← Apartemen 12B

Chapter Five

Toleransi

POV: Danan


Rabu ketiga, aku membuat soto ayam.

Aku membuatnya karena soto adalah ujian. Terlalu banyak variabel yang tidak bisa disembunyikan: kaldunya bening atau keruh, ayamnya berserat atau hancur, kunyitnya terasa atau cuma jadi warna. Orang bisa berbohong soal rendang. Tidak ada yang bisa berbohong soal soto.

Aku menyajikannya jam tujuh lewat enam. Nasi terpisah, sambal di piring kecil di sisi kanan, jeruk nipis seperempat.

Kiara mengambil sendok. Aku duduk.

Dan dalam empat menit aku melihatnya.

Dia makan seperti biasa — cepat di awal, melambat di tengah, sepenuhnya hadir dengan cara yang tidak dilakukan kebanyakan orang. Tapi setiap kali sendoknya mengangkat sesuatu berwarna hijau, tangannya berhenti setengah detik, dan dia memindahkannya ke pinggir mangkuk.

Bukan dengan gerakan besar. Bukan menyisihkan. Dia menggesernya seperti orang merapikan meja.

Seledri.

Aku menghitung sampai akhir. Tujuh kali. Tidak satu pun masuk.

Di akhir, mangkuknya kosong kecuali sebuah cincin kecil daun seledri di pinggirnya, melingkar rapi seperti sesuatu yang sengaja disusun.

“Enak banget,” katanya.

“Terima kasih.”

“Serius. Ini yang paling enak sejauh ini.”

“Terima kasih,” ulangku, dan aku mengangkat mangkuknya, dan aku tidak mengatakan apa pun tentang cincin hijau itu.


Malam itu aku mengeluarkan map dari laci.

Lembar soto ayam. Nomor 41 di daftarku. Aku menulisnya lima tahun lalu dan sudah merevisinya empat kali; revisi terakhir tahun lalu, soal kapan serai dimasukkan.

Di bagian bawah ada kolom kosong yang biasanya kupakai mencatat kesalahan produksi. Kaldu keruh — api terlalu besar di menit 20. Ulangi dengan skala 3.

Aku duduk di meja dapur dengan pulpen di tangan selama beberapa saat.

Lalu aku menulis:

Seledri: 7/7 tidak dimakan. Disisihkan rapi, bukan didorong. Kemungkinan tidak suka, bukan kenyang.

Aku menatap kalimat itu.

Ada dua kemungkinan lain yang harus kusingkirkan sebelum aku boleh menyimpulkan apa pun. Satu, dia sedang tidak enak badan. Dua, dia kebetulan tidak suka seledri dalam soto — sebagian orang begitu, punya keberatan yang sangat spesifik terhadap kombinasi tertentu dan sepenuhnya baik-baik saja dengan bahan yang sama di tempat lain.

Data satu titik bukan data.

Rabu berikutnya aku membuat sup bening bakso dengan seledri, potongan lebih kecil, jumlah lebih sedikit. Terselip. Sulit disisihkan.

Kiara memakan setengah mangkuk, lalu berhenti, lalu mengaduk-aduknya beberapa saat.

“Aku kenyang,” katanya.

Piring lain habis semua.

Aku mengangguk, mengangkat mangkuknya, dan berkata bahwa supnya memang porsinya kebesaran.

Malam itu aku menulis di lembar nomor 41, di bawah catatan yang pertama:

Konfirmasi. Ganti seledri → daun bawang (potong 3 mm). Aroma hilang sebagian, terima.

Lalu, karena aku tidak bisa membiarkan sesuatu setengah selesai, aku mengeluarkan seluruh isi map — seratus sembilan belas lembar — dan menyebarnya di meja jati itu sampai penuh, dan mulai mencari.

Ada dua puluh tiga resep yang memakai seledri.

Aku mengoreksi semuanya, satu per satu, sampai jam dua belas lewat empat puluh.

Aku sadar sepenuhnya bahwa itu perbuatan orang yang tidak waras. Aku melakukannya tetap.


Yang harus kujelaskan — dan ini bagian yang belakangan kusadari sebagai kesalahanku, meski waktu itu aku betul-betul yakin sedang bersikap benar — adalah kenapa aku tidak bertanya saja.

Bertanya itu tiga detik. ”Anda tidak suka seledri?” Selesai.

Aku memikirkannya. Aku memikirkannya di depan wastafel dengan tangan basah.

Dan aku memutuskan tidak, karena begini: kalau aku bertanya, dia akan tahu bahwa aku memperhatikan. Kalau dia tahu aku memperhatikan, dia akan merasa harus memberi sesuatu sebagai balasan.

Aku sudah cukup lama berurusan dengan manusia untuk tahu bahwa perhatian menciptakan utang. Orang tidak bisa menerima sesuatu tanpa merasa harus mengembalikannya. Dan perempuan ini datang ke rumahku karena sebuah kontrak, dengan tarif yang jelas, dengan jam mulai dan jam selesai — satu-satunya hal yang membuat posisinya aman adalah bahwa semua yang terjadi di sini sudah dibayar dan tidak ada sisa.

Kalau aku menambahkan sesuatu yang tidak ada di tarif, aku menaruh beban di pundaknya yang tidak dia setujui.

Jadi aku mengubah resepnya diam-diam dan tidak memberitahunya.

Aku benar-benar mengira itu bentuk sopan santun.

Butuh sekitar lima bulan, satu perempuan yang mencium lalu pergi, dan satu perempuan lain yang kembali dari tiga tahun lalu untuk membuatku mengerti bahwa yang kulakukan itu bukan sopan santun.

Itu memutuskan sendiri apa yang boleh dia ketahui tentang dirinya.


“Lo pulang jam berapa hari Rabu?”

Bimo bertanya begitu di ruang meeting, hari Senin, sambil membolak-balik contoh laminasi.

“Kenapa?”

“Kenapa apanya. Gua nanya jam berapa.”

“Lima.”

“Lima.” Bimo menaruh contoh laminasi. “Lo nggak pernah pulang jam lima seumur hidup lo, Nan. Lo pulang jam lima tuh terakhir waktu—“

Dia berhenti sendiri.

Kami berdua tahu kalimatnya berakhir di mana. Kami berdua memilih tidak menyelesaikannya, seperti biasa, seperti selama tiga tahun.

“Gua ada urusan,” kataku.

“Urusan.”

“Iya.”

“Setiap Rabu.”

“Iya.”

Bimo menatapku lama. Lalu dia menghela napas panjang, dengan gaya orang yang sudah berlatih menghela napas panjang, dan mengangkat contoh laminasinya lagi.

“Yang ini apa yang itu?” tanyanya.

“Yang itu.”

“Kenapa?”

“Karena klien lo itu punya dua anak di bawah lima tahun dan yang ini nunjukin bekas jari.”

“Anjir.” Bimo melempar sampel yang satu ke meja. “Kadang gua lupa lo tuh sebenernya jago.”

“Kadang gua juga.”

Dia tertawa. Aku tidak.


Rabu keempat, aku memasak sup bening tanpa seledri.

Kiara mengangkat sendok pertama, dan berhenti.

Dia mengaduknya. Mengangkat sendok lagi. Menatap isinya.

“Ini...” Dia mengerutkan kening. “Ini beda.”

Jantungku melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk situasi seringan itu.

“Beda bagaimana?”

“Nggak tahu. Wanginya beda.” Dia menyendok lagi. “Ini enak, tapi minggu lalu ada... apa ya. Ada yang lebih tajam?”

“Daun bawang.”

“Yang minggu lalu?”

“Yang minggu lalu seledri,” kataku, dan aku mengangkat gelasku, dan aku mengucapkan kalimat berikutnya dengan nada yang persis sama dengan nada yang kupakai untuk menyebutkan suhu oven. “Resep aslinya memang daun bawang. Yang minggu lalu variasi.”

Kiara mengangguk pelan. “Oh.”

“Ada yang kurang?”

“Nggak. Nggak, ini enak.”

Dia meneruskan makan.

Aku duduk di kursi seberang, dengan gelas di tangan, dan menyadari dua hal secara bersamaan.

Yang pertama: aku baru saja berbohong. Pertama kali dalam entah berapa lama. Dan bukan bohong besar, bukan bohong yang merugikan siapa pun, tapi tetap saja bohong — dan aku melakukannya dengan sangat lancar, tanpa jeda, tanpa satu pun tanda di wajahku.

Yang kedua, dan ini yang lebih mengganggu:

Dia menghabiskan seluruh mangkuknya. Tidak ada yang tersisa di pinggir. Tidak ada cincin hijau.

Dan aku merasakan sesuatu yang sepenuhnya tidak proporsional untuk semangkuk sup.


Setelah dia pulang, aku mencuci piring, mengelap meja, mematikan lampu dapur sampai tinggal satu di atas konter.

Lalu aku mengeluarkan map lagi.

Aku ingin mencatat hasilnya. Itu prosedur. Setiap perubahan resep harus diikuti catatan hasil, kalau tidak seluruh sistemnya tidak ada gunanya.

Aku mengambil lembar kosong dari belakang map — aku selalu menyimpan sepuluh lembar kosong dengan format yang sudah dicetak — dan menaruhnya di depanku.

Di bagian paling atas ada kolom NAMA MASAKAN.

Aku menulis di sana, otomatis, tanpa memikirkannya sama sekali:

RABU

Aku menyadarinya sekitar dua detik kemudian.

Duduk di sana, jam sepuluh lewat, di dapur yang cuma satu lampunya menyala, dengan pulpen masih menempel di kertas.

Aku bisa mencoretnya. Kertas itu satu dari sepuluh. Tidak ada yang akan tahu.

Aku tidak mencoretnya.

Aku menuliskan seluruh catatan malam itu di bawahnya — seledri diganti, hasil positif, sup habis, buncis dikonfirmasi disukai, tidak menyentuh sambal sama sekali dalam empat pertemuan sehingga kemungkinan besar tidak tahan pedas — lalu aku memasukkan lembar itu ke dalam map, di paling depan, sebelum lembar nomor satu.

Lalu aku mendorong lacinya sampai bunyi klik.

Aku tidur jam sebelas, yang mana lebih awal dari biasanya, dan aku bangun jam lima, yang mana normal, dan aku pergi bekerja dan tidak memikirkan apa pun sepanjang hari kecuali sekitar empat kali.