← Apartemen 12B

Chapter Thirty Two

Kelapa Sangrai

POV: Kiara


Aku menghabiskan dua hari mencoba mencegah pertemuan ini.

Bukan karena malu. Karena aku sudah menghitung semua kemungkinannya dan tidak satu pun yang aman.

Mbah Sri tahu semuanya. Aku sendiri yang memberitahunya, di ruang depan rumah yang sekarang sudah bukan rumah kami, dengan televisi mati. Dia tahu aku bekerja di agensi. Dia tahu apa isi pekerjaannya. Dan dia tahu — karena aku tidak menyembunyikan satu bagian pun — bahwa ada satu klien tetap setiap hari Rabu selama tiga puluh satu minggu.

Jadi ketika aku bilang ada tamu hari Sabtu, dan Mbah Sri bertanya sing masak dhewe kuwi?, tidak ada satu pun bagian dari percakapan itu yang bisa kuselamatkan dengan berbohong.

“Mbah,” kataku hari Kamis. “Mbah nggak usah repot ya.”

“Sopo sing repot.”

“Mbah masak dari jam berapa?”

“Ora masak.”

Dia berbohong. Aku tahu dia berbohong karena hari Jumat sore dapur kontrakan itu berbau kelapa sangrai dari jam empat.


Danan datang jam enam.

Dia berdiri di depan pintu pagar kontrakan yang catnya hijau dengan tangan kosong, dan aku langsung tahu ada yang salah.

“Kamu nggak bawa apa-apa?”

“Tidak.”

“Danan.”

“Saya sudah berpikir tiga hari,” katanya. “Kalau saya membawa makanan, artinya saya mengoreksi meja orang. Kalau saya membawa oleh-oleh mahal, artinya saya membeli sesuatu. Kalau saya membawa bunga—“

“Kamu mikirin bunga?”

“Selama empat puluh menit.”

Aku menutup wajah dengan satu tangan.

“Terus kesimpulannya kamu dateng dengan tangan kosong ke rumah nenek aku.”

“Tidak.” Dia mengangkat tangan kanannya sedikit. “Saya membawa ini.”

Di telapaknya ada satu bungkus kecil, dibungkus kertas cokelat, seukuran kepalan.

“Apa itu?”

“Merica hitam. Dari Lampung, satu petani. Saya beli setengah kilo setiap tiga bulan.” Dia menyerahkannya. “Ini seperempat dari jatah saya bulan ini.”

Aku menatap bungkusan itu.

“Kamu ngasih nenek aku merica.”

“Ya.”

“Setengah dari jatah kamu.”

“Seperempat.”

Dan aku berdiri di depan pintu pagar itu dan menyadari bahwa laki-laki ini baru saja memberikan hal paling berharga yang dia punya yang bukan uang, dan bahwa dia sepenuhnya tidak tahu bahwa itu yang baru saja dia lakukan.


Mbah Sri membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk.

Dia sudah berdiri di sana. Entah berapa lama.

Dia menatap Danan dari bawah ke atas — dan Danan tingginya seratus delapan puluh tiga dan Mbah Sri seratus empat puluh sembilan, jadi itu jarak yang cukup jauh untuk ditempuh mata.

“Mlebu,” katanya.

Itu saja.

Danan melepas sepatu, meletakkannya sejajar menghadap keluar, dan masuk.


Makan malamnya berlangsung empat puluh menit dan selama empat puluh menit itu Mbah Sri tidak bertanya satu pun pertanyaan basa-basi.

Bukan kerja di mana, bukan asalnya mana, bukan anak keberapa.

Dia menyendokkan sayur lodeh ke piring Danan dan bertanya:

“Sampeyan sing mbayar Kiara kuwi?”

Aku menjatuhkan sendokku.

“Mbah—“

“Ya,” kata Danan.

Ruangan itu diam.

Aku menatapnya. Dia tidak menoleh ke arahku. Dia duduk tegak, dengan kedua tangan di sisi piring, menghadap perempuan berumur tujuh puluh delapan tahun itu.

“Tiga puluh satu kali,” katanya. “Setiap hari Rabu, jam tujuh sampai jam sembilan. Lewat agensi, dengan kontrak. Saya bayar tiga bulan di muka.”

Mbah Sri mengangguk pelan.

“Sampeyan njaluk apa?”

“Saya minta dia makan.”

“Kuwi thok?”

“Itu saja.”

Mbah Sri menaruh sendok sayurnya.

“Ora tak percoyo,” katanya.

Dan aku hampir berdiri.

Tapi Danan mengangguk — mengangguk, seperti orang yang menerima temuan lapangan yang wajar — dan berkata:

“Saya juga tidak akan percaya.”


Lalu dia menceritakannya.

Semuanya. Kepada Mbah Sri, di meja makan kontrakan yang catnya mengelupas, sambil sayur lodehnya mendingin.

Dia menceritakan tentang unit 12B. Tentang satu setengah tahun merancangnya. Tentang bangku jendela seratus empat puluh sentimeter yang diukur dua kali dengan bantal. Tentang hari Sabtu, sebelas panggilan, tiga kata.

Tentang seratus sembilan belas lembar resep di dalam map yang semuanya untuk dua porsi, dan tentang sisanya yang masuk kulkas dan dibuang setiap hari Minggu.

Dan tentang Bimo yang bercanda di bulan Februari, dan tentang formulir yang kolom permintaan khususnya dia isi dengan satu tanda hubung.

Dia menceritakannya dengan nada yang sama seperti dia menyebutkan suhu oven, dan dia tidak memperhalus satu bagian pun, dan dia tidak sekali pun menyebutkan sesuatu yang bisa membuat dirinya terdengar lebih baik.

Ketika dia selesai, Mbah Sri sudah tidak menyentuh makanannya sama sekali.

“Sampeyan mbuwang panganan?” katanya.

Aku berkedip.

Dari seluruh cerita itu, dari seluruh empat puluh menit itu — itu yang dia tangkap.

“Ya,” kata Danan.

“Saben minggu?”

“Hampir setiap minggu. Selama tiga tahun.”

Mbah Sri menatapnya.

Lalu perempuan itu — dan aku sudah hidup dengannya dua puluh sembilan tahun dan aku belum pernah melihat ini — perempuan itu menggeleng dan mengeluarkan bunyi kecil dari tenggorokannya, dan matanya berair.

“Yo ampun,” katanya. “Kok yo mesakke temen.”


Setelah makan, dia menyuruh Danan ke dapur.

Bukan mengajak. Menyuruh.

“Sampeyan sing masak kuwi, ta? Mrene.”

Aku mengikuti dari belakang dan berdiri di ambang pintu dapur dan tidak berani masuk.

Dapur kontrakan itu kecil. Satu kompor dua tungku, konter ubin yang retak di dua tempat, wajan besi yang sudah hitam. Di atas kompor ada wajan berisi kelapa parut yang sudah setengah disangrai dari sore.

“Iki,” kata Mbah Sri. “Diterusna.”

Danan berdiri di depan wajan itu.

Dan aku menyaksikan sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

Laki-laki yang menimbang kunyit sampai delapan gram, yang punya seratus dua puluh dua lembar catatan resep dengan kolom toleransi, yang menjelaskan cara memegang pisau selama enam menit —

laki-laki itu mengambil sotil, mulai mengaduk, dan dikoreksi dalam sembilan detik.

“Kesuwen,” kata Mbah Sri. “Apine cilikke.”

Danan mengecilkan api.

“Adhuk terus. Ojo mandheg.”

“Ya.”

“Ngko lek wis coklat kaya kuwi—“ Mbah Sri menunjuk. “Kuwi durung. Sing bener nganti metu lengane.”

“Sampai keluar minyaknya.”

“Ho’oh.”

“Berapa lama, Mbah?”

Mbah Sri menatapnya.

“Ora ono wektune,” katanya. “Dirasakke.”

Dan Danan — Danan, yang tidak percaya pada apa pun yang tidak punya angka, yang mengatakan kepadaku di lantai koridor bahwa masak itu katanya pakai perasaan dan dia tidak punya perasaan yang bisa diandalkan untuk itu —

Danan mengangguk dan berkata, “Baik,” dan berdiri di depan wajan itu selama dua puluh delapan menit tanpa menanyakan waktu sekali pun.


Aku duduk di ruang depan dan mendengarkan mereka dari dapur.

Suara sotil di wajan besi. Suara Mbah Sri sesekali, pendek. Suara Danan menjawab, lebih pendek.

Dan sekali — cuma sekali — suara Mbah Sri tertawa.

Aku duduk di kursi plastik itu dengan tangan di pangkuan dan menangis tanpa suara selama sekitar dua menit, lalu mencuci muka di kamar mandi sebelum ada yang keluar.


Danan pulang jam sepuluh.

Di pintu pagar dia berhenti dan berbalik.

“Kiara.”

“Iya.”

“Kelapanya belum selesai.”

“Hah?”

“Belum sampai keluar minyaknya.” Dia terlihat betul-betul terganggu. “Mbah Sri bilang sudah cukup, tapi menurut saya belum. Warnanya masih di bawah target.”

“Danan, itu kelapa punya nenek aku.”

“Iya.” Dia menghela napas. “Itu yang membuat saya tidak bisa berdebat.”

Aku tertawa.

“Boleh saya datang lagi?” katanya.

“Kamu nanya aku apa nanya Mbah?”

Dia berpikir.

“Dua-duanya,” katanya. “Tapi urutannya kamu dulu.”


Aku masuk dan menutup pintu dan Mbah Sri masih duduk di ruang depan dengan televisi menyala tanpa suara.

“Mbah.”

“Hm.”

Aku duduk di kursi seberangnya.

Aku sudah menyiapkan pertanyaannya sepanjang malam dan sekarang aku tidak berani mengucapkannya, jadi aku duduk di sana memutar-mutar ujung dasterku.

“Ra.”

“Iya.”

“Wong kuwi ora iso ngapusi,” katanya.

Aku mengangkat wajah.

“Mbah tau dari mana?”

Mbah Sri mengangkat tangannya ke arah dapur, ke arah wajan yang sudah dicuci dan ditelungkupkan di rak.

“Aku ngomong kelapane wis cukup,” katanya. “Dheweke ora setuju. Kethok ing raine.”

Dia menurunkan tangannya.

“Ning ora mbantah. Amarga kuwi kelapaku.”

Perempuan itu menoleh ke arahku, dan matanya menyipit dengan cara yang sudah kukenal seumur hidupku.

“Wong sing ngerti sing bener nanging tetep meneng amarga kuwi duweke wong liya,” katanya. “Kuwi angel, Ra. Angel banget.”

Aku menatap lantai.

“Mbah.”

“Hm.”

“Dia bayar aku tiga puluh satu kali.”

“Aku ngerti.”

“Terus?”

Mbah Sri mengambil remote dan menaikkan volume televisi, yang berarti percakapan ini sudah selesai, yang berarti dia akan mengucapkan satu kalimat terakhir dan tidak akan mengulanginya.

“Sing tak pikirke ki dudu sing wingi,” katanya. “Sing tak pikirke ki sesuk.”

Dan lalu, sambil sudah menghadap televisi, dengan volume yang sudah terlalu keras:

“Kandhanana, minggu ngarep nggawa kelapa dhewe.”