kalimat ”gimana kabarmu” dan tahu apakah itu berarti kesepian, atau nafsu, atau permintaan maaf, atau ancaman. Itu keahlianku. Itu satu-satunya yang benar-benar kupunya.
Dan aku berdiri di dapur itu dengan seluruh keahlian itu di tangan dan tidak bisa melakukan apa-apa, karena tidak ada subteks di sana untuk diterjemahkan.
Dia betul-betul cuma bicara soal takaran.
Itu yang membuat kakiku terasa aneh.
Aku mengambil kotaknya.
Dan aku melakukan hal yang tiga tahun terakhir tidak pernah kulakukan: aku bernegosiasi dengan diriku sendiri.
Ini bukan hadiah, kataku pada diriku, di dalam lift, dengan kotak kaca itu berat di dalam tas. Ini sisa. Sisa itu beda. Sisa itu bukan pemberian, sisa itu sesuatu yang mau dibuang.
Dan kotaknya harus dikembalikan.
Itu bagian yang paling kupegang. Kotaknya harus dikembalikan. Artinya ini bukan pemberian — ini pinjaman. Barang pinjaman tidak masuk kategori mana pun di halaman tiga. Aku akan mencucinya, mengeringkannya, membawanya Rabu depan, selesai, netral, nol.
Aku sungguh-sungguh mempercayai argumen itu selama sekitar satu setengah jam.
Rumah gelap waktu aku sampai. Mbah Sri tidur jam sembilan, selalu.
Aku menyalakan lampu dapur yang mati sebelah, duduk di kursi plastik di meja makan yang catnya sudah mengelupas di satu sudut, dan membuka kotak itu.
Aku sudah kenyang. Aku sudah makan penuh dua jam lalu.
Aku memakannya juga.
Dingin, dengan nasi kemarin yang kuhangatkan sebentar di panci. Duduk sendirian jam sebelas lewat, di rumah yang sertifikatnya ada di brankas koperasi, dengan suara kipas angin dan suara Mbah Sri mendengkur pelan dari kamar depan.
Dan di suapan ketiga aku berhenti, dan menaruh sendok, dan menekan pangkal telapak tangan ke mataku sampai muncul bintik-bintik putih.
Aku tidak menangis. Aku ingin menjelaskan itu dengan jelas: aku tidak menangis.
Cuma ada sesuatu yang naik ke tenggorokan dan berhenti di sana dan tidak mau turun selama sekitar empat puluh detik.
Karena begini — aku sudah lama sekali tidak diberi makanan oleh orang yang tidak sedang membeli sesuatu.
Mbah Sri memberiku makan setiap malam, iya. Tapi Mbah Sri adalah kewajiban dan cinta yang tidak bisa dipisahkan lagi satu sama lain, dan lagi pula piring itu selalu kubayar sendiri dari uang yang dia tidak tahu asalnya.
Ini beda. Ini dari orang yang membayarku, yang seharusnya adalah bentuk transaksi paling telanjang di dunia, dan entah bagaimana justru di sana ada seseorang yang memasak tujuh jam dan mengatakan setengah ini bukan milik saya.
Aku menghabiskannya. Semuanya.
Lalu aku mencuci kotaknya sampai bersih, mengeringkannya dengan lap, dan menaruhnya di rak.
Hari Kamis aku mengambilnya dari rak dan menaruhnya di meja kamarku, supaya tidak lupa.
Hari Jumat aku memindahkannya ke dekat pintu.
Hari Sabtu aku bekerja sampai jam sebelas malam untuk klien lain — acara ulang tahun kantor, tiga jam, laki-laki yang tertawa terlalu keras dan tiga kali mencoba memegang pinggangku dan tiga kali kualihkan dengan mulus — dan waktu aku pulang aku melihat kotak itu di dekat pintu dan merasa lega dengan cara yang tidak masuk akal.
Hari Minggu aku memasukkannya ke dalam tas.
Hari Senin aku mengeluarkannya lagi karena tas itu kupakai kerja dan berat.
Dan hari Selasa — hari Selasa, bukan Rabu, sehari sebelum jadwal, tanpa alasan yang bisa kupertanggungjawabkan kepada siapa pun termasuk diriku sendiri —
aku memasukkan kotak kaca itu ke dalam tas selempang kecilku, yang isinya cuma dompet dan kunci dan ponsel, dan aku membawanya keluar rumah jam setengah sebelas malam untuk membeli obat sakit kepala.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang reading
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa