Chapter Sixteen
Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
POV: Kiara
Anda melakukan pekerjaan Anda.
Aku memikirkan kalimat itu selama empat hari.
Bukan karena kejam. Itu justru masalahnya — kalimat itu tidak kejam sama sekali. Kalimat itu benar. Kalimat itu adalah rangkuman paling akurat dari apa yang terjadi malam Rabu itu, disampaikan dengan sopan oleh orang yang membayar tarifnya penuh dan tepat waktu.
Aku pernah dilempar amplop ke pangkuan oleh seorang laki-laki yang marah. Aku pernah diteriaki di lobi hotel. Aku pernah — sekali, dan cuma sekali — harus mengunci diri di kamar mandi dan menelepon nomor pengaduan Beranda jam dua pagi.
Tidak satu pun dari itu membuatku sesulit ini tidur.
Karena tidak satu pun dari itu benar.
Hari Minggu aku tidak pergi ke Palmerah.
Aku bangun jam empat, tanpa alarm, dengan mata terbuka penuh dan badan yang sudah siap. Aku berbaring di kasur menatap retakan di dekat plafon yang bentuknya seperti sungai, sampai jam lima lewat, sampai lewat waktu di mana pergi masih ada gunanya.
Lalu aku bangun dan mencuci pakaian.
Nadia menemukanku jam sembilan sedang menjemur di belakang, dengan ember dan tiga kaus yang sudah kering dari kemarin.
“Lo nggak ke pasar.”
“Nggak.”
“Lo pasang alarm jam empat.”
“Aku nggak pasang alarm.”
Nadia menatapku.
“Ra, gua tidur sekamar sama lo pas lo nginep di sini. Gua tau lo pasang alarm jam empat tiap Sabtu malem selama tiga minggu.”
Aku menggantung kaus terakhir.
“Ya udah nggak lagi,” kataku.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Nadia mengambil ember kosong dari tanganku dan menaruhnya terbalik di lantai, lalu duduk di atasnya, lalu menatapku dari bawah dengan cara yang membuat kabur jadi mustahil.
“Dia ngomong sesuatu.”
“Nggak.”
“Ra.”
“Dia bilang aku ngelakuin pekerjaanku,” kataku.
Hening.
“Dan itu bener,” lanjutku. “Itu bener banget, Nad. Ibunya dateng, dan aku otomatis. Aku bahkan nggak mikir. Aku masuk, aku liat ada ibu-ibu di sofa, dan dalem tiga detik aku udah tau harus duduk di kursi mana biar posisinya lebih rendah.”
Aku mendengar suaraku sendiri naik dan aku menurunkannya lagi.
“Aku nanya soal opor. Aku diem tiga detik pas dia nyebut almarhum suaminya. Aku ngitung, Nad. Aku ngitung tiga detik itu.”
Nadia tidak mengatakan apa-apa.
“Dan dia liat,” kataku. “Dia berdiri di dapur selama satu setengah jam dan dia liat semuanya.”
“Ra,” kata Nadia setelah lama sekali. “Gua mau cerita sesuatu, dan gua cuma mau cerita sekali, terus abis itu kita nggak usah bahas lagi.”
Aku duduk di tangga belakang.
“Lo inget Mbak Lia?”
“Yang berhenti tahun kemarin?”
“Iya.”
Aku mengangguk. Aku ingat samar-samar. Perempuan tenang, umur tiga puluhan, salah satu yang paling senior. Berhenti mendadak. Tidak ada yang membahas kenapa.
“Dia sama satu klien selama sebelas bulan,” kata Nadia. “Bapak-bapak, duda, dua anak. Baik. Beneran baik, Ra, bukan baik-baik-an. Nggak pernah minta apa-apa aneh, nggak pernah nawar, selalu nganter sampe rumah.”
“Terus?”
“Terus setelah sebelas bulan Mbak Lia bilang ke dia bahwa dia nggak mau dibayar lagi.”
Sesuatu di perutku turun.
“Dan bapaknya bilang apa?” tanyaku.
“Bapaknya bilang ‘oke’.” Nadia mengangkat bahu. “Terus dua minggu kemudian bapaknya berhenti panggil.”
“Kenapa?”
“Ya karena begitu nggak ada tarifnya, dia harus mikir.” Nadia menatap jemuran. “Selama ada tarif, dia nggak perlu nanya ke diri sendiri apa artinya perempuan itu buat dia. Ada angkanya. Ada jamnya. Ada mulai dan selesai. Begitu angkanya diilangin, tiba-tiba dia harus jawab pertanyaan yang selama sebelas bulan bisa dia hindarin.”
“Dan dia nggak bisa jawab.”
“Dia nggak mau jawab,” kata Nadia. “Itu beda, dan itu lebih sakit.”
Aku menarik lutut ke dada di tangga belakang rumah kontrakan Nadia, jam sembilan pagi hari Minggu, dengan bau sabun cuci di tangan.
“Mbak Lia berhenti bukan karena patah hati,” kata Nadia. “Dia berhenti karena dia sadar dia udah setahun ngasih sesuatu yang dia nggak pernah tagihin, dan orangnya nggak pernah tau dia lagi ditagih.”
Hari Senin aku ke kantor Beranda.
Aku tidak punya urusan apa-apa di sana. Administrasi bulan ini sudah beres. Tidak ada kontrak yang perlu ditandatangani.
Aku datang jam sebelas, waktu Mbak Vera biasanya keluar untuk urusan bank, dan duduk di kursi tunggu yang salah satu kakinya lebih pendek, dan menatap bingkai plastik murahan di dinding.
BERANDA — KETENTUAN PENDAMPING
1. Tidak menerima klien di kediaman pribadi.
Aman. Dia tidak tahu di mana rumahku. Dia tahu mulut gangnya, dia tahu trotoarnya rusak di dekat tiang listrik ketiga, tapi dia tidak tahu rumah yang mana.
Aman adalah kata yang lucu untuk dipakai di sini.
2. Tidak menerima apa pun di luar tarif.
Sepuluh kotak makan. Satu rantang opor. Sebelas menit ceramah ikan kembung yang tidak ada tarifnya di mana pun.
3. Tidak menghubungi klien di luar jam kerja.
Satu jam empat puluh menit, hari Jumat, tentang tepung.
4. Tidak bertemu klien di luar jadwal. Termasuk pertemuan yang tidak disengaja. Laporkan.
Selasa di lorong bumbu. Minggu di Palmerah — dan yang itu bahkan tidak bisa disebut tidak disengaja, karena aku bangun jam empat empat puluh dan naik angkot dan mencarinya di antara dua ratus lapak.
Tidak satu pun kulaporkan.
Aku duduk di kursi tunggu yang kakinya lebih pendek dan menghitung: empat dari empat.
Semuanya. Dalam sepuluh minggu.
Perempuan yang selama tiga tahun tidak pernah sekali pun mendapat teguran, yang dipakai Mbak Vera sebagai contoh waktu ada pendamping baru masuk, yang pernah menolak jam tangan dan dua ponsel dan bantuan biaya rumah sakit dari orang yang tulus.
Empat dari empat, dalam sepuluh minggu, untuk seorang laki-laki yang tidak pernah menyentuhku sekali pun kecuali tiga anak tangga.
Dan aturan kelima tidak ada di dinding itu.
Aku menatap ruang kosong di bawah aturan keempat. Bingkai plastik itu berukuran A4 dan tulisannya berhenti di dua pertiga halaman, jadi ada ruang putih sekitar sepuluh sentimeter di bawahnya.
Ruang itu kosong.
Selama tiga tahun aku melihat bingkai itu ratusan kali dan tidak sekali pun terpikir bahwa ada ruang kosong di sana.
Aturan kelima tidak pernah kutulis. Aku membuatnya di kamar mandi hotel di Kuningan empat tahun lalu, sambil menatap wajahku di cermin, dan aku membuatnya di dalam kepala, dan itu terasa lebih kuat karena tidak tertulis.
Sekarang aku mengerti kenapa itu bodoh.
Aturan yang tidak tertulis tidak punya tanggal pelanggaran.
Tidak ada momen di mana seseorang menunjuk selembar kertas dan berkata ini, tanggal segini, kamu langgar yang ini. Tidak ada saksi. Tidak ada teguran. Tidak ada apa pun.
Yang ada cuma seorang perempuan yang duduk di kursi tunggu dengan kaki yang lebih pendek sebelah, jam sebelas siang hari Senin, dan menyadari bahwa dia sudah melanggarnya entah kapan — mungkin di lorong bumbu, mungkin di pasar jam lima pagi, mungkin di atap gedung waktu seorang laki-laki berkata lain kali dan berhenti di tengah kalimat —
dan bahwa tidak akan pernah ada satu pun orang yang memberitahunya.
Aku duduk di sana sampai jam dua belas lewat.
Lalu aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi dan mencari tombol yang sudah kuhindari sejak Sabtu.
Ajukan Penggantian Pendamping
Prosedurnya sederhana. Aku mengajukan, Mbak Vera meninjau, dan pendamping lain mengambil alih jadwal Rabu. Klien diberi tahu lewat aplikasi. Tidak ada percakapan, tidak ada perpisahan, tidak ada penjelasan yang harus diberikan kepada siapa pun.
Dia akan mendapat pesan otomatis hari Selasa. Pendamping untuk sesi Anda telah diganti.
Dia akan membalas baik, karena dia selalu membalas baik.
Lalu hari Rabu jam tujuh dia akan membuka pintu, dan seseorang yang bukan aku akan berdiri di sana, dan dia akan berkata selamat malam, menu malam ini dan menyebutkan tiga atau empat hal.
Dan perempuan itu akan makan, dan dia akan duduk di kursi seberang, dan bahunya akan turun satu sentimeter waktu suapan pertama masuk.
Aku menekan tombolnya.
Formulirnya muncul.
Alasan penggantian (wajib diisi)
Aku menatap kolom itu.
Ada garis di sana, menunggu. Kursor berkedip.
Dan aku duduk di kursi tunggu di lantai tiga sebuah ruko di Tebet, di bawah papan nama tempat kursus Mandarin yang sudah tutup dua tahun lalu, dan aku tidak bisa mengetik satu huruf pun.
Karena satu-satunya alasan yang benar adalah kalimat yang tidak pernah kuucapkan kepada siapa pun, termasuk kepada Nadia, termasuk kepada diriku sendiri di dalam gelap sebelum tidur.
Dan begitu kuketik, kalimat itu akan ada. Tertulis. Terkirim. Terbaca oleh seorang perempuan berumur empat puluh satu tahun yang bekerja dua belas tahun di HRD dan tidak pernah sekali pun salah membaca orang.
Aku menutup aplikasinya.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Aku berdiri, mengambil air minum dari dispenser, dan berjalan keluar melewati bingkai plastik dengan empat aturan dan sepuluh sentimeter ruang putih di bawahnya.
Dua hari lagi, kata sesuatu di dalam badanku.
Aku tidak menyuruhnya berhenti.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun reading
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa