← Apartemen 12B

Chapter Four

Lima Aturan

POV: Kiara


Kantor Beranda ada di lantai tiga sebuah ruko di Tebet, di atas klinik gigi dan di bawah tempat kursus bahasa Mandarin yang sudah tutup dua tahun lalu tapi papan namanya belum dicopot.

Tidak ada plang. Pintunya kaca film gelap. Di dalamnya ada meja resepsionis tanpa resepsionis, empat kursi tunggu, dispenser, dan satu pot lidah mertua yang entah kenapa selalu terlihat baru disiram.

Orang membayangkan tempat seperti ini gelap dan berbahaya. Kenyataannya membosankan. Kenyataannya ada printer yang macet setiap Selasa dan grup WhatsApp yang isinya sembilan puluh persen stiker.

Aku datang setiap awal bulan untuk urusan administrasi, dan setiap kali aku duduk di kursi tunggu itu aku merasa seperti sedang mengurus perpanjangan STNK.

“Kiara.” Mbak Vera muncul dari ruangan belakang dengan map. “Masuk.”


Mbak Vera empat puluh satu tahun, rambutnya selalu disanggul asal dengan pensil, dan dia satu-satunya orang di hidupku yang tahu persis berapa utangku sampai ke digit terakhir.

Dia dulu HRD di perusahaan logistik selama dua belas tahun. Itu terlihat dari caranya bekerja. Ada kontrak, ada formulir, ada nomor pengaduan, ada aturan yang dicetak dan ditempel di dinding dengan bingkai plastik murahan.

Orang bisa berdebat panjang soal apakah pekerjaan ini pantas ada. Aku sendiri belum selesai berdebat dengan diriku sendiri soal itu, dan mungkin tidak akan pernah selesai. Tapi satu hal yang tidak bisa kubantah: Mbak Vera pernah memblokir seorang klien seumur hidup karena laki-laki itu menyentuh siku Nadia tanpa izin, lalu mengembalikan uangnya sendiri, lalu menghabiskan tiga jam menelepon pengacara untuk memastikan Nadia tidak bisa dituntut balik.

Aku pernah bekerja di penerbitan yang tidak mau membayar honor selama tujuh bulan.

Jadi ya. Aku tahu ini kelihatannya seperti apa. Aku juga tahu mana yang lebih sering melindungiku.

“Klien Rabu,” katanya, membuka map. “Danan Prakoso.”

Sesuatu di perutku bergerak sedikit. Aku tidak mengizinkannya sampai ke wajah.

“Kenapa?”

“Dia bayar tiga bulan di muka. Lagi.” Mbak Vera membalik satu halaman. “Ini yang kedua kali. Total dua belas Rabu dibayar penuh, nggak ada satu pun yang di-reschedule, nggak ada satu pun yang minta perpanjangan waktu, nggak ada satu pun keluhan.”

“Bagus, dong.”

“Aku nggak bilang jelek.” Dia menutup map dan menatapku lewat atas kacamatanya. “Aku bilang ini nggak biasa. Kamu udah tiga tahun di sini, Ra. Klien yang pola-nya sempurna itu ada dua jenis.”

“Jenisnya apa aja?”

“Yang pertama, orang yang benar-benar cuma butuh apa yang dia minta.”

“Yang kedua?”

“Orang yang lagi nahan sesuatu sampai jebol.” Mbak Vera mengangkat bahu. “Dan aku belum pernah ketemu jenis pertama.”

Aku memutar-mutar gelas plastik air mineral di tanganku.

“Dia nggak pernah minta apa-apa,” kataku. “Sumpah, Mbak. Aku dateng, dia masak, aku makan, aku pulang. Dia bahkan nggak duduk deket-deket.”

“Terus dua jam-nya diisi apa?”

Aku membuka mulut.

Dan menyadari, dengan agak terlambat, bahwa jawaban yang jujur adalah: diisi aku yang makan dan dia yang lihat, dan bahwa kalimat itu terdengar jauh lebih intim daripada separuh hal yang pernah kulakukan untuk pekerjaan ini.

“Diem,” kataku akhirnya.

Mbak Vera memandangku agak lama.

“Ya udah,” katanya, dan menuliskan sesuatu di mapnya. “Laporan mingguan tetap jalan. Kalau ada yang aneh, langsung. Jangan sungkan-sungkan.”

“Iya.”

“Ra.”

“Iya, Mbak.”

“Aturan.” Dia mengetuk bingkai plastik di dinding dengan ujung pensil, tanpa menoleh. “Baca ulang. Kamu udah lama nggak baca.”


Aturannya ada di sana sejak hari pertama aku masuk. Dicetak dengan font yang jelek dan spasi yang terlalu longgar.

BERANDA — KETENTUAN PENDAMPING

1. Tidak menerima klien di kediaman pribadi. Pertemuan hanya di lokasi yang disetujui dan tercatat.

2. Tidak menerima apa pun di luar tarif. Tidak uang, tidak barang, tidak jasa. Semua melalui agensi.

3. Tidak menghubungi klien di luar jam kerja. Komunikasi hanya melalui aplikasi.

4. Tidak bertemu klien di luar jadwal. Termasuk pertemuan yang tidak disengaja. Laporkan.

Empat baris. Sederhana, masuk akal, dan semuanya sebenarnya melindungi kami, bukan mereka.

Aku pernah menerjemahkan kontrak kerja untuk perusahaan tambang, dan aku bisa bilang dengan jujur bahwa aturan Mbak Vera lebih waras daripada sebagian besar dokumen yang pernah kubaca.

Yang tidak ada di bingkai plastik itu adalah aturan kelima.

Aturan kelima tidak ditulis siapa pun. Aturan kelima aku yang buat, empat bulan setelah aku mulai, di kamar mandi sebuah hotel di Kuningan, sambil menatap wajahku di cermin dan mencoba mengingat kapan terakhir kali aku memakai wajah itu untuk diriku sendiri.

5. Tidak jatuh cinta.

Bukan karena romantis-romantisan. Karena matematika.

Kalau kamu jatuh cinta pada klien, kamu berhenti dibayar untuk dua jam. Kamu mulai memberikan dua puluh empat jam, tujuh hari, gratis, ke orang yang kontraknya cuma mencakup dua. Kamu akan menunggu, dan menunggu itu tidak ada tarifnya.

Dan pada akhirnya kamu akan menemukan bahwa orang itu tidak pernah membeli kamu. Dia membeli waktunya. Yang selama ini kamu sangka dia butuhkan — itu kamu yang menaruhnya di sana.

Aku sudah melihatnya terjadi ke tiga orang. Dua berhenti. Satu masih bekerja di sini dan tidak pernah lagi tertawa dengan cara yang sama.

Aturan kelima adalah aturan termudah yang pernah kubuat, karena selama tiga tahun tidak ada satu pun klien yang membuatku harus benar-benar mematuhinya.

Aku membacanya sekali di dinding — tiga aturan pertama, maksudku, karena yang kelima cuma ada di kepalaku — lalu keluar.


Nadia sedang duduk di kursi tunggu dengan kaki naik ke kursi sebelahnya, mengunyah cireng dari kotak plastik.

“Gimana? Diomelin?”

“Nggak.”

“Sayang banget.” Dia menyodorkan kotaknya. “Nih. Bu Ratih depan gang. Dosanya enak parah.”

Aku mengambil satu.

Nadia dua puluh enam, masuk Beranda delapan bulan setelah aku, dan punya kemampuan yang tidak kupunya: dia sepenuhnya tidak merasa bersalah. Bukan karena dia keras. Karena dia sudah menghitung semuanya sejak awal dan tidak menyisakan ruang untuk penyesalan.

“Eh,” katanya dengan mulut penuh. “Si Rabu itu gimana?”

“Kenapa semua orang nanya soal dia.”

“Karena kamu ngomongin dia dua kali minggu lalu tanpa ditanya.”

“Nggak.”

“Dua kali, Ra. Satu soal ikan, satu soal—“ Nadia mengangkat tangan, membuat gerakan menggulung. “—lengan baju. Kamu ngomongin lengan baju orang.”

“Itu deskripsi.”

“Itu deskripsi,” ulang Nadia, datar, dan menggigit cirengnya.

Aku menatap dinding.

“Dia nggak gitu, Nad.”

“Semua orang gitu.”

“Dia nggak—“ Aku berhenti. Mencoba lagi. “Kamu tahu klien yang pengen dianggep baik? Yang bilang aku beda lho sama yang lain, terus tetep aja mereka pegang tangan kamu di menit lima puluh?”

“Tiap Sabtu.”

“Dia bahkan nggak pengen dianggep baik. Dia nggak mikirin gimana dia keliatan sama sekali.” Aku memutar cireng di jariku. “Nad, dia ngomongin ikan kembung sebelas menit. Aku itung.”

Nadia berhenti mengunyah.

Lalu dia menaruh kotak cirengnya. Pelan. Dengan cara yang membuatku langsung menyesal membuka mulut.

“Kamu itung,” katanya.

“Itu—“

“Kamu itung, Ra.”

“Aku emang suka ngitung. Aku ngitung semuanya. Aku ngitung berapa detik orang buka pintu.”

Nadia menatapku dengan tatapan yang jauh lebih tua dari dua puluh enam tahun, dan untuk sesaat aku benar-benar takut dia akan mengatakan sesuatu yang tidak bisa kubatalkan.

Lalu dia mengangkat bahu dan mengambil cirengnya lagi.

“Ya udah,” katanya. “Ntar kalau kamu ketauan hafal ukuran sepatunya, bilang aku.”

“Empat puluh tiga.”

Nadia tersedak.

Aku melempar bungkus cireng ke kepalanya dan bilang aku bercanda, dan aku memang bercanda, dan itu tetap tidak menjelaskan kenapa aku tahu ada dua kolom di rak sepatunya dan satu kolom itu kosong.


Aku pulang naik dua angkot dan berjalan tujuh menit dari mulut gang.

Rumah kami yang terakhir — rumah Bapak, sekarang rumah Mbah Sri — ada di ujung, dengan pagar besi yang engselnya sudah tiga tahun kubilang mau kuganti.

Bapak meninggal dua puluh sembilan bulan lalu. Aku menghitungnya dalam bulan karena dalam tahun terdengar lebih lama daripada rasanya.

Yang dia tinggalkan ada dua: satu koperasi simpan pinjam yang dia jamin dengan sertifikat rumah ini demi teman yang lalu menghilang, dan satu ibu berumur tujuh puluh delapan yang tidak pernah tahu bahwa anaknya menandatangani apa pun.

Sisa utangnya seratus sembilan puluh empat juta.

Aku tahu angka itu tanpa harus melihat, dengan cara yang sama seperti orang tahu tanggal lahirnya sendiri.

“Ra?” Suara Mbah Sri dari dalam. “Wis mangan?”

“Udah, Mbah.”

“Mangan apa?”

Aku melepas sepatu di teras. Berhenti sebentar dengan tangan di gagang pintu.

“Ikan kembung,” kataku.

“Sing bakar?”

“Iya. Yang bakar.”

“Wah.” Mbah Sri muncul di ambang pintu dapur dengan piring di tangan, sudah menyiapkan makan malam untukku seperti setiap malam, seperti yang selalu kubilang tidak usah dan dia selalu abaikan. “Enak ora?”

Aku menatap piring di tangannya. Nasi, tempe orek, sayur asem yang sudah dingin.

“Enak, Mbah,” kataku.

Dan aku duduk, dan aku makan lagi, sampai habis, karena aku tidak akan pernah membiarkan perempuan itu melihat makanannya tidak dihabiskan.

Malam itu aku berbaring di kamar dan menatap langit-langit dan berpikir soal aturan kelima, dan menyimpulkan — dengan keyakinan penuh, dengan seluruh kemampuan membaca subteks yang kupunya, dengan tiga tahun pengalaman —

bahwa aturan kelima tidak sedang dalam bahaya apa pun.

Aku benar-benar berpikir begitu.

Itu bagian yang paling ingin kutertawakan sekarang.